
Saat dia tengah terpukau melihat pemandangan yang menakjubkan di samping jendela tiba tiba saja Albercio sudah berada berdiri tegak disampingnya.
"Apa kau senang hanya melihat pemandangan seperti itu" ucap Albercio yang membuat Arisha kaget,
"Astaga... Sejak kapan kau berdiri di situ, membuatku kaget saja" jawab Arisha sambil memegangi dadanya,
"Segitu saja kau sudah kaget, lemah!, pantas saja tadi kau sangat lelet!" Balas Albercio membuat Arisha kesal,
"Aishh... Aku lambat karena harus berjalan kaki, kau bahkan mungkin tidak akan sanggup berjalan kaki sejauh itu, huuh melelahkan" jawabku sambil kembali duduk dan menyandarkan tubuhku.
Albercio hanya menaikan alisnya sejenak lalu dia mengajakku untuk pulang karena pekerjaannya sudah selesai aku pun segera mengikutinya dari belakang, saat keluar dari ruangan semua karyawan menunduk memberikan hormat aku saja sampai tertegun melihat betapa seorang Albercio sangat dihormati oleh para karyawannya.
"Hah.. apa hanya aku di sini yang begitu berani bicara lantang dan melawannya" gumamku merasa sedikit tidak nyaman,
Namun saat kami mulai berjalan ada saja beberapa karyawan wanita yang terlihat kecentilan dan mendekati Albercio dengan mengenakan pakaian yang kekurangan bahan, dan bahkan lebih mirip seperti tak berbusana sakit ngetatnya pakaian yang mereka kenakan, aku saja yang seorang perempuan ikut malu melihat penampilan mereka, terlebih dengan centilnya mereka mendekati Albercio bahkan memegang tangannya dan bergelantungan dengan manja.
Aku muak melihat pemandangan seperti itu ku pikir kasus kasus seperti ini hanya ada di drama saja ternyata di dunia nyata juga banyak terjadi dan itu menjijikan aku pun meminta sekretaris Ben menemaniku pergi lebih dulu meninggalkan Albercio yang mengobrol dengan beberapa wanita centil itu.
"Sekretaris Ben ayo kita pergi biarkan saja dia mengurus urusannya sendiri aku sudah lelah ingin pulang" ucapku sambil menarik lengan sekretaris Ben dan memaksanya masuk ke dalam lift bersamaku.
"Eh.. tapi nyonya tunggu bagaimana dengan tuan muda?" Tanya sekretaris Ben dengan wajah cemas,
"Dia itu sudah besar bukan anak kecil untuk apa menjaganya, aku lebih cocok untuk kau jaga aku kan masih sembilan belas tahun dan jangan memanggilku nyonya itu terlihat lebih tua dari usiaku" jawabku dengan santai,
"Lalu saya harus memanggil apa nyonya?" Tanya sekretaris Ben,
"Eummm bagaimana kalau panggil aku Arisha saja atau panggil adik juga boleh bukankah kita lebih terlihat seperti adik kakak" jawabku sambil tersenyum,
__ADS_1
"Ba.. baik adik..." Jawab sekretaris Ben yang nampak gugup dan gelagapan,
Aku tertawa kecil karena merasa geli dengan panggilan yang aku berikan sendiri pada sekretaris Ben, wajahnya sangat lucu saat gugup memanggilku adik padahal aku sendiri tidak keberatan jika dia memanggilku begitu, dia juga terlihat jauh lebih bersahaja dibandingkan tuan muda Albercio yang menyebalkan itu.
Saat sampai di lantai bawah sekretaris Ben terus saja bersi keras memintaku agar menunggu Albercio dahulu barulah dia bisa mengantarku pulang aku pun terpaksa menyetujui karena mencari bodyguard yang sebelumnya bersamaku sudah tidak ada di sana.
"Aku yakin pasti dia melakukan ini dengan sengaja agar aku tak bisa berkutik huh" gumamku merasa kesal.
Cukup lama aku berdiri di samping pintu perusahaan menunggu Albercio yang akhirnya datang juga, saat dia sampai aku langsung berjalan menuju mobil dan masuk lebih dulu aku juga memilih untuk duduk di depan bersampingan dengan sekretaris Ben karena aku kesal sudah dibuat menunggu lama dan berdiri di samping pintu menunggu seorang Albercio yang asik bermain dengan para wanita tua.
Albercio yang melihat Arisha sedikit berbeda dia tentu saja merasa heran ditambah Arisha yang tiba tiba duduk di bangku depan bersama sekretaris Ben.
