Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Kelakuan Serli


__ADS_3

Bahkan ibu Kirana juga sangat baik padaku dia mengutamakan semua kebutuhan aku selama aku tinggal disana dan saat ini setelah tiga hari menginap dan tinggal di kediaman ibu mertuaku, ibu Kirana malah tidak ingin aku pergi atau kembali lagi ke negaraku, tapi aku tentu saja harus kembali sebab Albercio juga harus mengurusi perusahaan dia disana.


Namun sebelum kembali lagi ke sana, aku meminta Albercio melaksanakan janjinya padaku untuk mempertemukan aku dengan Serli dan rupanya disana juga ada sekretaris Ben yang selalu mengikuti kemanapun tuan Albercio berada.


Malam ini aku sudah bersiap siap pergi ke sebuah bar yang ada disana bersama sekretaris Ben dan tuan Albercio, memakai rok mini dengan aksen batik dan blouse berwarna cream aku cukup menyukai pakaian ini namun saat keluar dari kamar dan menemui tuan Albercio dia justru malah menyuruh aku untuk kembali mengganti pakaian dan justru malah memberikan aku pakaian yang sangat tidak cocok bagiku, sebuah celana panjang berwarna hijau dengan kaos tangan pendek berwarna putih dan dia memasangkan sebuah jas blazer panjang padaku hanya karena tangannya pendek.


"Nah kalau pakaian itu baru cocok untukmu, ayo kita pergi sekarang" ucap tuan Albercio sialan,


Aku tidak terima dengan akaian ini karena aku pikir pakaian tersebut sangat tidak cocok sekali untuk pergi ke bar, dan warnanya juga terlalu mencolok apalagi celana yang aku pakai, ini seperti aku akan joging bukan pergi ke sebuah bar, tapi dia justru malah memakai setelah jas berwarna biru Dongker dan terlihat sangat keren, tapi padaku dia malah menyuruh untuk memakai pakaian yang jelek seperti ini, tentu saja aku sangat tidak terima dan langsung menahannya.


"E..eh... Tunggu tunggu, tuan apa kau yakin aku harus pergi ke bar untuk menemui Serli dengan pakaian aneh seperti ini? Ayolah tuan aku ini seorang wanita muda berusia sembilan belas tahun dan masih sangat bersemangat, mana mungkin aku ke bar dengan pakaian ini, memangnya aku mau joging apa?" Ucapku kepadanya sambil melihat pakaianku yang sangat buruk ini.


Bukannya mengijinkan aku untuk berganti pakaian yang lebih baik dia malah mengancam aku sehingga aku tidak dapat berkutik lagi dan hanya bisa mengikutinya dengan perasaan kesal dan tertunduk lesu.


"Hey... Kamu mau pergi atau tidak, jika kau mengganti pakaianku lagi maka aku akan membatalkan pertemuan ini" ucapnya mengancamku,


"Aishh....kau memang selalu mengancam, baiklah iya...iya aku akan pergi sekarang, dengan pakaian menjengkelkan ini" balasku sambil menghentakkan kaki dan berjalan melewati dia lebih dulu.


"Ayo cepat! Kenapa kau masih berdiri disana juga?" Bentakku kepadanya karena dia berdiri di belakangku.


Tuan Albercio menahan tawa melihat Arisha marah dan kesal kepadanya, namun alasan dia melakukan itu kepada Arisha karena dia tidak ingin melihat Arisha memakai pakaian yang minim dan membuat dia merasa kesal karena sebelumnya ketika Arisha memakai pakaian yang seksi dan memperlihatkan kaki jenjang juga tangan mulusnya itu membuat para pria melirik ke arahnya.


Sehingga itu membuat darah tuan Albercio bergejolak dan rasanya dia ingin menghajar semua pria yang menatap istrinya dengan terpukau dan menikmati kecantikan istrinya itu, sehingga malam ini dia sengaja menyuruh Arisha untuk menggunakan pakaian yang jelek dan sederhana agar tidak membuat pria lain melirik ke arahnya.


Hingga di dalam mobil aku tidak mau berkata-kata dengannya bahkan ketika sampai di dalam bar itu aku memilih berjalan di samping sekretaris Ben saja dan duduk di sebuah sofa yang cukup besar dan empuk menunggu kedatangan Serli.


