
Meski begitu aku tetap sedikit gugup dengan ancaman yang di berikan oleh Melinda padaku, aku tahu betul dia orang yang seperti apa sehingga ancamannya itu cukup membuat aku cemas tapi untungnya ada ibu mertuaku sehingga dia membuat aku merasa jauh lebih nyaman kali ini.
Hingga sesampainya di rumah tente Kirana terus saja menyuruh aku untuk segera mencoba beberapa macam pakaian yang sudah dia belikan untukku dan dia juga meminta aku untuk mengantarkan bekal makan siang pada Albercio saat ini.
"Arisha ayo cepat kamu gunakan pakaian ini, kamu coba satu per satu, ibu ingin melihat kamu memakainya" ucap ibu mertuaku itu dengan wajah yang memelas.
Melihat wajahnya tentu saja aku tidak bisa menolak itu dan segera aku turuti kemauannya, aku pergi mengganti pakaian hingga beberapa kali karena masih belum menemukan pakaian yang cocok untukku di mata Tante Kirana.
Sampai ini adalah pakaian terakhir yang aku coba dan akhirnya tante Kirana menyukainya sehingga aku merasa sangat lega karena tidak perlu mengganti pakaian lagi atau harus membeli yang baru lagi.
"Nahh... Kalau ini bagus, ini sangat cocok untukmu" ucap Tante Kirana sambil mengacungkan dia jempol jari tangannya.
Aku memang tahu pakaian ini sangat bagus dan cocok di tubuhku, ukurannya pun juga pas sekali, hanya saja bajunya terasa cukup pendek sehingga aku sedikit tidak nyaman ketika menggunakannya dan aku juga merasa kurang percaya diri jika harus keluar dengan memakai pakaian seterbuka ini.
Aku sungguh merasa sangat tidak nyaman memakainya tapi di saat aku mengatakan rasa keberatan itu pada tuan Tante Kirana, dia justru malah tetap memintaku untuk memakainya.
"Ta...Tante.... Apa pakaian ini tidak terlalu pendek untukku, aku sedikit tidak nyaman menggunakannya, karena sebelumnya aku tidak pernah menggunakan pakaian seperti ini" ucapku mengutarakannya,
"Apanya yang tidak nyaman? Itu sangat cocok denganmu Arisha, ingat kau itu istri dari seorang pengusaha terkenal, kau harus bisa menjaga hati suamimu dan pandangan matanya agar dia terus tertuju padamu dan tidak coba-coba untuk berpaling pada wanita di luar sana yang hanya mengandalkan body mereka saja, mengerti?" Ucap tante Kirana yang tetap mendesak aku untuk memakai pakaian itu,
"Tapi Tan tetap saja aku...." Ucapku tertahan,
"Aishh....sudah pakai itu dan jangan lupa gunakan high heels nya, ini ibu sudah memasak makan siang untuk Albercio kamu tolong berikan padanya, cepat supir sudah menunggumu di luar" ucap ibu mertuaku itu sambil mendorong tubuhku pelan.
Aku tahu ini adalah sebuah pemaksaan namun aku tidak bisa menolak atau mencoba melarikan diri darinya, ibu langsung saja meminta aku untuk masuk ke dalam mobil dengan paksa dan menyuruh pak supir untuk segera mengantarkan aku ke perusahaan Albercio.
Selama di perjalanan aku merasa tidak nyaman, dengan pakaian yang minim ini dan perasaan yang tidak menentu aku sungguh tidak tahu bagaimana cara untuk menghadapi Albercio di perusahaannya nanti jika dia melihat aku memakai pakaian seperti ini, aku hanya takut dia akan mengolok-olok aku dan membuat aku tidak bisa menaruh mukaku di hadapannya lagi.
Gaun berwarna putih ini terlalu pendek bagiku, juga belahan dadanya yang terlalu menurun itu sangat membuatku tidak nyaman dan merasa malu ketika mengenakannya, hingga saat sampai di depan perusahaan aku sungguh merasa tidak karuan, perasaanku sungguh berat untuk turun dari mobil.
