
Aku tidak bisa menunjukkan ekspresi apapun lagi setelah kembali ke rumah dan hanya bisa langsung membersihkan diri dan segera beristirahat dengan perasaan yang masih tidak menentu, aku tidak menduga bi Meli sudah pergi meninggalkan aku untuk selamanya, dan bi Susan yang masih koma di rumah sakit.
Perasaan campur aduk yang tidak menentu bahkan aku seperti tidak memiliki semangat hidup lagi, aku terus merasa di hantui dengan rasa bersalah dan sebuah penyesalan yang besar terhadapnya aku tidak tahu kenapa aku bisa merasakan semua ini namun siapa lagi yang bisa aku salahkan disaat semua ini memang tertuju kepadaku, seandainya saat itu aku tidak memaksa mereka agar mengijinkan aku untuk ikut bersama dengannya mungkin kejadian seperti itu tidak akan terjadi.
Karena aku tahu yang mereka incar sebenarnya adalah aku bukan bi Meli maupun bi Susan tapi justru malah mereka yang terkena sasaran karena kebodohanki dan bi Meli sampai harus mengorbankan nyawanya hanya untuk melindungi orang seperti aku.
Aku merasa diriku ini hanyalah beban untuk Albercio dan aku merasa aku sendiri yang telah merenggut hidup bi Meli aku sangat merasa bersalah hingga aku bahkan tidak berani pergi kemanapun sekarang, aku hanya diam mengurung diri di kamar seharian ini dia mematung menatap ke luar jendela seorang diri dan membiarkan bi Mia yang datang membawakan makanan dan minuman yang bahkan tidak pernah aku sentuh atau aku lihat.
Bi Mia yang melihat keadaan Arisha sangat mengkhawatirkan seperti itu dia sungguh merasa sedih dan terpukul, bukan hanya dengan melihat keadaannya yang mengkhawatirkan saja tetapi bi Mia juga sama sedihnya dengan kepergian bi Meli yang sudah seperti saudara dekat dengannya di tambah keadaan bi Susan yang masih koma di rumah sakit saat ini.
Bi Mia pun segera melaporkan keadaan Arisha kepada Albercio karena sedari tadi dia sudah memberikan makanan kepada Arisha namun dia masih belum memakannya atau meliriknya sedikitpun sehingga bi Mia sangat mencemaskannya.
"Hallo tuan, nona Arisha masih tetap terlihat sama dia duduk di balkon sendirian dan terkadang berdiri mematung, dia bahkan tidak melirik makanan yang saya bawakan sedari tadi, saya sangat mengkhawatirkan keadaannya semoga saja dengan anda nona Arisha mau sedikit memasukan makanan ke dalam tubuhnya" ucap bibi Mia memberitahu,
"Baik bi tunggu saja saya akan segera kembali" balas Albercio dan segera menutup panggilannya.
Mendengar itu Albercio sangat kesal dan dia semakin marah terlebih lagi sekretaris Ben yang juga belum menemukan titik terang siapa paku di balik penyerangan secara tiba-tiba kepada Arisha saat itu, sehingga Albercio semakin sulit mengendalikan emosinya dan dia membentak sekretaris Katy juga sekretaris Ben untuk secepatnya menemukan dalang di baling penyerangan sebelumnya hingga menewaskan satu pelayannya.
"Bodoh, kalian semua bodoh, cepat cari tahu siapa dalangnya dan jangan biarkan mereka bunuh diri lagi!" Bentak tuan Albercio dengan tatapan matanya yang tajam.
Sebenarnya tiga dari empat penjahat yang menghadap Arisha saat itu berhasil di tangkap namun saat dalam tahanan dan sekapan oleh sekretaris Katy dua diantara mereka memakan sebuah pil racun yang membuat mereka mati dengan seketika sedangkan yang satunya juga hampir melakukan hal yang sama namun untungnya itu di ketahui lebih dulu oleh sekretaris Katy sehingga dia berhasil menggagalkan pencobaan bunuh diri salah satu pria tersebut.
Dia juga sudah membuka penutup kepala yang menutupi wajah mereka dan tidak ada satupun dari mereka yang dapat sekretaris Katy kenali juga tidak ada identitas apapun di seluruh tubuh mereka, sehingga sekertaris Katy sangat mencurigai bahwa mereka adalah lawan yang sangat kuat dan bulan penjahat bayaran yang biasa apalagi sembarangan.
Dia sudah melakukan segela hal dan mendesak satu dari penjahat itu yang tersiksa karena terus di desak dan mendapatkan banyak tekanan dari sekretaris Katy juga anak buahnya dan juga dari sekretaris Ben, namun penjahat itu tetap tutup mulut meski wajahnya sudah babak belur dan meski sekretaris Katy sudah mengancam nyawanya itu.