Aku sudah duduk disana beberapa jam lamanya dan mulai kesal karena tidak kunjung menemukan Serli juga sampai tidak lama sekretaris Ben memberitahuku bahwa Serli sudah tiba dan dia juga tuan Albercio harus pergi dari sampingku agar Serli tidak mengetahui bahwa aku ke sana bersama mereka berdua.


"Tuan sepertinya nona Serli sudah masuk ke dalam bar, kita harus pergi meninggalkan nona Arisha, agar dia bisa bicara yang sebenarnya" ucap sekretaris Ben memberitahu aku,


"Ah... Iya sana kau cepat pergi aku juga akan mencari Serli" ucapku kepadanya,


"Ingat jangan menjadi bodoh dan jangan jauh-jauh dari wilayah ini agar aku bisa memantaumu, mengerti!" Ucap tuan Albercio dan aku balas segera dengan anggukan.


Dia pun segera pergi bersembunyi dengan sekretaris Ben hingga tidak lama Serli sungguh datang dan aku memanggilnya sampai dia menghampiriku dan terlihat kaget ketika melihat aku disana.


"Arisha? Kau.... Bagaimana bisa kau ada disini?" Tanya dia padaku,


"Aku sengaja datang jauh-jauh kesini hanya untuk menemui mu Serli, aku sangat merindukanmu, apa kau tidak merindukan aku?" Ucapku dengan wajah yang tidak tahan menahan kesedihan.


Melihat betapa terbuka dan sangat berbedanya penampilan Serli saat ini, dia sudah tidak seperti Serli yang aku kenal, dia memakai pakaian ketat berwarna hitam, bahkan dengan bagian dada yang sangat minim, dia juga datang dengan Anton dan mereka terlihat bersentuhan dengan bebas, bahkan mereka berani berpelukan dihadapanku seenaknya.


Serli juga seperti tengah dalam pengaruh alkohol sehingga dia tidak terlalu bicara dengan benar kepadaku disaat aku mengajaknya berbicara.


"Serli apa kau baik-baik saja?" Tanyaku kepadanya,


"Ahaha.. apa yang kau pikirkan Arisha tentu saja aku baik-baik saja, mari kita bicara di luar saja, disini terlalu berisik" balas Serli dan aku langsung mengikutinya.

__ADS_1


Aku yakin tuan Albercio juga akan mengikutiku dari belakang, hingga ketika kami sudah berada di luar bar itu dan disana memang jauh lebih sepi, aku mulai kembali bertanya pada Serli.


"Serli apa yang terjadi denganmu, kenapa kamu berubah seperti ini? Dan pakaianmu kenapa kamu memakai pakaian terbuka seperti itu?" Tanyaku kepadanya,


"Arisha.... Beginilah kehidupan aku di negara yang bebas ini, dan kau lihat tadi Anton masih bersamaku karena aku menjaga tubuhku untuknya, jika aku tidak menarik atau memakai pakaian sepertimu, haha. Tidak akan ada pria yang mau menyentuhku Arisha" balas Serli yang membuat aku semakin tidak mengenali sosok dia,


"Serli apa beban hidupmu seberat itu, sampai kau berubah begitu banyak, aku mohon Serli kembalilah denganku aku akan membantumu apapun yang kau butuhkan tapi kau harus meninggalkan kehidupan yang gelap ini dan tinggalkan saja Anton" ucapku padanya.


Aku mengatakan itu karena aku menyayangi dia dengan tulus aku tidak ingin melihat dia rusak seperti itu, tidak memiliki harga diri dan bisa di sentuh dengan bebas oleh Anton padahal aku tahu mereka belum menikah dan tadi aku lihat bukan hanya Anton yang menyentuh Serli dan bukan hanya Serli yang menyentuh Anton, pemandangan itu sangat membuat mataku sakit terlebih ini menimpa sahabat terbaik sekaligus saudaraku.


Ku pikir Serli akan mau kembali denganku namun ternyata aku salah dia justru menolakku mentah-mentah dan malah mengusirku dari sana dengan wajah yang kesal padaku.