Tapi pak supir sudah menyuruh aku untuk segera turun hingga aku memberanikan diri untuk turun dan semua pandangan orang-orang yang ada disana terus saja tertuju padaku, bahkan hingga aku masuk ke dalam, dan berbicara pada resepsionis disana untuk menemui tuan Albercio.
"Permisi saya ingin pergi menemui tuan Albercio, apa dia ada di ruangannya?" Tanyaku pada resepsionis itu.
Wanita di meja tersebut malah menatapku dengan sinis bukannya segera memberitahuku dan menjawab pertanyaanku.
"Permisi mbak....apa tuan Albercio ada di ruangannya?" Tanyaku lagi karena wanita itu hanya diam saja,
"Apa sudah ada janji sebelumnya?" Tanya balik wanita itu yang akhirnya berbicara,
Aku sedikit bingung untuk mengatakannya karena memang sebelumnya tidak ada janji antara aku dan Albercio sehingga aku pun mengatakan pada wanita tersebut apa adanya.
"Eum... Tidak ada janji sih, tapi aku istrinya dan aku hanya ingin mengirimkan dia makan siang, boleh kau tunjukkan padaku di mana ruangan suamiku?" Ucapku kepadanya,
"Haha... Istri, memangnya aku ini bodoh, sejak awal melihatmu wanita ganjen dengan pakaian terbuka seperti ini, tidak mungkin tuan Albercio memiliki istri sepertimu" balas wanita itu membuatku kaget.
Aku merasa aneh dan kesal karena wanita itu malah menghinaku dan mengatai aku dengan sebutan wanita ganjen padahal aku memakai pakaian ini juga terpaksa, di tambah dia tidak mempercayai aku bahwa aku memang istri sah nya tuan Albercio.
"Mbak tolong jaga ucapanmu yah, aku ini memang istrinya bos kalian, kenapa kalian malah menertawakan aku?" Ucapku sedikit meninggikan suara.
Mereka tetap mengabaikan aku dan menertawakan aku, lalu malah menyuruh aku untuk pergi dari sana dan aku tidak ingin pergi begitu saja dengan semua penghinaan yang sudah mereka berikan padaku, aku berusaha untuk menerobos masuk mencari ruangan Albercio sendiri namun mereka langsung menahanku di saat aku hendak masuk ke dalam lift.
"Mau kemana kau, kami kan sudah bilang tuan Albercio tidak ada di ruangannya kau pergi saja dasar j*Lang murahan!" Ucap wanita itu kembali mengataiku,
"Beraninya kau mengataiku, awas saja jika Albercio tiba akan aku pastikan dia memecat karyawan sepertimu!" Bentakku padanya.
__ADS_1
Hingga tidak lama di saat aku tengah berusaha melawan dia wanita sialan ini yang terus menahan tubuhku untuk masuk ke dalam lift, justru lift nya malah terbuka lebih dulu dan yang ada di dalam lift tersebut adalah Albercio dengan seorang wanita yang berpakaian sangat seksi di tambah tangannya yang terus menggelayuti tangan Albercio.
Aku sangat kaget dan langsung berdiri tegak melihat Albercio di peluk oleh wanita tersebut dan dia hanya diam saja tanpa berusaha untuk menghindar dari wanita itu.
Bukan hanya aku yang kaget namun Albercio juga tersentak karena dia melihat aku yang datang ke perusahaan dia secara tiba-tiba dengan memakai pakaian yang agak terbuka hingga membuat banyak pria menatap padaku.
"Kau..." Ucapku dengan Albercio bersamaan,
Aku langsung merasa marah dan kesal lalu segera memberikan bekal makanan yang ku bawa padanya begitu saja.
