
"Itu karena kau adalah orangnya, bagaimana aku bisa berkata seperti itu pada orang sepertimu, aishh....sangat menggelikan" balasku padanya.
Albercio langsung memberikan tatapan yang buruk padaku dan setelah ucapanku itu dia tidak berbicara lagi dan hanya fokus menyetir dan menatap lurus ke depan sedangkan aku mulai merasa bosan karena kami belum juga sampai di tempat tujuan dan Albercio juga tidak mengatakan apapun lagi padaku.
"Ekmm... Albercio..... Hey.... Albercio kenapa kau diam saja, apa kau bisu?" Ucapku sedikit kesal padanya.
Meski aku sudah bertanya dan memulai pembicaraan kepadanya namun dia tetap saja tidak membalasku dan aku mulai merasa sangat kesal aku tetap mengajaknya bicara dan berusaha untuk membuat dia membalas ucapanku.
"Albercio apa aku cantik hari ini, apa pakaian ini cocok untukku?, Albercio bisakah kau melihat padaku?" Ucapku terus menerus,
"Albercio apa kau tuli yah,"
"Albercio apa kau sungguh marah padaku, aku merasa sedih kalau kau tidak menjawab ucapanku juga" tambahku sambil menghembuskan nafas dengan lesu.
Dia tetap tidak menjawab ucapanku bahkan ketika kami berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan malam yang terlihat sangat ramai dan kelihatannya itu adalah satu-satunya mall yang buka hingga malam di sekitar sana.
Dia langsung keluar dari mobil begitu saja meninggalkan aku dan aku segera menyusulnya, aku tidak tahu bagaimana caranya agar membuat dia mau bicara lagi padaku dan berhenti merajuk seperti anak kecil begitu.
"Aduhh...ada apa sih dengannya bagaimana aku harus bertindak sekarang, dia sangat membingungkan?" Gerutuku sambil menggaruk belakang kepalaku pelan.
Ku lihat Albercio sudah masuk ke dalam dan aku tertinggal di balakang aku pun segera berlari menyusul dia dengan cepat.
"Albercio tunggu!" Teriakku sambil segera menyusul dia dengan cepat.
Aku berusaha menyeimbangkan jalanku dengannya namun sayangnya langkah dia terlalu lebar sehingga aku tidak bisa berjalan dengan santai saat di sampingnya, aku terpaksa harus sedikit berlari lari kecil untuk menyeimbangkan langkah dengannya.
Dia sungguh tinggi dan memiliki langkah yang lebar aku sudah merasa sedikit lelah sekarang karena dia terlalu tinggi dan langkahnya sangat besar orang-orang disekitar sana banyak yang memujinya karena melihat dia yang begitu tampan dan berkarisma dengan jas hitam yang dia kenakan, dan aku benci ketika mendengar para wanita disana memuji pria tinggi.di sampingku ini.
"Eh...lihat pria itu tampan sekali, ohh tuhan aku ingin menjadi istrinya" ucap salah satu wanita,
"Iya jangankan istri menjadi simpanannya pun aku bersedia, dia sangat tampan dan sempurna" balas yang lainnya.
"Ayo kita dekati dia" ucap yang lain lagi.
Perkataan mereka sangat mengganggu bagiku dan aku langsung berhenti berjalan sedangkan Albercio terus berjalan sendiri hingga setelah beberapa langkah dia mulai berhenti dan menyadari bahwa aku sudah tidak berada di sampingnya melainkan tertinggal di belakang.
"Eh....kemana si keras kepala itu?" Tanya Albercio mencari-cari keberadaanku.
Aku segera berteriak memanggilnya dengan cemberut dan merasa sangat kesal.
"Albercio kau meninggalkan aku, kau berjalan terlalu cepat kau tidak menjawab ucapanku aku membencimu!" Bentakku kepadanya.
Aku tidak perduli meski orang-orang membicarakan aku gila dan sebagainya aku hanya ingin Albercio menghampiriku dan membujuk aku seperti biasanya namun dia hanya berjalan kepadaku dengan wajah yang datar dan menarik tanganku dengan kuat tanpa berbicara apapun.
Aku berusaha berontak padanya karena aku tidak ingin dia menarik tanganku lebih mirip seperti seseorang yang menyeret aku dengan kasar.
