Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Ternyata Serli?


__ADS_3

Aku segera bergegas menemui dia yang ternyata sudah menungguku di luar tepat di samping mobilnya yang sudah siap dan disana juga ada sekretaris Ben, aku segera berjalan menghampirinya dan kami segera berangkat menuju kantor Albercio.


Selama perjalanan tidak ada percakapan diantara kami dan aku hanya menatap keluar dengan perasaan tidak menentu, sejujurnya aku sudah merasa cemas sejak Albercio mengatakan bahwa semua ini ada sangkutannya dengan paman juga sahabatku Serli, aku sangat mencemaskan mereka karena mau bagaimanapun mereka adalah orang yang pernah baik kepadaku sebelumnya.


Aku juga sudah menyusun rencana untuk melepaskan pamanku dari genggaman Melinda yang buta akan harta tersebut, aku tidak bisa membiarkan pamanku terus dirawat oleh orang sepertiny, aku juga mencurigai dia bahwa dia yang menyebabkan paman hingga perlu di rawat seperti itu.


"Paman tunggu aku, aku akan menolongmu" ucapku dalam hati.


Ketika sudah sampai di kantor Albercio langsung membawaku ke dalam ruangannya dan sekretaris Ken menutup semua bagian di ruangan itu dengan rapat lalu dia berpamitan keluar setelah semuanya tertutup rapat.


"Albercio apa yang sekretaris Ban lakukan kenapa dia menutup semua tingkapnya?" Tanyaku dengan heran,


"Ini adalah rahasia besar aku hanya ingin kau yang mengetahuinya dan menjaga agar tidak ada seorang pun yang bisa menyusup atau berusaha mendengar percakapan kita ini" balas Albercio sambil duduk di depan meja kerjanya dengan santai.


Dia terlihat serius sebelumnya namun sekarang langsung saja bersikap santai seperti ini, semua tingkahnya hari ini sungguh membuatku sangat bingung dan heran, aku juga menjadi sangat penasaran dengan informasi apa yang akan dia berikan kepadaku.


Hingga tiba-tiba saja dia memintaku untuk mendekatinya.


"Arisha sedang apa kau masih berdiri disana, ayo kemari dan lihatlah ini" ucap Albercio kepadaku.


Aku menaikkan kedua alisku dan segera menghampiri dia, Albercio mulai memutar sebuah video di laptopnya dimana di dalam rekaman video tersebut terlihat ada Kak Anton juga Serli yang tengah duduk di sebuah bar luar negeri, aku masih tidak mengerti mengapa Albercio mau memperlihatkan hal semacam ini kepadaku.

__ADS_1


"Eh, apa apaan kau ini, kau menguntit mereka yah?" Ucapku sedikit kesal,


"Tidak tapi sekretar Katy yang tidak sengaja melihatnya di bar, karena dia pikir ini penting sebab Serli sahabatmu dia berniat untuk menemuinya tetapi yang dia dapatkan adalah hal semacam ini, kau jangan terlalu awal untuk kesal dan marah, lihatlah videonya sampai akhir" ucap Albercio menjelaskan.


Aku pun mengangguk patuh karena aku juga masih ingin mengetahui semua video di laptopnya dengan lengkap agar tidak terjadi kesalah pahaman.


Sialnya disaat aku tengah menontonnya dengan serius, tiba-tiba saja Albercio langsung menarik pinggangku dan dia mengangkat aku lalu menundudukan aku di pangkuannya, dia juga memeluk pinggangku dari belakang dan itu sangat erat sampai membuatku sedikit tidak nyaman dengan perlakuannya tersebut.


"Aaah....kau....kau, lepaskan aku...apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah mengangkat tubuhku, dan ini apa apaan ini lepaskan tanganmu dari pinggangku!" Bentakku dengan keras dan berusaha melepaskan pelukan tangannya di pinggangku.


Bukannya langsung melepaskan pegangannya itu dia justru malah semakin mempererat pelukannya dan dia terus memelukku dengan kuat bahkan dia malah lebih berani menyentuhku dengan menaruh kepalanya di pundakku.


"Diam dan tontonlah rekamannya dengan seksama, jangan hiraukan aku cepat lihat ke sana, ayo" ucapnya Albercio dengan lembut.