Dia memang tidak takut mati atau apapun sehingga membuat sekretaris Katy jengkel di buatnya, dia pun memutuskan untuk memeriksa jenazah dia penjahat lain disana dia menggeledah semua saku celananya dan bahkan melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh mereka hingga tidak sengaja sekretaris Katy menemukan sebuah tato yang berbentuk sebuah loga yang sama saat dia pernah menemukan logo itu pada pamannya Arisha ketika menyekap dia di negera A kala itu.
Melihat hal tersebut sekretaris Katy langsung memotretnya dan langsung menyuruh anak buahnya agar membawa dua mayat itu dan membuangnya ke sungai atau ke jurang.
"Bawa mereka semua, dan jangan sampai tinggalkan jejak sedikitpun!" Perintah sekretaris Katy dengan tegas.
Dia segera beralih lagi kepada satu penjahat yang masih tersisa di dalam dekapannya dan dia memperlihatkan sebuah foto tato yang memiliki loga tulisan dua huruf yang tidak lain adalah kombinasi dari huruf K&W dimana tanda itu hanya di miliki orang orang-orang yang bekerja pada keluarga Koward.
"Lihat ini, meski kau menutup mulut dan begitu setia kepada tuanmu, hingga membuat aku hampir terkena marah besar dari tuanku, aku tetap menemukan siapa dalangnya, dan akan aku pastikan keluargamu yang ada di luar sana akan menjadi bagian dari kehancuran!" Ancam sekretaris Katy sengaja mendominasi dan mengancam penjahat itu.
Dia kemudian bangkit dan menghempaskan cengkraman tangan dia dari rahang pria tersebut, sampai ketika sekretaris Katy baru saja melangkahkan kakinya beberapa langkah ke depan pria itu langsung menghentikan langkah sekretaris Katy.
"Tu...tunggu! Aku mohon padamu tolong lindungi anak dan istriku, mereka tidak tahu apapun dan mereka tidak bersalah atas semua ini, aku juga tidak menusuk atau melukai majikanmu, bukan aku yang melakukannya tapi satu pria yang sudah meninggal itu, kau bisa memeriksa sidik jarinya di mobil dan pisau aku hanya di tugaskan untuk menyetir saja dan kau menangkapku dalam mobil ketika aku menyetir, aku bahkan tidak keluar dari dalam mobil ketika kejadian itu terjadi, aku mohon tolong jangan istri dan anakku" ucap pria itu memohon sambil memegangi kaki sekretaris Katy.
Sekeras Katy tersenyum kecil dengan wajah yang cukup menakutkan dan dia segera menghempaskan kakinya lalu berbalik dan berjongkok menatap pria itu dengan tajam.
"Keluargamu akan aman, bahkan aku bisa dengan mudah membebaskanmu lalu kau bisa kabur dengan istri dan anakmu itu ke tempat yang aman dengan perlindungan dariku, tapi kau harus membantu kami menangkap majikanmu sendiri, apa kau akan melakukannya? Ku lihat kau terlalu setia pada keluarga Koward" ucap sekretaris Katy sengaja menguji kesetiaan dia kepada tuannya.
__ADS_1
"Aku memang setia kepada tuan Koward dan seluruh anggota keluarganya tapi tidak dengan seseorang yang menyuruhku untuk membunuh majikanmu" ucap pria itu membuat sekretaris Katy sudah menemukan jawabannya.
Sekretaris Katy tersenyum kecil dan dia segera pergi meninggalkan pria itu dan mengabaikan teriakkan dari pria tersebut.
Dia segera pergi dan melaporkan semua hal itu kepada sekretaris Ben untuk di sampaikan kepada tuan Arnold dan dia juga sudah berhasil merekam semua penuturan kata dari penjahat itu.
Sedangkan tuan Arnold yang mendapatkan pesan tersebut dari sekretaris Ben dia menyimpan pekerjaannya dahulu dan dia segera pulang lalu menyuruh sekretaris Ben untuk menyampaikan laporan dia di malam hari sebab dia harus membujuk dan melihat keadaan dari Arisha sebab dia sudah sangat mengkhawatirkannya.
Tuan Albercio langsung menuju ke kamar Arisha ketika dia baru saja sampai di rumahnya dia langsung melihat bagaimana keadaan Arisha yang masih terlihat murung dan dalam posisi yang sama seperti ketika dia melihatnya pagi tadi sebelum dia berangkat ke kantor saat itu.
