
Saat sudah berada tepat di hadapannya aku langsung bertanya dengan sinis dan malas.
"Apa lagi?, apa kau belum puas membuatku kelaparan dan berjalan kaki sepanjang hari hanya untuk mengantarkan makan siang padamu hah!" Ucapku dengan kesal,
"Tentu tidak puas, kau harus menyuapiku cepat lakukan aku sudah lapar!" Jawabnya memerintah lagi,
"Jangan harap, aku ini lelah dan sangat lapar dari pada menyuapimu lebih baik aku habiskan semua makanan ini sendiri" ucapku sambil mengambil kembali box makanan itu dari atas mejanya,
"Hei... Berani beraninya kau mengambil jatah makanku, cepat berikan!" Bentaknya sambil berdiri dari kursinya,
Aku sengaja melakukan itu karena aku tau dia tidak akan memberikan makanannya padaku dan dengan begitu aku tidak perlu menyuapinya yang menjengkelkan.
"Ya sudah makan sana, dan jangan menyuruhku lagi" ucapku tegas,
Aku hendak pergi tapi dia lagi lagi menahan tanganku dan menarikku untuk duduk di sofa ruang pribadinya yang berada di dalam ruangannya itu.
"Eh.. eh.. lepaskan aku kau mau apa membawaku ke ruangan ini?" Tanyaku sedikit kaget,
"Sudah duduk saja, aku tau kau kelaparan dan aku tidak sekejam itu, temani aku makan sekarang juga" ucapnya sambil membuka box makanan yang aku bawa sebelumnya.
Aku menatap tajam penuh curiga dan terus mengamati setiap gerak geriknya sampai dia memberikanku makanan itu.
"Heh... Apa kau sakit, atau jangan jangan kau menaruh racun di dalam makanan ini yah?" Tanyaku menaruh curiga.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan aku bertanya seperti itu karena aku tau dia sangat kejam dan tak memiliki belas kasihan pada siapapun terlihat dari caranya saat melatih para bodyguard sebelumnya dan cara dia memperlakukanku yang sama sekali tak merasa kasihan padaku namun kali ini dia tiba tiba saja memberiku makan di saat dia sendiri yang membuatku kelaparan, tentu saja itu sangat aneh bagiku.
Mendapat pertanyaan seperti itu dariku dia justru malah menghembuskan nafas berat dan menaruh makanan di meja lalu mendesak badanku sampai aku tersentak ke sandaran sofa, wajahnya sangat dekat denganku sampai aku sedikit merasa takut dan panik.
"Apa kau pikir aku se sadis itu meracuni istriku sendiri, cepat makan atau aku akan benar benar membuatmu kelaparan!" Ancamnya membuat bulu kuduk ku merinding.
Aku merasa heran karena aku pikir dia tidak pernah menganggap ku sebagai istrinya, yang aku tau dia hanya menganggap ku sebagai tawanan karena mencurigai ku bersekongkol dengan paman dan bibi yang sudah menipunya dengan jumlah yang besar, tapi aku tak mau bertanya padanya saat ini aku pun segera mengangguk dan memakan makanan yang dia berikan dengan lahap, rasanya sangat tak tahan lagi untuk menghabiskan semua makanan yang tersaji karena aku belum makan sejak pagi ditambah masih harus mengeluarkan energi ekstra dengan berjalan di bawah teriknya matahari untuk mengantar makanan ini, ahhh rasanya sangat puas dan kenyang saat sudah menghabiskan semua makanan itu.
Aku menyandarkan tubuhku ke sofa dan tak terasa kantuk mulai menyerang ku dan aku tertidur begitu saja karena terlalu lelah dan perut yang sudah kenyang, aku sendiri bahkan tak sadar kapan aku mulai tertidur lelap.
Albercio yang baru selesai makan dan melihat Arisha yang sudah tertidur lelah di sampingnya dia hanya tersenyum singkat dan membenarkan posisi Arisha lalu dia membuka jas nya dan digunakan untuk menyelimuti Arisha karena dia mengenakan gaun di atas lutut.
