
Aku sungguh kesal karena dia bersikap acuh tak acuh terhadapku setelah membuat aku hampir baper tidak terkendali, aku tidak naif tadi sempat mengira dia akan menciumku namun ternyata malah memelukku dan langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan pelukanku, bagaimana aku tidak kesal jika dia bersikap seperti itu, sungguh membuatku kesal dan sebal.
Meski kejadian tadi sudah berlalu cukup lama, tetapi aku masih belum bisa menerima semuanya sehingga aku memberanikan diri untuk pergi menemui dia ke kamarnya dengan perasaan kesal dan dipenuhi dengan emosi, aku tidak bisa tenang jika belum mendapatkan penjelasan darinya secara langsung kenapa dia melakukan hal seperti tadi kepadaku.
"Tok ...tok...tok....hey.... Albercio buka pintunya, tok ..tok...tok keluar kau hey....aku ingin bicara kepadamu Albercio!" Teriakku sangat kencang sambil mengetuk pintu kamarnya sekuat tenaga.
Meski tanganku terasa sakit karena mengetuknya terlalu kencang tapi aku tetap melakukannya berkali-kali sebab ingin dia membuka pintunya lebih cepat hingga ketika dia membuka pintu aku tidak sengaja terus mengetuk ke depan, sampai jatuh ke dalam kamar dengan keadaan tengkurap tepat di bawah kaki Albercio.
"E...eh..eh...aaa...brukk...a..aduhh" ucapku jatuh ke bawah dan aku tidak bisa bergerak merasakan leherku sakit dan pinggangku terasa patah.
"Aduhh ...sakit sekali, aku tidak bisa bangun" rengek ku sambil memegangi pinggang yang begitu ngilu.
Albercio hanya berjongkok di samping kepalaku dan dia hanya menertawakan aku dengan raut wajahnya yang menahan senyum sampai akhirnya tertawa terbahak-bahak, dan aku sangat kesal saat melihatnya menertawakan aku seperti itu.
"Fffttt...ahaha....kau lucu sekali kenapa kau tiarap di bawah kakiku?" Ucapnya menertawakan aku,
"Aishh...dasar kau sialan, heh beraninya kau menertawakan aku awas kau sialan!" Bentakku berusaha meraihnya tapi tidak sampai,
"Hahaha...sudahlah ayo cepat bangun, jangan berharap aku akan membantumu berdiri, jangan manja!" Ucapnya sambil bangkit dan berjalan ke dekat ranjang miliknya lalu duduk disana dengan menyilangkan kaki sambil menatap ke arahku.
__ADS_1
Aku benar-benar kesal dan rasanya ingin menjambak rambut sialannya itu lalu menghantamkan kepalanya ke dinding dengan kuat dan menginjak tubuhnya sekuat tenaga, tapi sayangnya itu hanyalah sebuah angan-angan saja bagi diriku yang lemah ini, dan aku segera berusaha bangkit meski rasanya terasa begitu sakit.
"A..aduh...huhu....semua ini karena kau Albercio sialan, tidak berguna, bagaimana aku bisa beraktivitas jika badanku begini" ucapku menggerutu sambil memegangi pinggangku yang ngilu.
Aku berjalan dengan tertatih dan pelan menghampiri Albercio dan duduk di sampingnya masih dengan memegangi pinggangku yang terasa sangat sakit lalu aku mulai bicara kepadanya mengutarakan pertanyaan yang sejak tadi ingin aku sampaikan.
"Heh, Albercio jawab aku dengan jujur kenapa kau tiba-tiba memelukku tadi lalu kenapa juga kau malah langsung pergi setelah memelukku?" Tanyaku kepadanya dengan menatap serius dan menyipitkan mataku.
Albercio terlihat menaikkan kedua alisnya dengan mata yang terbuka sedikit lebar, dia juga tidak langsung bicara saat aku bertanya mengenai hal itu dan dia justru malah memalingkan pandangannya ke arah lain seperti tengah berpikir dan mencari alasan untuk menjawabku.
"Jangan coba-coba untuk membodohi ku Albercio, aku ini bukan anak TK yang bisa kau bodohi kapan saja, cepat jawab jangan diam seperti itu!" Ucapku yang sudah sangat penasaran,
"Huuuh...baiklah aku memelukmu karena aku ingin dan tadi itu sebuah kecelakaan aku tidak sadar kenapa aku memelukmu mungkin karena aku kerasukan semacam setan atau hantu, sehingga mataku suram sampai bisa memelukmu, padahal seharusnya tadi aku memeluk meja makan atau tiang di rumah ini, karena itu jauh lebih baik daripada memeluk wanita sepertimu" ucapnya membuatku sangat kesal dan emosi.