Tuan Albercio menarik nafas dalam dan membuangnya dengan kasar dia segera berjalan menghampiri Arisha dan memeluk dia dari belakang dengan sangat lembut.
"Sayang berhentilah menyalahkan dirimu ini semua bukan salahmu, aku akan menyelesaikan semuanya dan aku janji tidak akan membiarkan pelakunya lolos begitu saja" ucap tuan Albercio kepadaku.
Mendengar ucapan dia aku memang merasa senang namun aku tetap tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku masih merasa berduka atas kepergian bi Meli.
"Albercio apa memang bukan karena aku?" Tanyaku lagi untuk memastikan,
"Tentu saja, ini adalah kecelakaan ada seseorang yang ingin mencelakai kamu dengan sengaja dan aku tengah mencari tahu siapa orang itu, kau tidak perlu merasa cemas aku akan melindungimu dan menangkap pelaku tersebut secepatnya" ujar Albercio sambil memegangi kedua tanganku dan dia memberikan aku sebuah keyakinan terhadap dirinya.
Aku mengangguk membalas ucapannya karena aku yakin dan percaya bahwa dia dapat menyelesaikan semua masalah ini, aku merasa terobati dengan hadirnya Albercio yang memberikan semangat dan kehangatan kepada diriku, aku sangat senang karena masih ada orang yang memperdulikan aku di dunia ini.
"Ya sudah sekarang mari kita makan dulu, aku dengar kau bahkan belum makan sejak pagi, aku tidak ingin kau sakit bukankah kau ingin melihat bi Susan segera sehat, maka kau juga harus sehat agar bisa merawatnya dan membuat dia segera sembuh" ucap Albercio sambil menarik tanganku.
Aku mengangguk mengerti dan pergi dengannya, dia sangat memperlakukan aku dengan baik padahal aku tahu bahwa dia baru saja pulang bekerja dari kantornya saat itu, bahkan dia masih memakai jas kerjanya dan keringat di tubuhnya masih bisa aku cium baunya.
Aku tersenyum mulai lebar dan segera duduk dengan perlahan, dia terus saja berjalan mondar mandir memberikan akuinuman dan makanan bahkan dia malah menyuapi aku meski aku sudah melarangnya karena aku tahu dia juga pasti sangat lelah.
"Aaa....ayo buka mulutmu" ucap Albercio mengurusi aku seperti anak kecil,
"Albercio aku bisa makan sendiri kau makanlah juga aku tahu kau lelah" ucapku sambil mengambil sendok yang dia pegang,
"Eh... Tidak untuk kali ini biarkan aku yang melayanimu, aku ini kuat aku masih bisa menahan diri dan aku masih memiliki banyak energi jika itu untuk istriku, ayo kau makan saja dengan lahap biar aku yang menyuapi mu" balas Albercio yang masih kuat dengan prinsipnya.
Aku pun tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa pasrah menyerah dengan keinginannya hingga aku menghabiskan semua makananku dan kini dia malah mengantar aku ke kamar lagi.
"Sayang istirahat dengan tenang lupakan semua pemikiran aneh dan rasa bersalah yang tidak berdasar di dalam hati dan pikiranmu itu, semuanya hanya sebuah prespektif dirimu saja dan semua itu tidaklah benar" ucap Albercio lalu mengecup keningku dengan lembut dan membantu aku berbaring perlahan.
Dia bahkan menyelimuti aku dengan lembut, kumudian barulah dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sedangkan aku mulai menutuataku untuk tertidur.
Ini adalah kali pertama setelah kejadian menyedihkan itu aku bisa tidur dengan lelap dan tanpa aku sadari Albercio sudah tidur di sampingku dan dia memelukku, mungkin itulah yang membuat aku merasa sangat tenang dia selalu ada di sampingku dan memberikan aku sebuah rasa aman yang tidak pernah aku dapatkan dari siapapun setelah kepergian kedua orangtuaku selama ini.
Hingga ke esokan paginya Albercio juga sudah mengetahui semua informasi yang di kirimkan oleh sekretaris Ben sebelumnya dan hari ini dia mulai menyusun rencananya untuk memberikan pelajaran kepada Melinda yang sudah berani mengancam nyawa istrinya bahkan hingga melenyapkan nyawa bi Meli.
__ADS_1
"Sialan ternyata dia yang berani melakukan itu kepada istriku, awas saja kau aku akan menghancurkan seluruh keluargamu dan membuat kau di tendang oleh keluarga Koward!" Ancam tuan Albercio dengan penuh kemarahan di wajahnya.
Saat itu dia memang sudah bangun sejak matahari belum terbit dan tinggal di ruang kerjanya sedangkan aku yang baru bangun pagi itu segera keluar dari kamar dan membantu bi Mia menyiapkan sarapan.
