
Albercio yang mendengar ucapan dari Arisha tadi dia memikirkan semua itu di dalam kamarnya.
"Kenapa dia bisa berpikir kalau aku menyiksanya dan tidak memberikannya pakaian padahalkan aku..., Aishh aku lupa tidak menyiapkan semua itu" ucap Albercio yang bergumam dengan dirinya sendiri.
Dia baru ingat bahwa memang tidak menyiapkan pakaian untuk Arisha sebab acara pernikahan dia saat itu sudah membuatnya pusing untuk mempersiapkan seakan semuanya harus digelar mewah dan disiarkan di televisi agar semua orang dapat mengetahui pernikahannya.
Setelah sadar Albercio kembali turun ke lantai dasar dan dia menghampiri Arisha dengan gayanya yang so cool.
"Ehkmmm... Pendek" ucap Albercio memanggil Arisha.
Arisha yang masih kesal dia tidak menengok sedikitpun dan tetap berpura pura tidak mendengarkan Albercio.
"Heh... Pendek... Apa kau dengar hah!" Bentak Albercio tepat di samping telinga Arisha yang membuat Arisha kesal,
"Aishh.... Iya iya aku dengar ada apa, mau membuatku luka lagi, atau mau membuatku kelaparan?" Ucap Arisha dengan sebal,
"Ayo ikut aku" ajak Albercio sambil menarik Arisha begitu saja.
Arisha tidak sempat berontak karena tangannya terus ditarik hingga dia masuk ke dalam mobil dan Albercio meminta Arisha agar diam.
__ADS_1
"Sudah diam, kau mau aku membelikan mu pakaiankan kita akan membelinya sekarang jadi tenanglah" ucap Albercio yang seketika berhasil membuat Arisha duduk diam di dalam mobil.
Walau begitu Arisha tetap merasa sangat kesal karena perlakuan Albercio yang selalu saja seenaknya menarik dia kemanapun.
Aku duduk dengan cemberut dan melipatkan kedua lenganku di dada dengan penuh emosi, meski duduk bersampingan dengannya aku sama sekali tidak ingin melihat wajahnya yang menyebalkan dan hanya akan membuatku naik pitam.
Awalnya aku kira dia akan membawaku berbelanja di mall atau tempat perbelanjaan yang biasa namun ternyata dia membawaku ke sebuah butik ternama yang begitu mewah dan sering di datangi para selebritis ternama, aku kagum saat melihat gedung itu dan berjejer rapih pakaian yang begitu indah dan menakjubkan, aku bahkan tidak bisa berhenti kaget membuka mulutku dan menutupnya dengan kedua tangan.
"Hey... Hey... Apa kau bercanda membawaku ke tempat seperti ini?" Ucapku bertanya sambil menarik ujung jas milik Albercio,
"Aish... Lepaskan, kau ini sangat memalukan sudah cepat pilih semua pakaian yang kau inginkan aku akan menunggumu di sana" ucap Albercio sambil menghempaskan tanganku,
Aku segera menahan lengan Albercio karena aku sendiri tidak tau harus memilih pakaian yang mana dan bagaimana habisnya di sana semuanya gaun dan rok sedangkan aku setiap hari memakai celana jeans yang murahan dan harga di sana juga pasti sangat mahal sekali, aku tidak bisa memakai pakaian seperti ini.
Albercio memegang jidatnya keras dan dia malah membentakku dan mengancam, dia justru malah menyuruh pelayan di sana untuk membawa semua pakaian di sana dan memintaku untuk mencoba semua pakaian itu satu per satu.
"Ishh... Kau ini, pelayan! Ambilkan semua pakaian yang menurutmu cocok untuk dia, dan kau pergi ke sana cobalah semua pakaian itu aku akan melihatnya di sini, paham! Kalau kau menolak lagi aku akan membuatmu tidak bisa tidur malam ini" ancam Albercio dengan wajah yang membelalak membuatku menekan saliva dengan sulit.
