Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Kabur


__ADS_3

Arisha merasa heran dengan orang orang dikantor sebelumnya yang menggosipkan dia hanya karena pakaiannya sangat sederhana ditambah lagi sekarang Albercio memarahinya karena pakaian nya juga, mendapatkan semua perlakuan tersebut Arisha semakin kesal dan tidak terima.


"Memangnya kenapa sih dengan pakaian ini, aku sama sekali tidak berniat mempermalukanmu tuan, aku hanya memakai pakaian yang nyaman aku kenakan memangnya salah?" Bentak Arisha menjelaskan,


"Aishh....bukan itu masalahnya Arisha..., Sekarang kau ini sudah menjadi istriku, tentu saja pakai yang kau pakai akan sangat berpengaruh pada penilaian semua orang tentang bagaimana aku memperlakukanmu, apa kau tidak paham juga?" Jawab Albercio frustasi,


"Tapi aku tidak suka dan sangat tidak nyaman ketika memakai pakaian yang kau belikan sebelumnya" jawab Arisha yang masih tidak mau kalah,


"Ya sudah terserah kau saja, percuma juga aku terus menjelaskan pada gadis keras kepala sepertimu" ujar Albercio yang sudah jengkel menghadapi Arisha,


"Ya sudah sih, kenapa juga kau mempermasalahkannya lagian aku sekarang juga mau pulang lagi, hanya mengantar makanan saja masa harus berdandan heboh, merepotkan!" Gerutu Arisha sambil berjalan keluar dari ruangan Albercio.


Albercio yang saat itu tengah sibuk dengan pekerjaan yang menumpuk di tambah dia sudah sangat jengkel dengan Arisha yang selalu membangkang dan tidak mendengarkan ucapannya, akhirnya Albercio tidak terlalu memperhatikan Arisha karena awalnya dia pikir Arisha pasti datang ke sana bersama bodyguard yang sudah dia perintahkan sama seperti sebelumnya.


Sedangkan Arisha yang sudah keluar dari kantor Albercio dia segera meluncurkan aksinya, namun saat Arisha hendak menghentikan taxi dia baru ingat kalau saat ini, dia sama sekali tidak memiliki uang untuk membayar taxi yang akan dia tumpangi, alhasil Arisha pun mengurungkan niatnya dan kembali berpikir sejenak memikirkan cara agar dia bisa mendapatkan uang.


"Aduhh...aku lupa aku kan tidak punya uang, bagaimana caranya aku bisa mendapatkan uang" gerutu Arisha kebingungan,


"Aishhh.... Bagaimana ini, tidak mungkin aku ke sana dengan berjalan kaki mana jaraknya jauh sekali" tambah Arisha bicara sendiri.


Arisha berusaha keras memikikan caranya mendapatkan uang sampai ketika tak sengaja melihat sekretaris Ben, sebuah ide langsung muncul di dalam kepalanya, Arisha berlari mengejar sekretaris Ben yang masuk ke dalam lift, untunglah dia masih sempat menyusul dan berada di dalam lift yang sama dengan sekretaris Ben.

__ADS_1


"Ekhmmmm...ekhmmm...ohok..ohokmmmm...." Suara Arisha yang berdehem berharap sekretaris Ben menyadari kehadirannya.


Saat itu sekretaris Ben nampak sibuk dengan aipet di tangannya sehingga dia tidak langsung sadar ketika Arisha masuk ke dalam lift mengejarnya, setelah Arisha berdehem beberapa kali barulah sekretaris Ben menyadari keberadaannya.


"Nyonya?, Sejak kapan anda di sini?" Tanya sekretaris Ben yang baru menyadari keberadaan Arisha di sampingnya,


"Aku sudah lama berdiri di sini, dan berdehem sangat keras beberapa kali sampai tenggorokanku sakit" jawab Arisha dengan wajah yang kesal,


"Maaf nyonya saya terlalu fokus menata jadwal untuk tuan Albercio" ucap sekretaris Ben sambil membungkuk,


"Sudahlah tidak papa, lagi pula aku hanya ingin meminjam sedikit uang padamu, apakah boleh?" Tanya Arisha secara langsung,


Sekretaris Ben termenung beberapa saat dan menatap heran mendengar ucapan Arisha.


