Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Kembalinya Albercio


__ADS_3

Seketika Melinda Koward langsung bergetar ketakutan dan Andi pergi meninggalkan kamar tersebut dengan membanting pintu cukup keras, semua pelayan tidak ada yang berani mengeluarkan suara mereka langsung berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya sendiri.


Memang sejak kedatangan Melinda di keluarga Koward tidak ada satupun dari mereka yang berani menantangnya sebab tuan Koward sendiri sangat meratukan seorang Melinda dan sangat mencintainya entah apa yang sudah di gunakan oleh seorang Melinda sampai seorang pembisnis yang bersih seperti tuan Koward bisa tertipu olehnya dan terjerat dengan cinta yang dia bawa.


Saat menyaksikan kejadian yang sama sekali tidak pernah aku duga, aku sangat merasa bahagia apalagi ketika melihat wajah seorang Melinda yang begitu kesal sampai dia membanting seluruh perlengkapan make up miliknya yang sebelumnya berjajar rapih di Depa meja rias cantik miliknya.


"Ahahaha.....bagus...bagus...sekali, ini adalah kejutan yang luar biasa untukku hahaha...., Seharusnya pria sialan itu menampar atau memukul Melinda walau hanya sekali dua kali agar dia tahu rasanya bagaimana di tampar" ucapku dengan tatapan mata geram dan penuh kebencian.


Untuk hari ini sudah cukup bagiku memantau Melinda dan aku memutuskan untuk melancarkan aksi keduaku, aku keluar dari ruang rahasiaku itu tapi tiba-tiba saja bibi Susan dan bi Meli menghampiriku dan wajah mereka nampak sedikit gugup juga ketakutan, aku tentu saja merasa heran dan kaget saat melihat mereka dengan raut wajah seperti itu.


Aku berusaha menghilangkan sosok jahat dalam diriku dan kembali pada karakter biasa aku.


"Bi...ada apa kenapa kalian berlari kemari dengan wajah panik seperti itu?" Tanyaku dengan heran,


"Itu nona, tiba-tiba tuan besar datang kemari dan dia sudah berada di ruang tengah menunggu kedatangan nona, dia juga terlihat begitu marah sebaiknya nona menyenangkan tuan muda" ucap bi Susan memberi tahu.


Aku kaget saat mendengar kabar tersebut, pasalnya dia telah menghilang cukup lama dan pergi tanpa kabar begitu saja dia juga sudah mengijinkan aku untuk keluar dari rumahnya dan memberikan kebebasan terhadapku sehingga aku heran mengapa dia datang untuk menemui diriku lagi.


"Bi...tidak perlu khawatir, aku akan menemuinya sekarang" ucapku sambil memegang kedua pundak bibi Susan agar dia tidak khawatir padaku.


Aku segera pergi menemui Albercio dan nampak dia sudah berdiri menatap ke arahku dengan tatapan tajam yang begitu menusuk, belum juga aku bertanya mengapa dia tiba-tiba saja datang ke apartemenku dia sendiri sudah langsung memegang tanganku cukup erat dan melontarkan pertanyaan dengan nada yang keras dan membentak.

__ADS_1


"Arisha....siapa yang mengijinkanmu untuk melakukan hal berbahaya dibelakangku, kenapa kau berani melakukan hal itu sendirian?" Bentak Albercio seperti keluar dari kendali.


Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya dia maksudkan sehingga aku hanya menanggapinya dengan kedua alis yang aku kerutkan karena merasa tidak paham dengan tuduhannya tersebut yang tidak berdasar.


"Heh, apa apaan kau ini aku sama sekali tidak mengerti maksudmu, cepat lepaskan aku!" Bentakku membalasnya,


"Tidak aku tidak akan melepaskanmu baru saja aku meninggalkanmu hanya beberapa hari kau sudah bertindak seperti ini, dan jangan berpura pura tidak mengerti aku berbicara tentang kau yang menyusup masuk ke dalam kediaman Koward iya kan?" Bentak Albercio yang semakin mengencangkan pegangannya pada tanganku.


"Sssttt...awww... Albercio kau mencengkram lenganku terlalu kuat, aku tidak bisa menahan rasa sakitnya" ucapku meringis kesakitan.


Aku sungguh mengatakan yang sebenarnya tanganku serasa di perat dengan kuat dan itu sakit sekali, untunglah setelah mendengar ucapanku Albercio sialan itu langsung melepaskan cengkramannya dari tanganku dan dia mencoba mendudukkan aku dengan lembut di sofa.


