
Aku tersenyum membalas ucapannya dan langsung saja aku berlari ke pelukannya dan memeluk dia dengan erat, masih bisa aku rasakan elusan tangannya di kepalaku yang sangat lembut dan itu sangat membuat aku nyaman dengannya.
"Sayang apakah kita perlu berlibur agar kau bisa melupakan kejadian menyebalkan itu" ucap Albercio mengajakku untuk berlibur.
Aku sangat senang ketika mendengarnya karena ini adalah pertama kalinya dia mengajak aku berlibur secara langsung seperti ini aku langsung bangkit dan menatapnya dengan serius.
"Apa? Liburan? Apa kau se senggang itu untuk mengajakku berlibur?" Tanyaku seakan sulit mempercayai ucapannya.
Padahalnya aku tahu betul seberapa sibuknya dia saat ini, apalagi aku juga tahu dia masih berkutik dan berusaha keras mencari bukti-bukti kuat untuk mengusut kejadian tragis tersebut, Albercio secara tidak langsung membantuku untuk menangkap pelaku di balik kejadian pembunuhan saat itu, sehingga aku sedikit ragu ketika ingin menerima ajakannya saat itu.
"Tentu saja aku serius sayang, sesibuk apapun aku, aku akan selalu memiliki banyak waktu untuk istriku tercinta, terlebih aku kan memiliki dua sekretaris, menurutmu untuk apa aku mempekerjakan mereka jika harus aku selalu yang menyelesaikan semuanya" balas dia yang membuat aku sangat senang dan langsung saja aku mengangguk setuju kepadanya.
Aku sangat senang karena Albercio tiba-tiba saja mengajak aku berlibur dan itu ku pikir pasti akan menjadi sangat menyenangkan aku sudah tidak sabar lagi menunggu hari itu tiba, hingga tidak lama hari sudah terus berganti dan Albercio juga sudah membeli tiket pesawat khusus untuk kami berdua berlibur ke luar negeri, meski aku tidak tahu dengan jelas kemana dia akan membawaku, karena dia menyembunyikan itu.
Setiap kali aku bertanya kepadanya kepada kita akan pergi berlibur dia selalu saja mengatakan bahwa semua itu adalah rahasia sehingga aku pun tidak ingin menanyakannya lagi karena sudah tahu jawaban apa yang akan dia berikan kepadaku.
"Sayang ayo cepat, apa kau sudah bersiap-siap?" Tanya Albercio kepadaku.
Dia muncul dari balik pintu begitu saja membuat aku sedikit kaget di buatnya, aku keluar dari kamar dan segera menghampirinya sambil mengeluarkan koper yang hendak aku bawa.
"Iya....tunggu aku sudah siap kok, aaahhh ini berat sekali" teriakku membalas ucapannya.
Melihat aku kesulitan membawa koper Albercio langsung menarik tanganku dan dia langsung menyuruh aku meninggalkan koper itu dengan cepat sebab dia bilang masalah peralatan dan pakaian itu akan di urus oleh sekretaris Katy.
"Aishh... Sayang apa yang kamu lakukan? Kenapa harus membawa koper itu, sudah tinggalkan saja biarkan sekretaris Katy yang mengurus semuanya, kamu ini selalu saja melakukan semuanya sendiri, sudah ayo ikut denganku" ujar Albercio sambil langsung menarik tanganku dan membawa aku keluar dengan cepat.
Padahal aku memang tidak ingin merepotkan sekretaris Katy hanya karena sebuah koper pakaian seperti itu saja, tapi karena Albercio mengatakan itu aku pun menuruti dia dan segera pergi dari sana meninggalkan koper itu, aku masuk ke dalam mobil dan mempersiapkan diri, kalo ini sekretaris Ben yang menyetir dan kami pergi dengan aman.
Hingga saat kami di bandara Albercio mendapatkan sebuah panggilan telpon dari sekretaris Katy.
