Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Meysa


__ADS_3

Saat aku sudah menaruh tas berisi barang barang yang aku ambil dari rumah lama, aku langsung kembali bergegas menuju kantor Albercio lagi, karena tidak mungkin aku berada di rumah sedangkan semua pelayan tahu kalau aku di kantor Albercio, sesampainya di sana aku tak lupa membeli pembalut agar sekretaris Ben dan Albercio tidak merasa curiga saat bertemu aku kembali.


Aku duduk di meja dekat resepsionis seorang diri dan bersantai di sana sampai seorang wanita centil entah dari mana tiba tiba saja datang menghampiriku dan membentak juga menghinaku di depan semua orang.


"Heh...siapa kau duduk bersantai di saat jam kerja seperti ini!" Bentak wanita itu,


Aku langsung bangkit berdiri karena merasa heran ada orang yang menyangka kalau aku juga karyawan di sana.


"Maaf tapi kau salah sangka aku bukan karyawan di sini, aku hanya orang yang numpang duduk saja" jawabku dengan santai,


"Hah?, Kau bukan karyawan di sini, lalu untuk apa kau duduk di sini, cepat keluar kau hanya mengotori kantor pacarku!" Bentak wanita itu dengan sikapnya yang sombong,


Mendengar dia mengatakan bahwa ini kantor pacarnya aku langsung mengira bahwa wanita seksi itu adalah kekasih Albercio dan aku tidak perduli dengan ocehannya.


"Ohh...tapi aku di sini istrinya CEO Albercio jadi jelas aku bebas mau melakukan apapun di kantor suamiku, bagaimana apa kau keberatan?" Jawabku tak mau kalah.


"Huuh...ternyata pacarnya hanya segini, jauh lebih cantik aku dia hanya punya nilai plus dari keseksian berpakaian....aishh...kenapa juga aku membandingkan wanita murah dengan diriku sendiri" gumamku yang heran pada diri sendiri,


Aku memang tidak perduli dengan ocehannya tapi karena wanita sialan itu terus mendorong tubuhku dan mengusirku dari sana makanya aku tidak tahan lagi dan melawannya sampai titik darah penghabisan dan menggunakan status istri sebagai senjatanya, tapi bukannya malu setelah aku mengatakan bahwa aku istrinya Albercio wanita tersebut justru malah tertawa dengan keras dan meremehkan ku.


"Apa?, Kau?, ...kau istrinya Albercio hahaha....mimpi!, Heyy bangun, aku tau banyak wanita di dunia ini yang sangat memuja Albercio tapi aku adalah pemenangnya aku pacar Albercio yang sudah di pilih langsung oleh tante Mariana untuk bertunangan dengan Albercio sejak lama" ucap wanita itu yang kembali menyombongkan dirinya,


"Yaa...terserah kau saja aku tidak perduli, bahkan kalau kau menginginkan pria kepala batu itu ambil saja, semoga denganmu dia bisa sedikit berubah dan tidak menjengkelkan" jawabku sambil duduk dengan santai dan menutup mata.

__ADS_1


Aku sangat malas meladeni orang sepertinya karena aku tau jika aku terus menyangkalnya dia akan semakin besar kepala dan akan terus berusaha menggangguku lebih lama.


Wanita seksi itu nampak begitu kesal karena aku tidak terlalu menanggapi ucapannya hingga dia malah menyeretku dengan kuat keluar dari kantor itu dan mendorongku hingga aku jatuh tersungkur ke lantai.


"Heh...dasar perempuan tidak tau diri enyah kau dari sini...cepat...." Ucapnya sambil menarik lenganku dengan paksa,


"Heh ..heh....lepaskan aku...awwww" ringisku ketika jatuh dengan cukup keras,


"Aishh....kenapa kau menjengkelkan sekali sih, aku kan sudah bilang aku tidak perduli jika kau dan Albercio menjadi kekasih atau semacamnya, aku hanya istrinya yang tidak perduli apa kau masih belum mengerti" bentakku sambil bengkit berdiri,


Wanita itu mengepalkan kedua lengannya dan dia marah besar kepadaku,


"Heh...dasar jal*ng sialan berhenti mengada ngada bahwa kau istrinya aku tidak terima itu!" Bentak wanita itu penuh emosi.