"Hei... Siapa yang mengijinkanmu duduk di bangku depan, cepat pindah!" Ucap Albercio dengan datar,
"Apa duduk saja harus diatur olehmu?" Jawabku dengan kesal,
"Aku tidak mau pindah aku mau duduk di samping kakak ku!" Ucapku dengan tegas dan memanggil sekretaris Ben dengan sebutan kakak yang aku perjelas,
Sekretaris Ben dan Albercio refleks saling bertatapan satu sama lain mereka bingung dengan siapa yang di panggil kakak oleh Arisha di sana, Albercio pun bertanya dengan perasaan yang mulai kesal.
"Heh kepala batu siapa yang kau panggil kakak hah?" Tanya Albercio sedikit membentak,
"Tentu saja sekretaris Ben, memangnya siapa lagi, kau kan tua tidak cocok dipanggil kakak" jawabku mempertegas.
Wajahnya seketika merah dan dia memegangi keningnya lalu mengurutnya sedikit dan dia tiba tiba saja keluar dari mobil lalu memaksaku berpindah tempat duduk meski aku menolak dan berontak tapi tenaganya yang jauh lebih kuat tentu saja berhasil membuatku pindah dengan paksaannya.
"Duduk di sampingku dan patuh lah, jangan coba coba menyalakan amarahku" ucapnya sambil menutup pintu mobil dengan keras,
__ADS_1
Sekretaris Ben yang melihat bagaimana perlakuan tuan mudanya kepada Arisha dia sedikit ketakutan dan bingung karena Arisha memanggilnya kakak dan tuan Albercio sudah semarah itu bagaimana jika tuan Albercio mengetahui kalau dia juga pernah memanggil Arisha dengan sebutan adik, entah apalah yang akan terjadi.
Aku duduk terdiam di bangku belakang tepat di samping Albercio yang masih memendam amarah sampai mobil melaju di perjalanan tidak ada sedikitpun percakapan diantara aku dan dia begitu juga dengan sekretaris Ben yang hanya fokus menyetir dan melihat ke jalanan.
"Kak kapan kita akan segera sampai aku sudah mengantuk" ucapku sambil menguap dan tak sengaja kembali memanggil kakak pada sekretaris Ben,
"Se.. sebentar lagi" jawab sekretaris Ben gugup dan gemetar karena dia melihat Albercio yang mengepalkan tangannya kuat,
"KAU..., Aku peringatkan sekali lagi kau memanggilnya kakak aku akan memecat sekretaris Ben!" Bentak Albercio yang membuatku kaget begitu pula dengan sekretaris Ben,
"Eh.. eh.. apa apaan kau ini, aku hanya memanggilnya kakak karena aku tau usianya diatasku dan aku tidak mau dia memanggilku nyonya karena usiaku masih sembilan belas tahun, kalau kau mau aku panggil kakak aku juga tidak keberatan jika kau memintanya, kenapa sampai harus memecat sekretaris Ben, dia itu tidak bersalah!" Ucapku memarahi Albercio habis habisan.
Aku tidak terima dia melontarkan ancaman seenaknya seperti itu, apalagi sekretaris Ben tidak melakukan kesalahan apapun namun dia harus menerima semuanya hanya karena alasan yang konyol.
Albercio menatapku tajam dengan wajah yang merah dan kedua alis yang dikerutkan bersamaan hingga hampir saling menyatu satu sama lain.
"Kalau begitu kau harus memanggilku suami atau sayang bagaimana?" Ucap Albercio yang membuatku sangat muak.
"Haha.. apa suami, sayang?, Berhentilah menggodaku tuan muda Albercio aku tidak akan termakan jebakkanmu!" Ucapku karena aku tau dia hanya menggodaku.
"Kalau begitu panggil aku Al, dan kau tidak boleh berbicara kasar apalagi membangkan padaku, baru kau boleh memanggil Ben dengan sebutan apapun yang kau mau" ucap Albercio yang nampak serius,
"Baiklah baiklah, Al mulai sekarang aku memanggilmu Al dan tidak akan berbicara kasar lagi tapi jika marah aku tidak bisa mengendalikannya" jawabku dengan cuek dan tak perduli,
"Arghhh... Terserah kau saja, dasar kepala batu!" Bentak Albercio yang nampak frustasi.
Aku hanya tersenyum kecil melihat ekspresi putus asa seorang Albercio, lagi pula siapa suruh dia berani menggodaku itulah balasannya aku tidak akan termakan godaan murah seperti tadi.
__ADS_1