Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Pindah


__ADS_3

Perasaan ku sudah merasa tidak enak sejak pertama dia membawaku masuk ke lantai kumuh tersebut dan berjalan menyusuri lorong apartemen yang terlihat terbengkalai dan hanya ada beberapa pintu yang memiliki penghuni sepertinya, aku juga tidak terlalu memperhatikan sekitar ketika berjalan tadi, perlahan aku ikut masuk ke dalam apartemen tersebut dan berusaha menelan salivaku dengan susah payah.


Dan aku sudah mempersiapkan mental ku untuk mendapatkan kenyataan paling buruk mengenai tempat itu dan rupanya saat aku sudah berada di dalam semuanya membuatku sangat lemas tak berdaya, semua ekspektasi yang aku bayangkan hancur sudah ketika melihat betapa berantakannya apartemen tersebut dan sudah banyak sekali debu di sana.


Peralatan yang tersedia juga tidak banyak dan nampak seperti sudah cukup tua, bahkan saking berdebunya apartemen tersebut aku sampai tidak bisa menahan bersin beberapa kali sambil menggosok hidungku yang terasa gatal.


"Ha...ha..ha..hachim....hachim....hachim.." suaraku yang bersin berturut turut.


Hidungku rasanya langsung berlari dan Albercio tiba tiba saja memberiku sebuah masker untuk menutupi hidungku, aku pun segera menggunakannya tanpa basa basi lagi.


Aku ingin mengeluh dengan keadaan tempat itu yang begitu kotor dan terbengkalai namun aku tidak bisa melakukannya karena rasanya sudah di berikan tempat tinggal saja itu sudah jauh lebih baik daripada dia membiarkanku pergi begitu saja terluntang lantung di jalanan tanpa tujuan yang jelas dan tidak memiliki tempat untuk beristirahat.


Aku pergi mengelilingi apartemen tersebut dan memeriksa semua ruangan yang ada di sana, hanya ada satu kamar dan kamar mandi yang ada di luar juga ruangan tengah yang hampir menyatu dengan dapur.


Tidak menampik aku juga sempat menggerutu kecil karena melihat apartemen tersebut yang cukup kecil dan sangat sederhana.


"Hah, dia orang kaya raya dan milioner di negeri ini tapi bisa bisanya memberikan istrinya tempat tinggal seperti ini, huh benar benar pelit" gerutuku kecil.


Aku tidak sadar kalau di sampingku masih ada Albercio dan kemungkinan dia mendengar gerutuanku barusan tapi dia hanya menatapku sekilas dan aku tidak bisa melakukan apapun karena cukup kaget.


"Astaga...apa dia mendengar gerutuanku barusan?" Gumamku memikirkan.


Setelah melihat lihat semua bagian ruangan apartemen tersebut kami berdua pun kembali ke luar dan tidak terlalu berlama lama di dalam sana karena banyak sekali debu yang akan mengancam kesehatanku dan dirinya.

__ADS_1


Saat sudah berada di luar Albercio tiba tiba saja menawarkanku untuk tinggal di hotel secara tiba tiba.


"Jika kau tidak menyukai tempat ini, kau bisa tinggal di hotel atau tempat lain yang kau pilih sendiri" ucap Albercio menawarkan,


Dengan caranya menawarkan aku semakin yakin bahwa dia pasti mendengarkan gerutuanku yang mengeluh soal apartemen tersebut saat di dalam tadi.


Bagaimana lagi tentu saja aku tidak mungkin menolak apartemen ini, mungkin jika aku memilih tempat lain untuk tinggal aku akan membayar dia lebih mahal lagi, yang aku inginkan juga hanya rumahku yang dulu, tempat di mana semua kenangan ku sejak kecil berada bukan tempat lainnya.


Aku pun segera menolak tawarannya itu dan memutuskan untuk memilih tinggal di apartemen itu saja.


"Tidak...kok aku suka tempat ini, tempatnya dekat dengan pusat kota dan tidak banyak tetangga lalu apartemennya langsung menghadap ke depan aku menyukainya hehe terimakasih" balasku beralasan padahal jelas jelas aku tidak menyukainya sedikitpun.


Albercio pun mengangguk dan dia dia menelpon seseorang sepertinya menyuruh beberapa orang untuk datang ke tempat itu.


Dia juga tidak mengatakan apapun lagi setelah itu dan aku hanya bisa menghembuskan nafas lesu lalu kembali masuk ke dalam apartemen berdebu itu dan segera membereskan tempat tersebut sedikit demi sedikit sembari menunggu bibi Mia tiba di sini.


