Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Di ketahui Andi Koward


__ADS_3

Albercio membuka matanya lebar dia kaget bisaendengar Arisha berbicara seperti itu kepadanya dan jantungnya langsung berdetak sangat kencang hingga dia terasa meleleh di buatnya dan Albercio terus saja memegangi kepalanya dia tidak tahan ketika mendengar Arisha mengatakan hal yang manis seperti itu kepadanya di tambah dia memeluk tubuhnya saat itu.


"A..aahhh...sayang kau akan membunuhku kau membuat aku meleleh, bisakah kau katakan lagi kalimat tadi aku tidak merekamnya barusan" ucap Albercio membuat aku ingin tertawa dengan ucapannya itu.


"Tidak aku hanya akan mengatakannya sekali, lagi pula kau sudah mendengarnya bukan, jadi tidak perlu mengatakannya lagi" balasku sengaja membuatnya sedikit kesal.


Akhirnya hari itu aku bisa menahannya walaupun aku sendiri tahu meski saat ini aku berhasil menjadikan bukan berarti dia tidak akan melakukannya di lain hari, namun setidaknya aku masih bisa menghabiskan waktu dengannya saat ini dan aku tidak sendirian, karena jika aku sendirian aku tidak bisa berhenti memikirkan kejadian itu apalagi bayang-bayang mengenai tertusuknya bi Meli itu selalu terekam jelas di mataku dan kini ketika ada Albercio di sampingku aku sedikit merasa tenang.


Hingga tidak lama di siang hari ketika aku dan Albercio tengah asik menonton film di televisi bersama tiba-tiba saja dia mendapatkan panggilan dari sekretaris Ben yang memberikan kabar mengenai keadaan bi Susan di rumah sakit.


"Hallo tuan, pelayan anda bi Susan juga meninggal dunia, dokter sudah mengusahakan yang terbaik namun hasilnya tetap nihil" ucap sekretaris Ben yang mengatakannya dengan sendu.


Aku bingung melihat Albercio mengangkat panggilan dari sekretaris Ben dengan mengeratkan giginya juga mengepal ponselnya dengan kuat aku pun menanyakan hal tersebut kepadanya dan dia justru malah memelukku dengan erat.


"Albercio ada apa? Apa yang di katakan sekretaris Ben kepadamu?" Tanyaku mulai merasa cemas,


"Arisha maafkan aku, aku sungguh minta maaf" ucap Albercio tiba-tiba memelukku dan meminta maaf.


Melihat sikap dia yang tiba-tiba berubah sendu seperti itu, tentu saja perasaanku saling tidak menentu aku semakin mencemaskan segela hal saat itu dan terus mendesak Albercio agar mengatakan yang sebenarnya kepadaku karena aku juga berhak untuk mengetahuinya di saat dia hanya bisa terus memelukku dan meminta maaf tanpa aku tahu apa kesalahannya terlebih dahulu.


"Albercio kau ini kenapa? Cepat katakan kepadaku ada apa sebenarnya?" Tanyaku lagi mendesaknya.


Akhirnya Albercio melepaskan pelukannya padaku lalu dia memegangi kedua pundakku dengan lembut dan tertunduk untuk.sejenak dengan menarik nafasnya dalam hingga dia mulai berbicara menjawabku.


"Bi Susan dia... Dia meninggal dunia" jawab Albercio membuat aku seketika langsung menjadi lemas.


Aku tidak menyangka jika tuhan juga mengambil bi Susan dari sampingku, dalam waktu yang berdekatan aku kehilangan dua orang yang sangat aku cintai dan dia orang yang merawat serta melindungi aku selama ini, dia orang yang selalu membantuku dan merawat aku seperti putri mereka sendiri.


"Tidak....ini tidak mungkin, bi Susan pasti hanya sakit dia tidak meninggal Albercio!" Bentakku kepadanya.


Aku masih belum bisa mempercayai semua ini, karena semuanya masih membuat aku sangat kaget dengan kebenarannya aku tidak ingin mendengar jawaban dari Albercio lagi dan aku dengan cepat menutupi telinga dengan kedua tanganku agar tidak mendengar semua kenyataan pahit ini lagi.


"Arisha aku tahu ini sangayberat bagimu, tapi kau harus bisa menerimanya, karena semua sudah terjadi kau tidak bisa menolak apapun kali ini" ucap Albercio kepadaku,


Meski aku menutup kedua telinga dengan tanganku tetap saja aku masih bisa mendengarnya dan sudah mendengarnya dari Albercio, aku tidak bisa menghindar ataupun lari dari kenyataan semacam ini,.memang apa yang di katakan oleh Albercio ada benarnya bahkan bisa di bilang dia memang benar, aku tidak akan bisa lari dari kenyataan pahit yang mungkin saja sudah alamat takdirkan untukku.


