Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Perintah Albercio


__ADS_3

"Jangan kau pikir aku akan membebaskanku dari hukuman, hanya karena lehermu merah yah!, Kau tetap harus membereskan kamarku, cepat bereskan makanmu!" ucap Albercio yang membuatku lesu,


"Dasar manusia tak punya hati" gerutuku kesal.


Aku segera menghabiskan makananku dan dia bahkan terus saja berada di sampingku dan mengikutiku sampai aku selesai menaruh mangkuk bekas makanku ke dapur.


Aku geram dan kesal melihatnya terus mengikutiku, lagi pula aku juga tidak mungkin kabur dari nya dan aku pasti akan bertanggung jawab dia terlalu berlebihan hanya karena masalah sepele.


Ku terus menatapnya dengan sinis hingga saat membereskan lemari pakaiannya dia terus berdiri memperhatikanku sambil memotong kukunya.


"Apa kau liat liat?, cepat bereskan pakaiannya kau tidak boleh kembali ke kamarmu sampai semuanya beres dan bersih seperti semula!" Ucapnya yang membuatku sangat kesal.


Aku bereskan semua kekacauan di kamarnya bahkan kamar mandinya sudah aku bersihkan dengan baik sampai saat aku keluar dari kamar mandi ku lihat potongan kuku yang berserakan di meja dan kulit kacang yang bertebaran di mana mana sedangkan Albercio malah dengan santai duduk berselonjor di atas ranjang sambil menonton video di ponselnya dan tertawa dengan memakan kacang.


"Euhgggg... Heii.. apa kau gila yah, seenaknya membuang kulit kacang kemana mana aku kan sudah membersihkannya!" Bentakku sambil berkacak pinggang,


"Apa?, Memang tidak boleh terserah lah ini kan kamarku kenapa kau yang ribut?" Jawabnya dengan santai dan tanpa rasa bersalah sedikitpun,


"Huuhh!!...Oh iya ini memang kamarmu jadi terserah kau mau melakukan apapun" balasku memendam emosi,


"Yap benar sekali" jawabnya lagi,

__ADS_1


"DAN KARENA INI KAMARMU, KAU BERSIHKAN SENDIRI EUHHH....rasakan ini BRUKK!!" Ucapku dengan keras dan ku lempar lap bekas mengelap lemari pakaian tepat mengenai wajahnya,


Aku pergi keluar dari sana dengan kesal dan tak perduli dengan teriakannya yang memintaku untuk kembali.


"Hei... Sialan berani sekali kau melakukan ini padaku, kembali kau Arisha...bersihkan kamarku..." Teriak Albercio yang begitu kencang.


Aku benci dan sangat membencinya, aku abaikan semua teriakkan dia dan masuk ke dalam kamarku sendiri, ku kunci pintu kamar dan segera tidur di ranjang suara ketukan pintu yang keras dan teriakkan Albercio di balik pintu aku abaikan ku tutupi sekujur tubuh dengan selimut tebal agar tak bisa mendengar teriakannya.


Entah kapan Albercio berhenti menggedor pintu kamarku dan entah kapan juga aku tertidur padahal sebelumnya aku sangat sulit tidur karena terganggu oleh ulah Albercio yang terus berteriak sambil memukul pintu kamarku dengan keras.


****


Paginya aku bangun cukup siang saat kulihat jam ternyata sudah pukul sembilan pagi aku segera bergegas mandi dan mengganti pakaian seteleh itu aku langsung pergi ke dapur menemui bibi Mia dan seperti biasa meminta sarapan padanya, bibi Mia pun segera menyajikan sarapan untukku namun tak sebanyak biasanya aku merasa heran karena biasanya menu sarapan di meja makan sangat banyak namun kali ini hanya ada beberapa saja.


"Iya nyonya hari ini kan hanya nyonya saja yang sarapan di rumah" jawab bibi Mia.


Aku langsung merasa heran dan mengerutkan alis bersamaan.


"Memangnya Albercio kemana apa dia tidak sarapan?" Tanyaku lagi,


"Tuan sudah pergi tadi malam, katanya ada hal mendesak yang harus dikerjakan dan dia pergi keluar kota dan ini nyonya, tuan juga meninggalkan pesan buat nyonya" jawab bibi Mia dan memberikan secari kertas yang dilipat rapih kepadaku.

