
Saat aku sudah memberikan dia sedikit pengertian Albercio terdiam dan berpikir sejenak dia menatapku semakin serius dengan kedua alis yang dia kerutkan bersamaan hingga hampir menyatu satu sama lain.
"Bagaimana kau mau kan melepaskannya? Aku mohon padamu bahkan jika kamu meminta apapun aku akan melakukannya, asalkan kau mengabulkan permintaanku untuk melepaskan bapak itu, aku janji denganmu Albercio" ucapku keceplosan.
Albercio terlihat menyipitkan matanya dan seperti menyelidik kepadaku.
"Apa kau yakin bisa menepati janjimu?"
"ya tentu saja" balasku tanpa pikir panjang lagi.
Entah kenapa aku malah berani berbicara sembarangan seperti itu, aku sama sekali tidak berpikir panjang saat mengatakannya dan karena saat itu aku sangat panik dan hanya ingin Albercio agar segera melepaskan bapak supir taxi tersebut.
Tiba-tiba saja setelah aku mengatakan akan melakukan segalanya Albercio mulai menampakkan senyum kecil sekilas yang mencurigakan, aku langsung memiliki firasat buruk ketika melihat senyumannya tersebut.
"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu itu dan segera melepaskan supir tidak tahu diri tersebut" ucapnya membuatku sangat senang ketika mendengarnya,
"Wahh....benarkah? Terima...." Ucapku tertahan karena dia memotong ucapanku,
"Tunggu jangan senang dulu kau, ingat perkataanmu sebelumnya kau akan melakukan apapun yang aku minta jika aku mengeluarkan dia dari penjara, jangan lupakan itu!" Ucapnya membuatku seketika menjadi lesu,
"Iya...iya aku tidak akan melupakannya, kenapa kau sangat perhitungan sekali sih, sudah cepat lakukan dulu janjimu, lepaskan supir taxi itu" ucapku sambil mendorong tubuhnya.
Kami pun kembali masuk ke dalam kantor polisi dan Albercio secara langsung memerintah agar kasus ini tidak di lanjutkan dan dia memilih jalur sampai dengan supir taxi tersebut, pihak kepolisian tersenyum senang dan mereka segera memuji Albercio dan segera mengeluarkan bapak supir taxi itu dengan cepat
Saat supir taxi itu menghadap Albercio dia langsung bersujud di bawah kakinya dan itu membuat aku sangat kaget, dia meminta maaf sambil terus merendahkan dirinya sendiri, aku tentu saja tidak tega dan tidak terima mihat hal tersebut, aku segera menghampiri bapak itu dan menyuruhnya agar segera berdiri.
__ADS_1
"Tuan...maafkan saya tuan, saya tahu ini kesalahan saya tolong ampuni saya, dan terimakasih anda sudah berbaik hati mengeluarkan saya dari sini, terimakasih tuan" ucap supir tersebut,
"Pak ...sudah....ayo bangun, apa yang kau perbuat sampai merendahkan dirimu seperti ini, kita sama-sama manusia tidak pantas bagi manusia bersujud pada manusia lainnya, ayo cepat bangkit pak" ucapku sambil membantunya segera berdiri,
Bapak itu menggenggam tanganku dan dia juga meminta maaf serta berterima juga kepadaku dan aku segera menghentikannya karena itu membuatku merasa tidak enak.
"Terimakasih nona, terimakasih sudah mau memaafkan saya, dan maafkan saya karena mempersulit mu sebelumnya" ucap bapak tersebut terlihat sangat menyesal.
"CK...beruntunglah kau berhadapan dengan istriku yang baik hati, jika tadi menimpaku aku tidak akan memberimu ampun dan jika istriku tidak memohon padaku aku sudah memenjarakanmu" ucap Albercio membuat bapak itu tertunduk merasa bersalah,
"Albercio apa yang kau katakan, sudah jangan berlebihan begitu, bagaimana pun dia tetaplah orang tua kita harus menghormatinya" ucapku berbisik pada Albercio,
"Maafkan suami saya ya pak, dia memang seperti itu, tapi hatinya baik kok" ucapku meminta maaf atas nama Albercio.