Terpaksa aku harus mengikuti keinginannya meski aku sangat benci berada di tempat itu, aku pergi mencoba semua pakaian yang dibawa oleh pelayan tadi dan aku harus menunjukkan semua itu padanya, sudah sepuluh kali aku berganti pakaian dan pria itu terus memintaku untuk mencoba pakaian lain sedangkan dia tidak melihatnya sama sekali hingga pakaian yang ke sebelas aku menghampirinya dan menatapnya tajam dengan penuh emosi.
__ADS_1
"Sudah cukup! aku tidak mau pakaian lagi, aku mau pulang kau bahkan tidak melihatnya sedikitpun tapi terus memintaku berganti" ucapku kesal,
"Ya sudah, bungkus semuanya" ucap Albercio dan dia memberikan kartu ATM miliknya pada pelayan tadi,
Setelah pembayaran selesai aku juga yang harus membawa semua belanjaan tadi dia sebagai seorang pria bahkan tidak ada sedikitpun rasa belas kasihan padaku yang kesulitan membawa semua tote bag berukuran besar.
"Aishh.... Benar benar sialan dia hanya ingin menyulitkan ku, arghh... Kenapa ini berat sekali" gerutuku kesal.
Sampai saat masuk ke dalam mobil tanganku sangat pegal dan pundakku terasa begitu sakit karena membawa banyak sekali barang dan harus memasukkannya ke dalam mobil seorang diri, pria sialan itu hanya sibuk memainkan ponsel dan bersiul di samping mobil, sama sekali tidak membantuku.
Dan lebih parahnya lagi bukannya pulang dia malah kembali membawaku ke sebuah toko sepatu dan aksesoris yang begitu mewah lagi lagi dia menyuruhku untuk mencoba berbagai sepatu high heels yang beragam, kakiku sampai pegal dibuatnya dan alhasil dia memborong banyak high heels itu begitu juga dengan beberapa perhiasan mewah, aku hanya melongo merasa heran dengan kesal karena pasti lagi lagi aku juga yang harus membawa belanjaan tak berguna itu seorang diri.
Aku benar benar sudah tidak kuat keringat sudah begitu banyak bercucuran di dahiku bahkan rasanya sekujur tubuhku sudah basa dengan keringat sebab membawa barang barang berat dan bolak balik memasukkannya ke dalam mobil seorang diri, aku kesal dan emosi tapi tidak bisa melampiaskannya di hadapan orang lain apalagi di tempat umum seperti itu.
Aku terus menghembuskan nafas menderu dan berusaha menahan amarah dengan sekuat tenaga, bahkan aku sengaja tak menjawab ucapan dari pria sialan itu.
"Heh... Gadis pendek, apalagi yang mau kau beli?, Apa kau mau membeli make up dan perhiasan atau tas dan apapun itulah aku akan memberikan semuanya asalkan kau jangan pernah berpikir kalau aku membuatmu menderita tinggal denganku" ucap pria sialan itu yang membuatku semakin emosi.
"Arghkkkk... Diam kau!, Dengar baik baik aku tidak butuh semua barang sialan itu, aku mau pulang dan beristirahat apa kau tidak lihat badanku penuh keringat nih lihat lihat, apa kau buta!" Bentakku dengan kesal dan sengaja memperlihatkan keringat di jidat dan punggungku yang sudah basah.
__ADS_1
"Heh... Heh... Kau ini jorok sekali, berhenti jangan dekat dekat denganku, iya iya kita akan pulang sekarang apa kau puas" ucap Albercio dan segera dia mengemudikan mobilnya menuju rumah.
Aku tersenyum senang melihat pria itu kesal karena melihat keringatku yang bercucuran biarkan saja dia merasa jijik dengan diriku, agar dia tidak mau dekat dekat dan melakukan hal lain yang bisa membuatku semakin menderita dibuatnya.