"Hey... Siapa kau berani sekali mengaturku, aku sudah bahagia dan senang tinggi di sini bersama Anton dan tidak ada yang bisa menghentikan aku ataupun mengatur hidupku termasuk kau musuh terbesarku!" Ucapku dia sambil mendorong bahuku cukup kuat hingga aku mundur beberapa langkah ke belakang,


"Mu...mu... musuh? Kenapa kau bisa menyebut aku musuhmu Serli? Bukankah kita saudara dan sahabat?" Ucapku dengan memegangi dadaku menahan rasa sakit di dalam hatiku,


"Kau bodoh! Sejak dulu aku tidak pernah menganggap mu sebagai sahabat apalagi saudara, aku hanya menganggap mu sebagai musuh dan aku sengaja menjadi baik di hadapanku agar aku bisa menyakitimu hingga kau hancur seperti sekarang. Ahahaha... Kau tahu aku juga membantu Melinda untuk membunuh pamanmu, dan kedua orangtuamu, tapi kau bodoh karena masih mempercayai aku saat itu, bahkan aku juga yang menikmati uang dari si Albercio bodoh itu karena dia menikahimu ahahaha... Dasar kumpulan orang-orang bodoh!" Ucapnya sambil tertawa tidak jelas.


Aku hanya diam tertegun ketika sudah mendengar semua kebenaran dari mulut Serli secara langsung, dan kini aku tidak membutuhkan jawaban apapun lagi darinya, dia sudah mengungkapkan semuanya dengan sendiri.


"Serli aku bisa saja memaafkanmu bahkan jika kau orang yang menjual aku pada tuan Albercio, tapi jika kau juga dalang dari kematian kedua orangtuaku, aku tidak akan mengenalmu lagi Serli, persaudaraan dan persahabatan kita cukup sampai disini!" Ucapku dengan tegas,


Dan Serli hanya menghempaskan tangannya tidak perduli lalu dia kembali masuk ke dalam begitu saja, di sambut oleh Anton dan mereka hanya asik berpesta begitu saja.


Aku hanya bisa menangis tanpa suara dan hanya air mata yang mengalir dengan deras dari mataku hingga membasahi pipi begitu saja.


"Sudah.... Kau tidak pantas menangisi orang seperti mereka" ucap tuan Albercio sambil memelukku kemudian.


Melihat bagaimana tuan Albercio memelukku dan menghapus air mataku aku semakin tidak bisa menahan tangisku dan malah langsung menangis lebih keras dia juga tidak melarangku untuk menangis justru dia malah menyuruh aku untuk meluapkan segalanya saat itu juga.


"Jangan ditahan kau harus menangis jika ingin menangis, menangislah sekeras yang kau inginkan, aku akan menutupimu agar orang tidak memperhatikan" ucapnya sambil terus memelukku dan menutupi kepalaku dengan jas yang dia kenakan.


Aku memeluknya sangat erat bahkan hingga kemejanya basah karena air mataku, dan ketika aku sudah merasa sedikit lebih baik aku segera melepaskan pelukanku padanya lalu meminta maaf dan berterima kasih padanya sambil membersihkan jasnya yang terkena air mataku.


"Hiks....hiks... Terimakasih dan maaf karena aku pakaianmu basah seperti ini" ucapku padanya dengan sendu,


"Tidak papa ini hanya basah sedikit nanti juga akan kering dengan sendirinya, ayo aku bawa kau ke tempat yang sangat indah sampai kau akan melupakan semua kesedihan" ucapnya sambil menggandeng tanganku dan membawa aku masuk ke dalam mobilnya.


Sebenarnya aku sangat malu karena menangis di hadapannya dan aku tahu wajahku pasti sangat jelek ketika menangis seperti tadi dan aku tahu aku pasti sangat memalukan sekali saat itu, kini aku hanya bisa diam tanpa berani menatap wajahnya lagi karena masih cukup malu dengan dia.


Aku memaksanya untuk mempertemukan aku dengan Serli karena aku tidak cukup mempercayai dia sebelumnya namun kini semuanya terbukti nyata aku mendengar semuanya dengan jelas oleh kedua telingaku sendiri dan melihat bagaimana berubahnya Serli saat ini.


Aku sungguh merasa tidak enak hati dan menyesal karena tidak mempercayai Albercio sebelumnya, jika tahu ini akan sangat menyakitkan untukku aku lebih baik tidak pernah bertemu dengan Serli dan aku akan melupakan dia untuk selamanya.


*****


Sesampainya di tempat tujuan yang dimaksud oleh tuan Albercio dia segera membawa aku turun dari mobil dan berjalan menuju sebuah jembatan lengkung diatas sebuah sungai yang cukup besar dan lebar.