"Iya hallo ada apa Katy, bagaimana dengan barang-barangnya kenapa belum tiba juga?" Tanya Albercio sedikit keras,
"Maaf tuan tapi di sini ada sedikit kendala, masalah perusahaan kita dengan keluarga Koward, ada seorang pria yang nekat ingin menemui anda dan dia terus saja mendesak saya membuat saya sedikit kesulitan menghadapinya" ucap sekretaris Katy dari sebrang telpon sana.
Mendengar itu tentu saja Albercio langsung marah dan kesal karena dia baru saja ingin bersantai dan pergi dengan aku untukmberlibur bersama menghabiskan waktu hanya berdua kini justru malah timbul masalah yang di ada-ada seperti ini, membuat dia menjadi sangat kesal dan emosi saat itu.
"Aishh....ya sudah diam saja di situ aku akan segera kesana sekarang juga" balas Tan Albercio tidak memiliki pilihan lain lagi.
Aku menatapnya dengan heran dan kedua alis yang aku naikkan bersama, karena melihat wajah Albercio yang marah tidak karuan dan dia yang terlihat frustasi sambil mengacak balakang rambutnya dia pun melihat ke arahku dengan lekat lalu memegang tanganku dengan lembut secara tiba-tiba.
"Arisha, maafkan aku yah, sepertinya kita harus menunda rencana liburan kita kali ini, karena ada urusan mendesak di kantor dan dia terus saja membuat keributan sehingga aku harus menghadapinya langsung ke sana, maafkan aku yah sayang" ucap tuan Albercio dengan wajah yang penuh rasa bersalah.
Aku sungguh kesal karena liburan yang sudah aku nanti-nanti sejak lama akhirnya tidak jadi aku cemberut ingin marah kepadanya namun karena dia bilang ini masalah dari perusahaan aku tidak berkutik lagi.
"Ya sudah baiklah, aku tidak papa tapi aku sangat ingin pergi ke sana, jika kau tidak jadi pergi aku tetap ingin pergi ijinkan saja aku pergi sendiri dengan sekretaris Ben bagaimana?" Ucapku kepadanya meminta izin.
Karena sayang sekali tiket dan semua persiapan yang sudah kami lakukan jika kami tidak jadi pergi ke sana, aku sangat ingin pergi ke tempat itu namun Albercio tetap melarangku jika tidak pergi dengannya.
"Tidak bisa sayang,.itu adalah resort pribadiku hanya aku dan kau yang bisa datang ke sana, jika kau datang dengan sekretaris Ben apa yang bisaereka katakan nanti, aahhh aku tidak akan mengijinkan itu, sudah kamu ikut saja dengan ku dahulu menyelesaikan urusan ini, aku yakin ini tidak akan lama oke" ucap Albercio sambil memegangi kedua pundakku.
Aku tidak menyetujui ucapannya itu dan aku rasanya ingin menolak dia saja saat itu juga tetapi melihat wajahnya yang meringis dan sendu seperti itu, membuat aku tidak tega untuk marah dan menolak dia lagi.
"Aaahhh...baiklah aku akan memaafkanmu kali ini, tapi awas saja jika nanti tidak jadi lagi, aku akan sangat kesal dan aku akan menghajarmu!" Ucapku mengancam dia dan memperingatinya.
Albercio yang mendengar akhirnya Arisha tidak masalah dengan hal tersebut dan mau ikut dengannya dia pun merasa sangat lega dan senang tidak terbilang, dia langsung memeluk Arisha dan langsung mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil dengan segera, dia bahkan membukakan pintu mobil untuk Arisha seperti biasanya, rasanya aku ingin menghajar dia dengan keras aku sangat ingin menepuk kepalanya itu.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam mobil dengannya dan kami segera pergi menuju perusahaan Albercio yang dimana ketika kami sampai disana ku lihat di depan ruangan kerja Albercio ada sekretaris Katy yang tengah menahan seorang pria dengan kewalahan karena pria itu terus mendesak untuk masuk ke dalam dengan keras.
"Aishh...ahhh....awas..kau aku ingin menemui tuanmu kenapa kau terus menghalangiku!" Bentak pria itu terus memberontak,
"I..itu...tuan Albercio" ucap sekretaris Ken sambil langsung membungkuk memberi hormat kepada Albercio dan aku yang saat itu baru saja tiba disana.
