Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Kembali Lagi


__ADS_3

Jujur saja aku kesal dengan sikapnya yang kasar seperti tadi dia bahkan menyeretku dengan tenaganya yang super kuat dan kasar sedangkan aku seperti tahanan baginya yang dia kurung di apartemen tersebut dan selalu harus meminta izin kepadanya setiap kali ingin pergi ditambah beberapa orangnya pasti harus mengikuti aku dengan alasan menjagaku.


Padahal aku sendiri juga tidak akan kabur, karena aku mau kabur kemana uang saja aku tidak punya apalagi tempat tinggal, tentu aku akan selalu kembali ke apartemen tersebut, tetapi dia selalu tidak mempercayai aku hanya karena aku pernah kabur dari rumahnya sebelumnya.


Padahal saat itu aku juga kembali lagi ke kediaman, dia terus mempermasalahkan mengenai hal itu, sesuatu yang sudah berlalu namun selalu dia ungkit.


Hingga sesampainya di depan apartemen dia langsung kembali menarikku dan membawaku masuk ke dalam apartemen dengan kasar bahkan dia mendorongku hingga aku jatuh terduduk di sofa.


"Awww.... Albercio apa yang kau lakukan, kau menyakitiku!" Bentakku padanya sambil memegangi pergelangan tangan yang terasa sakit,


"Jika kau tidak ingin aku sakiti seharusnya kau mematuhi setiap aturan yang aku buat untukmu, tapi kau beraninya kabur dengan menuruni apartemen di lantai dua menuju ke bawah hanya dengan seprai dan gordeng yang kau sambungkan dengan ikatan biasa, apa kau tidak tahu bahwa itu berbahaya?" Bentak Albercio tak kalah keras.


Aku tahu dia mungkin mengkhawatirkan aku, tapi kali ini aku baik-baik saja seharusnya dia tidak perlu memarahi aku sampai seperti itu.


"Albercio aku ini kan baik-baik saja jadi untuk apa lagi kau mempermasalahkan itu, lagi pula aku ini tidak akan kabur seandainya kau tidak mencariku seperti tadi" balasku mengatakannya,


"Bagaimana aku bisa yakin jika kau tidak akan kabur dariku dan melanggar kontrak yang sudah kita buat" ucap Albercio yang ternyata masih belum mempercayainya aku lagi,


"Huuhh....kau tahu aku tidak punya tempat tinggal dan uang aku tentu saja akan kembali ke apartemen ini setelah aku lelah bermain, aku juga manusia aku bosan terus berada di dalam tempat membosankan ini, aku ingin melihat dunia luar Albercio aku ingin bebas bukan seperti burung dalam sangkar!" Bentakku meluapkan semua hal yang membuatku cukup emosi dan memancing terus amarahku.


Akhirnya Albercio berhenti dan dia diam dalam waktu yang lama sedangkan aku mulai menangis tanpa suara, aku dengan cepat menghapus air mataku yang hampir jatuh hingga Albercio duduk di sampingku dan dia memegangi kedua lenganku dengan lembut.


"Maafkan aku Arisha aku tidak bermaksud berperilaku kasar padamu sebelumnya, hanya saja aku tersulut emosi karena melihat kau bersama pria asing tadi" ungkap Albercio meminta maaf dan mengatakan alasan kemarahannya.

__ADS_1


Aku heran dan sedikit kaget ketika mendengar alasan kemarin Albercio karena pria asing tadi, aku mulai berpikir terlalu jauh mengenai hubunganku dan Albercio.


"Hah?, Kau cemburu yah?" Tanyaku memastikan apakah dia benar menyukaiku sesuai dengan yang aku pikirkan atau tidak.


"A... apa?, Cemburu ahaha tentu saja tidak, kau jangan salah paham dahulu aku mengkhawatirkan kau saat bersama pria itu karena aku takut dia bukan pria baik aku takut dia justru hanya akan mempermainkan kau" ucap Albercio menutupi semuanya.


Meski Albercio tidak bicara langsung kepadaku, tapi aku tahu dan bisa melihat dari tauywajahnya, dia tertipu saat aku bertanya apakah dia cemburu pada pria itu dan ekspresi wajahnya itulah yang membuat aku semakin yakin jika dia memang memiliki sedikit keperdulian padaku meski aku tidak tahu apakah itu cinta atau hanya sebuah kepedulian saja.


Padahal wajahnya sudah jelas memperlihatkan hal itu tapi dia tetap saja menyangkalnya dan itu membuat aku sedikit kesal kepada Albercio, lagian dia juga dia sebelumnya mengabaikan aku dan malah meninggalkan aku begitu saja makanya aku sampai melakukan hal seberani itu.


