
Emosiku sudah memuncak dan aku tidak bisa membendungnya lagi, aku tidak perduli dengan apa yang akan dia lakukan padaku kedepannya sekarang aku akan terus berontak dan melawannya, aku tidak bisa patuh pada orang yang mau memperlakukanku semena mena seperti ini.
Aku kesal dan tidak terima dengan semua peraturan yang diberikan oleh Albercio di dalam surat perjanjian tersebut, bagiku semua bab yang ada di dalamnya hanya mempersulit diriku dan merugikanku sedangkan hanya ada satu poin yang ditujukan untuknya. Albercio hanya tersenyum tipis lalu dia berjalan menghampiriku dan memegang rahangku sedikit kuat.
"Jika kau tidak menuruti semua yang tertulis, maka aku akan membuatmu menderita!!" ucapnya membisikan kalimat tersebut di telingaku dan membuatku merinding.
Sebenarnya aku takut dengan ancamannya bahkan aku sulit sekali menelan salivaku sendiri, Albercio mengambilkan bolpoin di atas meja dan memaksaku untuk segera menandatangi kontrak itu.
"Cepat tanda tangan atau kau akan mati di tanganku saat ini juga!!" Ancamnya begitu mengerikan.
Aku mengambil bolpoin itu dan mulai menandatangi perjanjian tersebut dengan gemetar, setelah selesai Albercio langsung mengambil surat itu dan dia pergi meninggalkanku begitu saja, aku menghembuskan nafas yang serasa berat sedari tadi, aku mengeluh dan bingung harus bagaimana dengan kehidupanku kedepannya bahkan kini setelah menandatangani perjanjian itu aku tak punya kekuasaan atas diriku sendiri, semua ada dalam kendali Albercio yang bahkan aku tidak kenal.
Orang itu sungguh menjadikanku budaknya bukan istrinya, bagaimana bisa dia membuat peraturan yang aneh seperti itu.
Bibi Mia datang mengampiriku dan pelayan lain sibuk membersihkan meja serta piring sisa makanan, bibi Mia memelukku dan mengusap lembut pucuk kepalaku dia memberikan ketenangan yang selama ini belum aku dapatkan setelah kepergian kedua orangtuaku.
"Terimakasih bi, mungkin aku tidak akan terlalu membenci tempat ini karenamu" ucapku sambil tersenyum.
"Nyonya saya hanya ingin membuatmu tetap di sisi tuan, bagaimanapun kalian adalah suami istri sah di mata agama dan hukum, nyonya harus lebih sabar menghadapi tuan, dia memang keras karena itu wataknya sejak kecil dia juga tidak pernah dekat dengan wanita manapun jadi wajar saja jika dia tidak bisa memahami nyonya" ucap bi Mia memberiku pengertian.
Aku hanya membalas ucapan bi Mia dengan senyum kecil, meski apa yang dikatakan oleh bi Mia sedikit aneh untukku, tetap saja aku tidak bisa menerima semua perlakuan yang diberikan Albercio padaku, dia begitu kejam sampai berani mengancam istrinya sendiri dengan kematian itu bahkan lebih mengerikan dari kdrt, apalagi usiaku yang masih 19 tahun, sedangkan dia dilihat dari wajah dan badannya aku rasa dia jauh lebih tua dariku dan menurutku dia lebih cocok menjadi kakakku dari pada suamiku.
__ADS_1
Aku kembali ke kamar diantar oleh bi Mia dan saat aku hendak beristirahat tiba tiba saja pintu kamarku di ketuk dengan keras dan suara teriakan Albercio yang begitu menggema di telingaku.
"Duk... Duk... Duk... Hei pendek bangun kau dasar pemalas hei buka pintunya... Duk... Duk... Duk" suara pintu dan teriakan Albercio yang membuatku kesal,
Aku bangkit dan mengucek keras selimutku berjalan dengan kesal dan aku buka pintu kamar sekaligus dengan wajah yang kesal.
"Kau ini berisik sekali, aku mau tidur apa kau mau mengancamku lagi, besok saja" ucapku kesal dengan nafas yang naik turun menahan emosi.