"AA...ah....maafkan aku, tadi aku diluar kendali aku tidak bermaksud sampai membuat lenganku seperti ini" ucap Albercio merasa bersalah karena melihat pergelangan tanganku yang merah dan lecet.


"Berhenti! Berikan padaku aku bisa mengobati luka ini sendiri" ucapku sambil berusaha merampasnya dari Albercio.


Sayangnya tangan Albercio lebih cepat menangkis dan dia tetap bersih keras untuk membantuku mengoleskan obat pada luka di pergelangan tangan yang dia buat sendiri.


"Diam saja aku akan melakukanny dengan baik, ini terjadi karena aku dan aku sendiri yang akan mengobatinya sebagai rasa tanggung jawab" balas Albercio dan aku hanya bisa membiarkannya.


Aku memalingkan pandanganku ke tempat lain karena sejak saat itu aku mulai membencinya juga, dia tiba tiba saja datang dan langsung memarahiku tanpa aku tahu apa kesalahanku hingga membuatnya semarah itu dia juga bahkan melukai lenganku seperti ini tapi dia juga yang mengobatinya.

__ADS_1


Aku memang memikirkan dia akhir akhir ini dan aku merindukannya karena sebelumnya dia bersikap sangat baik dan lembut terhadapku namun sekarang disaat dia sudah tiba di sini bukannya membuatku senang dia justru bersikap kasar lagi kepadaku dan membuatku membenci dia untuk kedua kalinya.


"Selesai" ucap Albercio yang selesai mengobati luka di pergelangan tanganku.


Aku langsung menarik lenganku dan tetap memalingkan pandangan ke arah lain, rasanya aku kecewa karena dia datang seperti itu di saat aku sudah menunggunya dalam waktu yang lama, aku kesal tapi aku sebenarnya ingin melihat dia dan aku senang ketika melihat dia pulang dan kembali bertemu denganku dalam keadaan yang baik tanpa kurang suatu apapun.


Tapi sikapnya tadi membuatku kehilangan semua rasa rindu terhadapnya dan malah timbul rasa kesal dari dalam diriku terhadap dia.


Melihat Arisha yang marah terhadap dirinya Albercio pun segera duduk mendekati Arisha tepat di sampingnya lalu dia menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Setelah itu barulah Albercio mulai bicara baik baik dan menjelaskan maksud dia sebenarnya kepada Arisha.


"Arisha...aku tahu aku salah tolong maafkan aku atas sikap kasar aku tadi, aku hanya mengkhawatirkan kamu karena sekretaris Katy melaporkan bahwa kau telah pergi menyusul kedalam kediaman Koward, kamu tahu seberapa berpengaruhnya keluarga itu di sini bukan?, Meski aku jauh lebih kuat darinya tetap saja kamu tidak akan bisa di bebaskan begitu saja jika sampai ketahuan oleh pihak mereka, aku hanya mengkhawatirkanmu sungguh hanya itu Arisha" ungkap Albercio menjelaskan semuanya.


Mendengar penjelasan dari Albercio jujur saja aku merasa senang dan tidak bisa menahan senyum di wajahku tapi karena malu aku berusaha dengan keras untuk tetap menahannya agar Albercio tidak ke gr an dengan hal itu.


"Ternyata dia diam diam mengawasi aku dari jauh ya?, dan dia juga mengkhawatirkan aku selama ini" gumamku merasa senang.


Aku tidak tahu kalau ternyata Albercio sempat melihat sedikit senyumanku dan dia tiba-tiba memelukku dari samping.


"Maafkan aku Arisha bagaimanapun aku adalah suamimu wajar jika aku mencemaskan istriku sendiri iya kan?" Ucap Albercio yang membuatku semakin tidak bisa marah terhadapnya.


Tapi aku masih harus memberinya pelajaran aku tidak bisa luluh dengan begitu mudah pada orang yang sudah membuat pergelangan tanganku terluka lagi pula meski dia mengkhawatirkanku seharusnya dia membicarakan semuanya dengan perlahan bukan dengan emosi seperti tadi.

__ADS_1


Aku tetap merajuk dan mendorong dia untuk menjauh dariku.


"Albercio aku memaafkanmu tapi jangan harap kau bisa merayuku, pergi dari sini sekarang juga!, aku mau istirahat dan untuk kedepannya kau tidak diijinkan masuk ke apartemen ini tanpa izin dariku!" Bentakku dan pergi meninggalkannya.


__ADS_2