
Puas menangis dan melepaskan kesedihan aku bangkit berdiri dan pulang ke rumah dengan lesu sesampainya di depan rumah paman dan bibi menyambutku dengan begitu baik, aku mulai merasakan keganjilan dari sikap mereka yang tiba tiba begitu baik dan manis padaku.
"Ya ampun Arisha dari mana saja kamu ini, sudah hampir tengah malam kenapa baru pulang bibi sangat mengkhawatirkanmu" ucap bibi sambil merangkul ku,
"Pergi kalian, untuk apa kalian kemari" ucapku dengan tatapan sinis,
"Arisha tega sekali kamu bicara seperti itu pada bibimu sendiri" ucap paman menahan amarah,
"Hah?, Menurutmu siapa yang lebih tega, bahkan kau kejam padaku beberapa bulan lalu, apa kau lupa dengan perbuatanmu sendiri?" jawabku membalikkan ucapan mereka,
"Ah... Sudah sudah jangan bertengkar, Arisha bibi minta maaf bibi tau kami salah sudah memperlakukanmu seperti itu, kami kemari ingin meminta bantuanmu" ucap bibi dengan wajah yang menyedihkan dan dia menggenggam kedua tanganku,
Ku kerutka kedua alis dan menatap tajam ke arah mereka berdua sangat jelas sekali bahwa ada yang tidak beres dengan mereka aku memiliki piling bahwa mereka hanya berpura pura, sehingga aku mengabaikan mereka dan masuk ke dalam rumah.
"Lepaskan, aku tidak perduli dengan kalian lagi" ucapku sambil ku hempaskan tangan bibiku dan masuk ke dalam rumah begitu saja.
__ADS_1
Dari sela sela jendela ku lihat wajah paman dan bibi yang begitu kesal dan berjalan pergi meninggalkan rumahku, sejak kepergian mereka entah kenapa perasaanku begitu tak menentu aku sangat khawatir dan begitu tak karuan, aku sendiri bingung apa yang aku cemaskan sebenarnya, sampai saat menjelang subuh tiba tiba saja semua lampu di rumahku mati, dan aku terburu buru turun dari ranjang mengambil ponselku untuk mendapatkan sedikit pencahayaan.
Dan saat aku berhasil menyalakan ponselku seseorang membekap mulutku dari belakang dengan kuat dan tubuhku melayang begitu saja, aku sangat yakin ada perampokan di rumah ini namun aku belum tau siapa pelakunya, aku terus berusaha tenang dan tidak banyak memberikan perlawanan aku segera matikan ponselku dan ku sembunyikan ke dalam kantong celanaku.
Kepalaku pusing dan perlahan lahan aku kehilangan kesadaran, setelah itu aku sungguh tak tau mereka akan membawaku ke mana dan aku juga tidak tau sudah berapa lama aku tak sadarkan diri.
Sampai saat aku mulai tersadar tiba tiba saja aku sudah berada di sebuah ruangan yang didekor dengan begitu cantik dan mewah ku tatap sekeliling ruangan yang begitu luas, aku bangkit dan mencoba menggerakkan tubuhku namun rasanya lemas sekali entah biusan apa yang sudah mereka berikan padaku sampai aku merasakan lemas yang luar biasa, aku bahkan tak sanggup untuk berdiri, saat aku mencoba dan memaksakan diriku, lagi lagi aku hanya terus terjatuh sampai membuat lututku lebab, aku ingin berteriak meminta tolong namun anehnya mulutku tak bisa mengeluarkan suara atau sekedar aku gerakkan, aku seperti orang lumpuh yang tidak bisa melakukan apapun.
Air mataku hampir terjatuh namun kembali kutahan aku tau menangis tidak akan memberikan solusi atas kesulitanku, hingga tak lama keluar paman dan bibi dari pintu dan mereka menghampiriku dengan wajah yang membuatku marah dan ingin melempar mereka ke neraka saat itu juga.
