
Alhasil karena aku harus meminta izin dari Albercio terlebih dahulu jika akan melakukan apapun aku pun memiliki cara sendiri untuk bisa melanggar perintahnya tersebut.
Aku melihat jendela kamar yang terbuka dan balkon menghadap ke halaman samping sehingga aku memiliki ide untuk menuruni balkon itu menggunakan gordeng juga seprai yang ada di kamarku, satu persatu seprai itu aku ikatkan dan saku satukan dengan yang lainnya hingga menjadi lebih panjang, lalu aku mulai mengikatkannya pada pagar balkon.
Setelah aku memastikan bahwa itu sudah kuat aku pun langsung menuruninya dengan perlahan hingga ketika sudah di ujung aku langsung melompat ke bawah dan akhirnya berhasil melarikan diri dari kamar tersebut.
Aku pun mengendap ngendap ke belakang dan langsung pergi secepatnya dari sana, aku beruntung sekali karena bisa dengan mudah keluar dari pengawasan dua pelayan menyebalkan itu, mereka tidak mau mendengarkan ku maka aku akan membuat mereka kebingungan mencariku.
"Ahaha....biarkan saja meraka panik dan mencari aku, mungkin sekarang Albercio sialan itu sedang kelimpungan karena mendapat kabar kehilanganku ahahah rasakan itu" ucapku sangat puas sambil berjalan-jalan di jalanan yang tak jauh dari apartemen tempat aku tinggal.
Tiba-tiba saja saat aku tengah berjalan aku melihat toko es krim yang begitu ramai pengunjung aku sangat ingin masuk ke dalam sana dan menikmati es krimnya yang begitu menggoda lidahku, tapi saat melihat harga yang tertera di banner aku langsung menghembuskan nafas lesu karena aku sama sekali tidak membawa uang sebanyak itu saat ini.
Aku rogoh saku celanaku dan hanya ada yang sepuluh ribu rupiah di dalamnya aku menggerutu kesal merutuki diriku sendiri.
"Aishh...kenapa aku bodoh sekali kabur tapi tidak membawa uang, aaahh kalau begini bagaimana aku bisa memiliki es krim lezat itu" ucapku memikirkan.
Banyak anak muda dan remaja lainnya yang keluar dari toko es krim tersebut dan mereka membawa es krim ditangannya masing-masing aku sangat menginginkannya dan hanya bisa melihat di luar toko tersebut, sampai beberapa saat seorang pria keluar dan menghampiriku lalu membawaku masuk ke dalam.
"Haii...sedang apa kamu hanya berdiri disini sedari tadi?, Ayo masuk ke dalam" ajaknya sambil menarik lenganku,
"Ehh, tidak...tidak..aku tidak punya uang untuk membeli es krim mu, aku disini saja" ucapku menolaknya,
"Haha...kau gadis yang manis sudahlah aku akan mentraktir mu, ayo masuk" ucapku membuatku sangat senang.
__ADS_1
Karena mendengar dia akan mentraktir aku, tentu saja aku langsung mengangguk setuju dengan senang dan segera masuk ke dalam bersama pria itu, jika di lihat dari wajahnya sepertinya pria itu tidak jauh usianya dari usiaku, hanya saja dia tinggi mu gkin sama tingginya dengan si Albercio sialan itu.
Aku diajaknya masuk ke dalam dan dia mempersilahkan aku untuk duduk di salah satu meja yang ada disana lalu dia menyuruh pelayan untuk memberikanku es krim, dan dia memberikannya padaku sambil mempersilahkan aku untuk menikmatinya.
"Ayo...kami coba es krim ciptaanku sendiri, ini adalah es krim keluaran terbaru di tokoku ini" ucapku sambil tersenyum lembut,
Aku langsung mencobanya dan rasanya itu sangat manis dan enak, krimnya sangat lembut di lidah dan dingin, aku langsung menyantap es krim itu dengan lahap dan menghabiskannya dengan beberapa suapan saja hingga pria dihadapanku itu tertawa melihat aku yang memakan es krim dengan sangat cepat hingga membuat bibirku belepotan.
