Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Merawatnya


__ADS_3

Meski aku tau ada yang berubah dengan Albercio saat dia keluar dari kamarnya, namun aku tidak terlalu memikirkannya karena perutku lebih penting dalam pikiranku, aku sudah sangat lapar dan membutuhkan banyak asupan makanan saat ini.


Saat di meja makan aku langsung mengambil nasi dan beberapa lauk tanpa menghiraukan Albercio sedikit pun, lalu aku langsung menyantapnya dengan lahap tapi saat aku tak sengaja melihat Albercio hanya memakan beberapa suap nasi kemudian dia berhenti dan nampak mengerutkan kedua alisnya seperti menahan sakit, melihat kondisinya aku menjadi sedikit cemas.


"Eh....apa kau baik baik saja, kenapa seperti kesakitan begitu?" Tanyaku memastikan,


"Aku tidak papa, cepat bereskan makanmu saja, aku mau kembali ke kamar" jawab Albercio sambil bangkit dari kursi dan berjalan terhuyung-huyung.


Melihat Albercio yang hampir akan jatuh aku reflek langsung menghampiri dan menahan tubuhnya dengan sigap.


"Eh..eh ..eh.... Albercio kau ini sebenarnya kenapa, apa kau sakit?" Tanyaku sambil mencoba memeriksa suhu tubuhnya lewat jidatnya yang ku pegang dengan belakang telapak tanganku.


Saat aku periksa ternyata suhu tubuhnya sangat tinggi, tidak heran kenapa wajahnya begitu pucat dan dia tidak menghabiskan makanannya.


"Astaga.... Albercio kamu ini demam kenapa kau tidak bilang padaku, aishh....ayo aku bantu ke kamarmu" ucapku sambil membantu memapahnya menaiki tangga.


Aku memapahnya hingga sampai ke dalam kamar Albercio, aku juga membaringkan dia dan menyelimutinya dengan benar, meski dia sangat menjengkelkan dan aku membencinya tapi aku bukan orang kejam yang akan membiarkan orang sakit begitu saja, aku tetap memiliki hati dan perasaan mengingat Albercio juga memperlakukanku dengan cukup baik di rumah ini meski aku hanya tahanannya aku hanya merasa kasihan ketika melihat wajah puncat dan mata sebam miliknya.


"Albercio istirahatlah aku akan mengambil kompresan dulu untukmu tunggu sebentar yah" ucapku sambil menaiki selimut hingga menutupi dadanya.


Aku langsung pergi setelah mendapatkan anggukkan dari Albercio, aku bertemu bibi Mia dan memintanya membuatkan bubur yang lembut sedangkan aku segera menyiapkan air kompresan untuk Albercio.


"Bi..kalau buburnya sudah matang langsung antarkan ke kamar tuan muda saja ya" ucapku memberitahu,


"Baik nyonya, akan saya antarkan nanti" jawab bibi Mia.

__ADS_1


Aku pun kembali pergi ke kamar Albercio dengan membawa air kompresan di lenganku, sampai di sana, tanpa basa basi aku langsung mengompres kepala Albercio secara teratur.


Selang beberapa saat aku terus mengompresi tubuhnya mulai dari kening, tangan hingga ke kakinya sampai bubur masakan bibi Mia matang dan aku membantu Albercio untuk memakan bubur agar dia bisa minum obat demam, setelah demamnya agak turun aku menyuruhnya untuk beristirahat.


"Sebaiknya kamu istirahat dulu, biar nanti aku coba panggilkan dokter untuk memeriksaku" ucapku menyuruhnya agar istirahat,


"Tidak usah ini hanya demam dan kalau aku ingin aku bisa memanggil dokter pribadi keluargaku, kau tidak perlu repot, terimakasih sudah merawatku" jawab Albercio yang aku jawab dengan anggukkan.


Karena Albercio akan beristirahat aku segera keluar membawa mangkuk kosong dan gelas bekas makannya tadi, aku juga kembali ke kamarku dan mulai membersihkan diri lalu segera tidur.


Malam itu aku berusaha tidur namun selalu saja terbangun, entah kenapa aku mencemaskan Albercio aku takut terjadi sesuatu padanya.


