
Aku sungguh kacau kali ini dia benar-benar pria paling br*ngsek yang pernah aku temui, aku sudah selesai mandi dan hendak bangkit dari bak tapi sialnya kakiku yang terkilir sungguh terasa nyeri dan aku kesulitan untuk, bangkit sedangkan si Albercio sialan itu sudah pergi entah kemana.
"Aishh..... Albercio kemari kau, aduhh kakiku sakit sekali, bagaimana aku bisa keluar dari kamar mandi ini, ALBERCIO!" Teriakku sangat kencang dan penuh dengan emosi.
Hingga tidak lama bibi Mia datang ke kamarku dan dia segera membantuku berdiri, untunglah aku memiliki bibi Mia yang bisa datang bahkan tanpa aku harus memanggilnya, dia juga membantuku mengeringkan rambutku dan memperlakukan aku dengan sangat lembut, dari caranya merawat aku selama ini sungguh sangat mirip dengan sosok ibu kandungku sendiri.
"Bi, terimakasih sudah mau merawat dan menjagaku selama ini, aku menyayangimu bi" ucapku sambil memegang tangannya dengan erat,
"Nona jangan katakan itu lagi, karena bibi sudah sangat mengetahuinya, dan bibi juga menyayangi nona Arisha lebih besar dari rasa sayang nona pada bibi" balas bi Mia yang membuatku semakin menyayanginya.
Hingga aku selesai dengan diriku dan bibi Mia langsung pergi setelah menyelimuti tubuhku, aku langsung beristirahat dengan tenang dan hati yang terasa hangat.
Hanya dengan kebaikan dan ketulusan bibi Mia yang dia berikan kepadaku selama ini, aku bisa menjadi lebih bersyukur atas kehidupan yang tidak adil dalam hidupku, setidaknya aku bisa mengetahui masih ada beberapa orang yang perduli dan menyayangiku dengan tulus tanpa syarat apapun seperti bi Mi, bi Susan dan bi Meli.
Sampai ke esokan paginya aku sudah merasa jauh lebih baik dan Albercio datang mengetuk pintu kamarku, aku sangat malas dan kembali kesal ketika mendengar suaranya dan aku tidak menjawab teriakannya sama sekali.
"Tok....tok....tok....Arisha apa kau sudah bangun?" Teriak Albercio memanggilku dari luar,
"CK dia masih memiliki wajah untuk menemuiku rupanya" gerutuku kesal dan segera kembali berpura pura tidur kembali.
Aku tidak ingin berdebat dan menemuinya saat ini namun aku juga tahu dia akan tetap masuk ke dalam dan menemuiku meski aku menolaknya sehingga tidak ada cara lain, selain dari berpura-pura tidur untuk menghindarinya.
Saat aku berpura-pura tidur dugaanku memang benar dia tetap masuk ke dalam kamarku dan berjalan perlahan hingga duduk di tepi ranjangku.
__ADS_1
"Cepat bangun aku tahu kau tidak tidur" ucap Albercio dengan nada yang datar,
Aku menghembuskan nafas kasar dan segera bangkit terduduk karena penyamaran ku sudah terbongkar, ku tatap dia sekilas dengan ujung mataku.
"Untuk apa kau mencariku, bukankah kau harusnya pergi ke kantor?," Ucapku dengan sinis,
"Iya dan aku ingin mengajakmu" balasnya,
Aku merasa sedikit heran karena ini tidak seperti biasanya dia bahkan bisa dikatakan hampir tidak pernah mengajakku pergi ke kantornya kecuali untuk mengantarkan makan siang seperti kurir pribadi baginya.
"Tumben sekali kau mengajakku, rencana apa lagi yang kau persiapkan untukku?" Ujarku mencurigainya.
Wajar saja jika aku selalu berperasangka buruk dan mencurigai dia, karena dia memang bukan orang yang baik, entah itu pada musuh-musuhnya, saingan dia dalam dunia bisnis ataupun padaku yang jelas seorang istri baginya walaupun aku istri kontrak.
Aku sangat kesal sehingga saat itu tentu saja aku menolak untuk ikut bersamanya ke kantor, lagi pula badanku belum sembuh total dan aku masih merasa tidak bersemangat.