Entah kenapa aku merasa dia seperti bukan Albercio yang aku kenal selama ini, dia sangat lembut dan pelukannya terasa hangat di tubuhku, aku juga merasa aman ketika berada di dekatnya seperti ini, sehingga aku berhenti berontak.


Dan kembali melihat ke layar laptop di depanku, hingga disana mulai menampakkan Melinda yang datang menghampiri Serli dan memberikan sebuah amplop besar berisi uang yang banyak dan mereka membicarakan tentangku.


"Ini Serli kau adalah anak angkatku yang baik, tidak sia-sia aku mengangkatmu menjadi anak, ini imbalan karena kau sudah meninggalkan Arisha saat itu, terimakasih Serli berkat kau aku berhasil menjualnya pada Albercio yang kejam dan tidak berhati, kau tahu sekarang dia pasti sudah dijadikan pembantu di kediaman Albercio, aku bahkan tidak pernah melihatnya lagi, mungkin dia juga sudah mati diatas ranjang sebagai gadis murahan, ahahaha" ucap Melinda dengan puas,


"Kau benar nyonya Melinda dan kau lebih kejam daripada aku, tapi aku tidak perduli selama ini aku juga hanya memanfaatkan dia dan dia begitu polos serta naif karena masih mempercayai aku disaat sudah mengetahui kebusukanmu, padahal yang membantumu melarikan diri adalah aku juga hahaha....dia pantas mendapatkan semua penderitaan itu" balas Serli yang membuatku langsung bergetar hebat.

__ADS_1


Aku mengeratkan gigiku dengan kuat dan berusaha menahan air mata agar tidak turun dari pelupuk mataku, namun sayangnya semua itu tetap tidak berhasil, air mata tetap tumpah meski aku tidak mengijinkannya untuk turun.


"Serli...kenapa, kenapa harus dia yang menjebakku, aku pikir paman yang jahat kepadaku selama ini, ternyata orang yang paling aku kira baik adalah orang yang sebenarnya sangat jahat" ucapku merasa sangat sakit dan terasa begitu sesak di dada.


Albercio menyentuh wajahku dan dia menyuruhku untuk menatapnya.


"Hey ..hey ...Arisha ayolah lihat aku baik-baik, kau tidak sepenuhnya menderita, kau tidak seperti yang mereka katakan, aku tidak menyiksamu dan aku juga tidak melakukan hal buruk kepadamu, kenapa kau harus menangis seperti ini?" Ucap Albercio dengan menghapus air mataku menggunakan tangannya.


Aku menahan tangan Albercio yang menyentuh pipiku dan aku langsung berterimakasih kepadanya karena sudah memperlihatkan semua kebenaran ini kepadaku.


"Albercio terimakasih karena kau sudah memperlihatkan semua ini padaku" ucapku dengan menatapnya begitu lekat.


Dan aku langsung menciumnya sekilas, aku memberikan ciuman itu kepadanya sebagai rasa terimakasihku atas apa yang dia berikan kepada aku selama ini, aku paham apa yang dia katakan memang benar, meskipun aku di perangkap oleh bibi dan sahabatku sendiri untuk kesenangan mereka kepada Albercio, tetapi Albercio juga telah memperlakukan aku dengan baik.


Dia tetap menghargai ku selama ini dan memperlakukan aku sebagai istri yang sungguhan olehnya, meski terkadang dia menyebalkan namun aku tahu dia tidak sekejam yang orang lain lihat, setelah di pikirkan lagi dia baik kepadaku dan dia memberikan ketulusannya kepadaku.


Sedangkan Albercio yang mendapatkan kecupan itu dari Arisha secara tiba-tiba, dia langsung menatap terperangah dan dia langsung melepaskan pelukannya pada Arisha dia memegangi bibir tersebut dengan kedua tangannya, dia kaget dan tidak menyangka bahwa barusan dia mendapatkan ciuman dari Arisha tanpa dia harus memaksanya.


Melihat Albercio yang tersipu seperti itu, aku langsung saja melarikan diri dan bangkit menjauh darinya, aku tidak pernah berpikir hanya dengan memberikan dia ciuman sekilas seperti itu justru malah membuat dia tidak berkutik dan terus diam mematung tidak jelas.


"Hey, Albercio..... Albercio apa kau baik-baik saja?" Tanyaku karena merasa aneh dia terus terdiam tanpa bergerak sedikitpun.

__ADS_1


__ADS_2