
Albercio terus saja menarik lenganku sampai membawaku keluar dari rumah itu dan barulah menghempaskan genggamannya padaku.
"Aishh.... Sebenarnya apa yang kau mau dariku" ucapku kesal sambil memegangi lenganku,
"Cepat ikuti pemanasan ku, dan kau harus menjagaku, teruslah berada di belakangku, mengerti!!" ucapnya memberi perintah,
Aku keheranan dan terpaksa mengikuti keinginannya karena jika tidak dia terus menatapku dengan tajam seperti singa yang siap menerkam mangsanya kapan saja.
Sampai tiba tiba dia berlari keluar dari rumah dan berteriak menyuruhku mengikutinya, lantas terpaksa akupun harus ikut berlari dan berusaha menyeimbangkan lariku dengannya yang memiliki kaki panjang dan begitu cepat, sedangkan aku yang hanya memiliki tinggi 155 cm bisa apa, laripun seperti siput.
Aku lelah dan tak bisa mengejarnya, piyama yang aku kenakan juga kebesaran dan melorot itu membuatku kesulitan ditambah kesal karena lapar.
"Aish... Hah... Hah... Hah, aku benar benar tidak bisa menyusul kelinci es itu, menyebalkan" ucapku sambil berjongkok menahan lelah,
Tak lama Albercio yang menyadari kalo Arisha tak ada di belakangnya dia kembali berlari ke belakang dan menemui Arisha yang tengah kelelahan di pinggir jalan dengan piyama yang kebesaran dan rambut berantakan, ditambah keringat disekujur tubuhnya, melihat itu Albercio seakan begitu puas dan refleks menertawakan Arisha sambil menunjuk ke arah wajahnya.
"Ahahaha... Lihatlah keadaanmu dasar si pendek yang tak terurus, hahaha..." Ucap Albercio si sela sela tawanya yang renyah,
Arisha mengerutkan bibirnya keras wajahnya sudah merah padam menahan amarah yang siap meledak kapan saja.
"DIAM!, hah... Hah... Hah..., aku akan pulang dan tidak mau berolahraga lagi, aku sudah sehat" ucapku kesal dan pergi kembali ke rumah,
Albercio mengikutiku dari belakang sambil berjoging santai sedangkan aku sudah tak bisa menahan ke kesalan lagi aku terus berjalan dengan menggerutu kesal karena celana piyama yang aku kenakan terus saja melorot menyulitkan ku berjalan, sampai aku jatuh karena celana itu tak sengaja terinjak oleh salah satu kakiku yang lain.
"Brukk..." Suaraku yang jatuh tersungkur di jalan,
__ADS_1
"Ssstttt... Awwww" ucapku merasakan kaki yang begitu nyeri saat mencoba bangkit,
Lagi dan lagi seorang Albercio bukannya cepat menolongku dia malah tertawa terbahak bahak bahkan sempat sempatnya memotretku dalam keadaan seperti itu, aku sungguh sudah tidak perduli lagi dia benar benar pria paling menyebalkan di dunia.
"Arghhhhkkkk... Hey kau dasar pria kejam huh... Huh... Aku membencimu" teriakku keras dan menatapnya penuh kebencian.
Dia malah terus tertawa dan berlari meninggalkanku seorang diri yang kesakitan di jalan, aku berusaha bangkit dan menahan kakiku yang terluka, karena sulit berjalan terpaksa aku merobek piyama itu dengan sengaja dan sekuat tenaga, sayangnya saking marahnya aku tak sadar merobek celana piyama itu terlalu pendek sampai diatas lutut, tapi aku tak perduli yang penting sekarang aku bisa leluasa berjalan dan tidak perlu melipat celana sialan itu lagi.
"Hah aku rasa pria sialan itu sengaja melakukan semua ini padaku, lihat saja aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja, aku akan membalasnya" gerutuku kesal.
Aku terus berjalan perlahan hingga sampai di rumah ku lihat dia sudah sarapan dengan enak dan melihatku sekilas sedang kan bi Mia begitu panik melihat kakiku yang berdarah dan berjalan pincang masuk ke dalam rumah.