Aku benci dan jijik melihatnya atas perlakuan ini aku semakin yakin mereka juga dalang dari kecelakaan mobil yang menimpaku beberapa bulan lalu, dan mereka adalah penyebab kematian keluargaku.
"Apa kau mau tau sekarang kau dimana?, Oke bibi akan memberitahumu, saat ini kau sedang berada di kamar pengantin, haha bibi sangat senang bisa menikahkan keponakan sialan ini pada pengusaha besar dan sekaligus bibi bisa menguasai rumah peninggalan ayahmu itu, bibi tidak akan hidup miskin lagi hahaha..." ucap bibiku diiringi tawa yang begitu puas.
Aku tidak bisa lagi menahan air mataku, tega sekali bibi ku sendiri menjual aku pada orang lain yang sama sekali tidak aku kenal bahkan mereka mengambil semua hak milikku, aku menatap mereka dengan penuh kebencian dan rasa jijik yang mendalam, rasanya aku ingin memukul dan menghancurkan mereka saat itu juga dengan tanganku sendiri, sialnya aku tidak memiliki kekuatan untuk itu.
__ADS_1
"Dan kamu mau tau siapa yang memotong rem mobil ayahmu saat itu, iya itu adalah aku hahahaaa... satu lagi sertifikat rumah yang kau gadaikan adalah sertifikat palsu dan penggadaian yang kau datangi itu adalah milik calon suamimu yang sekarang, aku sengaja bekerja sama memberikanmu uang itu hahaha... Kau pikir aku bodoh yah, tidak Arisha semua yang kamu alami sudah rencana dalam genggaman tanganku, bahkan kebangkrutan cafe Anton adalah bagian dari rencanaku" ucap bibiku dengan kejamnya dia menjebakku sejauh ini.
Aku berusaha berontak dan berhasil memukul wajah bibiku menggunakan kaki, aku sungguh kesal dan sangat tidak tahan mendapatkan kabar tentang semua kebenaran itu, dia benar benar manusia yang kejam, dan biadab.
"Plak...." suara kakiku yang berhasil memukul wajah bibiku hingga membuatnya jatuh ke lantai.
"Dasar kau sialan!!, berani beraninya kau memukulku, rasakan ini..." ucap bibi sambil melayangkan tangannya hendak menamparku.
Namun paman menahannya, saat itu aku pikir paman tidak sejahat bibiku karena dia mau membantuku menahan tangan bibi yang hendak menamparku namun ternyata aku salah dia sama saja.
"Tahan istriku, dia akan menikah sebentar lagi, kamu tidak mau kan membuat tuan Albercio membatalkan pernikahan ini karena pengantinnya cacat" ucap paman sambil menatapku sinis.
Bibi menurunkan tangannya dan dia berbalik begitu saja pergi meninggalkanku seorang diri di ruangan itu, aku hanya bisa menangis terisak seorang diri dengan tubuh yang tidak bisa aku gerakkan sedikitpun, aku benci pada mereka dan aku juga benci pada diriku sendiri kenapa aku tidak bisa diandalkan dalam situasi ini, kenapa juga aku harus menjadi anak yang lemah seperti ini, aku terus menyalahkan diriku sendiri sampai beberapa orang wanita yang mengenakan seragam pelayan masuk ke dalam ruangan itu dan mulai berbicara padaku.
"Maaf nyonya kami akan mengurusimu dan mendandanimu untuk pernikahan, kami harap kamu bisa bekerjasama dengan kami, kalau tidak tuan Arbercio tidak akan mengampuni kamu" ucap salah satu pelayan yang nampak seperti pimpinan mereka.
__ADS_1
Aku bahkan tidak bisa menjawab ucapan mereka dan bagaimana aku bisa berontak apalagi pergi dari sini, aku hanya bisa pasrah dan diam saja saat mereka membersihkan badanku, memakaikan pakaian pengantin bahkan meriasi wajahku aku hanya bisa duduk di depan cermin dengan lemah dan menahan agar air mata berhenti membanjiri wajahku.