
Saking asiknya menonton serial kartun yang membuatnya terus tertawa Arisha sampai tidak menyadari bahwa Albercio sudah selesai dengan pekerjaannya dan kini dia tengah mengintip apa yang tengah Arisha tongton di ponsel miliknya.
"Aishh...... Ternyata kau hanya menonton film kartun yang tidak berbobot itu, tapi kau tertawa begitu keras benar benar bocah" ucap Albercio tak habis pikir,
"Eh..... Sejak kapan kau berdiri di situ, kalau kau mau melihat apa yang aku tongton kemari saja kita bisa menontonnya bersama" ucap Arisha mengajak Albercio.
"Huuh ...aku sama sekali tidak tertarik dengan film anak kecil seperti itu kau saja lihat sendiri, aku akan menemui Klin untuk meeting terakhir dahulu" jawab Albercio sambil merapihkan setelah jas yang dia kenakan.
Arisha hanya mengangguk patuh dan Albercio terus saja berkata memperingati Arisha agar dia tidak pergi ke manapun dan tidak membuat ke kacauan selama berada di ruangan itu tanpa pengawasan darinya.
"Awas ya...jangan sampai kau membuat hancur ruanganku saat aku tidak ada, dan jangan pergi ke manapun, ingat itu!" Ucap Albercio memperingati.
Tak lama dia segera pergi karena sekretaris Ben sudah mendatangi dia ke ruangannya dan mereka pergi bersama menuju ruangan meeting yang sudah di siapkan.
Saat Albercio tidak ada Arisha berhenti memainkan ponsel dan berhenti menonton film kartun kesukaannya karena batrai ponsel milik Albercio habis dan ponselnya mati tiba tiba, Arisha sempat kaget karena ponsel itu mati saat dia asik menggunakan ponsel milik Albercio tersebut.
"Eh..... Eh.... Eh....kenapa ponsel ini tiba tiba mati?, Apa aku merusaknya yah?" Ucap Arisha sambil terus membolak balik kan ponsel milik Albercio di tangannya.
Karena kesal sudah mengotak ngatik ponsel tersebut tapi tetap tidak ada hasil yang bisa dilihat Arisha pun kesal dan dia menaruh ponsel milik Albercio di meja begitu saja.
__ADS_1
Arisha duduk dengan bosan di sofa dan dia terus saja berdiam diri membuatnya begitu sangat bosan dan kesal, alhasil untuk menghilangkan kebosanannya Arisha pergi duduk di bangku kebesaran Albercio.
Dia hanya mencoba merasakan rasanya duduk sebagai orang yang berkuasa di perusahaan besar di negeri ini sekaligus orang terkaya di sana, rasanya kursi Albercio ini sangat nyaman di pakai untuk duduk dan sangat fleksibel untuk mengikuti kemana dia membalikkan badan.
"Wah....wah....ini kursi atau wahana yah, kenapa seperti ini, haha ini enak sekali untuk dimainkan" ucap Arisha sambil terus berputar putar dan duduk di bangku tersebut.
Saat dia puas memainkan kursi tersebut Arisha mulai beralih melihat pemandangan yang begitu indah namun menyesakkan dadanya, melihat ke luar dari kaca jendela yang besar di atas gedung itu, rasanya Arisha ingin sekali menjalani hidup sebebas sebelumnya.
"Aku juga ingin merasakan kebebasan, dan pergi mencari Serli, aku yakin dia pasti bisa membantuku" ucap Arisha sambil memegang jendela itu.
Cukup lama Arisha berdiri di sana dan terasa air mata mengalir begitu saja membasahi pipi mulus miliknya, rasanya sangat enggan untuk meninggalkan tempatnya berdiri, entah mengapa setiap kali berdiri di sana dan menatap ke luar melihat hirup pikuk kendaraan dan padatnya rumah penduduk membuat Arisha kembali teringat akan kedua orang tuanya juga pada Serli.
