
Aku kaget antara kecupan yang dia berikan di dahiku dengan perkataan yang dia lontarkan, tetapi aku sangat senang ketika sudah menyadari kebenarannya tersebut. Aku langsung duduk dengan senang di sofa dan terus tersenyum menunggu Albercio kembali dari rapatnya aku bahkan sudah tidak sabar dengan kedatangannya itu.
"Aaahhh.... akhirnya aku bisa bertemu dengan Serli, aku sangat merindukannya meskipun dia seperti itu kepadaku, tapi setidaknya aku tetap harus melihat dan menanyakan kepada dia secara langsung, aku juga ingin mendengarkan penjelasan darinya dahulu" ucapku mengingat Serli.
Setelah aku pikir-pikir, ternyata Albercio memang tidak terlalu buruk dia tetap bisa diandaikan meski sebagai suami kontrak bukan suami sungguhan.
Aku sudah menunggunya untuk waktu yang lama, sudah berdiri di depan kaca yang menghadap ke pemandangan kota, sudah mencoba duduk di bangku kebesarannya, membaca buku bisnis yang ada di rak dan aku sudah berolahraga sendiri disana untuk menghilangkan kebosanan di dalam diriku.
Albercio itu sangat lama sekali hingga aku mulai mengantuk dan memutuskan untuk tidur di sofa yang ada disana.
Aku tidur dengan nyaman karena sofa itu sangat empuk dan hangat, aku selalu tidak sadar ketika tidur sampai tidak lama Albercio datang ke dalam ruangan kerjanya bersama sekretaris Katy dan sekretaris Ben dia menyambutku kedatangan sekretaris Katy untuk menyampaikan laporan tugasnya di negara A, termasuk beberapa hal yang sudah di selidiki mengenai keluarga Koward yang menculik paman Arisha.
Tetapi rupanya tuan Albercio melupakan seseorang, dia tidak ingat bahwa Arisha masih ada di dalam ruangannya dan dia pikir Arisha tidak akan tidur di ruangan tersebut sehingga dia mengijinkan sekretaris Ben dan sekretaris Katy untuk masuk bersamaan dengannya.
Namun saat mereka tiba di dalam melihat Arisha yang tidur dengan rok pendeknya yang terbuka ke atas dan tangannya yang tergeletak ke bawah, apalagi posisi tidurnya sangat memalukan itu membuat tuan Albercio langsung membentak sekretaris Ben dan sekretaris Katy agar tidak melihat istrinya tersebut.
"BEN. KATY! tutup mata kalian!" Bentak tuan Albercio sangat keras.
Sebelum tuan Albercio marah dan membentaknya sekretaris Ben sudah lebih dulu membalikkan badan sejak pertama kali melihat Arisha tidur dengan posisi tidak lazim itu.
Sedangkan sekretaris Katy berusaha menahan tawa karena dia sudah cukup mengenal Arisha yang selalu ceroboh dan berbuat semaunya dimanapun dia berada.
Tuan Albercio langsung berjalan mendekati Arisha dan dia menahan emosi di dalam dirinya, tuan Albercio berjongkok dan menepuk pipi Arisha pelan untuk membangunkan gadis itu, namun hasilnya tidak berdampak baik bagi dirinya.
"Heh...gadis konyol bangun kau!" Ucap tuan Albercio dengan wajahnya yang datar,
"Eummm....aku ingin tidur, Albercio sialan itu sangat lama" ucapku mengigau.
Mendengar itu sekretaris Katy dan sekretaris Ben menahan tawa dengan sekuat tenaga mereka sedangkan tuan Albercio sendiri mengepalkan tangannya dengan kuat menahan emosi agar tidak kelepasan pada Arisha yang sudah mempermalukan dia dihadapan bawahannya sendiri.
"Arisha ...kau benar-benar menguji kesabaranku" gerutu tuan Albercio merekatkan giginya.
