Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Memohon


__ADS_3

Aku hanya mengecup bibirnya sekilas untuk ke dua kalinya tapi reaksi dia masih sama, dia lebih mirip sebuah patung yang yang bernafas dibandingkan seorang manusia, tapi walau begitu aku mendapatkan kemudahan karena bisa terlepas dari pelukannya, dan aku segera membentak dia lebih kencang agar dia cepat tersadar.


"ALBERCIO!" Bentakku sangat keras,


"Ahh....iya ada apa?" Tanya dia seperti orang linglung.


Aku hanya bisa menepuk jidatku pelan tidak mengerti lagi dengan apa yang dia pikirkan sampai dia terdiam dan menatap dengan tidak fokus seperti tadi.


"Albercio boleh aku meminta bantuanmu?" Ucapku mengutarakan permintaan kepadanya.


Awalnya aku berniat membalaskan dendam ku kepada Melinda seorang diri namun sekarang aku tahu sekuat apa dia, dan aku rasa aku tidak akan bisa melawan dia hanya dengan kekuatanku sendiri, lagi pula aku memiliki Albercio bukankah seharusnya aku meminta bantuan kepada suamiku, meski dia bukan suami sungguhan.


"Apa katakan saja?" Jawabnya sambil tersenyum senang kepadaku.


Sejujurnya aku sedikit ngeri melihat dia kembali tersenyum seperti sebelumnya dia terlihat lebih menyeramkan ketika tersenyum seperti itu dibandingkan dengan saat dia marah kepadaku.


Walau merasa aneh dan ngeri aku langsung mengesampingkan perasaan itu dan langsung saja mengutarakan permintaanku kepadanya dengan sedikit gugup dan menggigit bibirku sesaat.


"Eumm....begini bisakah kamu membantuku mencari tahu mengenai Serli, aku sangat ingin bertemu dengannya, aku tetap tidak percaya jika Serli mengkhianati aku, mungkin jika aku bertemu dengannya dan mendengarkan penjelasan darinya aku akan memahami apa yang sebenarnya terjadi" ucapku mengatakannya.


Wajah Albercio langsung berubah menjadi datar dan senyum ceria nya seketika menghilang entah kemana, dia langsung menatapku dengan tajam dan aku mulai merasa takut dengan tatapannya tersebut, aku tahu mungkin dia marah dan kesal kepadaku tapi aku juga tidak mengerti kenapa dia bisa menjadi seperti itu secara tiba-tiba, hanya dalam hitungan detik sejak aku mengungkapkan permintaanku kepadanya.


"Albercio, ke..kenapa kau....menatapku begitu?" Tanyaku dengan gugup,

__ADS_1


"Heh, apa kau idiot atau semacamnya? Kenapa masih ingin menemui teman pengkhianat sepertinya, apa rekaman tadi masih belum cukup jelas untukmu?" Bentaknya begitu saja.


Aku hanya bisa tertunduk dan menghembuskan nafas lesu, aku tahu mungkin aku bodoh dimatanya karena masih mencemaskan Serli dan merindukan dia padahal aku sudah melihat dengan jelas dari rekaman itu bahwa dia bersekongkol dengan bibiku sendiri untuk menjebak aku hanya demi uang, tetapi walau begitu aku hanya bisa marah sesaat kepadanya dan ketika amarahku sudah reda.


Aku tetap merindukan dia, aku mencemaskan dia dan aku masih sedikit berharap bahwa semua itu adalah kesalahan pahaman saja, aku tidak ingin kehilangan sahabat sekaligus saudara sepertinya, dia yang menemani aku melewati kesulitan dan tinggal bersama sebelum aku bersama Albercio, dia bahkan mau bekerja paruh waktu hanya untuk membiayai hidup kami berdua.


Itulah yang membuat aku sulit mempercayai semuanya secara utuh, aku pikir apa dia akan setega ini kepadaku dan melakukan semuanya tanpa rasa bersalah sedikitpun kepadaku.


Meski Alberysudah membentakku dan mengataiku seperti itu, aku tetap memohon kepadanya untuk membantuku menemui Serli, aku sangat merindukan dia dan ingin melihat wajahnya.