Arisha mereka tak bisa berhenti untuk mengingat kenangan manis dengan kedua orang tuanya semua kasih sayang yang dia dapatkan tiab tiba saja menghilang begitu saja, sedangkan kedua paman dan bibi yang dulu begitu dia sayangi dan begitu dekat dengan dia kini begitu tega menghancurkan hidup nya bahkan menjualnya pada seorang Albercio.
Untunglah Arisha jatuh di tangan Albercio entah akan bagaimana jadinya jika Arisha jatuh pada tangan lain yang bisa saja melecehkan dia dan bahkan mengakhiri hidupnya, di sisi lain rasa bersyuku karena dipertemukan dengan Albercio sering kari muncul dalam benak Arisha, namun sikap Albercio yang selalu membuatnya jengkel membuat Arisha memikirkan kembali atas apa yang dia syukuri.
"Hah....berpikiran apa aku ini, ayolah Arisha.....berhenti bersikap cengeng begini, ini seperti bukan aku" ucap Arisha berusaha tegar dan dia dengan cepat menghapus sisa air mata di wajahnya.
Arisha segera pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya dan menutupi sembab di matanya sebelum Albercio kembali, dia tidak mau Albercio menanyai dia masalah wajah atau pun matanya yang sembab karena Arisha malas memberitau apa yang membuat dia sedih pada orang yang menjadi salah penyebab kesedihannya.
__ADS_1
Untuk saat ini Arisha hanya bisa menyemangati diri nya sendiri dan terus saja bersikap tenang untuk menutupi semua yang dia rasakan.
Arisha membereskan kursi kerja Albercio yang sebelumnya dia pakai untuk bermain main dan dia juga membereskan kembali ruangan Albercio yang sempat dia acak acak, setelah selesai barulah dia kembali duduk dan beristirahat di sofa hingga dia ketiduran.
"Hoammm...aku ngantuk sekali, tidur sebentar tidak ada salahnya kan, mungkin Albercio juga masih lama kembalinya" ucap Arisha sambil menguap.
Arisha pun tidur nyenyak di sofa dengan cepat tak butuh banyak waktu untuk seorang Arisha yang hobi tidur, di manapun dia duduk dan menempelkan kepalanya dia bisa tidur dengan nyenyak tanpa rasa khawatir sedikit pun.
*****
Di sisi lain Albercio tengah sibuk dengan meeting bersama orang orang penting di perusahaan hingga membutuhkan sedikit waktu tambahan dan dia kembali ke kantornya dengan terlambat saat dia kembali dan mencemaskan Arisha justru dia malah melihat Arisha yang tengah tertidur di sofa.
"Aish....aku benar benar salah karena selalu mengkhawatirkan gadis kecil ini secara berlebihan, aku selalu lupa kalau dia gadis yang berbeda" gerutu Albercio sambil berjalan menghampiri Arisha yang masih tidur dengan nyenyak.
Albercio berjongkok di depan sofa yang ditiduri oleh Arisha dia menatap Arisha yang tengah tidur dengan lelap dan Albercio segera melepaskan jas yang dia pakai lalu dia gunakan untuk menutupi pinggang Arisha dan tanpa rasa ragu Albercio langsung menggendong Arisha sekuat tenaganya.
Sekretaris Ben yang melihat tuan muda Albercio keluar dari ruangan dengan menggendong Arisha di tangannya dia sangat kaget karena itu pertama kalinya seorang Albercio mau memperlihatkan kedekatan dia dengan seorang perempuan di depan semua karyawan yang ada di sana.
"Tuan...apa anda baik baik saja jika anda merasa risih dengan tatapan para karyawan lain, saya bisa menggendong nyonya untuk anda" ucap sekretaris Ben menawarkan diri.
__ADS_1
Mendengar itu mata Albercio langsung menatap tajam dan lurus ke pada sekretaris Ben tanpa berkedip sedikitpun dan dalam jangka waktu yang tak sebentar.