"Ohh...jadi karena itu kau mengusirku dan bahkan mendorongku, oke aku akan bilang dia bukan suamiku aku tidak mengenalnya sama sekali, bagaimana apa kau puas?, Apa sekarang aku bisa kembali ke dalam dan duduk lagi dengan tenang?" Jawabku berusaha sabar karena tidak mau menimbulkan masalah di kantor.


Aku mengangguk menurutinya namun bukan karena aku takut aku hanya sudah cukup malu karena menjadi tontonan publik oleh para karyawan lain, entahlah para karyawan itu malah sibuk berbisik tidak jelas padahal mereka semua tau aku adalah istri sah Albercio tapi tidak ada satupun yang membelaku atau membantu menjelaskan pada wanita gila tadi bahwa ucapanku memang fakta, itulah yang membuatku malas mempertahankan ucapanku sendiri, jika mereka saja tidak membantuku maka akan percuma jika aku terus bicara kebenarannya pada wanita gila itu, yang ada aku akan semakin terluka.


Setelah puas membuatku jatuh dan kesakitan wanita gila itu masuk ke dalam dan menaiki lift aku tidak perduli dengan dia lagi aku kembali duduk di kursiku sebelumnya dengan santai, tatapan para karyawan padaku juga semakin berbeda aku mulai merasakan mereka menghina dan meremehkan ku, aku memutuskan untuk tidur agar bisa mendinginkan kepalaku.


Aku tidak mau berurusan dan menghabiskan energiku hanya untuk orang orang tidak penting di sana, aku hanya peduli dengan urusanku sendiri selebihnya biarkan saja.


Di sisi lain tanpa Arisha ketahui sekretaris Ben menerima laporan kejadian keributan Arisha dengan Meysa yang diketahui sebagai asisten pribadi Albercio saat ini, dan tadi adalah pertama kalinya dia menginjakkan kaki di kantor Albercio karena nyonya Mariana yang sengaja mengirim dia ke sana untuk bertunangan dengan Albercio, entah apa yang direncanakan nyonya Mariana mengirim Meysa ke sana padahal dia tau bahwa Albercio sudah menikah dengan Arisha.

__ADS_1


Sekretaris Ben langsung menyampaikan kabar tersebut pada Albercio secepat kilat bahkan sekretaris Ben sudah memperlihatkan rekaman cctv dimana Meysa dengan kasar menarik dan mendorong Arisha hingga jatuh ke lantai, saat Albercio baru saja selesai memutar rekaman cct tersebut, Meysa datang tepat waktu.


Dia masuk ke dalam ruangan Albercio tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu bahkan di sana masih ada sekretaris Ben yang berdiri tegak di depan meja kerja Albercio.


"Sayang....aku sangat merindukanmu" ucap Meysa dan langsung memeluk Albercio dari samping begitu saja,


"Lepaskan aku!, atau kau akan tau akibatnya" bentak Albercio menahan emosi,


"Sayang apa yang kau katakan kita sudah lama tidak bertemu apa kau tidak


merindukanku?" Tanya Meysa yang masih bersikap manja pada Albercio,


Albercio yang sudah tidak bisa menahan emosi dia langsung menghempaskan Meysa ke lantai dan dia bangkit berdiri, lalu berjongkok menghampiri Meysa dengan mata merah menyeramkan.


"Awww... Albercio kenapa kau tega melakukan ini pada tunanganmu sendiri" ucap Meysa jatuh ke lantai,


"Meysa bagaimana apa itu sakit?" Tanya Albercio dengan sinis,


"Al...ada apa denganmu, aku tau kau tidak menyukaiku tapi kau belum pernah sekasar ini padaku, ada apa Al?, Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Meysa dengan mata yang sengaja dia buat sendu,


"Iya...kau melakukan kesalahan fatal yang membuatku semakin membencimu!" Bentak Albercio sambil mencengkram rahang Meysa dengan kuat lalu melepaskannya dengan kasar,


Meysa hanya bisa meringis kesakitan tanpa tau apa yang sudah menyebabkan Albercio begitu kasar padanya hari itu.

__ADS_1


Albercio bangkit berdiri dan dia mengatakan semuanya dengan lantang.


"Aku peringatkan kau, jangan berani beraninya menyentuh istriku!, Jika kau menyentuhnya meski sehelai rambut pun maka aku akan membuatmu lebih menderita!" Ancam Albercio dengan kejam.


__ADS_2