
"E..eu...itu...tadi aku hanya membeli es krim di pinggir jalan kok" ucapku menutupi kebenarannya,
"Kau akan jujur padaku atau aku tidak akan mengijinkan kau keluar lagi!" Ucapnya mengancamku.
Aku terdiam dan sangat kesal dengan peraturan yang dia buat untukku, dia sungguh terlalu ketat kepadaku sekarang sehingga aku terpaksa harus berkata jujur kepadanya jika aku pergi ke cafe es krim.
"Aish....iya iya aku pergi ke cafe es krim memangnya kenapa?, Apa aku tidak boleh memakan es krim aku juga seorang perempuan normal jelas aku ingin bebas, bisa menikmati dunia luar, aku ingin makan di restoran, ingin pergi liburan bahkan aku ingin kembali kuliah, tapi apa aku kehilangan semuanya usiaku masih 19 tahun tapi aku kehilangan semuanya dan itu karena kau menikahiku, aku membencimu Albercio!" Bentakku mengeluarkan semua unek-unek di dalam diriku.
Aku langsung berlari masuk ke dalam kamarku dan menguncinya dengan cepat, aku langsung menjatuhkan tubuhku ke ranjang dan menutupi kepalaku dengan bantal yang empuk, rasanya aku sudah tidak bisa menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mataku lagi hingga akhirnya aku langsung menangis dengan keras dan berusaha menyamarkan suara tangisanku dengan menutup mulutku sendiri dengan bantal tersebut.
"Huaaa....aku membencimu Albercio hiks...hiks..kau pria sialan, menyebalkan dan sangat menjengkelkan buk...buk...buk..." Ucapku sambil terus memukul bantal itu sekuat tenaga.
Bahkan sakit kuatnya aku terus menggesek dan memukul bantal tersebut, alhasil bantal itu jebol dan kapas yang berada di dalamnya berhamburan keluar, kamar yang tadinya rapih kini sudah berantakan karena aku yang terus mengamuk untuk melampiaskan rasa kesal dan emosi di dalam diriku.
Aku takut aku tidak bisa melawan kehendak seorang Albercio, aku juga tidak bisa meminta dia untuk memahami diriku dan memberikan izin yang leluasa untukku bahkan disaat aku sudah menangis dengan keras dan mengamuk seperti dia sama sekali tidak memperdulikan ku aku hanya melakukan semuanya untuk membuat diriku lebih baik setelahnya bukan untuk mendapatkan belas kasihan dari Albercio karena jika aku melakukan itu pun.
Semuanya akan percuma dia memang pria yang tidak memiliki hati dan tidak pernah memperdulikan aku, semua keputusan yang sudah dia buat tidak bisa diganggu gugat dan dia selalu memutuskan semuanya sesuai kehendaknya sendiri.
Setelah puas menangis beberapa waktu aku pun mulai merasa lapar dan segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahku dan pelan-pelan membuka pintu kamar untuk melihat situasi di luar rumah saat itu, lalu aku berjalan mengendap ngendap menuju dapur untuk menemui bi Mia agar bisa meminta makanan kepadanya karena ini sudah masuk jam makan malam.
Saat aku lihat situasinya aman dan tidak ada Albercio di sekitar ruang makan aku segera mengintip dari balik tembok dan berusaha memanggil bibi Mia dengan pelan.
"Syutt...bi....bi..bibi, kemarilah" ucapku sambil melambaikan tangan memberikan kode kepada bibi Mia yang saat itu tengah memeriksa para pelayan lain yang menyiapkan makanan untuk makan malam,
__ADS_1
"Ada apa nona Arisha?, Kenapa nona berdiri seperti itu?" Tanya bibi Mia dengan heran dan dia bicara dengan suara cukup kencang sehingga membuatku cemas.
Aku merasa sangat cemas karena aku takut Albercio mendengar ucapan bibi Mia dan alhasil rencana merajuk ku akan gagal jika dia melihat aku keluar dari kamar.
"Aishh....bi pelankan suaramu, jangan sampai Albercio mendengarnya" ucapku sambil meminta bibi Mia memelankan suaranya.
Saat itu Albercio sebenarnya sudah melihat Arisha yang berjalan mengendap-endap ke dapur dan dia sudah mengikutinya beberapa saat yang lalu bahkan disaat Arisha tengah mengobrol dengan bibi Mia sebenarnya saat itu Albercio sudah berdiri di belakang Arisha, hanya saja dia terus terdiam dan memberikan kode lewat tatapannya kepada bibi Mia agar berpura-pura tidak melihatnya.