Sekuat apapun aku berusaha menghindarinya aku akan tetap.bertemu dengan takdir itu dengan atau tidak adanya sebuah pelajaran, tapi walau begitu kabar ini masih membuat aku sedikit terpuruk dan rapuh.


"Albercio aku ingin mengantarkan bi Susan ke peristirahatan terakhirnya, aku juga ingin menemui bi Meli, tolong izinkan aku untuk pergi" ucapku memohon kepadanya dengan wajah yang sendu.


Albercio tidak tega melihat itu sehingga dia langsung mengangguk mengijinkannya dan aku langsung tersenyum kecil padanya, aku senang dia mengijinkan aku walaupun memberikan peringatan lagi padaku dan harus tetap berada di sampingnya.


"Baiklah aku akan mengijinkanmu dan aku akan ikut denganmu, kau harus selalu berada di sampingku, apa kau mengerti?" Ucap Albercio sambil mencubit kecil hidungku.


Aku segera mengangguk menjawabnya dan aku segera pergi berganti pakaian yang lebih rapih, begitu juga dengan Albercio kami segera pergi ke pemakaman karena sekretaris Ben sudah mengatakan bahwa jenazah bi Susan sudah di antarkan ke TPU yang sama dimana bi Meli di makamkan sebelumnya.

__ADS_1


Bahkan makam mereka sengaja di buat berdampingan sama seperti yang di minta oleh bi Susan dalam detik-detik terakhir dia semasa hidupnya saat di rumah sakit. Aku melihat semua proses pemakaman itu bersama Albercio dan aku tidak bisa mengeluarkan setetes air matapun ketika melihat proses pemakaman itu hingga membuat tuan Albercio sedikit khawatir.


"Sayang apa kau baik-baik saja? Jika kau ingin menangis keluarkan saja aku akan menutupi wajahmu jika kau merasa malu" ucap Albercio yang begitu perhatian kepadaku,


"Tidak papa aku baik-baik saja aku hanya ingin seperti ini, aku tidak ingin mereka bersedih diatas saja hanya karena melihat aku di sini bersedih, aku paham sekarang mereka telah mengorbankan nyawanya untuk melindungiku, maka aku harus hidup dengan bahagia" balasku kepada Albercio.


Dia langsung memelukku dan menepuk pundakku pelan beberapa kali bahkan dia mengecup keningku dan aku hanya diam saja merasakan kekuatan yang Albercio berikan kepadaku lewat perlakuannya itu.


Aku kini merasa sangat bersyukur dan aku sangat bahagia merasakan ada Albercio yang berdiri dengan tegak di sampingku, menemani aku dan melindungi aku di saat-saat rapuh seperti ini, aku bisa kuat karena keberadaannya dan aku bisa merasa lebih tenang karena sentuhan tangannya, dia memberikan banyak perubahan dalam hidupku meski pada awalnya itu sangat menyebalkan bagiku namun kini membuat aku merasa bersyukur sekali atas kehadirannya.


Setelah selesai proses pemakaman aku duduk berjongkok di samping makam bi Susan dan segera menaburkan bunga ke atas kuburannya dan aku juga memegangi batu nisannya dengan erat.


"Bi.... terimakasih kau sudah mendedikasikan masa tuamu untuk menjagaku dan Albercio, aku paham ucapanmu sebelumnya, dia memang pria yang baik hanya aku yang belum memahaminya, sekarang aku sudah memahami dia dan aku akan mencintainya sama seperti yang kau harapkan kepadaku" ucapku di depan Albercio secara langsung.


"Sudah ... Jangan menangis lagi, aku akan menjagamu kau tidak perlu merasa takut ataupun mencemaskan apapun, bi Susan juga pasti akan senang jika dia melihatmu bahagia di dunia ini jadi berhentilah bersedih" ujar Albercio sambil mengusap rambutku dengan lembut.


Aku mengangguk mengerti dan dia segera mengajak aku pergi dari tempat itu, kami pulang kembali ke rumah dan aku beristirahat lebih awal malam ini, aku ingin melupakan semua rasa sakit di dalam hatiku dengan tertidur dan bangun di ke esokan paginya dengan diriku yang baru lagi.