"Albercio berhenti, Albercio kakiku sakit" ucapku berpura pura.
Walaupun memang sebenarnya sakit tapi aku masih bisa menahannya aku sengaja berpura-pura meringis kesakitan dan melebih kebihkannya agar dia merasa khawatir padaku dan akhirnya kali ini dia mendengarkanmu dia segera berhenti dan berbalik menatap padaku dia juga langsung memeriksa kakiku dan berjongkok di bawah.
"Mana yang sakit?" Tanya dia dengan wajah yang cemas,
Saat Albercio menengadahkan wajahnya ke atas menatapku aku langsung mendekatkan wajahku padanya dan mencium bibirnya sekilas.
"Much....aku baik-baik saja jangan mengkhawatirkanku aku" ucapku sambil tersenyum padanya.
Albercio hanya menatapku tertegun dan dia tidak bergerak sedikitpun hingga aku mulai senang menggunakan, aku menciumnya lagi sekali dan dia langsung bangkit berdiri lalu menggendongku tiba-tiba saja.
__ADS_1
"Kau berani bermain apa denganku, jangan salah aku jika aku akan mengikuti permainanmu lebih dalam" balas Albercio sambil menggendongku.
Entah kenapa saat itu aku merasa senang ketika Albercio menggendongku di hadapan para wanita sialan yang terus saja memperhatikan dia dan berangan-angan menjadi istrinya, aku senang karena mereka langsung berhenti membicarakan Albercio lagi namun sekarang justru akulah yang berada dalam masalah.
Albercio membawa aku ke sebuah tempat yang cukup sepi dan dia membawa aku masuk ke dalam lift dimana tidak ada siapapun di lift tersebut lalu dia mencium bibirku secara tiba-tiba membuat aku sangat kaget, pasalnya saat itu aku masih berada dalam pangkuannya dan aku refleks langsung memegangi bibirku dengan membuka mata sangat lebar.
"Ahh... Albercio apa yang kau lakukan?" Ucapku kaget dan segera menahan wajahnya di saat dia sudah mulai mendekati aku lagi.
"Kenapa bukankah kau yang memulainya kau menciumku tadi bahkan di hadapan semua orang, kenapa sekarang kau menolakku hah? Apa kau menggodaku saja iya?" Ucap Albercio terlihat mulai marah lagi.
"Bu...bukan begitu, tapi disini.... Ada kamera cctv aku tidak ingin siapapun melihatnya, apa kau tidak punya malu!" Bentakku menjelaskan dengan gugup.
Padahal sebenarnya itu hanyalah alasan dariku karena aku menciumnya tadi hanya untuk membuat dia berhenti merajuk padaku tapi tidak aku sangka dia malah seperti ini dan terus saja menyosor padaku aku sungguh sedikit takut dan tidak bisa lari darinya.
Tapi untunglah saat itu Albercio memahami ucapanku dan dia mengangguk juga berhenti untuk tidak memaksa menci*mi aku lagi.
"Baiklah aku tidak akan melakukannya sekarang, namun aku tidak akan melepaskanmu saat di rumah, camkan itu dan jangan coba-coba untuk kabur dariku!" Ucap Albercio memperingati aku.
Aku pun mengangguk pelan karena tidak ada jalan lain lagi sekarang, dia segera membawa aku untuk membeli banyak pakaian bahkan dia membelikan banyak perhiasan juga padaku hingga aku bingung untuk memilih karena sebenarnya aku tidak menginginkan semua barang-barang mahal yang ada disana jangankan untuk membelinya aku juga tidak tertarik untuk melihatnya.
Namun Albercio terus saja meminta aku untuk membelinya dan dia terus membayar semua lalu membawa semua itu ke dalam mobil hingga bagasinya penuh bahkan ada beberapa yang dimasukan ke jok belakang aku sungguh merasa pusing melihat banyak sekali pakaian dan perhiasan yang dia belikan untukku.
"Albercio apa kau gila? Kenapa membeli banyak barang tidak berguna seperti ini?" Tanyaku padanya dengan tidak.habis pikir.
Dia hanya tersenyum saja sambil menaikkan kedua alisnya membuat aku ingin menghajarnya saking merasa kesal dan geram dengan tingkahnya itu.
