
Aku lagi lagi hanya bisa menurutinya dan segera masuk ke dalam cafe tersebut sambil menunduk lesu dan duduk di meja paling pojok lalu menempelkan kepalaku ke atas meja tanpa semangat sedikitpun.
Aku tidak perduli lagi dengan tatapan beberapa orang yang berada di cafe, tetap saja aku merasa kesal dan kehilangan seluruh energiku dan terasa sangat lesu.
"Hmmm...kesal sekali sih, dia benar benar menyebalkan" gerutuku sangat kesal dan tidak tahan.
Bukan hanya kesal dengan kelakuan Albercio namun aku juga kesal karena sekretaris Katy bahkan tidak berbicara apapun lagi denganku dan caranya duduk begitu tegak serta pandangan yang lurus ke depan tepat menatap ke arahku, saat aku baru saja mengangkat kepalaku aku hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu dan tidak bisa berbuat apapun lagi.
"Sungguh Bos dan Pegawai sama saja" ucapku sambil menggelengkan kepala pelan,
Tak lama sekretaris Katy itu mengangkat telpon dan dia pergi lalu meninggalkanku untuk mengangkat telpon yang masuk ke ponselnya.
"Nona saya izin untuk mengangkat telpon dahulu, tunggulah beberapa saat di sini saya akan segera kembali" ucap sekretaris Katy meminta izin padaku.
Aku hanya mengangguk dan langsung mempersilahkan dia untuk pergi dengan segera karena aku tidak perduli lagi dengan apa yang akan dia lakukan.
"Ahh...iya iya sana kau pergi saja" ucapku dengan wajah yang kesal dan mengkerut.
Sekretaris Katy pun segera pergi dari sana dan aku mulai memiliki ide yang cemerlang untuk kabur dari pengawasan sekretaris berwajah datar itu, saat sekretaris Katy tengah sibuk dengan telpon di sisi lain cafe tersebut, aku diam diam berjongkok dan mengendap ngendap dengan perlahan keluar dari cafe tersebut.
Setelah berada di luar aku langsung menghentikan taxi dan saat itu aku masih bisa mendengar suara sekretaris Katy yang berteriak cukup keras memanggilku dan menyuruhku untuk berhenti namun aku mengabaikannya.
"Nona Arisha...tunggu" teriak sekretaris Katy berlari keluar mengejarku dari cafe.
Untungnya saat itu aku sudah berada di dalam taxi dan supir taxi pun langsung melajukan mobilnya dengan cepat, aku kebingungan karena yakin sekali bahwa sekretaris berwajah datar itu pasti akan mengejarku dan jika aku kembali ke apartemen saat ini, dia juga pasti akan menyusulku ke sana atau bahkan saat aku sampai di sana dia mungkin saja sudah menungguku dengan wajah datarnya di depan pintu.
Saat sang supir bertanya ke mana tujuanku aku pun langsung menjawabnya ke alamat rumah tempat tinggalku yang dulu, karena aku rasa alamat itu adalah yang paling aman untuk menghindari sekretaris Katy karena aku yakin dia tidak akan terpikirkan dengan alamat itu atau mungkin dia tidak mengetahui alamat itu sama sekali.
"Jadinya mau kemana mbak?" Tanya sang supir taxi,
__ADS_1
"Ke jalan mangun dua pak" balasku memberitahunya.
Di persimpangan sang supir langsung membelokkan mobil yang dia kendarai ke arah kanan menuju alamat yang sudah aku sebutkan tadi dan tak lama kemudian akhirnya kami sampai juga di sana, aku langsung turun dari taxi itu namun saat hendak membayar ongkosnya aku lupa bahwa uang, karena yang aku punya masih berada di dalam tas buntelanku sebelumnya.
Sehingga saat itu aku kebingungan bagaimana caraku membayar ongkos kepada supir taxi ini.
"Mbak mau bayar atau tidak?" Bentak supir taxi yang cukup membuatku kaget,
"Eu..eu...ini pak sebenarnya saya mau bayar tapi saya lupa tidak bawa uang, bisa tidak kalau bayarnya nanti setelah saya pulang, atau saya minta nomor bapak deh, nanti biar saya transfer uangnya" ucapku mencari solusi.
Sesuai dengan dugaanku supir taxi itu menolak dengan keras dan dia malah memarahiku dengan kalimat yang sangat menyebalkan.
"Huh, tidak usah lain kali kalo gak punya uang jangan naik taxi sok sok an gayanya kaya orang kaya aja, taunya boke juga kan" ucap sang supir sialan itu,
"Pak saya kan sudah bilang saya mau bayar kenapa anda malah nyolot begitu?" Bentakku yang mulai tersulut emosi.