Hingga tiba-tiba saja Arisha menarik dasi panjang miliknya dan mencium bibir tuan Albercio dengan cepat, ciuman itu hanya berlangsung sekilas karena Arisha tetap tidur dan tidak sadar dengan apa yang baru saja dia lakukan pada tuan Albercio, tapi ciuman itu sudah yang ke tiga kalinya bagi Albercio dan dia masih tetap tertegun ketika mendapatkannya.
"Albercio bibirmu manis, apa kau memakan permen?" Ucap Arisha masih mengigau tidak karuan.
__ADS_1
Tuan Albercio kaget membelalakkan matanya dan dia langsung membekap mulut Arisha karena berbicara dengan lantang dan dia segera mengusir sekretaris Ben dan sekretaris Katy untuk menjaga harga dirinya tetap utuh, sebelum Arisha akan membuatnya menjadi lebih malu lagi.
"Ben...Katy, cepat kalian keluar dari ruangan saya!" Ucap tuan Albercio dengan kesal.
Mereka berdua segera keluar dengan terburu-buru karena paham suasana di dalam ruangan itu sudah sangat mencekam dan tidak normal lagi.
Aku merasa sesak dan sulit bernafas hingga ketika aku membuka mata ku lihat tangan Albercio membekap mulutku dan aku langsung menepuk tangannya itu dengan keras sampai dia melepaskan bekapan di dari mulutku.
"...eum!...eummm!....bwaaahhh... Albercio apa kau gila, kau mau membunuhku yah?" Bentakku memarahinya,
"Heh, disini seharusnya akulah yang marah padamu, kau sudah membuat harga diriku hampir tergores" balasnya sambil bangkit berdiri dan duduk di kursi kebesarannya.
Aku mengerutkan wajahku dan tidak mengerti dengan apa yang dia katakan, karena yang aku tahu dialah yang membekap mulutku disaat aku tertidur, aku membersihkan bibirku karena tidak Sudi tangan kotornya itu menyentuh bibirku
Tapi di saat aku menggerutu kesal Albercio sialan itu justru malah terlihat gugup dan dia membuka jas kerja miliknya lalu berbicara tidak jelas.
"Dasar....sialan aku menarik kembali pikiranku yang mengatakan dia tidak terlalu buruk, dia sangat buruk" gerutuku sambil merapihkan pakaianku,
"Aaahh .... kenapa udara di dalam ruangan ini sangat panas, aishh....." Ucapnya marah-marah tidak jelas,
"Iya aku gila, dan kau yang membuatku gila. Keluar kau dari ruanganku dan pulanglah dengan jalan kaki!" Bentaknya kepadaku tanpa alasan yang jelas.
Aku terperangah dan sangat marah sekali, aku berjalan menghampirinya dengan kesal lalu menggebrak mejanya dengan kuat.
"Brakk....." Suara meja yang aku tepuk dengan kuat,
Aku tatap matanya dengan tajam dan mengatur nafasku yang menderu karena menahan emosi kepadanya.
"Albercio kau benar-benar akan menyuruhku pulang dengan berjalan kaki hah?" Tanyaku sekali lagi,
"Iya sana kau pergi, untuk apa lagi masih disini, menggangguku saja" balasnya dengan santai.
Aku benar-benar kesal dan langsung pergi dari sana sambil menghentakkan kakiku ke lantai berkali kali dan terus merutuki dia sepuasku, aku tidak perduli meski dia akan mendengar semua gerutuan dan ejekan aku kepadanya.
"Eughh...sialan, dasar manusia batu, tidak punya hati...arghhh...iblis dia benar-benar tidak pantas menjadi CEO ternama di kota ini, apa bagusnya dia matanya yang besar dan tajam, mulutnya yang menyebalkan dan hidungnya yang seperti burung unta, tidak ada yang bisa di nilai dari si bodoh itu" gerutuku terus menjelek jelekkan Albercio.
