
Pagi itu sekretaris Ben datang tepat pukul 05.30 pagi, dia membawa serta sepuluh orang pria berbadan kekar dan tinggi yang tak lain akan bekerja sebagai bodyguard penjaga Arisha mulai saat ini, mereka berjajar rapih di depan halaman rumah kediaman Albercio, bibi Mia juga menatap heran dan segera memanggil Albercio sesuai dengan permintaan dari sekretaris Ben, Albercio yang saat itu tengah bersiap siap dia segera turun ke lantai dasar dan memeriksa secara langsung para bodyguard itu satu per satu.
Albercio menatap tajam dan memberikan beberapa tes fisik pada para bodyguard itu di halaman rumah, suara mereka yang keras membuat Arisha yang masih tertidur lelap seketika terbangun.
"Aduhh... Pagi pagi buta begini siapa sih yang berteriak begitu keras" ucap Arisha menggerutu kesal.
Aku terbangun dan pergi ke balkon untuk melihat dari mana suara keras itu berasal dan saat ku tatap ternyata sudah banyak orang berpakaian hitam berjajar rapih dan menghadap ke depan Albercio juga seorang pria yang memakai jas sambil memegang sebuah note pad di tangannya.
Aku kesal karena mereka sudah mengganggu tidurku sepagi ini, segera aku turun ke bawah dan menemui Albercio secara langsung, karena saat aku tanya pada bibi Mia dia sama sekali tidak tau apa yang tengah di lakukan pria menyebalkan itu.
"Heh... Kau manusia batu, apa yang kau lakukan di pagi pagi buta seperti ini, apa kau sengaja ingin menggangguku lagi hah?" Ucapku dengan kesal,
"Siapa yang kau panggil manusia batu?" Tanya Albercio sambil membalikkan badan menatap ke arahku dengan tajam,
Aku tak mau kalah dan terus berjalan menghampirinya lebih dekat.
"Siapa lagi kalau bukan kau" jawabku sambil berkacak pinggang dengan kepala yang ku tengadahkan karena badannya yang tinggi sulit untuk aku jangkau,
"Dasar manusi pendek, masih berani kau menghinaku di hadapan para bodyguard ini!!" Ucapnya yang membuatku heran,
Aku terdiam sejenak meresap ucapan yang keluar dari Albercio tapi aku sama sekali tidak paham dengan apa yang dia maksud sebenarnya, hingga dia meneruskan ucapannya.
"Kalian, mulai sekarang jaga rumah ini dengan sangat ketat dan pastikan wanita ini tidak keluar selangkah pun dari pagar rumah ini, jika tidak aku akan mematahkan kaki kalian!!" Ucap Albercio memberi perintah ke pada para bodyguard itu dihadapanku.
__ADS_1
Aku merinding dan refleks menelan salivaku dengan sulit saat mendengar perintah yang dilontarkan oleh Albercio pada sepuluh orang bodyguard di sana, di sisi lain aku ingin protes, berontak dan marah besar karena tidak terima dengan apa yang dia lakukan padaku, bagaimana bisa dia menyuruh para bodyguard untuk menahanku di rumahnya bahkan tak mengijinkanmu keluar dari sana selangkah pun.
"Apa?, Jadi mereka semua?" Ucapku tak habis pikir,
"Bagus jika kau sudah paham, jadi sekretaris Ben tak perlu menjelaskannya lagi padamu, dan ingat, semua peraturan yang aku berikan padamu jangan coba coba melanggarnya dan semua itu berlaku mulai saat ini!" Bisik Albercio tepat di samping telingaku.
Aku kesal sekali, dan rasanya ingin melempar pria menyebalkan itu ke neraka saat itu juga, tapi aku tidak bisa melakukan apapun, bahkan mulai saat ini aku mungkin tidak bisa melihat dunia luar lagi, saat aku diam menahan amarah dia justru sengaja menyuruhku melakukan hal hal yang dia kehendaki.