"Nona akhirnya kamu mau keluar juga dari kamar, bibi sangat merindukanmu" ucap bi Mia kepadaku dengan antusias,
"Bi aku ada di rumah selama ini, bagaimana bisa kau merindukanku sampai seperti ini?" Tanyaku dengan heran kepadanya,
"Ya ampun nona meskipun nona ada di rumah tapi belakangan ini nona jarang sekali bicara dan mengobrol dengan bibi tentu saja bibi merindukan momen itu" balas bi Mia yang mulai bersikap manja padaku.
Dan becandaannya itu membuat aku tertawa kecil karena karakter bi Mia yang selalu membuatku terhibur.
"Bibi kau ini bisa saja, sudahlah aku akan membantumu menyiapkan makanan" ucapku menyudahinya.
Disaat aku tengah menaruh menu makanan di atas meja aku lihat Albercio turun dari tangga dan dia terlihat sudah rapih aku langsung menghampirinya dan mengajak dia untuk makan bersama di ruang makan.
Wajah dia terlihat lelah dan aku mendekatinya lalu mulai bertanya kepadanya karena mau bagaimanapun aku tetap mengkhawatirkan dia.
"Albercio apa kau sakit? Kenapa wajahmu terlihat sedikit pucat hari ini?" Tanyaku kepadanya,
"Oh..... Tidak aku baik-baik saja, ini mungkin karena aku kurang tidur beberapa hari ini, kau tidak perlu mencemaskan aku, aku akan segera sembuh ketika ketika beristirahat" balas Albercio kepadaku,
"Ya sudah jika begitu kau istirahat saja di rumah hari ini, dan jangan bekerja aku akan menemanimu" balasku sambil menggenggam kedua tangannya dengan lembut.
Ini adalah pertama kalinya aku menyentuh tangan dia lebih dulu dalam perasaan seperti ini dan ini juga kali pertamanya aku menatap dia dengan senyuman semanis itu, sebenarnya aku sendiri merasa geli melakukan hal itu tapi demi dia agar tidak pergi bekerja aku rela melakukannya.
"Arisha sebenarnya aku sangat ingin tinggal denganmu, tapi jika aku tidak pergi bagaimana dengan kasus ini? Aku sedang menyelidikinya dan aku harus pergi sekarang" balas dia sambil memegangi pipiku,
"Albercio tolong jangan pergi, aku ingin kau tinggal disini denganku, aku mohon padamu" ucapku memohon kepadanya dengan menatap wajahnya dengan lekat dan memasang wajah yang menggemaskan.
Aku sudah berusaha keras melakukannya aku tidak ingin sesuatu terjadi kepadanya, sudah cukup bagiku kehilangan bi Meli dan bi Susan, itu sudah sangat membuat hatiku terpukul, aku takut terjadi sesuatu kepadanya karena dia mengurusi hal ini.
Melihat bagaimana agresif para penjahat itu saat berhadapan denganku aku takut akan ada penjahat lainnya yang bisa saja melukai Albercio dan aku tidak ingin itu terjadi.
Untungnya Albercio yang melihat wajah Arisha sangat menggoda untuknya dia pun tidak bisa membantahnya sehingga langsung membatalkan misinya itu dan mengundur ke hari besok, tapi walau begitu sekretaris Katy tetap pergi memata mati Melinda dan mencari tahu tentangnya dari segala sumber yang dia dapatkan.
"Baiklah aku tidak akan pergi aku akan disini menemani istriku apa kau puas?" Balas Albercio yang membuat aku senang.
Aku langsung memeluk dia dengan erat dan berterima kasih kepadanya.
"Terimakasih Albercio aku menyayangimu" ucapku untuk pertama kalinya mengatakan hal tersebut secara langsung kepadanya.
Albercio membuka matanya lebar dia kaget bisaendengar Arisha berbicara seperti itu kepadanya dan jantungnya langsung berdetak sangat kencang hingga dia terasa meleleh di buatnya dan Albercio terus saja memegangi kepalanya dia tidak tahan ketika mendengar Arisha mengatakan hal yang manis seperti itu kepadanya di tambah dia memeluk tubuhnya saat itu.
__ADS_1
"A..aahhh...sayang kau akan membunuhku kau membuat aku meleleh, bisakah kau katakan lagi kalimat tadi aku tidak merekamnya barusan" ucap Albercio membuat aku ingin tertawa dengan ucapannya itu.
"Tidak aku hanya akan mengatakannya sekali, lagi pula kau sudah mendengarnya bukan, jadi tidak perlu mengatakannya lagi" balasku sengaja membuatnya sedikit kesal.