Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Di Rumah


__ADS_3

Setelah berdebat hebat dengan Albercio hanya karena sebuah nama panggilan, aku dan dia membuang muka satu sama lain dan aku menatap ke luar jendela hingga beberapa saat kantuk mulai menyerang dan aku memutuskan untuk tidur di mobil karena sudah tak tahan lagi.


Hingga tak berselang lama akhirnya mobil yang aku tumpangi sampai di kediaman Albercio, aku juga terbangun karena suara Albercio yang memekikkan telinga.


"Heh.. bangun kau dasar kebo, kerjanya tidur terus" ucap Albercio menggerutu,


"Hoamm... Ahh sudah sampai ya" ucapku dan segera keluar dari mobil.


Tak lupa aku mengucapkan sampai jumpa pada sekretaris Ben.


"Terimakasih sekretaris Ben sampai jumpa lagi dadahh" ucapku sambil melambaikan tangan pada sekretaris Ben yang tengah memarkirkan mobil.


Sementara Albercio dia menarik tanganku dengan kuat dan menyeretku masuk ke dalam rumah dengan paksa.


"E..e... Eh, tunggu lepaskan tanganku!" Bentakku dan menghempaskan genggamannya,


"Aku peringatkan lagi jangan sampai aku benar benar memecat sekretaris Ben karena ulahmu!" Ancam Albercio lagi dan lagi,


"Terserah, kalau kau berani memecatnya aku akan semakin berontak padamu" jawabku dengan kesal dan segera pergi ke lantai atas.


Saat aku menaiki tangga tiba tiba saja Albercio mengangkat tubuhku dan dia membawaku ke kamarnya aku panik dan takut tak karuan, ku pukul punggung Albercio sekuat tenaga dan terus berontak namun kekuatanku seakan tidak ada apa apa nya untuk dia, hingga badanku di lempar begitu saja ke ranjang besar miliknya, untunglah ranjang itu empuk sehingga aku tak kesakitan saat jatuh di sana.


Albercio mendekatiku sampai mendesak ku ke sudut ranjang.


"A.. apa yang mau kau lakukan, euhhh pergi sana!" Ucapku sambil mendorong dada Albercio sekuat tenaga,

__ADS_1


"Rupanya kau masih punya rasa takut, berhenti membuatku kesal dan jangan bersikap so dekat dengan Ben atau aku akan memaksamu!" Ancam Albercio dengan wajah yang serius dan dia menatap tubuhku dari atas hingga bawah.


Aku kaget dan seketika tak bisa berkutik, hanya diam membeku dengan kebingungan dan gugup sampai Albercio bangkit dan dia membuka jas nya lalu masuk ke dalam kamar mandi, saat dia masuk Albercio berteriak dengan keras dan memarahiku.


"ARISHAAA... apa yang sudah kau lakukan dengan kamar mandiku aishhh" bentak Albercio kembali menghampiriku yang saat itu aku hendak kabur,


Lagi lagi aku tidak bisa kabur dan tertangkap oleh Albercio, terpaksa aku mencari seribu alasan untuk membuat dia percaya dengan semua ucapanku.


"A... Apa?, Itu bukan ulahku" ucapku dengan gugup dan mundur perlahan menjauh dari Albercio,


Aku sungguh gugup dan ketakutan sampai tiba tiba saja saat aku hendak kabur keluar dari kamar itu pintu kamar sudah lebih dulu berhasil di tutup rapat oleh Albercio dan aku tidak bisa kabur dari sana, melihat pintu kamar mandi yang terbuka aku refleks berlari masuk ke sana dan langsung mengunci pintu dari dalam dan memeganginya dengan kuat.


"Apa yang mau kau lakukan... Berhenti membuatku takut atau aku akan menghancurkan kamar mandimu!" Ucapku berteriak dan berusaha mengancamnya,


Aku pikir dia akan takut dengan ancamanku lalu membebaskanku dari sana dengan selamat, tapi ternyata dugaanku salah besar, dia justru malah balik memberiku ancaman dan malah aku yang cemas ketakutan.


