
Setelah berhasil mengurus pelayan tersebut aku kembali melanjutkan aksiku dan bisa masuk ke dalam rumah tersebut dengan sangat mudah hingga ketika aku hendak menaiki tangga seseorang pemuda yang mungkin uaisanya sedikit lebih tua di atasku dia berteriak menahan langkahku hingga membuatku mau tidak mau harus berbalik dan mendengarkan perintahnya untuk menghilangkan kecurigaan.
"Hey...kau pelayan yang memakai masker putih" teriak pria itu dengan keras.
Aku tidak bisa mengelak dan langsung membalikkan badan lalu berjalan menghampirinya.
"Iya tuan ada yang bisa saya bantu?" Ucapku bersikap layaknya para pelayan lain pada umumnya.
Untunglah aku sudah sering melihat bagaimana para pelayan di kediaman Albercio saat berbicara kepada majikan mereka sehingga aku bisa dengan mudah mempraktekannya, untunglah pria itu juga tidak mencurigai gerak gerikku.
Namun sialnya pemuda itu membuatku sangat jengkel karena dia justru malah menyuruhku untuk membantunya menyajikan makanan bagi dirinya, padahal aku tidak bisa masak sama sekali.
"Buatkan aku makanan yang enak lalu antarkan ke kamarku, cepat!" Bentak pria menyebalkan itu yang berlaga dengan kasar.
Aku hanya membungkuk dan segera pergi dari hadapannya, aku menggerutu kesal dengan perasaan yang penuh dengan emosi.
"Aishh dasar pria menjengkelkan kau memperlambat rencanaku saja, persetan denganmu, huh bodo amat lah aku tidak kesini untuk melayani pria songong sepertinya, biarkan saja dia menunggu sampai lumutan" gerutuku pelan sambil segera bergegas mencari kamar Melinda Koward hingga akhirnya aku berhasil menemukannya.
Kamar yang terlihat begitu besar dan mewah dan saat aku memasukinya beberapa foto pernikahan dirinya dengan tuan Koward terpajang sangat jelas di dinding, dan semua isi di kamar tersebut adalah kemewahan tak terkira aku sungguh benci melihat dia bisa hidup dengan nyaman seperti ini sedangkan aku harus menderita dan terjebak dengan seorang pria tak dikenal karena ulahnya.
"Bagus kau hidup dengan nyaman, dasar manusia iblis rasakan terorku ini haha, aku tidak sabar melihat reaksimu nanti jika mengira bahwa ibumu masih hidup" gerutuku pelan.
__ADS_1
Aku menaruh box hadiah tepat di meja yang berada di samping tempat tidurnya lalu aku juga tidak lupa memasangkan kamera kecil yang ku tempel di pojok dinding tepat di samping foto pernikahan mereka, aku pikir itu adalah sudut paling aman dan paling sempurna untuk memata matai Melinda selama berada di kamarnya sendiri.
Setelah urusanku selesai aku segera keluar dari sana dan secepatnya pergi dari kediaman Koward tidak lupa aku membuang pakaian pelayan di sana ke samping pelayan pemilik seragam itu sebelumnya.
Aku melakukannya agar tidak meninggalkan jejak dan aku tidak perlu takut dengan sidik jari sebab aku telah memakai sarung tangan khusus sebelumnya dan itu tidak akan pernah terlacak oleh mereka. Mereka juga mungkin tidak akan sadar jika aku pernah menyusup ke dalam rumahnya itu.
Dan aku rasa keluarga Koward adalah orang kaya paling bodoh karena hanya memasang cctv di luar rumah dan ruang tengah saja sehingga membuat aku bisa leluasa melakukan apapun di kamar mereka.
Sebelumnya aku telah memecahkan satu pas paling berharga yang terpajang di kamar mereka dan itu akan membuat Melinda marah besar, itu sudah membuatku sedikit puas sebagai sebuah hiburan kecil melihatnya penuh dengan emosi nantinya.
Setelah menyelesaikan urusan tersebut aku langsung kembali ke apartemen dan terus merasa senang hingga masuk ke ruang kerjaku dan aku mulai memeriksa rekaman dari kamera pengintai yang sudah aku selipkan di kamar tersebut, rasanya sudah sangat tidak sabar untuk melihat reaksi seperti apa yang akan di perlihatkan oleh Melinda Koward yang sangat di sanjung oleh masyarakat saat ini.
Aku sudah menunggunya cukup lama hingga ketika malam mereka mulai tiba ya di sana masuk Melinda Kowar dia mulai memeriksa kado yang sudah aku simpan dan betapa kagetnya dia hingga terpental ke belakang saat membuka kado tersebut.
