
Namun disaat aku hendak pergi dia menahanku dan berteriak menyuruhku untuk kembali berbalik padanya, aku pun menurutinya dan menatap kepadanya lagi.
"Ada apa lagi?" Tanyaku dengan sangat kesal,
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, wajahmu terlihat tidak asing untukku" ucapnya begitu saja.
Aku merasa baru pertama kali melihatnya tapi setelah aku coba mengingatnya beberapa saat aku baru mengingat wajahnya itu.
"A...ahhh...dia seperti pria tempramen itu, benar tapi apa itu sungguh dia?" Gerutuku memikirkan.
Untuk memastikan aku pun menanyakan namanya agar aku bisa memastikan semuanya dengan benar.
"E..eum....aku tidak merasa pernah melihatmu dimanapun, ini pertama kalinya aku melihatmu, memangnya siapa namamu mungkin saja aku lupa" ucapku kepadanya,
"Andi Koward, kau bisa memanggilku Andi" ucapnya membuatku langsung terbelalak lebar.
"A..a...Andi... Koward?" ucapku sedikit gugup.
Aku sekarang sangat yakin bahwa dia memang benar pria yang sempat aku temui ketika aku menyusup ke kediaman keluarga Koward, aku sangat gugup saat itu ditambah dia yang terus mendesakku dan meminta aku untuk segera berbicara.
"Hey, ada apa denganmu? Hey....apa kau baik-baik saja?" Tanyanya kepadaku.
Aku mulai tersadar dan segera pergi meninggalkan dia dengan berbagai alasan yang aku buat.
"A...ahhh...aku lupa suamiku sudah menunggu di rumah aku segera pulang, maaf ya aku harus pergi" ucapku beralasan dan langsung pergi berlari dari sana.
Aku langsung menghentikan taxi dan menyuruh supir taxi itu untuk segera meninggalkan tempat itu, pria keluarga Koward itu mengejarku bahkan ketika aku sudah naik ke taxi, aku sangat gugup dan merasa cemas, aku takut dia benar-benar akan mengenali aku dan mengingat aku yang kala itu menyelinap ke dalam rumahnya.
"Hey....aneh....tunggu...aishh... Bukannya dia tidak punya uang, bagaimana dia membayar taxinya nanti?" Ucap Andi Koward yang mengejar taxi tersebut.
Sampai beberapa saat setelah taxi melaju dengan cepat dan ku lihat dia tidak mengejarku lagi, barulah aku bisa merasa tenang dan tidak lama kami sampai di depan gerbang kediaman Albercio, aku langsung turun dari taxi dan baru ingat bahwa aku tidak memiliki uang sepeserpun kala itu.
__ADS_1
"Eum...pak, bisa kau tunggu disini sebentar uangku ada di dalam aku akan mengambilnya dan memberikan kepadamu segera" ucapku kepada supir itu.
Ku kira supirnya akan memberikan kelonggaran padaku, nyatanya aku salah dia marah dan langsung keluar dari mobilnya dan dia membentakku sangat keras serta mendesak aku untuk segera membayar ongkos taxi nya itu.
"Bagaiman sih, tidak bisa kau harus membayarnya sekarang, tidak mungkin kau tidak punya uang, lihat pakaianmu branded dan sepatumu itu sangat mahal, mana mungkin kau tidak ada uang, cepat beri aku ongkosnya!" Bentak supir taxi itu dengan wajahnya yang merah padam.
Aku bingung dan berusaha untuk membujuk supir itu lagi, aku memasang wajah paling menggemaskan yang bisa aku lakukan untuk membujuknya.
"Pak....aku mohon, ini semua bukan milikku aku hanya menumpang di rumah ini, tolong percaya padaku aku pasti akan membayar ongkosnya kok, aku janji" ucapku memohon kepadanya,
"Tidak....sekali tidak tetap tidak!, Jika kau tidak mau membayar aku akan membawamu ke kantor polisi, ayo ikut aku!" Bentak supir taxi itu sambil menarik tanganku dan memaksaku untuk kembali masuk ke dalam mobilnya.
Dia menarik tanganku dengan kuat dan aku berusaha menahan diriku dan berontak agar dia melepaskan tanganku, tapi pria tua itu tidak mau kalah dan dia terus saja memaksaku.
"Ayo...masuk, aishh....dasar kau penipu cepat masuk!" Bentak supir tersebut,
"Pak...aku mohon aku punya uang tapi itu di dalam aku akan membayarmu, pak tolong jangan bawa aku ke kantor polisi, pak aku mohon" ucapku terus memohon.
