
Ku pikir pada awalnya dia mungkin hanya akan marah atau menghukumku selama beberapa waktu dan aku tidak keberatan dengan hal itu sebab aku sudah terbiasa mendengar ocehan darinya dan mendapatkan hukuman aneh yang sering dia berikan kepadaku, tai reaksinya kali ini sungguh di luar dugaanku dan itu lebih merepotkan dibandingkan dengan sebuah hukuman.
"Aaarkhhhh....apa yang harus aku lakukan sekarang, dia menjadi lebih merepotkan dari sebelumnya, kapan dia akan sadar oh tuhan" gerutuku merasa pusing sendiri.
Hingga ke esokan paginya dia bersikap baik kepadaku datang ke kamarku dan menawarkan bantuan kepadaku dengan suka rela padahal aku tidak pernah meminta dia untuk membantu apapun padaku.
Saat aku baru saja terbangun aku begitu kaget melihat Albercio yang sudah berdiri sambil tersenyum kecil menatap ke arahku dengan tatapan yang cukup menyeramkan untukku.
"Aishh....kau, kenapa kau ada di dalam kamarku sepagi ini?" Bentakku kaget melihatnya.
Awalnya bahkan aku kira dia hantu atau semacam manusia berdarah dingin, jantungku hampir saja tidak selamat karena dia sungguh mengagetkan aku tepat ketika aku baru saja membuka mata setelah tidur panjang tadi malam.
"Heh, kenapa kau diam saja, untuk apa kau kemari?" Bentakku lagi karena dia masih terdiam,
"Aku kemari untuk melayani istriku, bukankah dokter bilang kakimu tidak boleh banyak digerakan untuk beberapa hari ke depan, dan tentu saja kau pasti membutuhkan suamimu ini untuk membawaku ke kamar mandi dan tempat lainnya bukan" balasnya membuatku langsung terperangah dan mengerutkan alisnya sangat kuat.
Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang salah pada kepalanya dia bersikap baik hanya karena aku menciumnya semalam, padahal itu hanya ciuman sekilas dan aku melakukannya dengan sebuah niat yang jahat, bagaimana bisa dia malah menjadi baik seperti ini.
"Ha...Hah?, KA..kau mau membantuku?" Tanyaku masih merasa linglung,
"Iya, aku akan membantumu jadi ayo aku bantu kau pergi ke kamar mandi" ucapnya sambil langsung menggendongku begitu saja.
Aku berusaha berontak dan berteriak meminta dia agar menurunkanku tapi sayangnya tenaga dia begitu kuat, meski aku sudah memukuli dada bidangnya sekuat tenaga dia sama sekali tidak terusik dan menjatuhkan ku di bak mandi yang sudah terisi air.
"Byur....aduhh.... Albercio apa kau gila hah?" Bentakku sangat kesal dan emosi,
__ADS_1
"Tentu saja tidak, cepat mandi aku akan mengajakmu pergi ke suatu tempat" ucapnya memerintah.
Aku sangat tidak terima dengan perintah yang dia lontarkan, apalagi dia memerintahku seperti seorang raja dan terus berbicara bahwa dia suami dan aku seorang istri, rasanya kupingku sudah sangat panas mendengar ucapannya yang aneh sejak malam tadi, kupikir paginya dia akan berubah menjadi lebih normal tapi nyatanya tidak, dia justru menjadi semakin gila dan aku tidak bisa memahaminya.
Aku langsung menolak dia dengnytegas dan berusaha untuk membuatnya marah agar dia bisa kembali pada sifat aslinya yang sensitif dan selalu memarahiku bahkan untuk hal hal kecil yang tidak berguna.
"Tidak....aku tidak mau mandi, untuk apa aku mandi hanya karena mendengar perintah mu, lagian aku bukan seorang mahasiswa ataupun pekerja kantoran aku tidak akan pergi kemana-mana jadi tidak perlu mandi sepagi ini" balasku dengan sinis dan mencoba bangkit berdiri dari bak mandi tersebut,
Dugaanku memang benar ketika aku memberontak dan tidak mematuhi ucapannya dia langsung menatapku tajam tapi sayangnya itu hanya bertahan beberapa detik saja lalu dia mendorong tubuhku lagi hingga kembali terduduk di dalam bak tersebut, lalu dia mulai menyalakan shower airnya dan menyiram ke atas kepalaku.