Sedangkan disisi lain Melinda saat ini tengah marah besar karena semua rencana yang sudah dia buat dan sudah dia persiapkan sejak lama telah gagal bahkan dia sudah membuang banyak uang untuk terus mengikuti Arisha setiap kali dia pergi keluar dari kedian Albercio itu, namun disaat dia sudah mendapatkan kesempatan dia justru tidak berhasil melenyapkan Arisha dan dia tetap merasa tidak puas dengan hasil kerja anak buahnya itu.


Di dalam ruangan pribadinya dia mulai marah dan menghancurkan semua barang milik dirinya yang berjajar rapih di atas meja bahkan dia juga menghancurkan semua alat make up yang selama ini dia koleksi dan dia jaga dengan baik.


"Aaarrkkhh...sialan! Kalian semua memang tidak becus!" Bentak Melinda kepada anak buahnya yang masih tersisa dan berhasil kabur.


"Pergi kalian dari ruanganku!" Bentak Melinda sangat keras.


"Hey ada apa denganmu, apa yang kau lakukan hingga nenek sihir itu mengamuk seperti orang gila?" Tanya Andi kepada pria tersebut.


Sayangnya pria itu tidak menjawab pertanyaan Andi dan dia justru malah menunduk seperti ketakutan di saat Andi menanyakannya kepada dia.


Sehingga itu justru semakin membuat Andi Koward curiga karena gerak geriknya sangatlah mencurigakan dan tidak seperti biasanya di tambah akhir-akhir ini Andi juga sering sekali melihat Melinda keluar dari rumah, karena biasanya dia tidak pernah keluar dari rumah jika tidak ada kepentingan atau bahkan dia justru berlibur ke tempat wisata yang mahal.dan mewah.


Tapi belakangan ini Andi merasa Melinda seperti sibuk selalu dan terus keluar masuk rumahnya itu bersama dengan para anak buahnya yang aneh-aneh.


"Heh... Kenapa kau diam saja, ayo ikut aku!" Ucap Andi menatap pria itu dengan tatapan sangat tajam.


Sehingga pria itu mau tidak mau dia mengikuti Andi Kowar dan masuk ke dalam ruangannya, disana Andi langsung mengintrogasi pria itu dengan caranya sendiri.


"Duduk, dan katakan padaku apa yang kau lakukan belakangan ini dengan Melinda? Apa kau berselingkuh dengannya?" Ucap Andi sengaja menjebak,


"Ah.... Tidak tuan saya tidak melakukan itu saya tidak berani melakukannya bahkan untuk memikirkannya pun saya tidak pernah tuan" ucap pria itu langsung terlihat ketakutan.


"CK... Aku sudah tahu itu tidak mungkin, aku hanya menjebak mu dasar bodoh!" Gumam Andi di dalam hatinya.


Dia pun mulai berjalan mendekati pria itu dengan wajah yang mengancam hingga pria itu semakin menunduk takut.

__ADS_1


"Lalu.... Jika bukan karena hal itu? Apa yang kau lakukan dengannya apa kau melakukan kejahatan lain atas perintahnya?" Tanya Andi lagi tepat di depan pria itu yang masih tertunduk takut.


"Tu..tuan muda, saya akan menjelaskan semuanya kepada Anda, meski saya tahu ini adalah pelanggaran kontrak diantara saya dan nyonya Melinda, tapi saya akan tetap mengatakannya kepada anda karena bentuk kesetiaan saya pada keluarga Koward" balas pria itu yang seketika berani mengangkat kepalanya.


"HM...bagus itu yang aku mau sejak tadi, ayo katakanlah" ucap Andi mempersilahkan sambil menaikkan kedua alisnya.


Dia sendiri juga tidak menduga bahwa itu bisa sangat mudah dan cepat untuk menyakiti seorang bodyguard dan anak buah suruhan sepertinya, awalnya Andi pikir dia akan sedikit sulit untuk membuat dia mengatakannya, namun ternyata itu justru sangat mudah bahkan tanpa dia harus mendesaknya lebih dalam lagi.


Pria itu pun mulai mengatakannya dengan perlahan dan sedikit gugup pada awalnya.


"Se...SE.. sebenarnya saya diminta untuk..... Memb*nuh seseorang" ucap pria itu yang langsung menyulut emosi Andi.


Mendengar itu walau hanya sedikit kata saja yang baru di keluarkan oleh pria tersebut Andi langsung marah besar karena memb*nuh adalah perbuatan kriminal, dia langsung mencengkram kerah pakaian pria itu dengan kuat bahkan hampir mencekiknya.