Aku benar benar mengerahkan seluruh kekuatan dan energiku untuk membersihkan tempat tersebut hingga tak lama bibi Mia datang ke sana bersama beberapa pelayan lain dan juga seorang wanita yang tinggi dan memiliki body bak model internasional dia juga berpakaian sangat rapih sambil memegang sebuah tablet di lengannya, rambutnya yang di kuncir tinggi dan dia masuk ke dalam dengan langkah jenjang menghampiriku, membuat aku sedikit kebingungan sendiri.


"Si..siapa kau?" Tanyaku pada perempuan tersebut,


"Perkenalkan nyonya, saya adalah Katy sekretaris tuan Albercio, tuan menugaskan saya untuk memerintahkan beberapa pelayan membantu anda merapihkan tempat ini dan sebaiknya anda menunggu di luar saja biarkan bibi Mia dan pelayan lain yang membersihkannya, marinanda ikut saya" ucap wanita itu membuatku semakin kebingungan, kaget dan tak menentu.


Aku berusaha bertanya kepada bibi Mia tentang apa maksud semua ini namun bibi Mia justru malah ikut mendorongku ke luar lalu dia segera memerintahkan para pelayan untuk mengerjakan pekerjaan yang sudah di bagi bagi olehnya, sedangkan aku berdiri di luar bersama wanita berpakaian serba hitam dan memakai kacamata hitam itu dengan canggung.

__ADS_1


Sampai wanita itu menyuruhku untuk mengikutinya dan aku bahkan tidak memiliki kesempatan untuk bertanya karena perempuan itu langsung berjalan begitu saja setelah menyuruhku mengikutinya.


"Nyonya mari ikut saya" ucap perempuan itu dengan formal,


"Eh ..kita mau ke ...." Ucapku tertahan karena melihat perempuan itu sudah berjalan lebih dulu ke depan.


Aku pun berlari kecil menyusulnya dan kamu masuk ke dalam lift bersamaan, aku tidak tahu lagi bagaimana sikap sekretaris itu yang bisa bisanya mengajakku untuk mengikutinya sedangkan dia sendiri malah meninggalkanku.


Di dalam lift aku sudah cukup kesal dan dia terus membawaku untuk masuk ke dalam mobilnya aku ingin menolak tetap suka formal wanita itu membuatku tidak bisa menolaknya dia cukup elegan dan menakutkan bagiku, awalnya aku kira dia akan berbuat jahat denganku namun rupanya dia justru malah membawaku ke sebuah cafe yang tak jauh dari tempat apartemenku.


"Ehh, kenapa kau membawaku ke cafe?" Tanyaku padanya dengan heran dan mengerutkan kedua alisku,


"Silahkan masuk dulu nyonya dan anda bisa memesan apapun yang anda inginkan, kita akan berada di sini sampai apartemen tempat tinggalku sudah selesai di bersihkan" balas sekretaris Katy itu,


"HAH?" Ucapku sangat kaget dengan wajah yang terperangah dan mata yang membuka lebar.


Aku benar benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Albercio sialan itu, dia benar benar sulit di tebak, sekejap pemarah dan menyebalkan, namun sekejap juga bisa menjadi sangat kejam atau menjadi baik dan lembut.


Aku bahkan sekarang mulai ragu dengan kejiwaannya, dan saat aku kaget mengetahui hal itu tentu saja aku menolak untuk masuk ke dalam cafe tersebut karena aku juga ingin membantu bibi Mia membereskan tempat tinggalku sendiri aku tidak mau merepotkan banyak orang lagi.


"Sekretaris Kety bisakah kita kembali saja saya tidak lapar dan tidak ingin makan apapun, saya hanya ingin membantu pelayan lain untuk membersihkan tempat itu" balasku menolak dengan halus,


"Tidak bisa nyonya jika saya membawa anda kembali ke sana jabatan saya bisa diturunkan oleh tuan Albercio bahkan mungkin gajih saya juga akan mendapatkan imbasnya" kata sekretaris Katy yang membuatku tak bisa menolak lagi,

__ADS_1


Aku lagi lagi hanya bisa menurutinya dan segera masuk ke dalam cafe tersebut sambil menunduk lesu dan duduk di meja paling pojok lalu menempelkan kepalaku ke atas meja tanpa semangat sedikitpun.


__ADS_2