"Albercio kau benar-benar tidak bisa di mengerti, aishhh..." Gerutuku lagi menahan kekesalan,
"Arisha....aku sudah tidak bisa menahannya, boleh aku melakukannya sekarang?" Ucap dia tiba-tiba menghentikan laju mobilnya di samping jalanan yang cukup sepi.
"A .apa maksudmu, apa yang sedang kau bicarakan?" Tanyaku dengan heran.
Dia tiba-tiba saja menekan tombol kusriku dan membuat kursi itu menurun ke belakang begitu pula denganku dia juga melepaskan sabuk pengamannya dan mendekatiku sedikit demi sedikit, aku mulai panik dan menahan dadanya agar tidak terus mendekati aku seperti ini.
"A... Albercio apa yang mau kau lakukan, hey jangan berani-beraninya kau mendekatiku ini di dalam mobil!" Bentakku kepadanya.
Dia tetap tidak mendengarkan aku dan terus saja mendekatkan wajahnya hingga bibir kami saling bertemu satu sama lain, dia m*nciumi aku tanpa ampun dan seperti orang yang kelaparan, aku bahkan hampir kehabisan nafas karenanya, dia juga perlahan terus membuat aku nyaman dengan c*umannya itu.
Dia membuat aku tidak bisa melawan dan hanya bisa berusaha mengikuti permainannya, tangannya itu juga sangat nakal dia mulai memasukkan tangannya ke dalam pakaianku dan aku langsung tersadar saat itu.
Aku menahan tangannya dengan cepat sebelum dia benar-benar melewati batas.
Dan Albercio langsung menghentikan permainannya dia menatapku dengan menaikkan kedua alisnya dan mulai bertanya.
"Sayang?" Ucapnya dengan wajah yang memelas,
"Tidak Albercio ini salah! Menjauh dariku!" Bentakku sambil mendorongnya.
Aku segera merapihkan pakaianku dan dia juga kembali ke tempat duduknya lalu memasang sabuk pengamannya lagi, aku juga menaikkan kursi itu kembali seperti semula dan suasana diantara kami sangatlah canggung sekarang.
Albercio langsung melajukan kembali mobilnya dan dia melipatkan bibirnya sendiri sambil memeganginya terus menerus selama perjalanan.
Aku sungguh terganggu dengan ekspresi wajahnya yang tersenyum aneh seperti itu.
"Aishh.... Albercio aku benci wajahmu, kenapa kau terus memegangi bibirku di saat menyetir dan kenapa kau....kau terlihat begitu senang?" Tanyaku dengan meninggikan sedikit suaraku juga sangat gugup,
"Tentu saja aku sangat senang, hehe aku tidak menyangka bisa mendapatkan ciuman pertama milikmu, dan itu juga yang pertama milikku untukmu" balasnya sambil menatap padaku dengan senyumnya yang mengembang.
__ADS_1
Pipiku langsung terasa panas dan merona karena dia malah membahas hal memalukan seperti itu secara gamblang kepadaku.
"Albercio jangan bicarakan masalah itu lagi" ucapku dengan kesal,
"Kenapa? Kau juga menikmatinya bukan?" Tanya dia membuat aku semakin malu dan kesal.
"Diam kau! Aishhh.....ini memalukan" gerutuku setelah membentaknya.
Tiba-tiba saja Albercio mengusap pucuk kepalaku dengan lembut.
"Tidak papa kita ini suami istri bukan suatu kesalahan ketika kita lepas ke kendali dan aku senang ketika kau meresponku tadi" ucapnya sambil mengusap pucuk kepalaku dan menepuknya pelan.
Dia benar-benar membuat aku mati kutu dan tidak bisa berbuat apapun lagi, aku terlalu malu untuk menatapnya dan hanya melihat ke depan dengan wajah yang cemberut, rasanya aku ingin berlari dan mengubur diriku sendiri saking malunya.
"Ohh...tuhan ini sangat memalukan, bagaimana bisa kau malah menikmati c*umannya aishhh...sial aku bodoh...bodoh!" Gerutuku sendiri.