Bahkan teriakannya hingga mengundang beberapa pelayan masuk ke dalam kamar tersebut dan mereka juga memberikan reaksi kaget yang tak kalah lucu dengan Melinda, dia membentak para pelayan itu habis habisan bahkan berani melakukan kekerasan dengan menampar beberapa pelayan yang hendak menjawab ucapannya.
Aku hanya tertawa puas saat melihat wajahnya yang kaget dan panik tak karuan, namun rasa benci di dalam diriku tumbuh lebih besar saat melihat dia beraninya menampar seorang pelayan yang tidak bersalah sama sekali.
"Ahahaha.....bodoh, kau bodoh Melinda, kau malah memukul orang yang tidak bersalah, aku... Aku yang melakukan semuanya hahahaha....rasakan itu Melinda, ini hanya sebuah permulaan kecil!" Ucapku dengan sorot mata sinis dan penuh dendam.
Aku telah berjanji dengan almarhum kedua orangtuaku untuk tidak pernah melepaskan orang penyebab kematian keluarga terlebih dia sudah membuat usaha ayahku bangkrut dan rumah peninggalan mereka kini telah menjadi milik orang lain, aku tidak akan pernah memaafkan dirinya sampai kapanpun bahkan jika aku harus dihukum dengan kematian aku tidak akan menyesal jika sudah berhasil membunuh Melinda.
__ADS_1
Malam itu adalah malam yang membahagiakan untukku, aku sangat senang saat melihat betapa jengkelnya Melinda saat menyuruh para pelayan untuk membuang kado yang aku berikan dengan susah payah kepadanya, di tambah ketika melihat wajahnya yang merah padam menahan amarah saat melihat pas antik miliknya yang sudah pecah berserakan di lantai.
"Aaahhh....siapa yang berani merusak pas kesayanganku!" Bentak Melinda dengan mata yang terbelalak lebar hampir keluar dari kelopaknya,
Seketika para pelayan di sana tertunduk ketakutan, Melinda semakin murka karena para pelayan disana tidak ada satu pun yang bisa menjawab pertanyaannya dia memarahi mereka habis habisan bahkan terus membentak dan melakukan kekerasan terhadap pelayannya sendiri hingga pria sialan yang sebelumnya aku temui datang ke kamar tersebut lalu menghentikan aksi Melinda.
"Cukup!, Kekacauan apa lagi yang kau perbuat di dalam keluargaku?" Bentak pemuda itu dengan sorot mata dingin dan menusuk.
Seketika Melinda berubah menjadi lembut dan kekasaran yang dia perlihatkan sebelumnya sirna entah kemana.
"Huh, dasar bunglon" gerutuku saat menyaksikan kejadian itu di depan layar komputer ku.
"Ouhh... Andi sayang, kamu lihat ada orang yang berani melakukan ini pada ibu, dia ingin mencelakaiku, huhu aku tidak tahu harus berbuat apa ini sangat menyakiti hatiku" ucap Melinda berakting menyedihkan,
Aku sungguh sangat muak melihat dia yang berpura pura lemah dan baik di depan pemuda itu, rasanya aku ingin langsung mencekik lehernya hingga dia kehilangan nafas lalu membuangnya untuk makanan serigala di hutan belantara.
Saat itu ku pikir Andi Koward akan memihak Melinda dan melakukan hal yang sama kepada para pelayan, namun ternyata ada sebuah hal menarik yang aku tonton kali ini, Andi Koward justru bertolak belakang pada Melinda dan dia sama sekali tidak membelanya sedikitpun.
"Itu urusanmu bukan urusanku ataupun urusan para pelayan, dan satu yang harus kau ingat baik baik ibu tiri, kau tidak berhak memerintah apalagi membuat pelayanku terdesak, kalian keluar dari sini sekarang juga!" Ucap Andi Koward begitu tegas dan menyelamatkan para pelayan itu.
Sedangkan dia berjalan menghampiri Melinda yang saat itu tengah duduk di samping ranjangnya, lalu hal yang tidak pernah aku duga seorang Andi Kowar tiba-tiba saja mencengkram dagu Melinda dengan sangat kuat dan melontarkan peringatan sekaligus ancaman padanya.
__ADS_1
"Jangan berani beraninya kau membuat keributan di wilayahku, atau aku akan melemparmu pada macam peliharaan ku!" Ancam Andi Koward yang berhasil membuat Melinda merinding juga bergetar ketakutan.