"Heh gadis pendek, apa kau sama sekali tidak takut padaku?" Tanyanya dengan mata yang terbuka lebar dan bibir yang mengkerut,
"Awalnya aku takut, tapi sekarang tidak lagi aku tidak perduli aku sangat lelah dan mengantuk, kalau kau mau mengancamku atau menggangguku besok saja saat aku sudah fress apa bisa?" Jawabku dengan lantang.
"Hei... Lepas... Lepaskan aku, awww" teriakku berontak dan kesakitan karena dia menggenggam tanganku dengan kuat,
"Bersihkan kamar mandiku, jika nanti aku kembali dan masih belum bersih aku akan menghukummu dan kau tidak akan bisa tidur malam ini apa kau mengerti!!, ucapnya dengan keras dan mendorongku masuk ke dalam kamar mandinya begitu saja.
Aku sangat kesal dan menendang dinding kamar mandi cukup kuat sampai aku kesakitan sendiri, terpaksa aku harus membersihkan kamar mandinya, padahal saat aku lihat disana tidak ada yang kotor sama sekali bahkan semuanya bersih juga tertata rapih.
"Apa yang harus aku bersihkan, ini bahkan jauh lebih bersih daripada dapur di rumahku yang dulu" gerutuku bicara sendiri.
Karena tidak ada yang perlu dibersihkan aku justru memilih untuk duduk di kloset kamar mandi itu dan menunggu dia membukakan pintu kamar mandinya karena saat aku tadi hendak membukanya ternyata dia mengunciku di dalam kamar mandinya sendiri, untunglah kamar mandi itu tidak se sempit milikku di rumah sehingga aku punya banyak ruang untuk tinggal, merasa lelah setelah acara pernikahan tadi siang aku memutuskan untuk tidur di bak mandi, walaupun sangat dingin tapi bak itu sudah aku kuras airnya dan sudah aku keringkan sehingga bisa aku gunakan untuk beristirahat.
__ADS_1
Tidak perduli sekalipun harus tidur di sana mataku sudah tak bisa aku paksakan agar terjaga aku sungguh lelah, ku ambil handuk yang tergantung di dinding dan kujadikan bantalan untuk kepalaku, aku tertidur di dalam bak mandi yang berukuran cukup besar, sekalipun dingin aku tetap bisa tertidur dengan nyenyak di sana mungkin karena badanku yang terlalu lelah dan sangat mengantuk.
*****
Albercio yang saat itu tengah sibuk mengerjakan pekerjaan kantornya di depan laptop dia begitu fokus sampai lupa bahwa dia sudah mengunci Arisha di dalam kamar mandi dalam waktu yang lama, sampai dia selesai dengan pekerjaannya dan hendak beristirahat dia baru ingat.
"Astaga... Aku lupa menguncinya di sana" ucap Albercio dan bergegas membuka kamar mandi.
"Pendek... Pendek apakah kau masih hidup?" Teriak Albercio sambil mencari Arisha.
Albercio begitu panik dan berteriak memanggil nama Arisha sampai saat dia membuka tirai ternyata Arisha masih tertidur pulas di dalam bak kamar mandi dengan handuk yang ada di kepalanya.
"Aishh.... Dasar si pendek ini, aku menyesal mengkhawatirkannya" timbal Albercio dengan berkacak pinggan dan melihat Arisha yang tertidur dengan nyenyak di bak mandi miliknya.
Albercio terpaksa mengangkat tubuh Arisha dengan perlahan dan menidurkannya kembali ke kamar Arisha yang berada tepat di samping kamarnya, dia bahkan menyelimuti Arisha dan mematikan lampu kamar barulah dia kembali ke kamarnya dan beristirahat.
Meskipun Albercio menggendong Arisha sambil menggerutu, tetapi dia tetap melakukannya.
"Haha, si pendek itu berat sekali dia harus banyak olah raga agar tidak menyusahkanku terus, harusnya dia yang mengurusimu kenapa jadi aku yang harus menggendongnya begini, benar benar merepotkan" ucap Albercio yang menggerutu sambil berjalan kembali ke kamarnya.
Bibi Mia tersenyum kecil di lantai bawah yang tak sengaja melihat Albercio menggendong Arisha menuju kamar.
__ADS_1