Hingga kami sampai di kediaman Albercio dan ibu Albercio menyambut kami lagi lalu menyuruh kami untuk segera beristirahat dan sialnya dia juga menyinggung malas suami istri yang seharusnya tidak dia bicarakan saat itu.
"Aahhh....kalian kembali, eh...tapi Arisha ada apa dengan wajahmu kenapa merah seperti itu? Apa kamu merasa tidak enak badan?" Tanyanya kepadaku,
"Atau jangan-jangan? Kalian baru saja.... Ahhh....aku mengerti ayo silahkan masuk ke kamar dan lanjutkan pekerjaan kalian, jangan lupa berikan aku cucu yang cantik atau tampan" ucap ibu Albercio sambil mendorongku masuk ke dalam kamar dengan segera,
"E..ehh ..tidak.... Tidak bukan seperti itu Tante" ucapku sudah terlambat karena aku sudah masuk ke dalam kamar.
Tadi sungguh kejadian yang sangat memalukan tapi ibunya Albercio justru malah mendukung putranya ini dan aku tidak bisa melakukan apapun, aku seperti.sudah terperangkap dalam keluarga aneh dan mesum ini.
Aku berjalan lesu dan duduk di tepi ranjang sambil tertunduk dengan lesu tanpa energi sedikitpun sedangkan Albercio langsung menggeser duduknya mendekatiku dengan perlahan.
Aku sudah tahu apa yang dia inginkan sekarang dan aku langsung saja menatapnya dengan tajam dan memberikan dia peringatkan yang keras kali ini, agar dia tidak berani melewati batas lagi kepadaku dan membuat aku semakin malu.
"Apa? Kenapa kau malah mendekatiku? Sana menjauh dan jagalah jarak dariku!" Ucapku membentaknya dan langsung naik ke atas ranjang lalu menarik selimutku sampai ke dada.
Aku masih bisa melihat wajah Albercio yang kecewa dan dia justru malah hendak berbaring di sampingku, tentu saja itu membuatku sangat kesal dan langsung membentaknya lebih keras lagi.
"Albercio.... Menyingkir kau dari sini!" Bentakku padanya dengan keras.
Albercio langsung menatapku dengan tatapan yang kaget dan dia menaikkan kedua alisnya.
"Kenapa aku tidak boleh tidur di ranjangku sendiri?" Tanya dia mengerutkan dahinya,
"Ini ranjangku mulai sekarang, dan kau tidur di sofa atau di lantai juga terserah, sudah sana cepat pergi dari sini!" Bentakku lagi sambil mendorongnya pergi.
Albercio pun terpaksa menurutinya dan dia mulai bangkit dari ranjang dengan membawa satu bantal miliknya dan dia mulai tidur di sofa kecil yang ada di kamar itu namun karena tubuhnya yang tinggi dan sofanya yang terlalu kecil untuknya dia terlihat tidak nyaman tidur disana dan seperti kesulitan untuk mencari posisi yang nyaman.
Aku sungguh tidak tega melihatnya seperti itu sehingga aku pun mengijinkannya untuk kembali dan tidur di ranjang tepat di sampingku.
"Albercio cepat kembali aku mengijinkanmu untuk tidur di ranjang, tapi ingat jangan melewati batas!" Ucapku padanya,
"Benarkah? Aaahhh terimakasih sayang aku sangat menyayangimu" ucap dia sambil berlari dengan cepat dan kembali tidur di sampingku.
Dia berbalik menatap ke arahku dan aku segera membalikkan badan agar tidak berhadapan dengannya, karena sangat lelah aku juga langsung tertidur hanya dengan beberapa saat setelah Albercio pindah ke sampingku.
Hingga aku tidak sadar jika saat tertidur aku justru malah berbalik menghadap Albercio dan tanganku justru malah memeluk tubuhnya dengan erat, karena aku pikir saat itu dia adalah guling yang ada di antara aku dan Albercio, namun sepertinya Albercio yang memindahkan gulung pembatas itu.
"Eummm......gulingnya hangat sekali" ucapku mengigau,
"A..apa yang harus kulakukan? Dia meminta aku agar tidak melewati batas tapi dia sendiri yang malah memelukku seperti ini?" Gerutu Albercio berusaha menahan jiwa laki-lakinya dengan sekuat tenaga.
__ADS_1