"Ini ibu menyuruhku membawakan ini untuk putra kesayangannya, aku tidak ada urusan lagi semalam bersenang-senang tuan Albercio dan wanita sialan!" Ucapku sambil segera berbalik dengan cepat,
Albercio langsung berlari menahanku dan dia mendorong wanita yang sedari tadi memeluk tangannya hingga wanita itu jatuh tersungkur ke lantai dan segera di bantu oleh dua wanita lain yang pernah menahanku untuk menemui Albercio sebelumnya.
"Sha... Arisha... Arisha... Tunggu dulu!" Ucap Albercio berhasil meraih tanganku dan menahannya,
Aku berhenti dan langsung berusaha menghempaskan tanganku dari genggamannya, saat itu aku tidak tahu kenapa aku merasa kesal disaat wanita lain menyentuhnya dan bersikap manja seperti itu.
"Arisha tadi itu tidak seperti yang kau lihat, aku sudah berusaha melepaskan dia namun dia terus saja memegang tanganku, kau lihat tadi bukan aku mendorongnya cukup kuat lihat hingga dia terjatuh dan aku tidak perduli sedikitpun dengannya, tolong jangan marah padaku" ucap Albercio dengan wajah yang serius.
Aku memang sedikit kesal tapi setelah mendengarkan penjelasan darinya aku sedikit merasa lebih baik karena yang memeluk juga wanita itu bukan Albercio sehingga aku mempercayainya.
"Baiklah aku mempercayaimu kali ini, tapi awas saja jika lain kali aku melihat kau memeluk wanita lain aku tidak akan segan-segan menghajarmu hingga babak belur" ucapku mengancam sambil memperlihatkan kepala tangan ke wajahnya.
Albercio tersenyum dan menggandeng tanganku dia segera membawa aku kembali masuk ke dalam dan saat melewati meja resepsionis tadi aku langsung meminta Albercio menggendongku untuk menunjukkan bahwa aku adalah istrinya.
Karena aku sangat kesal mereka tidak mempercayai aku, memangnya wajah aku ini tidak cocok untuk menjadi istri seorang Albercio yang ternama, ibunya saja sangat menyukai aku bagaimana mungkin mereka menghinaku sebagai j*Lang murahan.
"Albercio..." Ucapku menarik ujung jasnya dan menghentikan dia berjalan,
"Kakiku sakit, bisakah kau menggendongku di hadapan tiga wanita menyebalkan itu?" Ucapku dengan perasaan sedikit malu.
Aku juga takut Albercio tidak melakukan keinginanku namun rupanya dia hanya tersenyum kecil lalu langsung menggendongku dengan cepat.
"Ahhh.... Kau sungguh melakukannya?" Tanyaku sedikit kaget, karena awalnya aku pikir dia tidak akan mau,
"Tentu saja, apapun untuk istriku" ucapnya sambil lanjut berjalan melewati tiga wanita yang menjengkelkan itu.
Satu diantara mereka adalah wanita yang memeluk Albercio sebelumnya dan aku sangat puas ketika mereka mendengar dengan jelas saat Albercio mengatakan aku adalah istrinya, sedangkan dia wanita lain terlihat lemas ketakutan dan aku menahan tawa melihat ekspresi mereka juga sangat puas sekarang karena berhasil membuat mereka kapok dan membuktikan bahwa aku memang istri sungguhan Albercio.
"Xixixi.... Rasakan itu haha aku memang beruntung kali ini" gerutuku pelan.
Saking senangnya aku sampai tidak sadar bahwa saat itu aku masih berasa dalam gendongan Albercio dan diam-diam tuan Albercio juga memperhatikanku.
Hingga sesampainya di ruangan Albercio dia segera menurunkan aku dan memelukku dari belakang, aku kaget dan sedikit tidak nyaman dengan dia yang tiba-tiba memelukku dari belakang dan mengecup leherku, itu membuat aku merasa geli.
"Albercio apa yang kau lakukan?" Ucapku segera mendorongnya menjauh,
"Kenapa? Bukankah tadi kau ingin aku gendong, bukankah barusan kau cemburu pada suamiku, kenapa sekarang menjadi kasar seperti itu?" Ucapnya membuat aku tersipu malu.
