
Sudah waktunya makan siang namun aku belum juga mengisi perutku yang sudah merasa perih dan keroncongan seakan cacing cacing di dalam perutku berkoar dan mendemo meminta asupan makanan, aku pergi ke dapur dan menemui bibi Mia.
"Bi bisakan berikan aku sedikit makanan aku sangat lapar" ucapku memohon,
"maaf nyonya tapi tuan melarang saya dan pelayan lain untuk memberikannya dan jika saya memberikan nyonya sedikit makanan saja, maka saya akan dipecat, maafkan saya nyonya" jawab bi Mia.
"Bi aku mohon sedikit saja bibi kan bisa memberikannya sembunyi sembunyi" ucapku kembali memohon,
"Tidak bisa nyonya semua bagian di rumah ini terdapat cctv kecuali kamar nyonya dan tuan muda" jawab bibi Mia yang membuatku pasrah tak dapat berkutik.
Aku mendengus kesal dan berjalan lesu duduk di depan meja makan, aku pikir dia hanya mengancam saja ternyata sungguh mau membuatku mati kelaparan.
Ku lihat ke sekeliling ruangan dan mencari tau di mana letak cctv di ruangan itu saat sudah menemukannya aku mulai meluncurkan aksi protesku, untuk meluapkan semua kekesalan dalam diri ini.
"Heh... Kau pria sialan yang menjengkelkan dan tak tau malu, kau mau membuatku mati kelaparan yah, aishhh... Jangan harap kau pikir aku lemah, lihat saja aku akan membalas nya euhhh..." Ucapku bicara sendiri di bawah kamera cctv dengan penuh emosi dan berkacak pinggang.
Puas menggerutu dan melampiaskan amarah aku pun kembali duduk dengan lesu dan menempelkan kepala di atas meja sambil memegangi perutku yang lapar.
*****
Tanpa Arisha tau sebenarnya Albercio diam diam selalu memantau gerak geriknya lewat sebuah ponselnya yang terhubung dengan semua cctv yang ada di rumahnya dan semua kelakuan Arisha barusan di lihat oleh Albercio, Albercio yang melihatnya dia tertawa kecil melihat wajah konyol Arisha dan semua tingkah konyolnya di depan cctv seakan tengah berbicara langsung dengan dirinya, saat melihat itu tiba tiba sebuah ide muncul di kepala Albercio untuk kembali mempermainkan Arisha.
Albercio segera menelpon bibi Mia dan menyuruhnya membuatkan bekal makan siang lalu meminta agar Arisha yang mengantarkannya ke kantor, tak sampai di situ Albercio juga menyuruh salah satu bodyguard untuk mengawal Arisha dan supir pribadinya yang sudah dia beri tau agar menurunkan Arisha di simpang jalan yang lumayan jauh dari kantornya berada, Albercio sengaja ingin membuat Arisha kesal dan menderita.
Dia tersenyum puas saat sudah memberikan perintah dan melancarkan rencananya.
__ADS_1
"Rasakan itu gadis pendek, mau bermain main denganku maka aku akan mengabulkannya" ucap Albercio sambil memegang ponselnya dan tersenyum puas.
Arisha yang saat itu tengah kelaparan tiba tiba mencium wangi masakan bibi Mia tentu saja itu semakin membuat perutnya bersuara dan sangat lapar, namun saat dia memintanya lagi lagi bibi Mia tidak memberikan itu dan justru malah menyuruh Arisha untuk mengantarkan makanan itu pada Albercio ke kantornya.
"Jangan nyonya ini untuk tuan dan sebaiknya nyonya segera bersiap siap untuk mengantarkan makanan ini, nanti supir akan mengantar nyonya dan jangan sampai makanan ini dingin, jika tidak tuan pasti akan marah" ucap bibi Mia memberi tau,
"Ya ampun bi, apa harus setakut itu padanya biarkan saja dingin aku tidak peduli dan memangnya aku mau mengantarkan makanan itu, aku lelah bi dan tidak ada tenaga bagaimana bisa mengantarkan makanan untuknya aku saja belum makan" jawabku terus beralasan,
"Jika nyonya tidak mengantarkannya saya bisa dipecat dan nyonya juga akan mendapatkan hukuman" ucap bibi Mia mengingatkan.
Aku segera mengangguk dan pergi membawa makanan itu lalu segera berangkat dan aku kaget saat seorang bodyguard juga ikut masuk ke dalam mobil denganku, dia tiba tiba saja masuk dan duduk di samping supir.