Saat aku tengah bertengkar dengan sang supir taxi tiba tiba saja sekretaris Katy datang menghampiriku begitu saja lalu dia langsung membayarkan ongkos ku kepada supir taxi itu dengan cepat.
"Ti..tidak...itu..aku hanya" ucapku terpotong karena supir sialan tersebut langsung memotong ucapanku,
"Dia tidak mau membayar ongkosnya, dan malah beralasan tidak ada uang dan saya akan membawanya ke kantor polisi dengan kasus penipuan" ujar sang supir menyebalkan itu,
"Heh, apa apaan yang kau bicarakan seenaknya saja, aku kan sudah bilang aku akan membayarnya nanti, kenapa kau tidak mengerti dasar orang tua sialan" bentakku sangat emosi,
Supir tua itu justru hampir saja hendak menamparku namun untunglah sekretaris Katy berhasil menahan lengannya dengan cepat.
"Berapa uang yang kau mau?" Tanya sekretaris Katy membuat supir itu langsung menurunkan tangannya,
"Dua ratus ribu untuk ongkosnya dan lima ratus ribu untuk ganti rugi karena dia membuang waktuku" ucap supir sialan itu malah memanfaatkan keadaan.
__ADS_1
Aku langsung membelalakkan mataku dengan lebar dan sangat tidak terima karena supir tua itu seperti hendak memoroti dompetku atau bahkan dia sedang merampok aku.
"Heh, apa apaan kau ini ongkosnya kan hanya dua ratus ribu saja, kenapa harus ada uang ganti rugi?" Bentakku merasa tidak terima.
Saat aku hendak menyerang supir tua bangka itu tiba tiba saja sekretaris Katy malah memberikan sejumlah uang senilai tujuh ratus ribu rupiah sesuai dengan yang diinginkan oleh supir sialan itu.
"Ini, cepat pergi dari sini!" Ucap sekretaris Katy dengan tatapan tajamnya yang membuat supir itu segera pergi saat itu juga.
"Nah gini dong dari tadi kan gak perlu pasang urat, haha" ucap sang supir lalu langsung melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.
Melihat supir itu pergi dengan membawa uang dari sekretaris Katy aku merasa sangat tidak terima dan begitu kesal sehingga aku refleks mengejar mobilnya dan berteriak menyuruhnya berhenti.
"E..eh...eh...berhenti kau aishh supir sialan berhenti..." Teriakku sangat keras sambil berlari mengejar mobil itu sampai akhirnya malah tersandung dengan kakiku sendiri dan jatuh tersungkur ke aspal jalanan.
"Aaa...brukk....aduhhh" suaraku yang jatuh dengan posisi tengkurap di jalanan.
Sekretaris Katy datang menghampiriku dan dia segera membantuku untuk bangkit segera, dan aku juga meraih lengannya serta merasakan lututku yang terasa nyeri dan seperti berdenyut denyut.
"Nona apa anda baik baik saja?" Tanya sekretaris Katy cemas,
"Aku baik baik saja hanya luka sedikit ini tidak masalah untukku" balasku sambil berjalan dengan sedikit pincang dan merasakan kedua lututku yang sakit.
Aku menggerutu dengan sangat kesal pada supir tua bangka yang sudah merampok uang sekretaris Katy secara tidak langsung sehingga membuat aku merasa bersalah terhadapnya.
Sekretaris Katy memapahku dan mendudukan aku di bangku kecil yang ada di pinggir jalan, aku juga mulai meminta maaf kepadanya karena sudah membuat dia kesulitan mencariku bahkan sampai harus membayar ongkos taxi ku yang tidak sedikit itu.
"Sekretaris Katy maafkan aku ya, karena aku kau kehilangan uangmu yang berharga, tapi aku janji akan mengembalikannya kepadaku saat aku sudah di apartemen karena uangku ada di sana" ucapku berjanji padanya,
"Tidak masalah nona itu tidak seberapa dengan keselamatan anda, dan sebaiknya anda jangan mencoba kabur apalagi melakukan hal seperti tadi hanya demi uang yang tidak seberapa itu" balas sekretaris Katy dengan santainya.
__ADS_1
Sepertinya memang uang senilai tujuh ratus ribu rupiah benar benar tidak ada apa apanya untuk dia yang bekerja sebagai seorang sekretaris tuan Albercio yang begitu ternama dan disegani banyak orang.
Aku benar benar sudah salah mengira uang itu bernilai untuknya, nyatanya hanya aku saja yang miskin di sini dan uang senilai itu hanya berharga bagiku tidak untuk mereka.