Tadi aku memang kehilangan kendali karena merasa kesal dengan sikap para wanita gila yang menjengkelkan itu tapi sekarang disaat sudah tidak ada siapapun yang melihat tentu saja aku harus tetap tahan gengsi pada Albercio yang juga sama menyebalkannya.
"A..apa? Siapa yang cemburu denganmu, aku hanya tidak suka saja di remehkan oleh mereka makanya aku sengaja memintamu menggendongku agar mereka melihatnya secara langsung" ucapku membuat pembelaan,
"Oh begitu, ya sudah aku akan meminta wanita tadi kemari lagi dan membantuku menyalin dokumen, kau bisa duduk disana menungguku,
__ADS_1
"Silahkan saja, aku tidak perduli" ucapku padanya.
Namun aku tidak duduk di sofa dan hendak keluar dari ruangan itu, karena tidak ingin melihat Albercio dekat dengan wanita lain di hadapanku, sebab tidak di pungkiri itu cukup menyakiti perasaanku, sehingga aku memilih untuk pergi saja, tapi Albercio ternyata dengan cepat menahanku.
"Mau kemana kau? Apa kau cemburu lagi dan takut aku bermesraan dengan wanita seksi itu, padahal kau juga sudah cukup seksi bukan?" Ucap Albercio yang menguji kesabaranku,
"Aku hanya ingin mengambil air dan memamerkan kecantikan tubuhku pada semua pria di kantor ini" balasku sengaja membuatnya panas.
Albercio menggenggam tangannya kuat hingga membuat pensil yang dia pegang menjadi patah terbagi dua.
"Kau!.... Beraninya kau memamerkan tubuhmu pada mereka, kembali duduk di tempatmu atau aku tidak akan memberimu ampun!" ucap Albercio kepadaku.
Aku pun terpaksa menurutinya dan segera kembali duduk dengan tenang di sofa yang ada di ruangan itu, hingga tidak lama wanita yang tadi berpakaian seksi dan mendekati Albercio itu kembali datang ke ruangan itu dengan menyajikan kopi dan memberikan beberapa dokumen pada Albercio.
Tapi cara dia memberikan dokumen itu sangatlah menyebalkan, dia membungkan dadanya begitu dekat pada Albercio dan dia juga memakai trik murahan dengan duduk di meja Albercio lalu mulai membuka dokumen itu dengan perlahan sambil menyuruh Albercio menandatanganinya.
Dia sungguh wanita j*Lang sesungguhnya, sudah jelas disana ada aku dan dia juga tahu aku sitri bosnya tapi dia berani sekali melakukan tindakan menjengkelkan seperti itu di hadapanku, aku sudah sangat tidak tahan lagi melihat perlakuan wanita itu.
Meski Albercio sama sekali tidak meliriknya dia terus saja mencari cara untuk merayu Albercio di hadapanku, aku langsung bangki berdiri dan menaikkan pakaianku agar terlihat sama seksinya dengan wanita itu lalu aku mendorong wanita itu untuk menjauh dari Albercio dan aku menarik kursi yang Albercio duduki hingga aku langsung duduk di pangkuannya dan melingkarkan tanganku pada lehernya di depan wanita itu.
"CK....minggir kau, dia adalah suamiku, iya kan sayang?" Ucapku sambil duduk di pangkuan Albercio,
Wanita itu terlihat jengkel namun dia tetap saja tidak menyerah dia juga malah berpura-pura memijat Albercio hingga aku mulai terus mendekatkan diriku pada Albercio dan membuat dia terus menatap padaku, aku memeluknya dengan erat dan tidak perduli lagi dengan batasan diantara aku dan dia.
Bahkan di saat wanita itu hendak menyentuh pundak Albercio dengan alasan ingin memijatnya aku langsung menarik tangan Albercio dan melingkarkan tangannya ke pinggangku, hingga wajah Albercio terlihat merah merona dia juga sudah tersenyum sendiri sedari tadi.