Pria tersebut langsung menghentikan aksinya dan dia menatap ke arah aku dan Albercio yang berdiri di belakangnya saat itu, aku sangat kaget ketika melihat ternyata orang tersebut adalah pria itu, pria yang sebelumnya pernah aku lempari botol minuman kaleng yang mengenai kepalanya dan aku kabur dari dia dengan cepat saat itu.
"Kau?" Ucapku berbarengan dengan pria tersebut sehingga membuat tuan Albercio juga sekretaris Ban yang ada disan menatap kaget dan heran kepadaku.
Albercio langsung menatap padaku dan saat itu juga dia langsung menanyakan hubunganku dengan pria tersebut.
"Sayang kamu mengenalinya, siapa dia?" Tanya Albercio kepadaku dengan wajahnya yang mulai serius dan menyelidik.
Aku sangat takut dia salah paham sehingga aku langsung menggandeng tangannya dan mengatakan yang sebenarnya kepada dia secepat yang aku bisa sebelum dia salah paham.
"Aahhh....aku hanya pernah bertemu dia di jalan sekali, dan itu hanya tragedi kecil karena aku tidak sengaja melemparkan botol sampai mengenai kepalanya, kamu jangan marah atau salah paham yah, bahkan aku tidak tahu namanya aku hanya ingat wajahnya saja" ucapku menjelaskan.
Aku pikir ketika aku menjelaskan semuanya dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Albercio dia tidak akan marah denganku dan aku pikir dia tidak akan salah paham lagi namun ternyata dugaan aku salah dia tetap saja mencurigai aku dan pria itu dan itu sangat membuat aku jengkel.
"Kenapa kau harus mengingat wajahnya, aku tidak suka kau mengingat wajah pria lain!" Ucap dia dengan wajahnya yang cemberut begitu saja.
Aku langsung menaikkan kedua aliku dan membuka mataku lebar, aku merasa sangat heran melihat dia yang malah mengatakan itu kepadaku, bagaimana bisa dia malah mengatakan hal semacam itu.
Apa mungkin dia pikir jika dia menjadi suamiku dia akan menguasai aku sepenuhnya, bahkan cara otakku bekerja saja dia mengawasi aku dan tidak mengijinkan hal-hal sembarangan seperti ini terjadi di otakku.
Rasanya saat itu aku ingin menjerit sangat keras dan aku ingin menghajar Albercio sekeras kerasnya karena dia berani sekali melarang aku dengan hal-hal sepele seperti itu dan membuat aku sangat kesal.
"Albercio ayolah jangan seperti itu, kenapa kamu mencurigai hal yang tidak penting sudah urus saja urusanmu dengannya di dalam aku akan menunggumu di luar saja dengan kedua sekretarismu ini" ucapku kepadanya sambil menjauhkan diri darinya.
Albercio langsung masuk ke dalam sana dan aku masih menggerutu kesal, aku pikir dia tidak akan kembali lagi namun ternyata dia datang dan kembali lagi menghampiri aku lalu menarik tanganku dengan kuat dan membawa aku masuk ke dalam bersamanya dengan paksa.
"Duduk lagi disini denganku, dia juga ingin bicara padamu" ucap Albercio membuat aku heran dan sedikit kaget saat mendengarnya.
Aku pun segera duduk di samping Albercio dan aku langsung menanyakan kepada orang tersebut dengan apa yang akan dia bicarakan padamu karena seingat aku, aku dan dia tidak ada urusan apapun lagi dan aku juga tidak membuat keributan apalagi bermasalah dengannya.
"A...ada apa kau mau berbicara denganku juga?" Tanya aku kepadanya dengan menatap heran,
"Begini aku hanya ingin berbicara mengenai bibimu, nenek sihir Melinda sialan itu" ucap dia yang ternyata membahas masalah Melinda denganku.
Aku kaget dan terperangah kuat saat mendengar dia menyebutkan nama Melinda di hadapan aku dan Albercio.