"A...a..aaahh....tu..tuan...maafkan saya..sa..saya sudah menolaknya tapi dia mengancam akan mencelakai istri saya" balas pria itu yang akhirnya membuat Andi segera melepaskannya.


Dia berusaha menahan diri dan emosi dalam dirinya sendiri agar bisa terus mendengarkan penjelasan dari pria itu dan dia tidak lupa merekam semuanya sejak awal mereka masuk ke dalam ruangan itu.


"Lanjutkan penjelasanmu aku akan mendengarkannya" ucap Andi sambil melepaskan pria itu,


"I..ini tuan muda... Wanita ini yang dia minta saya dan tiga rekan lainnya untuk mencelakainya" tambah pria itu memberikan sebuah foto kepada Andi.


Dan dengan cepat Andi mengambil foto itu lalu dia melihat ternyata itu adalah foto seorang wanita yang tidak asing baginya.


"Wanita ini? Kenapa aku merasa wajahnya tidak asing bagiku? Apa aku pernah bertemu dengannya?" Gumam tuan Andi memikirkan,


Karena dia saat ini harus berfokus pada anak buahnya yang sudah di salah gunakan oleh Melinda dia pun menyimpan dahulu foto itu ke dalam saku celananya dan dia kembali mengintrogasi pria itu lagi.


"Lalu apa kau berhasil melakukan perintahnya atau tidak?" Tanya Andi dengan sangat penasaran,


"Untungnya kami gagal namun aku tidak sengaja menusuk pelayannya hingga dia meninggal dan disusul dengan pelayan yang lain dia juga baru saja meninggal karena menerima banyak p*kulan dari rekan saya, bahkan ketiga teman saya itu berhasil di tangkap oleh keluarga Albercio, dan hanya saya yang berhasil lolos" ujar pria itu menjelaskan.


Mendengar nama Albercio, Andi Koward langsung membelalakkan matanya sangat lebar, dia jelas sangat mengetahui siapa itu Albercio dan hanya ada satu orang kota ini yang bernama Albercio, yang tak lain adalah tuan Albercio penguasa bisnis di terbesar yang terkenal di seluruh negara.


Andi sudah sangat cemas dengan keadaan keluarganya sebab Melinda sudah berani-beraninya menyinggung seorang tuan Albercio.


"Kenapa kau berani melakukan tugas darinya? Kau tahu siapa itu Albercio hah!" Bentak Andi tidak bisa menahan emosinya lagi,


"Maafkan saya tuan saya dan yang lainnya hanya terdesak karena nyonya Melinda mengancam kami" balas pria itu sambil bersujud di bawah kaki Andi Koward,


Andi langsung menendang pria itu sebab apapun yang dia lakukan saat ini sudah tidak berguna lagi, kelakuan Melinda yang mencoba menyinggung seorang Albercio adalah kesalahan besar dan Andi sebagai pewaris keluarga Koward tentu saja tidak akan membiarkan nama keluarganya hancur oleh seorang wanita murahan sepertinya, Andi langsung menyuruh pria itu untuk pergi menyerahkan diri pada Albercio karena dia adalah dalang dari segalanya dan meminta pria itu untuk mengakui semuanya kepada Albercio tanpa membawa nama keluarga Koward karena itu akan berbahaya bagi bisnis mereka dan keberlangsungan seluruh keluarga Koward di masa depan nanti.


Untungnya pria itu menurut dan dia sendiri memang sudah akan melakukan hal itu sehingga itulah yang membuat Melinda marah besar dan mengamuk karena rencananya tidak berhasil dan ketiga anak buahnya justru malah tertangkap oleh anak buah keluarga Albercio.


Melinda memang jahat dan licik namun dia sama sekali tidak mengetahui dengan benar sekuat dan sekaya apa seorang tuan Albercio sebenarnya, yang dia kira bahwa keluarga Koward adalah tandingan yang kuat untuk melawan Albercio padahal di kenyataannya dia telah melakukan hal dan pemikiran yang salah tentang hal itu.

__ADS_1


Sebab keluarga Koward tidak ada apa-apanya bagi Albercio, bahkan jika ingin Albercio bisa langsung membumi hanguskan seluruh kekayaan keluarga Koward, namun untuk saat ini Albercio sengaja tidak melakukannya sebab dia tahu ini tidak ada sangkutan dengan keluarga Koward namun seseorang yang ada disanalah yang menjadi penyebabnya.


Bahkan secara khusus sebenarnya Albercio sudah membuat jadwal untuk menemui tuan Koward beserta pewarisnya untuk membicarakan bisnis mereka juga menyinggung mereka mengenai kejadian itu.


__ADS_2