Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Mengobati


__ADS_3

Aku mengabaikan teriakkan ya dan terus menarik lengannya hingga menyuruhnya duduk di kursi depan mini market yang tidak jauh dari tempat kami berjalan sebelumnya.


"Beri aku uang" ucapku sambil mengulurkan tangan padanya.


Aku ingin membelikan dia obat dan mengobati luka di dahinya tapi aku tahu jika aku tidak membawa uang sepeserpun sehingga tentu saja aku langsung meminta uang darinya, lagi pula aku pikir itu untuk mengobati lukanya juga jadi tidak ada salahnya jika aku meminta uang kepadanya.


Tapi mungkin dia salah paham dan malah membentak aku sambil membelalakkan matanya sempurna.


"Heh, apa-apaan kau ini, apa kau memalak aku yah?" Bentaknya dengan kasar,


"Hei..tenangkan dirimu, aku meminta uang hanya untuk membeli plester, lihat itu jidatmu terluka bokan itu tergores karena botol yang aku tendang, jadi aku akan bertanggung jawab mengobati lukamu, cepat beri aku uangnya" balasku tetap meminta,


"Kalau kau mau bertanggung jawab pakai uangmu saja, kenapa malah meminta uang padaku? Aku ini kan korban apa kau idiot yah?" Balasnya lagi tidak terima,


"Hais aku ini tidak memiliki uang, kau lihat pakaianku tidak ada saku dalam gaun ini, aku tidak membawa dompet atau tas, aku tidak membawa apapun bagaimana aku memiliki uang" ungkapku sambil memutar badan kepadanya.


Pria itu merotasikan matanya dan dia merogoh saku celananya lalu memberikan dompetnya kepadaku begitu saja. Aku terperangah dan kaget karena bukannya memberiku uang dia malah memberi dompetnya sekaligus padaku.


"Heh, apa kau pikir harga plester semahal itu, kenapa memberiku semuanya bahkan dengan dompetmu, aku hanya perlu satu lembar saja, cepat beri aku uangnya!" Ucapku mendesak dia.


Pria itu hanya mengerutkan dahinya dan kembali mengambil dompet yang dia terus di meja sebelumnya lalu memberikan uang seratu ribu rupiah kepadaku, aku segera mengambil uang itu dan masuk ke dalam mini market secepatnya.


"Aishh...apa dia wanita gila, aku beri seluruhnya dia malah minta satu lembar, apa diia memang bukan orang jahat yah?" Gerutu pria tersebut.


Aku masuk ke dalam dan segera mengambil plester dan dia es krim yang aku lihat di dalam lemari es secara tidak sengaja.


"Wahhh es krim itu terlihat sangat enak, mungkin jika meminta sedikit darinya tidak akan masalah bukan" gerutuku lalu mengambil es krim itu segera.

__ADS_1


Aku pergi ke kasir untuk membayar dan segera kembali pada pria itu yang masih duduk di tempat semula, karena sedikit takut sebab aku sudah memakai uangnya tanpa izin, aku menyembunyikan es krim yang aku bawa ke belakang tubuhku lalu mulai memberikan plester juga uang kembalian tadi kepadanya.


"Ini....ambillah dan cepat obati lukamu" ucapku padanya.


"CK....dasar stress" kata pria itu sambil merampas uang kembalian dan plester nya.


Aku awalnya merasa gugup dan ketakutan karena aku takut dia menghitung ulang uang kembaliannya, jika itu terjadi maka tamatlah riwayatku sebab dia bisa mengetahui jika aku mengambil sedikit uang darinya tanpa izin terlebih dahulu.


Pria itu segera memasukkan uangnya langsung ke dalam saku jaketnya dan aku merasa sangat lega, tetapi dia kesulitan memakaikan plester di dahinya karena dia sendiri tidak bisa melihat dimana tepatnya letak goresan di dahinya itu.


Aku kesal sekali dan cukup gemas karena melihat dia masih belum selesai juga menempelkan plester itu.


Alhasil aku kelepasan memperlihatkan tanganku yang memegang es krim tadi bahkan menyuruh pris itu untuk memegangi es krim ku dahulu.


"Heh, pegang ini.... sini biar aku tempelkan saja, kau ini bodoh sekali" ucapku sambil memberikan es krim itu padanya.


"Ehh ...ada apa denganmu, kau tidak perlu berterima kasih karena aku mengobati lukamu" ungkapku padanya.


