Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Membuat Pudding


__ADS_3

Meski sedikit gugup tapi Albercio menenangkan aku dengan mengangguk dan melemparkan senyumannya kepadaku, aku pun segera menyapanya seorang wanita di dalam panggilan video tersebut, awalnya aku pikir wanita itu terlihat begitu kejam dan sangat sinis aku takut dia tidak akan menyukaiku sehingga aku terasa tidak berani dan malu saat menyapanya.


"Ha.a..hai...tante, aku Arisha senang bisa melihatmu" ucapku mulai menyapanya dengan tersenyum sebisaku.


"Waahhh....kamu cantik sekali.... Albercio darimana kau bisa menemukan bidadari seperti ini?, Huaaa dia sangat menggemaskan aku ingin mencubit pipinya itu" ucap nyonya Kirana begitu antusias saat pertama kali mendengar dan melihat seorang Arisha.


Aku bahkan sangat kaget dan tidak menyangka ternyata ibundanya Albercio sama sekali tidak kejam dan dia begitu bersahaja meski pada awalnya wajah dia terlihat begitu sinis dan jutek namun saat berbicara dia begitu ceria seperti matahari yang teras bahkan dia terus memujiku dan menyamakan diriku dengan dirinya ketika masih muda padahal aku lihat dia memang masih muda.


"Waahh...Arisha kapan kamu mau kemari?, Jika kamu tidak menemui mertuamu juga maka aku sendiri yang akan kesana menemuimu hehe" ucap nyonya Kirana begitu antusias.


Mendengar itu aku bingung harus menjawabnya seperti apa dan aku langsung menatap kepada Albercio sehingga Albercio langsung berbicara kepada ibunya.


"Tenang saja Bu biar kami yang pergi menemuimu kesana tapi tidak sekarang, karena saat ini aku masih memiliki banyak pekerjaan disini setelah kau menahanku disana kemarin" ucap Albercio kepada ibunya,


"Huuh ya sudah jika begitu, tapi jika di lihat lihat Arisha sangat cantik mirip seperti aku ketika masih muda iya kan Albercio" ucap nyonya Kirana kepada Albercio,


"Tante kamu lebih cantik dariku, mungkin aku hanya cantik karena dilihat dari layar ponsel tapi aku yakin kau sangat cantik pada aslinya" ucapku mengatakan yang sebenarnya.


Aku tidak menyangka ibunya Albercio bisa sampai menangis terharu hanya karena aku memujinya seperti itu bahkan aku sendiri tidak merasa bahwa perkataan ku tadi bukanlah sebuah pujian sebab aku mengatakannya secara kebetulan dan sesuai dengan apa yang aku lihat.


"Hiks...hiks...hiks.... Albercio dia memujiku dia orang pertama yang memujiku dengan sangat jujur dan apa adanya seperti itu huaaa aku ingin menangis" ucap nyonya Kirana berlebihan.


Aku panik dan tidak tahu mengapa dia bisa sampai menangis seperti itu.

__ADS_1


"Ehh....eh....Tante ada apa denganmu, apa perkataan ku salah maaf jika itu menyakiti hatimu" ucapku refleks meminta maaf.


Bukannya berhenti dia justru semakin menangis lebih kencang dan Albercio hanya menepuk jidatnya pelan karena dia sudah pusing dan tidak mengerti dengan apa yang tengah terjadi saat ini.


"Arisha....kamu tidak perlu meminta maaf kamu terlalu baik untuk anakku yang kurang ajar ini, huaaa aku menangis karena aku sangat senang akhirnya putraku satu satunya ini bisa menikah dan mendapatkan gadis muda yang cantik serta baik hati sepertimu huaaa aku sangat senang tidak sabar rasanya untuk bertemu denganmu gadis manis" balas nyonya Kirana begitu senang.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum karena ternyata dia menangis terharu sebab merasa sangat senang bukan meresa sedih atau karena tidak menyukaiku, hampir saja aku berperasangka buruk tentangnya, ternyata ibunya Albercio adalah orang yang ramah dan baik sangat berbeda sekali dengan putranya yang lebih mirip seperti robot tanpa hati.


Saat itu saja dia bahkan tiba-tiba mematikan panggilan video dengan ibunya dan langsung mematikan ponselnya begitu saja.


"Ehh... Albercio apa yang kau lakukan kenapa kau mematikan panggilannya seperti itu?" Bentakku bertanya kepadanya dengan sedikit kesal,


"Terserah. Dia ibuku aku lebih memiliki wewenang untuk melakukan apapun kau tidak perlu berbicara dengannya lagi" ucap Albercio kepadaku dan dia segera pergi meninggalkan aku begitu saja.