__ADS_1
Saat itu aku masih berjalan di ruangannya dan jelas sekali Albercio pasti mendengarkan ucapanku yang merutuki dia habis-habisan, tapi anehnya dia tidak menghentikan aku dan aku semakin jengkel kepadanya, aku terus keluar dari ruangan itu dan membanting pintunya sangat keras.
Sampai aku lihat ada sekretaris Ken dan sekretaris Katy di depan pintu ruangan manusia iblis itu dan aku memalingkan pandangan dari mereka berdua disaat mereka membungkuk menyapaku.
"CK....kalian berdua sama saja dengan si burung unta itu, menyebalkan!" Ucapku dengan kesal dan menatap sinis sekilas pada sekretaris Han dan Katy.
Mereka semua sangat menjengkelkan dan selalu membuat diriku naik darah, aku terpaksa benar-benar harus pulang dengan berjalan kaki, padahal aku tidak tahu dimana titik kesalahan diriku yang sebenarnya, Albercio selalu saja memerintahku, dan selalu mendominasi semua yang dia lontarkan tidak bisa dibantah dan aku selalu menjadi korbannya.
Dia memberikan tugas dan menyuruhku seenaknya tanpa tahu bahwa perintahnya itu tidaklah masuk akal sama sekali, dia bahkan lebih mirip menyiksaku dibandingkan sebagai suami yang seharusnya melindungi dan menyayangi istrinya.
"Aaahh...sial sekali sih nasibku, harus menikah di usia muda, meninggalkan pendidikan dan merelakan masa mudaku karena menikahi monster sepertinya, huaaa....takdir apa ini" gerutuku sambil berjalan dan menendang batu juga botol bekas yang ada di hadapanku sembarangan.
Aku terus menendang botol bekas minuman itu sambil berjalan untuk menyalurkan emosiku, hanya itu yang bisa aku lakukan untuk membuat emosiku mereda.
"Eughh sialan Albercio sialan!" Teriakku sangat keras dan menendang botol itu sekuat tenaga sampai tidak sengaja mengenai kepala seseorang.
"Pletak....aaaaw....hey, siapa yang berani menendang botol ini padaku?" Teriak pria itu dengan emosi.
"Ohh....gawat aku harus lari" ucapku sambil langsung kabur dari sana.
Aku pikir pria itu tidak akan menyadarinya tapi ternyata dia mengejarku dan dia berlari sangat kencang, aku terpaksa harus terus kabur darinya karena melihat pria itu yang berteriak begitu keras dan terus menghentikanku dengan emosi, aku takut dia orang jahat dan akan menghukumku.
"Aaaa.....aku minta maaf tolong jangan kejar aku, pergi kau" teriakku sambil terus berlari,
"Hey....berhenti kau aku tidak akan melepaskanmu" balas pria itu yang tidak mau menyerah,
Aku juga tidak ingin menyerahkan diri pada pria itu tapi aku malah mengambil jalan yang salah karena berakhir di jalan buntu yang tengah melakukan perbaikan sehingga mau tidak mau aku harus menghadapi pria tersebut.
Aku membalikkan badan dan berjalan dengan lesu sampai tidak lama pria itu juga sampai disana dan dengan nafas yang ngos-ngosan dia masih bisa mengancamku.
"Hah...hah...hah.... Mau lari kemana lagi kau, aishh...dasar wanita sialan, beraninya kau menendang botol ke arahku, heh lihat ini jidatku terluka karena ulahmu!" Bentak pria itu sambil menyingkirkan rambutnya.
Aku langsung mengangkat kepalaku dan kaget, aku pikir tadi itu tidak sampai melukainya namun setelah tahu aku merasa bersalah dan langsung mendekati pria itu lalu memeriksa luka di dahinya dengan segera.
"Apa?, Jadi kau terluka...mana yang luka?, Ya ampun ini berdarah kenapa kau tidak bilang sejak awal, ayo ikut aku akan mengobati lukamu" ucapku langsung menariknya.
__ADS_1
"Eh....eh..eh ..hey apa-apaan kau ini, lepaskan aku wanita gila...hey...." Ucap pria itu malah mengataiku.