
Hingga setelah dokter memeriksa kakiku dan ternyata memang benar saja kakiku terkilir dan dokter menyuruhku untuk tidak menggunakan kaki dahulu agar tidak semakin parah, aku hanya mengangguk patuh kepada dokter dan perhatianku justru tealihkan dengan melihat Albercio yang begitu serius mendengarkan penjelasan dari dokter, dia seperti seorang suami yang sigap terhadap istrinya sayang sekali itu terlihat hanya ketika aku terluka.
Tanpa kusadari aku tersenyum kecil dan dia tiba-tiba menoleh ke arahku sehingga aku langsung membuang senyuman itu dengan cepat.
"Heh, bukannya kau kesakitan kenapa kau tersenyum begitu kepadaku, atau kau berpura-pura sakit yah?" Tanyanya dengan nada yang menyebalkan,
"Menurutmu apa dokter akan berbohong juga padamu?" Balasku balik bertanya.
Dia pun terdiam dan segera mengambil kursi roda yang ada disana, lalu dia mulai meminta izin untuk menggendongku.
"Bisa aku menggendongku sekarang, kita harus pulang dan aku ingin cepat istirahat" ucapnya meminta izin dengan cara yang berbeda.
Aku sungguh tidak tahan menahan tawa tetapi aku harus menahannya dengan kaut jangan sampai dia marah karena aku menertawakannya karena itu akan membuat semua menjadi kacau.
"Iya kau boleh menggendongku karena aku tidak mungkin berpindah sendiri,"
Dia benar-benar menggendongku dengan perlahan dan menurunkan aku di kursi roda dengan lembut, lalu disaat aku berniat untuk mendorong kursi roda itu sendiri dengan tanganku dia langsung menepisnya.
"Heh, berhenti apa yang kau lakukan, sudah biar aku yang akan mendorongmu kemanapun, kau diam nanti tanganmu sakit lagi dan aku juga yang harus mengurusi mu lebih ribet lagi, diam dan terus tanganmu kedepan" ucapnya membuatku sedikit enak.
Aku pun menaruh tanganku ke depan dan dia mulai mendorong kursi rodaku membawa aku keluar dari ruangan tersebut tapi di saat kami baru saja hendak keluar dari rumah sakit aku tidak sengaja melihat Melinda yang berjalan dengan wajah panik memasuki lift seorang diri, aku yakin itu Melinda bahkan ketika aku terus memperhatikannya, meskipun dia memakai pakaian yang tertutup dan kacamata aku tetap bisa mengenalinya karena sudah bersama dengan dia dalam waktu yang lama sebelumnya.
Aku langsung meminta Albercio untuk berhenti mendorongku.
"Stop!, Albercio tolong bawa aku masuk ke dalam lift itu dan lihat ke lantai mana lift akan berhenti, cepat!" Ucapku mendesaknya.
__ADS_1
Albercio yang terlihat kebingungan dia menatapku dengan heran tapi tetap menuruti ucapanku dia membawaku masuk dan akhirnya kami naik ke dalam lift menuju lantai tiga di rumah sakit tersebut.
"Hey, kau mau apa ke lantai tiga memangnya apa lagi yang mau kau lakukan disini?" Tanya Albercio keheranan.
"Albercio bisakah kau turuti semua ucapanku kali ini, dan tutup mulutmu dulu jangan banyak bertanya ini tentang hidup dan matiku" ucapku berusaha membuatnya agar diam terlebih dahulu.
Dia pun terlihat nampak kesal tapi disaat aku menyuruhnya untuk mengikuti Melinda yang saat itu juga baru keluar dari lift dia tetap menuruti ku, aku menyuruh Albercio untuk mendorong kursi roda dengan pelan hingga aku melihat Melinda masuk ke sebuah kamar ruang rawat intensif VIP.
"Hey.... Kau mengikuti nyonya Koward yah?" Tanya Albercio yang baru mengetahuinya,
"Aishh ...diam bisakah kau bicara lebih pelan, dan satu lagi dia bukan nyonya Koward dia itu bibiku eh tidak lagi tapi mantan bibiku" ucapku memberitahunya.