"Heyy...sekretaris Ben, kenapa kau malah termenung?" Tanya Arisha menyadarkannya,


"Ahh..iya nyonya maaf, tapi kenapa anda memintanya pada saya, padahal tuan Albercio bisa memberikan apapun yang nyonya inginkan" jawab sekretaris Ben,


"Apa kau lupa aku ini tahanannya dan status istri itu hanyalah sebuah nama" jawab Arisha sinis,


Arisha sebenarnya malas sekali mengingatkan masalah pernikahannya pada sekretaris Ben, karena dia sangat muak ketika menyadari bahwa dia sudah menikah dan pernikahan yang baginya sangat sakral juga kebahagiaan sekali seumur hidup justru dihancurkan begitu saja dan berubah menjadi penderitaan baginya.

__ADS_1


Sekretaris Ben yang mendengar ucapan Arisha dia hanya menanggapinya dengan senyum sekilas.


"Jadi sekretaris Ben aku mohon padamu berikan aku uang yah, aku juga hanya meminjamnya 50 ribu saja kok" tambah Arisha sambil menyatukan tangannya,


Sekretaris Ben memikirkannya sejenak, karena dia masih ragu akhirnya sekretaris Ben bertanya lagi pada Arisha.


"Memangnya nyonya mau menggunakan uang itu untuk apa?" Tanya sekretaris Ben yang membuat Arisha sedikit gugup,


"A...ah...itu, aku mau memakainya untuk membeli pembalut..ahh..iya, aku tidak mungkin kan meminta hal kewanitaan seperti itu pada Albercio apalagi ini di kantor, ayolah Ben" ucap Arisha beralasan,


Akhirnya sekretaris Ben mempercayai ucapan Arisha dan dia memberikan sejumlah uang yang diminta Arisha sebelumnya, setelah mendapatkan uang itu Arisha langsung tersenyum senang dan dia langsung kembali ke lantai bawah saat sekretaris Ben keluar dari lift.


Arisha kini sudah mendapatkan uangnya dan dia pergi menaiki angkutan umum mengingat uangnya tidak akan cukup jika digunakan untuk menaiki taxi, selang beberapa saat kini Arisha sudah sampai di kediamannya, dari sebrang jalan Arisha berdiri menatap rumahnya yang sudah tidak terurus, Arisha pergi diam diam dengan memanjat pintu gerbang belakang rumahnya dan dia menyelinap masuk lewat jendela dapur rumahnya.


"Ahh...akhirnya aku bisa masuk ke rumah ini lagi, ayah ibu aku akan membalaskan dendam kalian!" Ucap Arisha sambil menatap foto kedua orangtuanya yang masih terpajang di dinding,


Arisha menaiki tangga ke lantai atas dan dia masuk ke kamarnya, dia mengambil semua uang yang ada di celengan dan juga mengambil beberapa helai pakaian tak lupa Arisha mengambil selembar kertas berisi nomor Serli dan alamat kediamannya di negara XX, Arisha memasukkan semua itu ke dalam tas yang berukuran sedang dan dia segera kembali keluar dari rumah dengan aman.


Saat hendak pergi meninggalkan rumah itu, rasanya kaki Arisha begitu berat untuk diangkat, hatinya begitu pedih mengingat kepergian keluarganya yang begitu tragis, Serli juga sudah tidak ada disampingnya, kini Arisha harus menjalankan misi balas dendamnya seorang diri.


"Aku tidak akan membuat hidup mereka tenang" gumam Arisha di dalam hatinya dengan mata yang berkaca kaca.

__ADS_1


Merasa urusannya sudah beres untuk saat ini, Arisha segera kembali ke kediaman Albercio saat sudah berada di depan gerbang Arisha mencari celah agar dia bisa masuk ke dalam rumah tanpa di ketahui para penjaga dan bodyguard yang berdiri di depan halaman rumahnya, Arisha pun memutuskan untuk berjalan ke belakang rumah dan dia melemparkan tas nya ke taman belakang yang dipenuhi rerumputan juga beberapa bunga.


"Semoga tas itu aman di sana, sekarang aku harus kembali ke kantornya" ucap Arisha yang kembali turun dari benteng belakang rumah Albercio.


__ADS_2