Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Ke pemakaman


__ADS_3

Di pemakamannya hanya hadir beberapa orang saja sebab dia tidak memiliki banyak kenalan dan hanya menghabiskan sisa hidupnya itu bekerja pada keluarga Albercio.


Sehingga hanya para pelayan yang datang kesana untuk mengantarkan dia ke dalam peristirahatan terakhirnya.


Aku mulai tersadar dengan perlahan dan mulai mengerjap-ngerjapkan mataku dengan pelan, saat pertama kali mataku terbuka hanya atap langit-langit rumah sakit yang aku lihat hingga Albercio memegangi wajahku dan dia terlihat begitu senang.


"Arisha sayang akhirnya kamu bangun, Arsiha apa yang kamu rasakan apa ada yang sakit aku akan segera memanggil dokter untuk memeriksa mu" ucap Albercio dengan begitu panik berlebihan.


Aku dengan cepat menahan tangannya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja namun saat itu aku hanya ingin bertemu dengan bi Meli untuk terakhir kalinya aku ingin melihat wajahnya dan aku ingin mengantarkan dia ke tempat peristirahatan terakhir dia.


"Tunggu Albercio, aku baik-baik saja kau tidak usah mengkhawatirkan aku secara berlebihan seperti itu, tolong bantu aku, aku ingin melihat bi Meli untuk terakhir kalinya aku ingin menemui dia Albercio, dia tidak mungkin meninggal dengan mudah bukan, Albercio jawab aku!" Bentakku kepadanya dengan mengguncang tubuh Albercio cukup keras.


Namun Albercio tidak menjawab ucapanku dengan perkataan dia justru malah menggelengkan kepala kepadaku dan dia tertunduk dengan lesu saat melakukan itu, aku langsung kembali menangis tanpa suara dan aku meminta dia untuk membawaku ke ruang mayat.


"Albercio bawa aku ke ruang mayat, aku ingin melihatnya untuk terakhir kali agar aku bisa memastikannya sendiri" ucapku kepada Albercio,


"Arisha tenangkan dirimu bi Mia sudah di kebumikan dan pemakamannya baru saja selesai, kau pingsan cukup lama dan membuat aku khawatir tentang kesehatanmu, sedangkan bi Meli juga harus segera di kebumikan kita tidak bisa menunggumu sadar untuk menangani pemakamannya yang memang harus di laksanakan secepatnya, tapi kamu tenang saja bi Mia dan semua pelayan mengurusi dia dengan baik" ucap Albercio sambil memelukku.


Aku tidak tahan lagi dan menangis tersedu-sedu dalam pelukan Albercio sambil memukuli pundaknya berkali kali tanpa henti.

__ADS_1


Aku menyalahkan Albercio karena dia yang menguburkan bi Meli tanpa membangunkan aku atau menunggu diriku dahulu sampai terbangun, namun aku juga menyalahkan diriku sendiri karena pingsan dan membuat keadaan semakin panik.


"Albercio kau jahat....hiks...hiks...hiks kau jahat! Kenapa kau tidak menungguku sebentar kenapa kau tidak membangunkanku saja ketika aku pingsan aku ingin menemui bi Meli aku ingin kepemakamnya aku ingin pergi Albercio, hiks...hiks...hiks" ucapku sambil menepuk punggung Albercio berkali kali.


Albercio sama sekali tidak marah kepadaku meski aku terus memukulinya sangat keras dengan semua tenaga yang aku miliki dia justru malah memelukku dengan erat dan mengusap kepalaku dengan lembut dan dia juga terus menenangkan aku tanpa menyerah atau kesal kepadaku sedikitpun.


"Arisha tenang, aku mohon padamu tenangkan dirimu dahulu, bi Meli sudah tenang di alam sana dia juga pasti tidak ingin melihatmu kacau seperti ini, kau tidak boleh menahan-nahan proses pemakan orang lain, aku janji akan membawamu ke makamnya jika kau sudah merasa tenang dan sudah membaik" ucap Albercio sambil menenangkan aku.


Mendengar dia berjanji kepadaku aku merasa luluh dan aku berhenti memukulinya karena aku tahu semua ini juga bukan salahnya.


"Albercio ini semua salahku, bagaimana aku bisa memaafkan diriku sendiri atas kepergian bi Meli.... Hiks..hiks...hiks...hiks, Albercio apakah aku orang yang sangat jahat? Aku membuat payan yang sangat baik dan mengurusimu terbunuh di depan mataku, untuk melindungi aku yang tidak berguna ini, hiks...hiks" ucapku merasa sangat bersalah.