Dia hanya menatapku sinis dan terlihat memalingkan pandangan dengan cepat ke arah lain, sedangkan bapak itu segera berpamitan setelah terus meminta maaf dan berterima kasih, wajahnya terlihat lebih cerah dan senang, aku juga memberikan uang ongkos taxi ku dan tentu saja aku meminta uang itu dari Albercio.
"Eh, tunggu pak!" Ucapku menahannya,
"Albercio....aku minta uang, cepat berikan aku uang atau dompetmu!" Ucapku berbisik sambil menarik ujung jasnya,
Dia terlihat menatap aku dengan mengerutkan keningnya tapi walau begitu dia segera memberikan dompetnya padaku, aku membuka dompetnta itu dan aku melihat ada beberapa lembar uang di dalamnya, aku mengambil semua uang itu dan memberikannya pada sang supir taxi, karena aku tahu dia sudah rugi waktu yang banyak karena ku.
"Ini pak, ongkos taxi ku dan selebihnya anggap saja ini berkah untukmu" ucapku memberikannya.
Bapak itu terlihat sangat bahagia bahkan dia sampai terharu, dia kembali membungkuk berterimakasih kepadaku dan aku hanya mengangguk kepadanya. Hingga ketika aku sudah berada di dalam mobil dengan Albercio barulah aku berikan dompet itu kembali kepada pemiliknya.
__ADS_1
"Ini dompetmu, terimakasih sudah meminjamkannya" ucapku sambil tersenyum dan menaikkan alisku sekilas.
Aku merasa sangat senang ketika bisa membantu supir taxi tersebut setidaknya membantu sesama bisa membuat kita bahagia, dan hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang aku juga berharap ada orang yang baik terhadap paman juga diriku.
Disisi lain tuan Albercio diam-diam memperhatikan Arisha yang terus saja tersenyum sepanjang perjalanan hingga mereka sampai di rumah, dan ketika aku hendak masuk ke kamar Albercio menahan tanganku.
"Ehh ..ada apa?" Tanyaku dengan heran,
"Apa kau lupa dengan janjimu hah? Aku sudah melaksanakan janjiku sekarang giliranmu yang harus melakukan janjimu, ayo ikut aku" ucapnya menarikku langsung tanpa aba-aba.
Dia membawaku masuk ke dalam kamarnya dan mendorongku ke ranjang miliknya, aku sudah sangat panik dan terperangah kaget, dia membuat aku kebingungan dan berpikir yang tidak-tidak.
"Mau apa kau membawaku kemari?" Tanyaku dengan wajah yang panik,
"Kenapa dengan ekspresi di wajahmu, ini kan kamar suamimu dan sudah sepantasnya suami istri tidur di kamar yang sama, kenapa kau terlihat panik seperti itu" balasnya dengan santai dan terus berjalan mendekatiku.
Aku segera mundur menjauh darinya tapi dia terus mendekatiku hingga mentok ke belakang dan aku tidak bisa mundur lagi, sedangkan Albercio mulai memperlihatkan senyum aneh di wajahnya yang membuat aku sedikit ketakutan.
"A..a... Albercio jangan coba-coba kau melakukan hal itu, jika tidak aku akan membunuhmu!" Ucapku mengancamnya,
"Hal apa maksudmu, aku hanya ingin kau tidur di sampingku itu saja, memangnya kau berpikir apa?" Balasnya sambil merebahkan diri di sampingku dan menarik selimutnya.
Aku membeku merasa malu dan sedikit lega, karena ternyata dia hanya memintaku untuk tidur di ranjangnya saja.
"A..ahh.... syukurlah jika kau hanya ingin tidur bersampingan" balasku sambil segera membenarkan posisiku.
__ADS_1
Aku merebahkan diriku dan mulai menarik selimutku juga, tapi aku sungguh merasa sangat tegang dan tidak bisa tertidur bahkan hingga hampir tengah malam.
Ini pertama kalinya aku tidur bersama orang lain terlebih dia adalah seorang pria, meski dia juga suamiku tetapi aku tetap tidak pernah menganggap dia seperti itu, sehingga ini begitu canggung bagiku.