"Apa dia bisa seganas ini hanya karena cemburu, dia memang berbeda, aku akan sering membuatnya cemburu agar memiliki inisiatif" gumam Albercio yang merasa senang sendiri.
"Aishh... sial apa dia tidak tahu jika dia sangat menggoda saat ini?" gumam Albercio menahan diri.
Karena merasa semuanya sudah cukup, Albercio langsung mengusir wanita itu dengan cepat dan membentak wanita itu dengan keras.
Hingga wanita itu terlihat kesal dan menghentakkan kakinya segera keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang kecewa, sedangkan aku merasa sangat lega ketika wanita itu tidak berhasil merayu Albercio lagi.
Namun kini akulah yang harus menahan malu pada Albercio, aku segera hendak bangkit namun dia menahan tubuhku.
"Ehh... Albercio lepaskan!" Bentakku padanya masih merasa cukup kesal,
"Mau kemana kau? Kau sudah membangunkan sesuatu dalam diriku, apa kau akan tidak bertanggung jawab seperti ini hah?" Ucap Albercio membuat aku sedikit cemas,
"A..a.. Albercio aku tidak bermaksud begitu, tadi aku hanya menjagamu saja agar tidak ternodai oleh wanita sepertinya, jadi tolong lepaskan aku" ucapku beralasan.
Dia tetap tidak melepaskannya dan dia malah memelukku semakin erat, hingga aku bahkan tidak bisa bergerak saat itu, ku lihat mata Albercio mulai beralih pada bibirku dan terus melihat ke bawah hingga aku membuka mata lebar dan segera menutupi bagian dadaku dengan cepat.
"ALBERCIO! Jaga pandanganmu!" Bentakku padanya dengan keras.
Albercio sulit menelan salivanya dan dia sudah tidak bisa menahan hasrat dalam dirinya lagi, dia sudah mencintai Arisha sejak lama dan berusaha untuk mengambil hati Arisha namun sampai sekarang dia masih belum bisa melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri karena Albercio tidak ingin memaksa Arisha sebelum Arisha benar-benar bersedia karena mencintainya juga.
Namun kali ini dia sudah tidak bisa menahannya lagi, melihat bagaimana Arisha menggoda dia dan menguji kesabarannya dia sudah tidak tahan dengan perlakuan manis dari Arisha sebelumnya dan ketika melihat betapa cemburunya Arisha disaat wanita lain mendekatinya, Albercio sudah yakin bahwa Arisha telah mencintainya.
"Arisha.... Aku mencintaimu dan tolong jangan tolak aku kali ini, aku sungguh menginginkannya, aku mencintaimu Arisha. Aku janji akan memperlakukan kamu dengan baik" ucapnya dengan nafas yang menderu.
Aku yang mendengarnya sedikit kaget dan tidak tahu harus melakukan apa hingga tiba-tiba saja Albercio menciumku dan aku tidak bisa menolak itu darinya dia terus melakukan itu hingga aku hampir kesulitan bernafas, ini memang bukan yang pertama kalinya namun yang aku lakukan padanya hanya sebuah kecupan sekilas bukan c*Uman penuh hasrat seperti ini.
Dia seperti manusia yang kelaparan dan terus saja mencumbuku dengan sedikit perlakuan kasar dan terburu-buru, aku bahkan tidak bisa menyadarkan dia dan tidak bisa meloloskan diri darinya kali ini, hingga dia menggendongku dan terus melakukannya hingga masuk ke dalam ruangan istirahat pribadinya di dalam kantornya tersebut.
__ADS_1
Disana dia menidurkanku dan langsung melancarkan aksinya, tangannya terlalu nakal untuk dan ini adalah yang pertama kalinya bagiku, dia juga memperlakukan aku dengan sangat lembut hingga tubuhku tidak bisa menolaknya dan hanya bisa menerima semua kelembutan yang dia berikan kepadaku.