Saat taxinya berhenti tepat di depan kantor polisi aku berusaha untuk kabur dari supir gila itu namun tangan dan kekuatannya sangat kuat aku tidak bisa melarikan diri darinya dan dia berhasil membawaku ke dalam kantor polisi, dia juga mengintrogasi aku di depan petugas kepolisian dan terus menyudutkan aku sebagai seorang penipu.
Padahal aku sudah menjelaskan yang sebenarnya kepada petugas polisi itu tetapi petugas itu tidak mendengarkan ku dan dia memintaku untuk menghubungi keluarga sedangkan aku tidak memilik keluarga sama sekali dan mereka tetap memaksaku untuk menghubunginya.
"Cepat hubungi keluargamu, bukankah kau tinggal.di rumah mewah tadi hah?, Tidak mungkin kau tidak memiliki keluarga" bentak supir taxi tersebut,
"Pak....aku sungguh sebatang kara, kedua orangtuaku sudah meninggal karena kecelakaan, aku juga hanya menumpang di rumah itu, kenapa kau tidak mempercayaiku, apa wajahku ini terlihat berbohong padamu?" Jawabku dengan tegas.
"Sudah...sudah... Jika kau tidak bisa menghubungi keluargamu kau harus membayar denda pada supir taxi ini atau tidak kau harus mendekap di penjara untuk beberapa bulan" ucap petugas kepolisian tersebut.
Aku bingung bagaimana lagi cara menjelaskan kepada mereka dan aku mencoba mengatakannya lagi pada petugas kepolisian tersebut.
"Pak...lihat wajahku baik-baik, aku masih 19 tahun, tidak memiliki keluarga yang bisa dihubungi mereka semua sudah mati apa aku harus menghubungi mereka ke alam baka?" Ucapku saling kesalnya,
__ADS_1
"Bayar atau kau di penjara" ucap petugas kepolisian tersebut.
Aku tahu petugas kepolisian itu tidak salah dia hanya bersikap tegas dan adil sesuai hukum yang berlaku di negara ini, tetapi aku sangat jengkel dengan supir taxi nya dia sama sekali tidak mempercayai aku sedikitpun padahal aku juga memang akan membayar uang taxinya itu.
"Pak apa tidak ada cara lain lagi?" Tanyaku pada pihak kepolisian tersebut,
"Jika bapak ini membebaskan mu semuanya akan baik-baik saja, dan semua tergantung pada keputusannya" ucap petugas itu.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas lesu karena aku tahu supir taxi itu tidak akan membebaskan aku, dan aku akan berakhir di penjara sekarang.
"Ohhh....tuhan aku harus bagaimana sekarang" gumamku merasa bingung.
Aku ingin mengabari Albercio atau sekretaris Ben tetapi aku sama sekali tidak mengetahui kontak mereka, jadi aku merasa bingung bagaimana cara keluar dari masalah ini, hingga aku mulai teringat dengan nomor sekretaris Katy yang aku masih ingat dengan jelas.
"Jadi bagaimana pak, apa akan mengambil jalur hukum untuk masalah ini?" Tanya petugas itu,
"Iya...saya akan...." Ucap sopir itu aku potong segera,
"Tunggu! Aku mengingat satu orang yang bisa membantuku meski dia bukan keluargaku, tolong beritahu sekretaris Katy tentangku aku akan memberimu nomornya" ucapku kepada petugas kepolisian itu.
Petugas itu mulai mengabari sekretaris Katy dan dia mengatakan akan segera tiba di sini.
Aku sudah sangat senang karena akhirnya aku bisa terbebas dan tidak akan merasakan dingin dan kejamnya jeruji besi, tidak terbayang lagi jika aku sampai harus masuk ke dalam ruangan menyeramkan itu, pasti hal tersebut akan menjadi mimpi paling buruk di sepanjang hidupku.
Disisi lain sekretaris Katy kaget mendengar kabar dari kepolisian dan dia segera memberitahu tuan Albercio sehingga saat itu juga Albercio langsung pergi menuju kantor polisi bersama sekretaris Ben, karena sekretaris Katy masih memiliki banyak tugas lain di luar yang harus segera dia selesaikan.
"Tuan.... Nona Arisha berada di kantor polisi seseorang melaporkan dia dalam kasus penipuan dan mungkin ini hanya kesalahan pahaman" ucap sekretaris Katy melaporkan.
"APA? aishh....siapa yang berani-beraninya mengganggu istriku, dia cari mati!" Bentak tuan Albercio dengan matanya yang terbuka lebar,
"Ben ayo ikut aku, kita akan menemuinya di kantor polisi" ucap tuan Albercio segera bergegas pergi.
__ADS_1