"Albercio aku tahu mungkin aku konyol, mungkin aku juga bodoh tapi aku perlu memastikan semuanya sendiri, dia orang yang pernah berada di sampingku disaat aku berada di titik paling rendah, dia menolongku setiap saat dan dia juga yang memberitahuku bahwa penyebab kematian kedua orangtuaku adalah bibi Melinda, dia yang mengungkapkan semuanya jadi sulit untukku mempercayai semua itu dengan utuh" ucapku mengungkapkan keresahanku.


"Aku tetap harus menemui dia Albercio, aku mohon padamu, hanya kau yang tau dia dimana sekarang, setidaknya aku ingin melepaskan rasa rinduku kepada Serli" ucapku memohon kepadanya.


Aku langsung berlari menahannya dan memegangi tangannya dengan kuat, aku akan tetap berusaha membujuk Albercio meskipun aku tahu ini akan sulit.


"Albercio tunggu, aku mohon padamu dan tidak bisakah kamu membantuku kali ini saja aku mohon, aku tahu semua ini sangat mudah bagimu jadi apa susahnya kau membantuku Albercio" ucapku dengan memasang wajah menyedihkan,


"Aish....aku tidak akan membantumu untuk bertemu pengkhianatan sepertinya, kau tahu bagaimana karakterku dalam dunia bisnis, aku akan menghancurkan temanmu Serli itu dan membuat dia sendiri yang akan datang serta bertekuk lutut untuk meminta maaf kepadamu!" Ucapnya begitu tegas.


Aku langsung diam termenung dan perlahan tanganku yang menahan tangan Albercio terlepas sedikit demi sedikit, aku tidak menyangka dia akan bertindak sekejam itu kepada Serli padahal aku tidak pernah meminta dia untuk melakukannya, aku juga tidak pernah melihat dia memasang raut wajah yang merah padam dan mengerutkan kedua alisnya bersamaan, aku juga melihat dengan jelas jika saat itu Albercio sungguh tengah menahan emosinya yang luar biasa.


Jika dia sudah seperti itu aku bahkan tidak bisa memohon ataupun membujuk dia lagi, karena aku tahu seberapa keras kepalanya seorang tuan Albercio yang terhormat ini. Aku hanya bisa tertunduk dengan lesu dan membiarkan dia pergi dari ruangan tersebut.

__ADS_1


"Tuhan aku harap Serli akan baik-baik saja" gerutuku pelan.


Aku berniat untuk menunggu Albercio kembali dan aku baru saja hendak duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya namun tidak lama Albercio kembali menghampiriku dan dia terlihat membingungkan.


"Eh, Albercio ada apa kamu kembali apa ada hal yang kamu lupakan, apa biar aku Carikan untukmu" ucapku sambil menatapnya,


"Kemari kau" ucap Devinka serius,


"Ada apa kau memintaku untuk menghampirimu?" Tanyaku sambil berjalan menghampiri dia perlahan.


Sampai ketika aku berada dekat di hadapannya dia tiba-tiba saja menarik kepalaku dan mencium keningku begitu saja.


Aku kaget dan langsung membelalakkan mataku sempurna dan anehnya aku tidak bisa bergerak saking merasa gugup, aku tidak bisa melakukan apapun dan dia bahkan memegangi kedua pundakku lalu dia bicara layaknya seorang pasangan suami istri sungguhan kepadaku dan suaranya terdengar begitu lembut di telingaku.


"Jangan khawatir aku akan membantumu, hanya aku yang boleh membuatmu menangis dan aku tidak akan melakukan itu, tunggu sampai aku kembali" ucapnya sambil tersenyum kepadaku.


Dia pun langsung pergi setelah berkata seperti itu kepadaku dan aku masih tetap.dia menatap punggungnya yang semakin menjauh pergi dari ruangan tersebut. Aku pun ambruk terduduk di sofa seketika dan memegangi keningku yang di kecup oleh Albercio sebelumnya, aku masih belum bisa menerima semua ini.


Aku merasa ini seperti mimpi dan aku masih merasa syok karena kelakuan Albercio yang tidak bisa di tebak dan dia bersikap terlalu terus terang kepadaku.


"Apa yang barusan dia lakukan, dia mencium keningku dan mengatakan akan membantuku, apa itu artinya dia....." Ucapku mulai tersadar.


Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tangan karena sadar bahwa artinya Albercio akan membantu aku untuk mencari tahu dimana keberadaan Serli saat ini dan dia akan membantuku menemuinya.

__ADS_1


__ADS_2