Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Pakaian yang seksi


__ADS_3

Terpaksa aku harus menuruti kemauannya dan aku sungguh merasa sangat benci untuk melakukan hal sememalukan ini.


Namun sungguh tidak ada cara lain lagi, supaya aku bisa segera keluar dari kamar mandi dan bisa mendapatkan handuk itu untukku jika tidak aku tidak mungkin terus berada di dalam kamar mandi tanpa busana dalam waktu yang lama, apalagi jika harus keluar begitu saja itu justru akan lebih memalukan untukku.


Sehingga aku pun memilih untuk menuruti keinginan dari Albercio untuk memohon kepadanya dan mengatakan kata sayang padanya.


"Albercio sayang.... Aku mohon tolong ambilkan handuk dan pakaianku" ucapku dengan mengepalkan kedua tanganku menahan emosi.


"Aishh.... Ini sangat menyebalkan, Albercio cepat kau berikan aku handuknya!" Bentakku sangat keras.


Disisi lain Albercio justru cekikikan menahan tawa mendengar Arisha berbicara dengan lembut dan menyebut dia dengan panggilan sayang semerdu tadi dan diam-diam dia juga merekam suara Arisha barusan dan menyimpannya di ponsel.


Kemudian barulah dia mengambil handuk dan pakaian Arisha di dalam koper, namun karena saat membukanya Albercio bingung pakaian mana yang harus dia ambil sehingga dia mengambilnya seenaknya dan langsung memberikan semua itu lewat pintu yang di bukakan sedikit oleh Arisha dan dia juga menutup matanya sesuai dengan perjanjian yang mereka setujui sebelumnya.


"Ini pakaianmu" ucap Albercio dan langsung aku ambil dengan cepat.


Lalu aku langsung menutup lagi pintunya dan segera memakai pakaian itu, namun di saat aku melihatnya Albercio malah memberikan aku pakaian aneh seperti itu, ini lebih mirip pakaian renang yang tidak layak pakai di bandingkan sebuah pakaian.


Aku langsung membentak dia dengan keras sambil keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di tubuhku untuk menutupi pakaian yang super seksi ini.


"Albercio kemari kau!" Ucapku menahan emosi,

__ADS_1


Dia berjalan dengan kedua alis yang dinaikkan keatas dan aku langsung memarahinya karena memberikan aku pakaian seperti itu.


"Heh, apa kau gila dasar pria mesum, bisa-bisanya kau malah memberikan pakaian penggoda seperti ini, apa kau tidak bisa memberiku pakaian yang sedikit normal saja?" Ucapku membentaknya dengan keras,


"Aku ingin tapi coba kau lihat sendiri saja semua yang ada di dalam koper itu baju yang sama, yang aku berikan padamu sudah pakaian yang paling tertutup" ungkapnya sambil menunjuk ke arah koper yang berantakan di samping kasur.


"Apa? Hah....siapa yang mengemasi koper untukku aishh....ini sangat memalukan" gerutuku sambil segera membereskan semua barang-barang yang berserakan disana dengan cepat.


Sedangkan aku sekarang tidak memiliki satu pakainpun yang layak untuk aku kenakan sehingga terpaksa aku mengambil kemeja milik Albercio di dalam kopernya dan mengenakan kemeja itu dengan segera.


"Ahhh... Kemeja ini jauh lebih baik, tapi tetap saja aku tidak bisa menemui ibu mertuaku dengan pakaian tidak sopan seperti ini, aaahhh....aku harus bagaimana?" Gerutuku terus merasa resah dan kebingungan.


Sampai tidak lama Albercio kembali ke kamar dan dia memberikan aku sepasang gaun yang cantik di dalam paper bag yang dia bawa, dia juga menyuruh aku untukmsegera mengganti pakaian karena kami akan makan malam bersama ibunya.


Aku sangat senang dan segera pergi untuk mengganti pakaianku dengan cepat, lalu kami segera makan malam bersama dan aku masih saja tetap merasa canggung dengan ibunya Albercio, pasalnya ibunya itu terlalu baik padaku dia bahkan memperhatikan aku hanya dalam hal-hal kecil.