__ADS_1


Kulihat pemandangan kota yang sangat indah dari sana juga kedamaian yang bisa aku rasakan juga suara derasnya air yang sangat menenangkan.


"Bagaimana apa kau suka tempat ini?" Tanya tuan Albercio kepadaku,


"Iya aku sangat menyukainya, disini sangat damai dan tenang" ucapku sambil tersenyum padanya,


"Apa kau mau tahu apa impianku sejak kecil?" Ucap tuan Albercio kepadaku tiba-tiba,


"Apa?" Tanyaku sedikit penasaran,


"Aku tidak pernah bermimpi untuk menjadi orang terkaya ataupun memiliki perusahaan besar dimana mana, saat itu ketika ayahku masih hidup aku selalu dia ajak untuk datang ke tempat ini dan dari dulu hingga sekarang jembatan ini masih sama, hingga aku mengatakan bahwa impianku adalah datang mengunjungi jembatan ini bersama orang yang sangat aku cintai, aku ingin berciuman dengannya disini dibawah sinar bulan" ucapnya membisikan kata sensitif itu padaku.


Aku langsung membelalakkan mata dengan lebar dan langsung memukul dia dengan kuat satu kali.


"Bukk.... Kau ini apa-apaan sih, dalam keadaan seperti ini saja kau masih mau menggodaku, sana jaga jarak denganku!" Ucapku sambil bergeser menjauh darinya.


Dia hanya tersenyum saja padaku dan dia tetap mendekatiku lalu merangkul pundakku dan merapatkan tubuhnya di dekatku.


"Aku tidak bodoh dan tidak sedang menggodamu, memang itu impianku sejak dulu, dan mungkin saja kau bisa mewujudkan impianku itu saat ini" ujar dia menambahkan tanpa rasa malu.


"Albercio jangan coba-coba, atau kau akan aku hajar!" Ucapku mengancam padanya tanpa melihat wajahnya sedikitpun.


Aku hanya menatap ke depan dengan lurus dan mulai menutup mataku dan menarik nafas dalam menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku dan menerbangkan rambutku.


Rasanya sungguh menyejukkan hati dan pikiran, kedamaian dan suara derasnya air di bawah sana membuat aku merasa sangat rileks sampai tiba-tiba saja Albercio mengecup pipiku sekali dan itu membuat aku langsung membuka mata dan menatap padanya dengan heran.


"Albercio apa kau sangat menginginkan itu?" Tanyaku padanya,


"A...apa?" Tanya dia balik dengan wajah yang gugup,


"Oh kau tidak mengerti maksudku yah, oke aku tidak akan jadi memberikannya padahal tadi aku berniat untuk...." Ucapku tertahan karena dia langsung mengecup bibirku.


Dan dia mengangguk padaku lalu kemudian kembali melakukannya dengan sangat lembut padaku, perlahan aku juga mulai menerima perlakuannya dan tanganku mulai melingkar pada pinggangnya.


Malam itu menjadi malam yang menyedihkan untukku namun juga malam yang berkesan dengan Albercio.


Aku mewujudkan impiannya yang sangat konyol dan kami segera kembali ke rumah setelahnya, dia terlihat sangat bahagia dan terus menggandeng tanganku seakan takut kehilangan aku, bahkan dia tidak membiarkan tante Kirana untuk berbicara padaku malam itu dan dia terburu-buru mengajakku masuk ke dalam kamar.


Tentu saja aku mencurigainya dan ternyata memang benar dia kembali menginginkan lebih dariku dan aku langsung sana meninju perutnya itu, karena dia tidak tidak merasakan jadi aku, aku ingin beristirahat malam ini dan segera tidur lebih dulu untuk menghindari Albercio yang ganas itu.


"Arisha ayolah aku sangat menginginkannya, kenapa kau tidak bersikap baik kepada suamimu ini, Arisha bangunlah" ucapnya merengek seperti bocah kecil,


"Tidak sekali ku bilang tidak ya tidak aku lelah, Albercio aku ingin tidur" balasku dan segera membalikkan badan membelakangi dia.


Karena aku terus menolaknya, akhirnya dia pun menyerah juga dan segera merebahkan tubuhnya walau dengan perasaan kesal tapi dia tetap memelukku dari belakang dan mengucapkan selama malam padaku.


Aku hanya bisa diam-diam tersenyum kecil karena sangat senang mendapatkan perhatian yang sangat manis seperti itu darinya.

__ADS_1


__ADS_2