"Ya ampun nyonya apa yang terjadi dengan lututmu?" Ucap bi Mia dengan panik dan langsung memapahku untuk duduk di kursi,
"Biasa bi, ada kelinci sialan yang memaksaku lari pagi tapi malah membuatku celaka seperti ini, parahnya dia meninggalkanku dalam keadaan begini" ucapku dengan keras sengaja menyindir pria sialan itu.
Selesai merawat lukaku, bibi Mia membantuku ke meja makan dan mempersilahkanku untuk sarapan namun saat kulihat semua makanan di meja sudah habis oleh pria sialan itu bahkan dia tidak menyisakan sehelai rotipun untukku.
"Apa?, Kau menghabiskan semuanya?" Ucapku membelalakkan mata tak percaya,
"Memangnya kenapa ini rumahku, dan makanan itu untukku jadi tidak ada salahnya aku habiskan, kau kan pendek makan saja sisa makananku" ucapnya menyepelekan,
Aku terus menghembuskan nafas menderu dan menahan emosi yang sudah sampai ke ubun ubun aku memegang sendok dengan kuat dan berusaha untuk tetap sabar, bibi Mia juga mengelus punggungku menahanku agar tidak marah.
"Nyonya yang tenang yah, biar bibi buatkan sarapan lagi khusus untuk nyonya" ucap bibi Mia.
__ADS_1
"Tidak perlu bi, aku tidak jadi sarapan, terimakasih" ucapku sambil tersenyum kecut dan pergi ke kamarku.
Aku sudah tidak tahan berada di rumah itu baru saja aku tinggal di sana beberapa jam tapi aku sudah mendapatkan semua kesulitan dari pria itu, aku segera mengganti pakaian dengan baju yang pertama kali ku pakaian saat bibi menculikku lalu aku bergegas pergi dari sana, aku berpapasan dengan pria sialan itu dan dia langsung menahanku saat aku hendak keluar dari rumah.
"Pendek berhenti!, Mau kemana kau?" Ucapnya sambil berjalan menghampiriku,
"Menurutmu aku mau kemana, aku tidak akan tinggal diam kau hina terus seperti tadi, aku bukan wanita lemah seperti di drama" ucapku kesal,
"Apa kau lupa dengan hutang dan semua kerugian yang ditinggalkan paman dan bibimu?, Ku ingatkan kau bahkan sekalipun kau bekerja padaku seumur hidup itu tidak akan cukup" ucapnya membisikan semua itu tepat di telingaku.
"Berapapun itu, aku akan berusaha membayarnya hingga aku mati, atau kalau perlu kenapa kau tidak bunuh aku saja agar kau puas" ucapku yang sudah tak bisa menahan emosi,
"Aku tidak akan membiarkan orang yang merugikanku mati dengan mudah" jawabnya bengis,
"Ohhhh, jadi itu alasannya mengapa kau tidak memberikanku pakaian yang layak, menyiksaku dan bahkan tidak memberiku makan, iya?" Bentakku sambil mengepalkan kedua lenganku dengan kuat.
Pria itu diam dan dia kembali mengancamku lalu pergi begitu saja.
"Apa yang kau maksud?, Sebaiknya kau jangan mencoba untuk kabur karena aku akan dengan mudah menemukanmu dimanapun kau tinggal" ucapnya sambil berjalan pergi.
Aku hanya bisa berteriak kesal dan menghentakkan kakiku hingga aku lupa kalau kakiku masih sakit dan luka akibat terjatuh saat berlari tadi pagi, aku kesal dan tidak bisa pergi dari rumah itu, perutku juga lapar dan terus mengeluarkan suara, sungguh sakit dan hanya bisa meratapi dan pasrah ini sungguh bukan seperti diriku.
Bibi Mia datang menghampiriku dengan membawa sepiring nasi goreng penuh dan segelas air putih, dia memberikannya padaku dan memintaku untuk segera mengisi perutku.
"Nyonya cepatlah makan, kalau tidak kau akan sakit" ucap bibi Mia lembut.
__ADS_1
Karena lapar aku mengambilnya dan segera aku makan hingga habis setelah itu aku tak tau harus melakukan apa lagi, hari masih panjang dan aku hanya duduk di ruang tengah menonton tv yang tak aku sukai sama sekali, saat aku hendak membantu para pelayan membersihkan rumah agar aku ada kegiatan mereka justru tidak memperbolehkannya padahal menurutku aku dan mereka tak ada bedanya justru aku jauh lebih menderita dari mereka.