"Kau harus mandi, jika tidak aku yang akan memandikanku" ucapnya mengancam.
Aku sangat kaget dan tidak bisa menerima perlakuan pemaksaan seperti ini, tetapi aku juga tidak mungkin membuat pilihan kedua dimana dia mengancam akan memandikan aku jika aku tidak mandi dan memberontak perintahnya.
Terpaksa aku harus menurutinya demi keselamatan diriku sendiri.
Albercio pun mematikan shower air tersebut dan dia kembali menatap aku dengan senyuman di wajahnya yang melengkung dengan lebar.
"Bagus, cepat selesaikan mandi mu gadis baik, aku akan menunggu di luar" ucapnya sambil mengusap pucuk kepalaku pelan.
Aku hanya menatapnya dengan penuh kebencian dan kekesalan, tetapi tidak bisa melakukan apapun meski aku sangat ingin menghajarnya dan memberikan pelajaran terhadap dia, setelah dia keluar dari kamar mandi aku langsung melampiaskan amarahku dengan menepuk air di dalam bak mandi sekeras-kerasnya berkali-kali hingga aku mulai merasa lebih baik.
Ini adalah mandi pertamaku yang di perintah oleh orang lain dan harus mandi dengan perasaan kesal serta tidak rela, saking kesalnya aku tidak sadar bahwa kakiku tengah sakit dan malah aku gunakan untuk menendang bak kamar mandi, meski itu tidak kencang tetapi itu terasa sangat sakit sebab kakiku baru saja diobati.
"Duk....aaaaawww..adududuh...kakiku" teriakku meringis kesakitan.
__ADS_1
Tidak aku sangka Albercio langsung berlari mendobrak pintu kamar mandi dengan keras dan langsung menghampiriku dengan cepat, aku kaget dan langsung berteriak lebih kencang dari sebelumnya.
"Aaaahkkkkk...." Teriakku sangat kencang,
"Apa, ada apa Arisha kenapa kau berteriak, hey ada apa denganmu?" Tanya Albercio yang semakin merasa panik tidak karuan,
"Aish... Albercio keluar kau! Kenapa kau masuk begitu saja ke dalam kamar mandi aku tidak memakai busana bodoh!" Bentakku kepadanya.
Albercio yang baru menyadari itu dia justru malah melemparkan tatapan matanya ke arah Arisha dia menatap dari mata Arisha hingga terus turun kebawah dan aku langsung mencipratkan air sabun ke wajahnya.
"Heh, apa yang kau lihat, sial....rasakan ini euhh" ucapku sambil mencipratkan air nya.
Ku pikir air itu tidak akan sampai masuk ke dalam matanya, tapi dia langsung merasa perih dan mencari air ke sekeliling dan aku kebingungan sendiri.
"Aw..ahh..perih...mataku...mataku perih" teriak Albercio sambil meraba-raba ke sekitar mencari shower air.
Aku panik dan tidak bisa berpikir jernih saat itu sehingga aku langsung menarik pakaian Albercio agar dia bisa mendekat ke arahku dan aku bisa menolongnya membersihkan matanya dengan air, sialnya aku lupa Albercio tidak bisa melihat karena matanya kemasukan air sabun dan aku juga tengah berendam tanpa busana, tapi dia malah jatuh ke dalam bak mandi karena aku menariknya.
Saat itu aku memang tidak langsung sadar dan segera menyiram air ke wajahnya hingga dia merasa jauh lebih baik dengan matanya tetapi setelah semuanya selesai aku baru sadar jika Albercio duduk di dalam bak mandi yang sama denganku dan tentu saja tubuh kami sangat dekat dan bersentuhan.
"Bagaimana apa kau baik-baik saja sekarang?" Tanyaku masih panik dengan matanya,
"A..aku baik-baik saja, tapi itu aaahh maafkan aku Arisha aku melihat semuanya" ucap Albercio sambil langsung bangkit keluar dari bak mandi dan berlari meninggalkanku.
"Aishh....sial, ALBERCIO KEMARI KAU!" Teriakku menggelegar dengan wajah merah padam dan nafas yang menderu karena sangat kesal.
__ADS_1
"Aaarkhhh....dasar mesum, psikopat gila, sialan, Albercio kau benar-benar membuatku emosi!" Gerutuku lagi dengan suara keras dan terus melampiaskan emosiku di dalam kamar mandi.