Aku sudah memberitahu dia mengenai siapa wanita yang kita ikuti saat itu, dan aku pikir dengan mengetahui hal itu dia akan diam tidak terus bertanya lagi kepadaku tetapi aku salah dia tetap banyak bertanya hingga membuatku sangat kesal.
Saat Albercio berbicara kepadaku tepat di samping telingaku aku langsung berbalik menoleh ke arahnya dan menarik dasi yang dia kenakan hingga wajah kami saling bertemu dan sangat dekat, entah kenapa aku seperti tidak sadar dan terbawa dengan suasana aku mencium bibirnya sekilas untuk membuatnya berhenti mengoceh dan mempertanyakan semuanya.
"Muach....diam jangan banyak bertanya" ucapku menatapnya tajam setelah mencium bibirnya sekilas.
Albercio tertegun dan dia langsung membulatkan matanya sempurna dia bangkit dengan tegak perlahan sambil memegangi bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan bibir Arisha, dia tidak menyangka itu akan terjadi secepat ini, dan dia terus saja termenung sampai sulit menelan salivanya sendiri.
"A..apa..yang baru saja terjadi?, Di..dia mencium ku?" Tanya Albercio dalam pikirannya sendiri.
Aku berusaha keras untuk mengintip dari balik pintu ruangan tersebut dan sesuatu yang tidak aku sangka terlihat, aku benar-benar melihat pamanku yang berbaring diatas ranjang rumah sakit, tubuhnya terlihat kurus kering dan dia seperti tidak bernafas aku hampir tidak bisa melihat badannya bergerak sedikitpun.
"Paman?, Ja...jadi dia...pantas aku tidak bisa menemukannya selama ini" ucapku kaget dan tidak menyangka.
__ADS_1
Setelah mengetahui semuanya, aku segera menyuruh Albercio untuk membawaku pergi dari tempat itu sebelum Melinda mengetahui keberadaanku di rumah sakit tersebut, karena aku yakin jika dia melihat aku masih hidup dan berdekatan dengannya dia pasti tidak akan tinggal diam.
"Albercio ayo kita pergi dari sini, Albercio?... Hey Albercio ada apa denganmu?" Ucapku memanggilnya dan dia berdiri mematung tanpa bicara sepatah katapun.
Aku tidak mengerti kenapa dia tiba-tiba saja seperti itu, hingga ketika aku menepuk tangannya pelan barulah dia tersadar dari lamunannya.
"Hey....bangun kau ini kenapa sih, ayo cepat kita harus pergi dari sini" ucapku menyadarkannya.
Dia pun segera mendorongku lagi dan membawaku masuk ke dalam lift, aku sudah merasa sedikit lega setelah kami sudah masuk ke dalam lift dan aku lihat Melinda tidak menyadari keberadaanku di sekitarnya.
Walau begitu aku semakin merasa kesal karena mau bagaimanapun dia adalah pamanku dia kakak dari ibuku dan aku harus menyelamatkan dia dari genggaman Melinda, aku yakin semua otak dari kejahatan yang terjadi selama ini adalah Melinda bukan pamanku, karena aku tahu seperti apa Melinda dan bagaimana pamanku.
"Paman tunggu aku, aku akan menyelamatkanmu cepat atau lambat" ucapku penuh tekad.
Di saat aku tengah memikirkan cara untuk membebaskan pamanku, Albercio justru terlihat senang dan tersenyum sepanjang jalan sambil mendorongku dia juga menggendongku sambil tersenyum dan dia berinisiatif memasangkan sabuk pengaman kepadaku saat di dalam mobil, dia terus saja terlihat senang dan berbunga-bunga hingga membuatku heran melihatnya.
"Heh Albercio, apa kau sakit?, Kenapa kau terus memasang senyum seperti itu apa yang membuat hatimu senang?" Tanyaku dengan heran,
"Tidak papa aku hanya senang dengan ini" ucapnya sambil menunjuk ke bibirnya,
Aku mulai sadar dan teringat dengan apa yang aku lakukan kepada dia sebelumnya.
"HAH?, oh ya ampun aku benar-benar kehilangan akal tadi" gerutuku kaget saat menyadarinya.
Tapi semua sudah terjadi dan aku sudah membuatnya menjadi aneh seperti saat ini, aku sungguh menyesal telah melakukan itu kepadanya.
__ADS_1