"Dari mana kau tahu bahwa Melinda adalah bibiku, dan darimana juga kau mengenal dia, apa dia juga menggadaikan aku kepadamu?" Tanyaku dengan heran dan aku sudah takut tidak karuan.
Pikiranku sudah berkecamuk kesana kemari tidak menentu karena aku sudah sangat khawatir hal yang terjadi padaku dahulu sampai berakhir kepada Albercio akan terjadi lagi, aku sungguh sangat takut dengan hal tersebut.
Dan dia justru malah tertawa menanggapi ucapanku, pria itu terlihat familiar untukku namun aku masih tidak bisa mengingat dengan jelas dimana saja aku pernah melihat wajahnya itu.
"Hey...kenapa kau malah tertawa seperti itu? Aku bertanya serius kepadamu!" Bentakku kepadanya meninggikan suara karena sudah sangat penasaran.
"Ahaha....iya iya...aku akan bicara lagi pula kenapa kau malah mengatakan hal konyol seperti itu? Membuat aku ingin tertawa saja saat mendengarnya hahaha" ucap dia kembali menertawakan aku.
Hingga membuat Albercio langsung menggebrak meja dengan sangat kuat, bahkan aku saja sampai terperanjat kaget melihat dia menggebrak meja sangat kuat, dan pria itu juga sama kagetnya.
"Brakkkk...." Suara meja yang di gebrak dengan kuat oleh Albercio,
__ADS_1
"Astaga.....tuan tolong bersabarlah sedikit, saya kan hanya tertawa kecil saja" balas pria itu kepada Albercio.
Aku bisa melihat dengan jelas bahwa pria itu juga terlihat cukup ketakutan dengan Albercio dan kini giliran aku yang menahan tawa melihat wajahnya yang ketakutan seperti itu.
Meski dia berusaha menyembunyikan rasa takut di dalam dirinya tersebut tapi tetap saja aku bisa melihatnya dengan jelas bahwa dia memang sangat kaget ketika Albercio menggebrak meja juga dia yang langsung menjadi sedikit gugup ketika Albercio memelototi dia saat itu.
"Sudah cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan kepadaku dan istriku, aku tidak memiliki banyak waktu untuk basa basi dengan orang sepertimu!" Ucap Albercio menyuruh.
Sebenarnya disisi lain Albercio sudah tahu bahwa pria itu adalah Andi Koward dan dia juga sudah menduga bahwa Andi Koward akan datang kepadanya untuk membahas Melinda namun dia juga sangat penasaran apa yang akan di utarakan oleh seorang Andi Koward kepadanya mengenai wanita jahat itu.
"Ayo bicara kenapa kau malah diam saja?" Ucapku membentak dia lagi.
Aku lihat dia mulai menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan lalu dia langsung menatap serius ke arah aku dan langsung beralih kepada Albercio saat itu juga.
"Begini aku tahu seberapa jahatnya Melinda dan kedatanganku menemui kalian berdua, aku hanya ingin mengajak kalian untuk bekerja sama agar kita bisa meringkus kejahatan Melinda bersama, aku sudah sangat tidak tahan melihatnya dia terus memanipulasi ayahku dan aku takut kekayaan keluarga Koward akan jatuh padanya jika semua ini terus di biarkan saja" ucap Andi Koward mengatakan semua niat kedatangan dia ke sana.
Albercio sedikit kaget dan membelalakkan matanya sesaat dia tidak menduga bahwa kedatangan Andi Koward padanya justru malah memiliki tujuan yang sama dengan dirinya, yakni untuk memberikan pelajaran kepada Melinda karena sudah membuat banyak ke kacauan selama ini kepada Arisha juga semua orang yang pernah berhubungan dekat dengannya.
"Aahhh....jadi kau mau mengajakku bekerja sama? Ahahah....aku tidak menduga seorang Andi Koward mau bekerja sama dengan musuh bisnisnya sendiri" ucap Albercio dengan tertawa santai dan tawanya itu cukup menyeramkan untuk di dengar.
Aku bahkan cukup merinding ketika mendengar tawanya yang menggelegar di seisi ruangan itu.