"Selamat datang kembali nona Arisha, senang melihatmu bisa kembali lagi ke rumah ini" ucap bibi Mia menyambutku.


Aku sangat senang bisa bertemu bibi Mia lagi dan aku langsung memeluknya untuk melepaskan rasa rinduku kepadanya, dia benar-benar sudah aku anggap sama seperti ibuku sendiri karena selama ini dia yang selalu merawatku dan menjagaku selama aku tinggal di kediaman Albercio.


"Aaa..bibi aku juga merindukanmu, bi lihatlah aku menjadi kurus karena tidak makan makanan buatanmu" ucapku sambil memeluk bibi Mia.


Sebenarnya aku hanya beralasan mengatakan aku menjadi kurus karena saat itu aku lapar tapi aku tahu ini masih sore dan waktu makan siang sudah lewat sedangkan waktu makan malam belum tiba dan aku sudah merasa lapar siapa lagi yang akan memberikan aku makanan di waktu seperti ini selain bibi Mia tersayangku.


Dan dia juga sudah mengerti bahwa itu adalah sebuah kode kelaparan dariku.

__ADS_1


"Ya ampun nona ayo...kita membuat puding kesukaanmu" ucap bibi Mia mengajakku.


Tentu saja aku sangat senang dan segera pergi bersama bibi Mia berjalan ke dapur lalu mulai membuat puding yang sering bibi Mia buatkan untukku sebelumnya, dia juga mengajarkan kepadaku bagaimana cara membuatnya.


"Nona...pakai ini saja untuk membuat pudding nya terasa lebih lembut dan enak" ucap bibi Mia dan aku hanya mengangguk patuh saja.


Hingga akhirnya tidak lama pudding pun sudah jadi aku sudah tidak sabar untuk segera mencicipinya dan bibi Mia segera membawanya ke depan lalu menaruhnya diatas meja makan dan saat aku hendak mencicipinya bibi Susan dan bi Meli baru saja tiba di rumah aku langsung mengajak mereka untuk menikmati pudding itu bersamaku karena aku tahu mereka pasti lelah setelah membereskan apartemen yang aku tinggali sebelumnya.


"Ehh...bi Susan, bi Meli kemarilah ayo bergabung denganku dan bibi Mia, kita akan menikmati pudding buah yang segar ini, ini pasti sangat cocok untuk kalian yang sudah lelah bekerja, ayo...ayo...kemari BI" ucapku mengajak mereka untuk menikmatinya bersama.


Bibi Susan dan bi Meli nampak ragu-ragu dan aku merasa heran hingga akhirnya mereka berjalan menghampiriku.


"Maafkan saya nona Arisha saya tidak diizinkan untuk menikmati ataupun duduk di tempat yang sama dengan majikan kami termasuk nona Arisha sendiri, dan setelah nona Arisha kembali ke rumah ini kami juga akan di berhentikan oleh tuan besar sebab kami gagal menjaga nona Arisha sebelumnya" ucap bibi Susan kepadaku.


Aku kaget bukan main dan tidak menyangka perbuatanku yang kabur di apartemen hanya untuk berjalan-jalan saja bisa berdampak sebesar ini kepada pelayan seperti mereka hingga mereka harus kehilangan pekerjaannya, aku tidak terima dengan hal itu dan langsung bangkit berdiri dengan kesal.


"Apa?, Bi aku menyayangi kalian karena selama aku di apartemen kalian lah yang menemaniku dan selalu membantuku, aku tidak ingin kalian pergi, tenang saja karena semua ini terjadi akibat perbuatanku aku akan bertanggung jawab aku akan bicara pada Albercio, tunggulah disini untukku bi" ucapku sambil memegang lengan bi Susan dan bi Meli.


"Nona ini bukan kesalahanmu, biarkan saja bibi tidak papa jika harus kehilangan pekerjaan ini" ucap bi Meli menahanku,


"Tidak bi, sudah tunggu saja disini aku bisa menyelesaikannya sendiri, yakinlah denganku" ucapku tetap pergi dengan semua kekesalan di hati.


Aku segera pergi mencari Albercio ke kamarnya dan terus mengetuk pintunya dengan keras, aku sudah berteriak dan mengetuk pintu kamarnya berkali-kali tapi dia tidak juga membukakan pintunya untukku sehingga aku memutuskan untuk langsung menerobos masuk dengan cepat.

__ADS_1


"Brakkk..... Albercio!" Suara pintu yang aku buka dengan kuat dan langsung berteriak memanggilnya dengan keras.


__ADS_2