"Kenapa kau masih diam, cepat ambilkan tas kerjaku juga sepatuku di kamar, cepat!!" Bentaknya sambil mendorongku,
Aku berjalan masuk dan segera mengambil apa yang dia inginkan, aku terus saja menggerutu kesal dan memukul tas kerja yang ku bawa di tangan, aku memberikan tas itu dengan melemparnya, untunglah sekretaris Ben gesit menangkap tas itu.
"Heh... Ini tas, dan sepatumu" ucapku sambil melemparkan tas nya dan menaruh sepatu miliknya di lantai,
"Aku tidak peduli bahkan jika semuanya rusak dan kau jatuh miskin, bukankah itu bagus aku bisa bebas darimu" jawabku dengan santai,
"KAU..., PAKAIKAN SEPATU ITU PADAKU!!" balasnya sambil membentak,
"APA?, Memakai kan sepatu ini padamu?, Haha jangan harap" jawabku sambil hendak pergi dari sana,
"Selangkah saja kau pergi aku akan memaksamu membersihkan rumah ini setiap hari seorang diri!!" ancam Albercio yang membuatku menghentikan langkah.
Aku berjalan kembali menghampirinya dan membantu dia memakaikan sepatu pada kakinya, meski sangat kesal dan di penuhi emosi aku tetap harus melakukan itu karena mendapatkan ancaman yang lebih buruk.
__ADS_1
"Oke tenang Arisha hanya memakaikan sepatu, kau harus sabar dengan pria ini" gumamku menahan emosi di dalam diri yang sudah memuncak,
Saat aku sudah selesai memakai kan sepatu itu pada kakinya dia justru malah melepas kembali sepatunya dengan sengaja dan menyuruhku untuk memakaikannya lagi, sekali lagi aku harus menahan emosi dan kembali menuruti keinginan dia untuk memakai kan lagi sepatunya, namun kini sudah yang ke tiga kalinya dia mengulangi hal yang sama dan aku sudah tidak bisa menahan emosi lagi.
Aku bangkit berdiri dan menendang sebelah sepatunya dengan keras.
"Hah... Aku tidak sudi melakukannya lagi, kau masih punya tangan tapi tidak bisa memakai sepatu sendiri, kalau begitu kau tidak perlu bekerja mengenakan sepatu, sana kau pergi!!" Ucapku kesal dan langsung pergi dari sana.
Aku tak perduli dengan teriakannya yang memanggilku dan mengancamku dengan beberapa hal aku sudah tidak bisa bersabar dengan orang sepertinya.
"Heh.. pendek mau kemana kau, cepat kembali, kalau tidak aku tidak akan memberikanmu makan siang hari ini, lihat saja nanti...." Teriaknya lagi dengan ancaman murahan.
Aku tidak perduli meski aku tidak diberikan makan seharian penuh ataupun selamanya seandainya aku mati kelaparan karena dia maka dia akan jadi orang pertama yang aku teror dan aku hantui setiap malam sampai dia menjadi gila dan masuk ke rumah sakit jiwa lalu mati dengan mengenaskan.
Dia benar benar membuatku jengkel di pagi hari, aku membanting pintu kamar dengan keras dan mengacak ngacak rambutku melampiaskan kekesalan pada pria itu.
Masih belum puas aku melampiaskan amarah, segera aku pergi ke kamar pria itu dan aku mengacak ngacak seprai juga meja tempatnya berias, aku juga membuat beberapa barangnya berantakan dan sengaja membuat kamar mandinya kotor.
Tak sampai di situ aku sengaja memasukkan sikat gigi yang ada di kamar mandinya ke dalam kloset dan aku menggunakan sikat gigi itu untuk menggosok kloset dengan kuat setelah itu aku menaruhnya kembali di tempat semula.
"Hah... Sekarang ini setimpal rasakan tuh sikat kloset!!" Ucapku dan kembali ke kamarku.
Aku senang karena sudah bisa melampiaskan kekesalan dalam diriku untunglah kamarnya itu tidak di kunci sehingga aku bisa masuk dan keluar dengan leluasa dan membalaskan dendam kekesalan dalam diriku.
__ADS_1