
Sekretaris Katy langsung terbang menuju negara A sesuai dengan perintah yang diberikan oleh sekretaris Ben sebelumnya dan ketika sampai disana informasi yang dikatakan oleh sekretaris Ben memang benar, ruang bawah tanah itu telah dibobol dan semua pintu rusak parah itu menunjukkan bahwa terjadi pembobolan secara paksa.
Dan disaat sekretaris Katy masuk ke dalam untuk memeriksanya lebih lanjut dia tidak sengaja menginjak sebuah earphone dimana di samping earphone tersebut terdapat anda huruf K.
"K?, Earphone merek ini hanya di produksi oleh perusahaan Koward ini akan menjadi sebuah bukti yang cukup kuat" ucap sekretaris Katy sambil segera mengantongi earphone tersebut.
Sekretaris Katy berpikir mungkin mereka tidak sengaja menjatuhkan earphone yang mereka pakai disaat proses penyelamatan paman Arisha di tempat ini, bukan hanya itu sekretaris Katy melihat semua kamera cctv yang ada disana sudah di tutupi oleh sebuah kain putih dan tidak di sangka ada satu karena yang mungkin terlewat oleh mereka.
"Bodoh, bodyguard murahan seperti ini masih di pekerjakan haha" ucap sekretaris Katy dengan senyum sinis.
Sekretaris Katy pun segera pergi ke ruangan pemantau dan dia menyuruh orang-orangnya untuk segera memeriksa semua rekanan di dalamnya hingga dia berhasil menemukan rekaman cctv dari salah satu kamera yang tersembunyi di dalam sel kurungan sebelumnya.
Dari rekaman itu bisa dilihat dengan jelas saat beberapa orang berpakaian hitam masuk ke dalam kurungan dan membius pria tahanan tersebut lalu membawanya keluar dari sana dengan cepat, namun saat salah satu pria yang mengangkat Amat paman Arisha di keras bajunya terlihat lagi logo huruf K yang sangat jelas dan sekretaris Katy kalung menghentikan rekaman itu lalu memperbesar gambarnya untuk memastikan.
"Berhenti disitu dan perbesar layarnya!" Perintah sekretaris Katy.
Dia memeriksa logo huruf itu dengan baik hingga senyum melengkung di wajahnya dan dia memint untuk mendapatkan video rekaman tersebut, setelah dia mendapatkannya dia pun segera menyuruh orang itu untuk menghapus semua rekaman yang ada disana dan dia segera melaksanakan perintah utamanya dari sekretaris Ban yakni menghancurkan tempat itu dan menggantinya dengan sebuah ruangan barang antik untuk meninggalkan jejak.
Setelah menyelesaikan semuanya sekretaris Katy segera menghubungi sekretariat Ben dan disaat itu juga sekretaris Ben langsung menyampaikan kepada tuan Albercio sehingga tuan Albercio tidak sabar menunggu kedatangan sekretaris Katy untuk melihat rekaman cctv yang dia dapatkan juga sebuah bukti lain yang dikatakan oleh sekretaris Katy sebelumnya.
"Bagus, tidak sia-sia aku menyelamatkannya satu tahun yang lalu" gerutu tuan Albercio dengan senyum menyeringai.
__ADS_1
Hingga ke esokan paginya tuan Albercio segera di sibukkan dengan banyak pekerjaan yang harus dia lakukan sekaligus penyelidikan lebih lanjut mengenai orang yang telah mengambil tuan Amar dari jangkauannya, dia segera turun dari kamarnya dengan terburu buru dan melewati Arisha yang tengah duduk di meja makan seorang diri.
Aku yang melihat Albercio turun dari lantai atas dengan terburu-buru seperti itu tentu saja merasa sangat heran apalagi saat melihat dia tidak mampir ke meja makan untuk sarapan bersamaku, aku pun segera berlari menyusulnya sambil membawa sepotong roti dengan selai strawberry di dalamnya.
"Ehh.... Albercio berhenti" ucapku menghentikan dia dengan memotong jalannya dan merentangkan tangan.
Wajahnya terlihat begitu serius dan dia menatapku dari atas hingga bawah sampai membuat aku sedikit tidak nyaman dengan tatapan sinisnya tersebut.
"Heh, apa yang kau lihat kenapa menatapku dengan sinis seperti itu?" Tanyaku dengan heran,
"Minggir aku sibuk dan tidak ada waktu untuk berdebat dengan orang sepertimu" balasnya membuatku sedikit kesal,
"CK....ini makanlah aku menghentikan hanya untuk memberimu sarapan, sesibuk apapun pekerjaanmu kau tidak boleh melewatkan sarapan ini juga demi kesehatanmu, jadi cepat ambil dan makanlah" kataku sambil mengulurkan tangan yang memegangi sepotong roti lapis kepadanya.