Albercio tidak terima dengan ucapan dari Arisha sehingga dia terus membalas ucapannya hingga terjadi perdebatan diantara mereka berdua yang tidak berujung.
"Hah, jangan mengada-ada, sejak kapan aku mendekatimu semua ini hanya karena sebuah perjanjian dan itu demi perusahaan bukan karena aku menyukaimu, jangan ke gr an kau!" Bentak Albercio dengan keras kepala,
"Ouh...begitu ya lalu kenapa kau menahanku di rumah ini seperti seorang tahanan, bukankah itu karena kau takut pria lain akan menyukaiku, kau juga marah ketika aku dekat dengan pemilik toko es krim sebelumnya, bahkan kau langsung memindahkan aku kembali ke sini apakah itu bukan cemburu namanya?" Balasku tidak mau kalah.
__ADS_1
Aku hanya mengatakan semua fakta yang aku sedikit dan diam-diam aku perhatikan selama ini namun setelah aku lihat lagi, dia memang cukup tangguh dan selalu keras kepala bahkan gengsinya itu sudah seperti batu yang keras dan kuat sehingga dia selalu bersikap arogan dan penuh percaya diri dengan kehebatan dirinya sendiri.
Mendapatkan balas memohon dari Arisha tentu saja Albercio tidak bisa melawannya lagi dan dia hanya bisa menatap tajam dengan penuh kekesalan kepada Arisha yang saat itu duduk di sampingnya, karena emosi Albercio langsung menarik tangan Arisha dan membawanya keluar dari kamar hingga mendorongnya cukup kuat sampai Arisha jatuh ke lantai dan kakinya terkilir.
"Kau ...keluar saja kau dari kamarku jika hanya ingin membuat keributan denganku, keluar cepat. Aishh kau tidak mengerti ucapanku juga, biar aku yang mengeluarkanmu kemari kau" ucap Albercio sambil langsung menari tangan Arisha,
"Ehh... Albercio apa yang kau lakukan lepaskan aduuh pinggangku sakit, heyy lepaskan aku bisa berjalan sendiri...e..eh..aaa....krekk....brugghh" suaraku berteriak berontak tapi ujung-ujungnya tetap saja terjatuh karena dia dorong Albercio yang keras kepala itu.
Aku jatuh tersungkur dan meringis kesakitan merasakan kakiku yang terkilir dan terlihat memar, aku tidak bisa berdiri meski sudah mencoba bangkit beberapa kali dan rasanya sangat sakit sekali.
"Aaaw...aduh.... kakiku, kenapa kakiku sakit sekali...aduhh... Albercio aaa..aaahh.. kakiku" ucapku meringis kesakitan.
Wajah Albercio langsung terlihat cemas dan panik dia tidak bermaksud mendorong Arisha sekeras itu sampai membuatnya terjatuh tapi karena emosi di dalam dirinya cukup besar dan Arisha yang terus berontak sehingga dia tidak bisa mengendalikan tenaga yang dia keluarkan sendiri.
"Ya ampun....Arisha apa kau baik-baik saja, maafkan aku tadi itu sungguh tidak sengaja aku tidak bermaksud membuatmu sampai seperti ini" ucap Albercio sangat panik.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi karena kakiku semakin terasa sakit sekarang aku tidak tahu apakah kakiku terkilir atau mungkin patah sebab aku tidak bisa menggerakkannya sama sekali, itu cukup menyakitkan bagiku.
"Aaa....hiks...hiks... Albercio aku tidak bisa menggerakkannya ini sakit" ucapku mulai menangis karena saking sakitnya.
__ADS_1
Melihat kondisi seperti itu Albercio menjadi semakin panik dan dia langsung menggendong Arisha, lalu segera berteriak meminta pelayan untuk menyiapkan mobil, dia langsung berangkat saat itu juga membawa aku ke rumah sakit terdekat bahkan bisa kulihat bagaimana dia mencemaskanku dengan mengemudikan mobil sangat cepat dan mengesampingkan keselamatannya sendiri.
"Dasar manusia bodoh, dia bilang tidak memperdulikan aku tapi dia sepanik ini melihatku kesakitan" gumamku dalam hati sambil memperhatikannya dan masih menahan nyeri di kakiku.