Aku juga kaget saat mendengar nama Andi Koward di ucapkan oleh Albercio kepada pria tersebut hingga aku mengingat kejadian dimana aku pernah menyusup masuk ke dalam rumah keluarga Koward secara diam-diam saat itu dan aku pernah bertemu dengan dia juga.
"Aahhh...jadi kau Andi Koward?" Ucapku keceplosan begitu saja membuat kedua pria itu langsung melirik ke arahku dengan cepat dan aku lebih takut dengan tatapan Albercio yang tajam menusuk padaku.
Aku tahu dia pasti akan salah paham lagi kepadaku dan aku sudah mempersiapkan diri untuk itu.
"A..ahhh...aku hanya belum tahu siapa dia jadi aku kaget saat mendengar ternyata dia itu Andi Koward" balasku sambil tersenyum kecil kepada Albercio.
Albercio pun langsung mengalengkan tangannya ke belakang dan dia menggeser tempat dudukku begitu saja dia seakan tidak membiarkan aku sejajar dengan Andi Koward dan dia bahkan menyuruh aku untuk tidak melihatnya.
"Arisha jangan lihat wajahnya kau hanya boleh melihat wajahku saja!" Ucap dia kepadaku dengan tatapan yang dingin dan langsung beralih kepada Andi Koward lagi.
Aku bahkan sulit menelan salivaku sendiri setelah mendengar ucapan Albercio saat itu, aku sangat geram kepadanya karena dia berbicara kepada seperti itu.
"Albercio aku tidak akan jatuh cinta pada Andi Koward apa kau sudah gila yah lepaskan aku!" Ucapku sambil mendorong tubuhnya menjauh dariku.
Dia sudah melewati batas kesabaranku sehingga aku tidak bisa diam saja kali ini maka dari itu aku langsung melawannya dengan sekuat tenagaku saat itu juga, meski aku tahu disana masih ada Andi Koward tapi aku tidak perduli, aku hanya ingin menunjukkan pada Albercio bahwa aku hanya untuknya, hanya dia yang akan mendapatkan aku.
Dan hanya dengan cara seperti itu aku bisa membuat dia yakin agar dia tidak memerintahkan aku dengan ucapan atau hal-hal yang di luar nalar seperti tadi.
Mana mungkin juga aku harus terus menerus melihat wajahnya dan kepalaku tidak menolah ke sana kemari, itu akan membuat kepalaku sakit nantinya.
Namun Albercio langsung menatap aku dengan tatapannya yang aneh.
"Arisha apa kau yakin kau hanya untukku?" Tanya dia meragukan aku lagi,
"Albercio ayolah kita sedang membahas Melinda tolong jangan seperti ini, kau membuat aku kesal saja" balasku kepadanya.
"Baiklah aku akan menyetujui untuk bekerja sama dengan Andi Koward dan kita akan membahas rencana di lain waktu, jadi kau Andi Koward keluar dan hubungi saja sekretaris Katy dia akan membahas rencana denganmu" ucap Albercio begitu saja.
Andi juga langsung menurut karena mungkin dia juga tidak memperdulikan urusan rumah tangga orang lain saat itu.
"Baiklah aku senang berbisnis denganmu Albercio, dan satu lagi aku tidak akan merebut istrimu meski aku cukup tertarik padanya" ucap Andi sialan itu yang semakin membuat Albercio kesal.
__ADS_1
"Aishhh....kau sialan awas kau Andi Koward!" Teriak Albercio sambil hendak bangkit mengejarnya namun aku langsung menahan tangannya dengan kuat.
Untunglah saat itu aku masih sempat menahan tangan Albercio dan membuat dia tidak jadi mengejar Andi Koward, jika tidak bisa di pastikan bahwa Andi Koward akan berakhir saat itu juga, aku menahan Albercio karena mau bagaimanapun aku juga membutuhkan bantuan dari Andi Koward untuk menangani Melinda aku masih ingin menjebloskan dia ke penjara setidaknya untuk membuat dia menyesal dan menerima hukuman yang setimpal karena mengambil nyawa banyak orang selama ini.