"Albercio kau mau mengambilnya atau tidak, tanganku pegal tahu!" Bentakku kesal karena dia hanya diam saja,
Akhirnya dia pun mengambi roti itu dari tanganku dan langsung memakannya sambil berjalan melewatiku begitu saja, aku hanya bisa menghembuskan nafas kesal dan jengkel menghadapinya, jika bukan demi mengucapkan terimakasih berkat dia yang tidak jadi memecat bi Susan dan bi Meli aku juga mana mau memberikan sarapan seperti tadi.
Bahkan aku juga tidak perduli jika dia tidak makan sepanjang hari hingga dia mati, apa urusannya denganku, dia benar-benar pria berhati batu yang pertama kali aku temui sungguh menyebalkan rasanya bisa berhadapan dengan pria seperti dia, setelah melihat mobil yang ditumpanginya pergi aku segera kembali masuk ke dalam rumah dan mulai diam-diam masuk ke kamarku dan membuka laptop yang aku miliki dari hasil mengorbankan seluruh uang tabunganku sebelumnya.
Aku terus mencari tahu mengenai keberadaan pamanku namun aku sama sekali tidak bisa menemukannya dan aku hanya bisa mengeluh sendiri karena kini seakan tidak ada cara lain yang bisa aku lakukan untuk mencari informasi dari mereka, bahkan kini aku sudah kembali terkurung di kediaman Albercio dimana aku tidak bisa melarikan diri lagi untuk melihat dunia luar.
__ADS_1
"Sungguh menyedihkan apa lagi yang bisa aku lakukan sekarang?" Gerutuku kesal sambil menjatuhkan diriku ke ranjang begitu saja.
Aku sangat bosan, aku ingin pergi ke luar seperti kebanyak orang pada umumnya aku juga ingin menjalani hidup dengan kebebasan, penuh dengan kebahagiaan dan bisa tersenyum lepas seperti diriku yang dulu meskipun aku hanya hidup berdua dengan sepupu angkatku, tapi sekarang aku bahkan tidak tahu dimana sepupuku itu tinggal.
Terakhir kali aku bertemu dengannya dia memilih untuk pergi bersama kekasihnya Anton ke negara lain, dan aku justru memilih tetap tinggal di negara ini karena ibu dan ayahku ada disini. Namun nyatanya aku justru mendapatkan hal seperti ini, aku sangat merindukan Serli sekarang, tidak tahu sudah berapa lama kita tidak tidak bertemu dan aku tidak bisa menghubungi dia karena sudah lama kehilangan ponselku yang lama, bahkan sekarang aku hanya memiliki laptop ini di tanganku.
Aku sudah berusaha mencari media sosial Serli maupun kekasihnya Anton namun aku gagal mereka mungkin tidak menggunakan media sosial, aku hampir putus asa karena merasa benar-benar hidup seorang diri di dunia ini.
"Serli kapan kamu akan kembali, tolong cari aku Serli aku ingin bantuanmu aku ingin bebas Serli hiks...hiks..." Gerutuku merasa begitu terpukul.
Aku benar-benar naif karena berpikir aku bisa menyelesaikan semua masalah dalam hidupku seorang diri, namun nyatanya tidak aku memang membutuhkan orang lain karena aku juga hanyalah manusia biasa, aku bisa sedih dan terluka.
Hari ini aku hanya menangis dari pagi hingga siang bahkan bi Susan dan bi Meli sudah mengetuk pintu kamarku berkali-kali dan memintaku untuk membuka pintu, aku tahu mereka mengkhawatirkan keadaanku namun aku juga tidak ingin membuat mereka melihat keadaanku yang lemah seperti ini.
"Non....buka pintunya non Arisha....apa nona baik-baik saja di dalam kamar seharian?" Teriak bi Susan sambil mengetuk pintu kamarku,
"Aku baik-baik saja bi, tolong tinggalkan aku sendiri aku sedang ingin istirahat" balasku berteriak dari dalam,
Bi Susan yang tetap merasa cemas dia tidak bisa diam saja sehingga dia melaporkan keadaan Arisha kepada kepala pelayan di rumah ini yang tak lain adalah bibi Mia.
"Mia sepertinya nona Arisha tengah sedih dia bahkan melewatkan makan siang dan terus mengurung dirinya di dalam kamar, ini tidak seperti dirinya yang biasa" ucap bi Susan melaporkan,
__ADS_1
"Tenang saja mungkin dia memang membutuhkan waktu sendiri, biarkan seperti itu sejenak jika sampai sore dia tetap tidak keluar saya akan melaporkannya pada tuan Albercio" balas bibi Mia sambil menepuk pundak bi Susan.