Albercio menghembuskan nafasnya yang berat lalu dia menyuruhku untuk kembali tinggal dirumahnya yang lama.


"Arisha ayo kita kembali ke rumahku yang lama" ucap Albercio membuatku kaget setengah mati,


"APA?, Kembali ke rumahmu?, Tidak aku tidak mau kembali ke sana Albercio disana banyak bodyguard yang akan menahanku aku akan semakin sulit untuk pergi keluar, lalu bagaimana aku bisa menikmati dunia luar jika kau terus memenjarakan aku seperti ini?" Balasku menolaknya dengan keras.


"Saat itu ketika aku memperbolehkan kamu meninggalkan rumahku dan membiarkan kau tinggal disini karena aku sedang marah denganmu, dan aku pikir kau akan kembali denganku jika aku mengijinkan kau untuk tinggal disini namun nyatanya kau tetap.keras kepala bahkan berani menyusup ke kediaman Koward itu akan berbahaya bagimu jadi aku harus membawamu kembali ke rumahku" ucap Albercio sudah memutuskan.


Aku tetap tidak bisa menerima itu namun keputusan Albercio tidak bisa diganggu gugur ataupun ditawa lagi dia terus memaksaku untuk kembali ke kediamannya, hingga akhirnya aku pun menyerah dan akan mengikuti keinginan dia, meski aku sangat tidak ingin kembali ke sana.


"Bi cepat bereskan semua barang-barang miliknya kita akan kembali ke rumah utama dan jual saja apartemen ini" ucap Albercio dengan santai.


Bi Susan dan bi Meli segera menuruti perintah tuannya mereka bergegas ke kamarku dan membereskan semua barang-barangku dengan teliti hingga tidak ada yang tersisa di sana, lalu aku dan Albercio pergi dari tempat itu rasanya sangat berat untuk meninggalkan tempat tersebut meski aku hanya tinggal dalam beberapa Minggu saja disana.

__ADS_1


Suasana kedamaian dan kenyamanan yang ada disana yang tidak bisa aku dapatkan ketika aku kembali ke kediaman Albercio, nanti pasti akan kembali menjadi sangat membosankan lagi setelah aku tinggal di kediamannya itu.


Albercio sengaja mengajak Arisha untuk kembali ke kediamannya karena dia sudah berjanji pada ibunya untuk mempertemukan mereka berdua atau dia yang harus kembali berangkat ke luar negeri bersama Arisha untuk mengunjungi ibunya, sedangkan Albercio masih harus memberikan beberapa bukti bahwa dia benar-benar sudah menikah.


Ibunya terus mendesak dirinya agar mengirimkan foto bersama istrinya tersebut ketika hendak tidur di ranjang makanya Albercio menyuruh Arisha untuk tinggal di rumahnya agar dia tidak perlu bingung dan kelimpungan lagi ketika ibunya tiba-tiba melakukan panggilan video dan ingin melihat menantunya tersebut.


Dan apa yang ditakutkan oleh Albercio sungguh terjadi, saat mereka baru sampai di kediaman lama tiba-tiba telpon Albercio berbunyi dan itu adalah panggilan video dari ibunya yakni nyonya Kirana, Albercio tidak bisa menolak terus panggilan video dari ibunya yang memaksa tersebut sampai mengirimkan sebuah pesan ancaman kepadanya.


Sehingga mau tidak mau Albercio menarik lengan Arisha yang saat itu hendak menaiki tangga lalu membawanya duduk di sofa dan dia baru mengangkat panggilan video dari ibunya tersebut.


"Eh...eh... Albercio ada apa kau menahanku begini?" Tanyaku dengan heran dan aku berontak,


Albercio mengerutkan dahi dan alisnya dia seperti memberikan kode kepadaku dan menaikkan ponselnya ke atas lalu mengangkat panggilan video dari ibunya itu.


Saat layar terbuka Albercio langsung menarik kepalaku hingga kini posisi kami saling berdekatan bahkan hampir menyentuh pipi kami masing-masing.


"Iya Bu ada apa memanggilku di jam segini, apa ibu tidak lihat aku sedang bersenang-senang dengan istriku" ucap Albercio sengaja mengatakan sembarangan hal.


Aku kaget dan membelalakkan mataku lagi saat mendengar Albercio menyebut wanita di dalam video itu dengan sebutan ibu, aku pun langsung sadar dan kaget lalu segera menyapanya dengan sofa.


"AA..aaahh....ibu yah, hallo nyonya" ucapku menyapanya dengan perasaan canggung.


Aku tidak mengetahui siapa namanya dan aku benar-benar tidak mengenalnya sama sekali, ini adalah pertama kalinya aku melihat wajah ibunya Albercio sehingga aku sangat gugup ketika dia mulai mengajakku berbicara bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2