__ADS_1


Ku tatap kertas itu dan ku taruh di samping meja makan aku tak berniat membacanya dan lebih baik aku langsung sarapan karena sudah sangat lapar, selesai sarapan aku bosan hanya berdiam diri di dalam rumah dan aku pun menyalakan televisi menonton siaran TV yang membosankan, saat ingat kalau surat dari Albercio belum aku baca aku segera mengambil dan membacanya.


"Arisha aku ada perjalanan bisnis yang mendesak ke luar kota, ingat jangan sampai berpikir untuk kabur atau aku akan memotong lehermu ketika kau aku temui lagi!!" Isi pesan dari secarik kertas itu.


"Aishh.. apa apaan pria itu ini bukan pesan tapi ancaman, menyebalkan" gerutuku kesal dan merobek kertas itu lalu ku buang ke tong sampah dengan kesal.


Aku pikir karena pria menyebalkan itu keluar kota dan pasti dia akan kembali dalam beberapa hari artinya aku bebas melakukan apapun selama itu tidak keluar dari area rumah, aku pergi ke kolam renang dan berenang sepuasnya lalu aku memakan cemilan yang banyak, bibi Mia juga tak keberatan aku sangat senang tanpa adanya gangguan pria sialan itu, aku bisa menikmati hidup dengan kemewahan miliknya, selesai berenang aku mengajak para bodyguard untuk berolah raga senam menemaniku di halaman, meski mereka terus menolak karena gerakkannya tidak maco dan tidak cocok untuk laki laki tapi aku terus berusaha memaksa mereka agar mengikuti gerakkan senamku.


"Ayolah kalian ini kan ditugaskan untuk menjagaku maka ikuti perintahku, atau aku akan nekat kabur dari rumah ini aku juga bisa bunuh diri" ucapku sengaja mengancam mereka.


Padahal mana berani aku bunuh diri dan kabur dalam situasi seperti ini apalagi setelah mendapatkan ancaman menyeramkan dari pria menyebalkan itu. Aku juga masih peduli dengan hidupku meski takdir tak berpihak padaku.


Para bodyguard itu pun mengikuti gerakkan senam yang aku contohkan dengan wajah yang masam, dan mereka langsung mendapatkan tertawaan dari pada pelayan lain yang melihat senamku.


"Haha... Mereka ini sangat lucu, lain kali aku akan menyuruh kalian untuk senam setiap pagi bagaimana?" Ucapku sambil tertawa gembira,


"Jangan nyonya ini sangat melukai harga diri kami sebagai bodyguard" ucap salah satu bodyguard itu ditimpali teman temannya yang lain.


"Ehh.. eh.. ehh kalian berani menolak perintahku, aku akan melaporkannya pada bos kalian biar sekalian kalian di pecat apa kalian mau?" Ucapku lagi lagi mengancam mereka.


Aku senang melihat mereka yang ketakutan karena ancamanku padahal kan mana berani aku melaporkan mereka yang ada mereka lah yang akan melaporkanku karena membuat kekacauan ini, tapi aku tidak perduli mereka tidak akan melakukan itu karena mereka pikir aku adalah istri dari si manusia batu.

__ADS_1


Tanpa Arisha sadari semua kejadian dan tingkahnya selama seharian itu terekam oleh semua cctv infra merah yang mengikuti dirinya kemanapun dia pergi, pasalnya di semua sudut rumah sudah dilengkapi cctv yang super canggih Albercio benar benar sudah mempersiapkan semua keamanan dengan ketat tanpa sepengetahuan siapapun kecuali dia dan sekretaris Ben.


Di sisi lain Albercio yang tengah dipenuhi emosi dan amarah menggebu karena dia tidak berhasil menangkap persembunyian paman dan bibinya Arisha dia meluapkan semua amarahnya dengan melemparkan bangku di ruangan tersebut dan dia mengacak ngacak semua area rumah dengan di bantu anak buahnya, rumah itu adalah rumah yang sempat ditempati oleh paman dan bibi Arisha, Albercio yang mendapatkan kabar keberadaan mereka tadi malam dari sekretaris Ben dia langsung pergi ke kota C dan ternyata dia telat beberapa saat karena mereka sudah berhasil melarikan diri lagi ke luar negri, sampai saat ini anak buah Albercio masih belum bisa mengetahui ke negara mana mereka pergi, oleh karena itu Albercio marah besar dan membumi hanguskan tempat tersebut hingga rata dengan tanah.


__ADS_2