Dia menaikkan es krim di tangannya dan langsung bertanya kepadaku mengatai es Kris tersebut dengan wajah yang datar.


"Darimana kau mendapatkan es krim ini?, Apa kau memakai uangku tanpa izin?" Tanyanya langsung membuatku terpojok.


Aku gugup dan refleks memalingkan wajah darinya, tidak tahu harus membuat alasan apa agar dia bisa mempercayaiku dan aku tidak bisa berbohong dalam situasi mendesak seperti itu.


Lagi pula aku juga tidak terlalu pandai berbohong sehingga aku hanya bicara terbata-bata saat berusaha menjelaskan yang sebenarnya kepada pria asing itu.


"A..anu..itu...aku....aahh....aku membelinya...karena....aku..." Ucapku tertahan karena pria itu langsung membuka bungkus es krim tersebut.

__ADS_1


"Aaahh....sepertinya es krim ini akan segera melelah, aku akan menyelematkan ya dengan mulutku" ucap pria itu dan mulai menjilati es krimnya.


Melihat dia menikmati es krim yang sangat aku inginkan sedari tadi, itu sungguh membuatku sangat frustasi dan aku begitu tergoda dengan kenikmatan es krim itu, selama dia menjilati es krim itu, aku hanya bisa menatapnya dengan melipatkan bibirku dan menelan salivaku sendiri dengan susah payah karena tidak tahan ingin mencoba es krim tersebut.


Hingga aku sungguh tidak bisa menahan rasa ingin di dalam diriku lagi, aku menggeser kusri yang aku duduki dan langsung saja menggigit es krim yang tengah di makan oleh pria itu sehingga kami terlihat seperti tengah berciuman padahal aku dan dia hanya mengigit es krimnya dari bagian yang berlawanan.


Saat bibirku mengenai es krim itu rasanya sangat dingin, manis dan lembut itu juga sangat manis sehingga aku sangat puas dengan rasa es krimnya.


Sudah lama sekali aku menahan diri melihatnya menikmati es krim itu seorang diri dan hanya membuatku ngiler sekarang aku bisa merasakannya juga dan aku sangat menikmati es krim itu, sedangkan pria tersebut malah melepaskan pegangannya dari es Kris tersebut sehingga es krimnya langsung jatuh ke tanah dan aku mulai merasa kesal.


"A..ahhh...es krimnya?" Ucapku yang tidak sempat menyanggah es krim itu.


"Heh, kenapa kau malah membuang es krimnya jika kau tidak suka kau bisa memberikannya kepadaku!" Bentakku kepadanya dengan kesal.


Dia sama sekali tidak bergerak ataupun berbicara badannya duduk dengan tegak dan entah melihat ke arah mana, posisi badannya juga tetap sama sedangkan aku merasa sedih karena melihat es krim yang sangat enak itu kini telah tergeletak di tanah dan mencari perlahan-lahan.


"Huhu ..es krimnya sangat enak dan manis, kenapa harus jatuh seperti itu, aahh....aku sangat menginginkan es krimnya" gerutuku meratapi.


Meski aku tahu semua ini juga salahku tetapi aku masih tidak bisa menerima karena dia malah menyia-nyiakan es krim se enak itu di hadapanku.


Bahkan tadi es krim itu sudah sampai di mulutku aku tinggal menggigitnya dan es krim itu mungkin akan selamat, tapi karena dingin aku tidak sempat menggigitnya dengan benar hingga akhir es krim itu jatuh ke lantai.


Ku lihat pria itu masih duduk diam mematung dan aku menggoyangkan tangannya untuk menyadarkan dia sekaligus meminta maaf karena telah memakai uangnya tersebut.


"Hey.... Kenapa kau diam saja, apa kau marah denganku? Oke aku minta maaf, aku memang menggunakan uangmu untuk membelinya tapi kau juga sudah memakannya dan aku gagal untuk mengigitnya, itu sangat sayang tapi aku juga tidak bisa mengganti uangmu" ucapku menyadarkan dia,


"E..ekhm....kau tidak perlu menggantinya itu hanya es krim kan, tidak masalah bagiku" balasnya dengan wajah yang menatap ke arah lain dan terlihat memegangi bibirnya sendiri.

__ADS_1


Aku hanya memperhatikannya sekilas lalu berpamitan pergi darinya karena perjalananku masih jauh untuk sampai di kediaman tuan Albercio dengan berjalan kaki seperti ini.


__ADS_2