"Ahaha...kau benar-benar lucu dan manis bagaimana bisa perempuan sebesar kamu makan es krim seperti anak kecil begini" ucapku sambil membersihkan sisa es krim yang belepotan di pinggir bibirku.
Aku hanya tersenyum dan merasa senang karena pria itu sangat baik padaku padahal kita tidak saling mengenal satu sama lain, sedang di sisi lain Albercio yang mendengar kabar bahwa Arisha kabur dia langsung kembali dari kantornya menuju apartemen dan di perjalanan dia menemukan Arisha yang duduk menikmati es krim bersama seorang pria di dalam sebuah toko es krim yang laris.
Dia langsung menyuruh sekretaris Ben untuk menghentikan mobilnya.
"Berhenti!" Bentak tuan Albercio menyuruh sekretaris Ben menghentikan mobilnya.
Dan saat itu juga Ben langsung menginjak rem secara refleks dan tuan Albercio langsung menerobos keluar dan berjalan dengan cepat masuk menerobos banyak pelanggan yang mengantri di pintu masuk lalu dia menarik lengan Arisha yang masih duduk berhadapan dengan pria asing di depannya.
"Arisha jadi kau disini?" Ucap tuan Albercio dengan memegang tangan Arisha kuat dan menatapnya tajam.
"Apa, lepaskan aku kau selalu mengurungku aku tidak suka!" Balasku dan berusaha melepaskan tanganku darinya.
Tapi Albercio menggenggam lenganku sangat kuat dia malah langsung menyeretku dengan paksa sampai tiba tiba pria asing yang mentraktri aku es krim menahan lengan Albercio dan membuatnya segera berhenti.
__ADS_1
"Lepaskan tanganmu" ucap Albercio dengan mendominasi dan sinis,
"Tidak, tuan tidakkah anda mendengar bahwa gadis ini tidak ingin ikut dengan anda?, Kenapa anda memaksanya seperti itu?" Ucap pria itu mencoba membantuku.
Albercio membalikkan badannya sempurna dan dia menatap sinis ke arah pria itu lalu dia mulai mengeluarkan kalimat mautnya.
"Ini bukan urusanmu, dan jangan ikut campur urusanku!" Kata Albercio yang berupa peringatan kepada pria itu.
Albercio menghempaskan tangan pria itu yang menahan lengan dia sebelumnya lalu dia langsung menarik aku lagi tapi tanganku yang satunya malah di tahan oleh pria asing itu, sepertinya pria itu benar-benar orang yang baik dia mau terus mempertahankan aku hanya karena sebelumnya aku menolak ajakan dari Albercio.
Albercio yang mengetahui itu dia langsung marah dan wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus karena menahan emosi sedari tadi.
"Hey anak muda, lepaskan tangan kotor mu dari ISTRI KU!" Ucap Albercio membentak dengan menekankan kata istri terhadapku.
Seketika semua orang menatap ke arah kami dan pria asing itu justru masih tetap memegangi tanganku sampai aku sendiri yang bicara padahanya agar dia mengerti apa yang dimaksudkan oleh Albercio.
"Aduhhh.... sudah-sudah kenapa kalian malah bertengkar begini sih, tanganku sakit kalian pegang dengan erat, dan kau terima kasih sudah mentraktirku es krim yang sangat enak, dia suamiku dan sebaiknya kau melepaskan tanganku sebelum dia memotong tanganmu" ucapku memberitahunya.
Pria itu pun langsung melepaskan tanganku begitu saja dan Albercio membawaku dengan cepat hingga menghempaskan aku ke dalam mobilnya, sedangkan sekretaris Ben juga mengancam serta memberikan peringatan kejam kepada pria pemiliki toko es krim tersebut.
"Tuan...sebaiknya ini menjadi yang terakhir kalinya saya melihat anda bersama nona muda, jika tidak bisnis anda akan hancur!" Ucap sekretaris Ben lalu menepuk pundak pria asing itu dan pergi menyusul kami ke dalam mobil.
Sekretaris Ben melajukan mobil dengan cepat menuju apartemen sedangkan Albercio hanya duduk diam menatap ke depan tanpa berbicara sepatah katapun kepadaku setalah dia membantuku ke dalam mobil sebelumnya.
__ADS_1