Aku terdiam dan merasa sangat kesal sampai akhirnya Albercio memberiku tawaran.


"Ayo kau mau keluar sendiri atau aku kunci kau sekalian, aku janji tidak akan menghukummu" ucap Albercio yang membuatku sedikit tenang,


"Oke aku akan keluar tapi kau harus pastikan tidak melanggar janjimu!" Ucapku memperingatkan,


"Hmm... Cepat keluar aku mau menggosok gigi, lama sekali" ujar Albercio tepat di depan pintu.


Aku pun membuka pintu kamar mandi perlahan dan baru saja aku buka sedikit Albercio sudah menarik pintunya dengan kuat sampai aku terbawa dan hampir tersungkur di lantai, untunglah aku masih bisa menyeimbangkan badanku, lalu dia langsung masuk dan mengambil sikat giginya.

__ADS_1


Aku lupa sikat gigi itu sudah aku pakai menggosok kloset, saat itu juga aku berlari secepat yang aku bisa dan merampas sikat gigi yang hampir saja akan digunakan oleh Albercio untuk menggosok gigi saat itu.


"Eee... Ehh, tunggu hah... Hah...hah" ucapku terengah engah sambil merampas sikat gigi itu dan langsung membuangnya ke tong sampah.


Albercio yang melihat aku merampas sikat gigi miliknya yang hendak dia gunakan dan aku yang ter engah engah lalu membuang sikat giginya ke tong sampah dia hanya berdiri mematung dan menahan emosi yang siap meledak kapan saja, saat aku sedikit tenang Albercio memegang gaun bagian belakangku dan menariknya keluar dari kamar mandi.


"Heh... Dasar kurcaci nakal apa yang kau lakukan dengan sikat gigi ku?" Ucap Albercio sambil berkacak pinggang,


"Aishhh... Apa apaan sih, seenaknya menjewer gaunku memangnya aku ini kucing apa" balasku sambil merapihkan pakaianku,


"Kau itu memang bukan kucing tapi kurcaci yang menjengkelkan dan nakal, cepat katakan apa tujuanmu tadi?" Bentak Albercio terus bertanya,


"Tidak ada apa apa, aku hanya membuang barang yang sudah tidak layak pakai, sudahlah aku mau pergi" ucapku berpura pura tak tau apapun dan pergi dari kamar Albercio.


Sejujurnya tadi aku sangat gugup dan gemetar ketakutan aku takut nanti dia akan mengetahui apa yang sebenarnya sudah aku lakukan pada sikat giginya itu, untunglah dia tidak menahanku lagi dan aku bisa kabur dengan selamat dari sana.


Baru saja aku sampai di dalam kamar dan mengunci pintu terdengar teriakan Albercio yang menggelegar.


"KURCACI SIALANNNN.... AWAS KAU ARGHHH" teriakan Albercio yang membuat bulu kudukku merinding,


Aku menelan salivaku susah payah karena kaget mendengar teriakan Albercio yang nampak sangat marah, dan aku baru ingat lagi kalau aku juga mengacak ngacak lemari pakaiannya tadi pagi karena kesal dan melampiaskan amarah.


"Aduh... Ini pasti karena lemari pakaiannya, aishhh aku bisa mati nanti" ucapku sambil memegangi jidat dengan tangan kanan.


Aku pikir untuk besok aku hanya perlu memastikan agar tidak bertemu dengan Albercio sampai kepalanya dingin dan dia bisa memaafkan ulahku atau lebih bagus kalau dia bisa melupakan semua kekacawan yang sudah aku buat di kamarnya, aku juga merasa heran kenapa dia bisa langsung tau kalau aku yang melakukan semua itu pada kamarnya padahalkan di rumah itu bukan hanya ada aku saja.

__ADS_1


Aku benar benar mendapatkan kesialan yang bertubi tubi, sudahlah tadi pagi kelaparan, harus berjalan kaki di bawah teriknya matahari menyusuri jalanan yang berdebu ditambah sekarang tidak bisa keluar dari kamar karena takut bertemu dengan pria menyebalkan itu, aku yakin dia pasti akan membalas perbuatanku sebelumnya.


__ADS_2