"Tapi semua ini memang karena aku, aku selalu menyulitkan mereka dan semua orang, aku memang beban dalam kehidupan semua orang yang menyayangiku, aku membuat mereka dalam kesialan dan mereka meninggalkan aku terus menerus, aku memang salah Albercio" ucapku masih merasa sangat kacau,


"Arisha ayolah aku tidak ingin melihatmu seperti ini, cukup jangan salahkan dirimu sendiri ini kecelakaan dan tidak ada siapapun yang bisa menghindar dari hal seperti itu, bi Meli mengorbankan nyawanya untukmu apa kau akan mengecewakan dia dengan terliha kacau begini padahal dia sudah mengorbankan hidupnya untukmu" ucap Albercio meninggikan suaranya.


Aku langsung terdiam dan menyerap semua yang dikatakan oleh Albercio kepadaku dan hanya isak tangis yang aku tinggalkan sambil terus berada dalam pelukannya.


Hingga setelah aku jauh lebih baik, Albercio benar-benar menunaikan janjinya padaku dia langsung membawa aku ke makan bi Meli dan dia bahkan memberikan aku waktu untuk duduk disana di depan makan bi Meli yang masih basah.

__ADS_1


Dan aku mulai menaburkan bunga diatas kuburannya, nisan putih dengan bertuliskan nama bi Meli membuat aku langsung teringat dengan kejadian tragis itu, dan lagi lagi air mataku mengalir keluar menerobos dari pelupuk mataku.


Aku berusaha keras untuk langsung menghapus air mataku dengan cepat karena aku mengingat apa yang dikatakan oleh Albercio kepadaku saat di rumah sakit sebelumnya, bahwa aku tidak boleh membuat bi Meli sedih di atas sana karena melihat aku orang yang dia lindungi malah tidak bahagia dan tidak baik-baik saja.


Bi Meli mengorbankan nyawanya untukmu dan aku berjanji di depan makamnya untuk hidup lebih baik di masa depan demi diriku dan juga bi Meli, aku mencium batu nisannya dan segera pergi dari sana karena hari sudah mulai gelap.


Meski aku sudah melihat makan bi Mia dan sudah banyak bicara juga mendoakan kepada bi Meli, tetap saja saat di perjalanan di dalam mobil aku tetap merasa tidak enak dan aku terus saja merasa memiliki ganjalan dengan peristiwa tersebut.


Sebab aku yakin sekali bahwa empat pria yang memakai penutup kepala dan menghadang mobil kami bukanlah seorang perampok, karena mereka tidak berusaha mengambil barang-barang berharga yang ada di sekitarnya, bahkan dia juga tidak mengambil kesempatan emas untuk mencuri mobil taxi tersebut atau merampas ponsel yang di bawa bi Susan.


Tapi justru empat pria itu seperti menargetkan aku dan berkali kali ingin menarik aku dan membawaku pergi dengan mereka namun bi Susan dan bi Meli terus menahan aksi meraka bahkan aku masih ingat sekali kejadian penusukkan itu, jelas sekali mata pria itu tertuju kepadaku yang mengartikan bahwa sasaran ucapannya adalah aku bukan sembarangan orang.


Dia seperti orang suruhan dan aku sangat mencurigai penjahat itu adalah utusan atau penjahat bayaran yang dengan sengaja di minta untuk menangkapku atau melukaiku, namun bodohnya bi Meli justru malah menjadi tameng untukku hingga pisau itu malah menusuk dirinya sangat dalam hingga dia harus menghembuskan nafas terakhir.


"Aku tidak akan melepaskan siapapun yang sudah membuat bi Meli meninggal seperti itu, aku akan membalaskan semuanya dengan hal yang sama, nyawa di bayar dengan nyawa juga!" Gumamku dengan penuh keteguhan.


Semua ini bukan tentang sebuah dendam biasa saja, namun orang yang memerintah empat pria jahat itu pasti memiliki dendam kepadaku atau tidak menyukaiku itulah alasan orang tersebut sampai berani berniat membunuhku bahkan itu di jalan raya walaupun agar sepi namun ada beberapa kendaraan yang melewati jalanan itu.


Aku tidak bisa menunjukkan ekspresi apapun lagi setelah kembali ke rumah dan hanya bisa langsung membersihkan diri dan segera beristirahat dengan perasaan yang masih tidak menentu, aku tidak menduga bi Meli sudah pergi meninggalkan aku untuk selamanya, dan bi Susan yang masih koma di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2