"Kau harus ikut baru nanti kau akan tahu" ucap Albercio memberitahuku,
"Jika aku tetap tidak ingin pergi, bagaimana?" Balasku yang masih enggan untuk ikut bersamanya,
"Apa kau yakin tidak ingin mengetahui sebuah kebenaran tentang paman dan sahabatmu Serli?" Ucapnya yang membuatku langsung mengerutkan dahi dengan banyak prasangka di dalam hatiku.
Karena dia membawa-bawa nama Serli aku langsung menyetujuinya tanpa banyak perlawanan lagi, aku segera berganti pakaian di hadapannya karena aku tahu dia juga sudah melihat semuanya saat di kamar mandi semalam, sehingga aku pikir dia tidak akan keberatan, tetapi di saat aku baru saja hendak melepaskan pakaianku dia langsung berbalik dan menutup matanya.
__ADS_1
"Heh, apa kau gila!, Kenapa berganti pakaian di depanku kau harus menunggu aku keluar dulu" ucap Albercio membentak,
"Hah....untuk apa?, Bukankah kau juga sudah melihat semuanya semalam?" Balasku dengan berani,
"Aishh....kau benar-benar stress apa kau tidak memiliki rasa malu sedikitpun, atau jangan-jangan kau juga seperti ini pada pria lain?" Ucapnya yang kembali membuka mata dan menatap tajam ke arahku,
"Apa yang kau maksud, kau menuduhku, astaga... Albercio asal kau tahu aku menikah denganmu tepat setelah aku lulus SMA dan saat itu aku kehilangan semua keluargaku aku juga tinggal di dalam rumahku selama ini, tidak pernah pergi keluar dan selalu menurutimu, bahkan semua orang yang aku temui setiap hari, itu masuk dalam daftar pantauanmu, kau pikir aku tidak tahu jika para pelayan selalu melaporkan semuanya padamu!" Bentakku membuat pembelaan.
Dia pun langsung terdiam seribu bahasa dan aku melanjutkan membuka pakaianku, tapi dia menahan tanganku dengan cepat.
"Cukup, jika kau berani tidak tahu malu di hadapanku apa itu artinya kau sudah menerima semuanya, apa kau sudah mau menjadi istri sungguhan untukku?" Tanyanya dengan raut wajah yang terlihat berbeda,
"Tidak, tentu saja tidak. Tapi mau bagaimana pun kau adalah suami sahku aku tidak akan keberatan jika kau hanya melihatnya, tapi tidak untuk menyentuh!" Ucapku dengan tegas dan langsung mendorongnya jauh-jauh.
Aku masih bisa melihat dia yang mengeratkan giginya menahan emosi lalu langsung keluar dari kamar dengan membanting pintu cukup kuat, aku hanya bisa tersenyum kecil karena berhasil menggodanya dan dia dengan mudah masuk dalam perangkapku.
"Ahaha....apa itu tadi?, Apa dia kecewa karena aku menolaknya lagi, ahaha...katanya dia tidak menyukaiku tapi tadi terlihat jelas jika dia menginginkanku menjadi istrinya, huh apa yang salah dengan pria tua itu" ucapku sambil tertawa dengan puas melihat keputusasaan Albercio.
Aku tidak akan mudah jatuh dalam rayuan Albercio ataupun semua perlakuannya entah itu perlakuan manis yang dia berikan kepadaku ataupun perlakuan kasarnya padaku, aku tetap tidak bisa menerima pernikahan yang tidak aku inginkan ini, dan aku masih tetap memiliki rasa benci kepadanya karena dia pernah bersekongkol dengan bibiku yang jahat untuk menjebak aku pada pernikahan ini.
Merampas masa mudaku, dan merampas kebahagiaanku, dan dalam sekejap aku tiba-tiba saja harus menikahi pria yang lebih dewasa dariku lalu dikurung dengan sangat lama tanpa bisa melakukan apapun, dendam yang aku miliki hanya bisa ku simpan dalam hati dan terus meluap hingga semakin besar seperti saat ini.
Maka tidak mungkin bagiku untuk menerima pria seperti dia dengan mudah, meski dia menjadi lebih lembut dan baik terhadapku, tetap saja semua itu tidak akan bisa menutupi kebenaran bahwa dia sama kejamnya dengan bibiku.
__ADS_1