"Aish.... Perasaan macam apa ini?, Menyebalkan sekali harus mencemaskan pria kepala batu itu" ucapku dengan kesal.


"Tok....tok....tok..... Albercio apa kau sudah tidur?" Ucapku berteriak setelah mengetuk pintunya beberapa kali,


"Masuk saja" jawab Albercio,


Karena sudah mendapatkan izin dari pemiliknya aku segera masuk perlahan dan melihat Albercio yang masih tidur terlentang di ranjangnya, bahkan kain bekas kompresan di dahinya masih menempel, aku berjalan menghampiri dia dan mengambilkan kain itu.


"Eihhh.....kenapa kau masih memakai kain ini?, Sini biar aku periksa lagi" ucapku sambil mengambil kain di keningnya lalu menempelkan belakang telapak tanganku merasakan suhu tubuh Albercio lagi,


Saat aku menyentuh keningnya ternyata suhu tubuh dia sudah menurun dengan baik dan aku merasa lega setelah memastikan hal itu.


"Ahh....syukurlah demamnya sudah reda, kalo begitu aku akan kembali ke kamarku lagi" ucapku sambil hendak bangkit,

__ADS_1


Aku baru saja bangkit berdiri namun tanganku di tahan oleh Albercio begitu saja, lantas aku langsung membalikkan badanku dan menatapnya dengan heran.


"Apa?, Kenapa kau menahan lenganku?, Apa ada yang kurang enak lagi?, Atau kau mau menyuruhku sesuatu?" Tanyaku bertubi tubi dengan mata yang membelalak sempurna.


Jujur saja sebenarnya aku kaget saat dia menahan tanganku secara tiba tiba seperti tadi, karena ini pertama kalinya dia memegang tanganku dengan lembut, biasanya dia memang menahan atau menggenggam tanganku namun caranya memegang tidak se lembut saat ini.


"Itu aku ingin minum, bisa kau ambilkan aku air sebelum kau kembali ke kamarmu" ucap Albercio meminta bantuan,


"Te...tentu saja, aku akan segera membawanya" jawabku sedikit gugup,


Aku segera pergi dari sana dan merasa heran dengan perasaan pada diriku sendiri, aku merasa aneh mengapa aku merasa gugup saat dia memegang tanganku, padahal bukankah itu wajah, dia bersikap lembut karena dia sedang sakit kalau sudah sembuh pasti akan seperti brandal lagi.


"Ya ampun Arisha..... Kenapa kamu jadi begini... Aish.... Sudahlah sebaiknya aku segera memberikan air ini padanya" gerutuku bicara pada diri sendiri.


Aku kembali naik ke lantai atas dengan membawa segelas air mineral di tangan kiri dan mengunyah buah apel yang aku ambil di lemari es sebelumnya, aku sengaja mengambil buah apel merah karena perutku butuh cemilan malam.


Aku berjalan masuk ke dalam kamar Albercio sambil terus mengunyah apel itu dan saat aku lihat ternyata Albercio sudah tidur, dan aku menaruh gelas itu di atas meja samping tempat tidurnya agar dia bisa mudah menjangkaunya ketika nanti bangun dan ingin air minum.


"Albercio ini minumanmu..." Ucapku,


"Ehh....ternyata sudah tidur, kenapa cepat sekali, ya sudah aku terus di sini saja, selamat malam manusia batu" ucapku kembali keluar dari kamar Albercio dan menutup pintu kamarnya dengan rapat.


Aku masuk kembali ke kamarku dan menghabiskan apel ditanganku dengan cepat setelah itu aku kembali menggosok gigi lalu segera membaringkan tubuhku di ranjang, barulah aku bisa tertidur dengan nyenyak.


Aku baru sadar ternyata sedari tadi aku sulit tertidur hanya karena mengkhawatirkan kondisi Albercio, buktinya kini setelah memastikan dia baik baik saja aku bisa tertidur dengan cepat dan nyenyak sampai aku tidak sadar kapan aku merasakan kalau aku mulai terlelap.

__ADS_1


__ADS_2