"Eh... Eh... Eh... Tunggu, kenapa bodyguard ini ikut juga?" Tanyaku heran,
"Aishh... Dia benar benar menjengkelkan, ya sudah cepat jalan saja ahhh" ucapku pasrah.
Sebelumnya semua berjalan baik baik saja sampai di persimpangan jalan tiba tiba saja pak sopir menghentikan kendaraan dan aku kaget juga bingung dengan apa yang terjadi sampai dia mengatakan kalau mobilnya mogok dan tidak bisa dinyalakan, terpaksa aku harus turun dan saat aku turun bodyguard sialan itu juga ikut turun dia terus saja menempel dan berjalan di dekatku, aku memang tidak tau di mana letak kantor Albercio itu tapi bukan berarti harus bersama bodyguard yang memakai pakaian serba hitam dan berpenampilan mencolok seperti ini, orang orang di sekitar menatapku dan berbisik membicarakan karena dia selalu memberikanku jalan dan menyuruh orang orang menyingkir.
Aku sudah sangat jengkel dan tidak bisa membuatnya menjauh dariku, ditambah kita tidak kunjung sampai juga, aku sudah sangat lelah berjalan namun bodyguard itu hanya bilang kalau kita hampir sampai padahal sedari tadi tak sampai juga.
"Aishh... Kakiku sudah lelah kapan kita akan sampai sebenarnya" ucapku kesal dan duduk sebentar di bahu jalan,
"Sebentar lagi nyonya kantornya di ujung jalan sana" ucap bodyguard itu sambil menunjukkan jalannya,
"Aishhh.... Menyebalkan sudah berapa kali kau bilang sebentar lagi tapi kita tak kunjung sampai" bentakku menatap tajam ke arah bodyguard itu.
__ADS_1
"Apa saya perlu menggendong nyonya?" Ucap bodyguard itu menawarkan,
"Tidak perlu aku lelah bukan lumpuh, ayo kita jalan lagi aku malu berlama lama berjalan bersamamu aishhh pakaianmu ini arghhh" ucapku menggerutu kesal.
Akhirnya sampai juga di depan kantor Albercio dan aku menyuruh bodyguard itu agar tidak mengikutiku masuk ke dalam, lagi pula aku sudah berada di dalam kantor pria batu itu mana mungkin aku bisa kabur, setelah sangat lama berdebat dan meyakinkan bodyguard keras kepala itu agar tak ikut masuk akhirnya dia mengerti dan mau menungguku di depan resepsionis sampai aku kembali.
"Ahhh... Bodyguard dan majikan sama sama kepala batu" ucapku kesal sambil berjalan masuk ke dalam lift menuju lantai yang disebutkan seorang resepsionis tadi sebelumnya.
Saat sampai di lantai atas aku kebingungan mencari di mana letak ruangan Albercio karena dia sana begitu luas dan banyak orang yang berlalu lalang sampai aku tak sengaja melihat sekretaris Ben, aku segera menghampirinya karena aku tau dia pasti tau di mana letak kantor pria batu itu.
"Eh... Tunggu tunggu, kau yang tadi pagi bersama manusia batu kan, di mana ruangannya aku kebingungan mencarinya sedari tadi" ucapku langsung bertanya,
"Maaf tapi siapa yang anda maksud nyonya, dan kenapa anda ada di sini, bukankah kau tidak boleh...." Ucapnya tertahan karena langsung aku tutup mulutnya dengan tanganku,
"Sttt... Jangan banyak tanya di mana ruangan CEO nya cepat katakan" ucapku kembali bertanya dan mendesak.
Sekretaris Ben menunjuk ke sebuah ruangan yang bertulis CEO, aku langsung pergi dan mengabaikan ucapan sekretaris Ben, aku langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu dan kulihat manusia batu itu tengah duduk di kursinya dan menatap leptop dengan serius.
Aku berjalan dengan kesal dan langsung ku taruh dengan keras tempat makan yang sudah bi Mia siapkan sebelumnya.
"Brakkk... Ini aku sudah membawanya, hah..hah..." Ucapku dan hendak pergi dari sana.
"Berhenti dan kembali ke sini!" Ucapnya dengan tegas.
Aku menahan amarah yang menggebu dan berbalik menghadapnya kembali, aku berjalan dengan kesal menuju ke arahnya.
__ADS_1