"Di...am..." Kata Albercio membuka mulutnya memberi isyarat kepada bibi Mia tanpa mengeluarkan suara.
Bibi Mia langsung mengerti dan dia terus saja melihat memperhatikan Arisha.
"Nona apa yang ingin nona lakukan, apa nona mencari makanan?" Tanya bibi Mia yang sudah memahami niat Arisha.
"Iya bi....aku ingin makan aku sudah sangat lapar karena menangis, tapi bi tolong bawakan makanannya ke kamarku yah, dan jangan sampai ketahuan oleh Albercio aku sedang marah dengannya" ucapku sambil membentuk jariku dengan huruf ok.
Bibi Mia hanya mengangguk dan dia terlihat menahan tawa sedangkan aku yang masih tidak memahami arti tatapannya itu aku merasa senang saja lalu segera berbalik berniat kembali ke kamar, namun betapa kagetnya aku hingga hampir terpeleset ke belakang saking syok melihat Albercio yang sudah berdiri di hadapanku ketika aku membalikkan badan.
"Aaarkhh...." Teriakku dengan mata terbuka lebar dan aku hampir terpeleset.
Untunglah Albercio berhasil menahan tubuhku dengan cepat sehingga aku tidak jatuh ke lantai dan dia segera membantuku berdiri, aku juga dengan cepat merapihkan pakaianku dan rasanya aku tidak sudi dia menyentuh tubuhku barusan.
"CK....kotor...kenapa kau tiba-tiba berdiri di depanku, minggir jangan menghalangi jalanku!" Bentakku kepadanya dengan cepat merubah ekspresi wajahku.
__ADS_1
Padahal di dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat kaget dan ketakutan, aku merasa cemas karena takut dia sudah mendengarkan semua ucapanku kepada bibi Mia sebelumnya dan aku juga takut dia tidak akan memberikan makanan miliknya untukku sekarang.
Tapi karena aku sangat gengsi serta tidak mau mengalah darinya aku berusaha menyembunyikan semua itu dan tetap berperilaku keras dihadapannya, aku berjalan berniat melewati dia namun dia tiba-tiba saja menahanku, dia bahkan menjewer pakaianku di bagian leher belakang hingga membuatku seperti seekor kucing yang hendak dia tahan.
"Eh....eh...eh...lepaskan apa yang kamu lakukan, hey..lepaskan aku, kau pikir aku ini kucing apa?" Bentakku dan berusaha melepaskan diri.
Tapi sayangnya tangan dia terlalu panjang dan dia mengangkat kerah baju belakangku terlalu tinggi sehingga aku kesulitan meraihnya, aku benar-benar sangat kesal dan terus saja menjinjit berusaha melepaskan tangannya yang mengangkat kerah pakaianku itu.
"Hey ..lepaskan aishh apa kau mau membuatku mati karena sesak nafas ya, heyy leherku tercekik karenamu hey .." ucapku terus berontak.
Meski aku berontak dan membentak dia sekeras mungkin dia tetap saja tidak mau melepaskan pegangannya itu dan dia justru malah menyeretku dalam keadaan seperti itu hingga kami sampai di depan meja makan dan dia mendudukkan aku di kursi dengan kasar.
"E...eh...eh ..ada apa denganmu hey, lepaskan.." ucapku hingga akhirnya dia melepaskan pegangannya itu setelah aku duduk di depan meja.
Aku segera menurunkan pakaianku yang sempat tertarik ke atas karena ulahnya, aku menatapnya dengan tajam dan alis yang aku kerutkan bersamaan bahkan hingga hampir menyatu.
Aku berniat untuk kabur dan baru saja aku bangkit dia langsung menepuk meja makan dengan kencang sehingga membuatku kaget dan ketakutan aku langsung kembali duduk dan diam di depannya meskipun aku sangat kesal terhadapnya.
"Brukkk...." Suara meja yang di gebrak olehnya.
"Aishh....iya iya nih aku duduk lagi, apa sih sebenarnya maumu itu" gerutuku dengan kesal dan menyanggah daguku dengan sebelah tangan diatas meja.
Aku memalingkan pandanganku ke arah lain karena kesal sekaligus takut melihat wajahnya yang sedari tadi terus menatapku dengan lekat juga sangat serius tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
__ADS_1