"Dasar gadis keras kepala bagaimana bisa seorang wanita tidur dengan cepat setelah makan" ucap Albercio sambil menggelengkan kepala.
Sekretaris Ben mengangguk patuh dan segera menyampaikan perintah itu pada sang bodyguard, sekretaris Ben juga merasa bingung karena melihat tuan Albercio memperbolehkan seorang wanita masuk ke dalam ruang pribadinya padahal sebelumnya tidak ada yang bisa masuk ke dalam ruangan itu kecuali Albercio dan sekretaris Ben, jangankan seorang wanita bahkan kedua orang tua dan adik angkatnya sendiri tidak di ijinkan masuk ke dalam ruangan itu dengan alasan itu adalah private khusus untuknya.
"Sejak kapan tuan Albercio mengijinkan orang asing masuk ke dalam ruangan itu?" Ucap sekretaris Ben yang tak sengaja terdengar oleh Albercio,
"Apa yang kau pikirkan Ben, dia istriku bukan orang asing, meski aku tidak mencintainya tapi semua orang sudah tau itu" ucap Albercio menjelaskan,
Sekretaris Ben segera meminta maaf atas ucapannya yang terlihat begitu kasar mengatakan istri tuannya sendiri sebagai orang asing.
"Maafkan saya tuan saya kira anda membenci nyonya maka dari itu anda memperlakukannya sangat keras" ucap sekretaris Ben,
__ADS_1
"Aku memang tidak menyukainya dan dia sangat menjengkelkan tapi aku bukan orang kejam Ben, aku hanya akan membunuh orang orang yang hina dan bersalah, sedangkan dia kita sama sekali belum tau kebenarannya" jawab Albercio yang membuat sekretaris Ben kagum padanya.
"Tuan memang orang yang baik" gumam sekretaris Ben.
Mereka kembali mengerjakan pekerjaan masing masing dengan serius sampai tak terasa waktu berlalu dengan cepat, Arisha yang sudah tertidur beberapa jam dia mulai terbangun dan menyadari sekitar bahwa dia tidak berada di kamarnya.
"Dimana aku?" Ucap Arisha sambil bangkit duduk,
Saat melihat sebuah jas melingkar menutupi pinggangnya dia baru ingat kalau dia berada di kantor Albercio lebih tepatnya di dalam ruang pribadi Albercio.
"Aishh.... Aku lupa kalau masih berada di kantor nya, bagaimana bisa aku tidur dengan nyenyak di kandang harimau yang bisa memangsaku kapan saja aduhhhh" ucap Arisha sambil menggaruk belakang kepalanya pelan.
Arisha segera bangkit dan merapihkan pakaiannya lalu dia pergi keluar dengan membawa kotak makan yang sudah tersusun rapih.
Saat dia lihat Albercio masih bekerja dengan serius di depan laptop dan memegang bolpoin di tangannya, wajahnya begitu serius sampai menampakkan kerutan di dahi, Arisha mulai berjalan perlahan menghampiri nya.
"Aku mau pulang" ucap Arisha,
"Duduk saja di sana, tunggu sampai aku selesai baru kita pulang bersama" jawab Albercio dengan wajah yang menatap lurus ke arah laptop dan mengabaikan Arisha,
Arisha yang tau Albercio tengah sibuk dan dia tidak mau mengganggunya dia pun duduk di ruangan itu sambil menyilangkan kakinya, sudah setengah jam dia hanya duduk bersantai tanpa melakukan apapun dan hanya melihat beberapa orang keluar masuk dari ruangan itu memberikan berkas dan mengambil berkas, ada juga yang dibentak oleh Albercio karena pekerjaan tidak benar.
Arisha sudah mulai bosan dan dia bangkit berjalan ke arah jendela yang dilapisi dengan kaca dari atas hingga bawah, saat melihat keluar ternyata pemandangan kota terpampang jelas dari sana, semua rumah di bawah nampak kecil dan Arisha tersenyum senang melihat pemandangan itu.
__ADS_1