Seperti mengambilkan aku lauk dan nasi bahkan dia mau menyuapi aku seperti anaknya sendiri, dia juga terus tersenyum marah dan begitu senang ketika melihatku, itu membuat aku merasa sangat lega karena ternyata ibu mertuaku tidak jahat sama sekali.


Bahkan dia lebih mirip seorang malaikat yang baik hati, sampai kami selesai menikmati makan malam dengan penuh kebahagiaan itu Albercio langsung mengajakku untuk keluar dan berpamitan pada ibunya dahulu.


"Bu aku akan pergi mengajak istriku berkeliling kota sebentar, jika kau ingin ikut kau bisa segera bersiap-siap" ucap Albercio meminta izin juga menawari ibunya untuk ikut.

__ADS_1


Aku pikir Albercio sangat baik karena mau menawarkan ajakan untuk ibunya, tanpa Arisha ketahui sebenarnya Albercio berkata seperti itu sambil memberikan kode lewat tatapan tajamnya untuk menahan sang ibu untuk ikut bersamanya juga Arisha.


"Eummm.... Ibu sebenarnya ingin ikut dan masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Arisha, tapi sayangnya ibu masih memiliki sedikit pekerjaan di belakang jadi kalian pergilah berdua saja, anggap ini adalah bulan madu kalian ayo berhati-hati saat di perjalanan" ucap ibu tuan Albercio yang sangat mendukung hubungan kami.


"Ah... Ibu benar ayo istriku kita pergi, nanti keburu malam" ucap tuan Albercio sambil menggandeng tanganku dan aku hanya bisa memasang wajah tersenyum sebaik mungkin di hadapan ibundanya.


Sedangkan setelah masuk di dalam mobil dan ketika mobil sudah melaju meninggalkan gerbang kediaman mewah itu aku langsung menarik kembali tanganku dengan cepat dan memarahi Albercio seperti biasanya.


"CK.....kau memanggilku sayang dan sekarang istriku, itu sangat membuatku muak mendengarnya" ucapku sangat kesal.


Aku memang tidak bisa dengan kata-kata manis seperti itu, dan bagiku mengutarakan rasa sayang kita kepada orang lain tidak perlu dengan kata-kata yang berlebihan seperti itu, karena jika nanti pasangan kita mengecewakan sakitnya akan terasa lebih parah.


Berbeda dengan kita hanya menyebut satu sama lain dengan nama sendiri dan terdengar lebih netral juga normal sehingga jika terjadi apapun sekaligus itu tidak akan membuat kita terlalu hancur di kedepannya dan bisa dengan cepat mencari pengganti untuk orang yang mengecewakan itu.


Bagi sebagian orang mungkin aku terdengar kaku dalam masalah percintaan, namun aku hanya menjaga diriku agar tidak dibutakan oleh cinta apalagi jika sampai di perbudak oleh cinta aku sangat menentang hal-hal menjengkelkan seperti itu.


Sedangkan Albercio justru malah terus meledeki aku dan dia menggodaku terus-terusan sampai dia puas dan terus tertawa sangat lebar.


"Ayolah sayang aku ini kan suamimu bukankah wajar saja jika seorang suami memanggil istrinya sayang, atau memanggil dia sebagai istri atau suamiku, itu sudah sangat baik dan bak keluarga harmonis seperti kebanyakan orang pada umumnya, bagaimana?" Jelas Albercio masih bersikap santai sambil mengemudi dan menatap padaku sekilas.


"Aishh.....diam kau, jangan pernah berkata seperti itu, aku sangat takut dan ngeri mendengarnya, kau tahu kenapa itu terjadi padaku?" Balasku balik bertanya,

__ADS_1


"Apa?" Balasnya sambil t memegangi ujung kukunya.


Dan itu menandakan bahwa dia mulai penasaran dengan obrolan yang aku berikan hingga untuk pertama kalinya dan ini adalah satu-satunya yang bikin aku meleyot saat menontonnya. Aku pun segera mengungkapkan maksud diriku yang sebenarnya karena dia yang memulai bertanya seperti menantangku seperti itu dan aku sama sekali tidak takut dengan orang lama sepertinya sedangkan aku adalah orang baru, masa depan baru dan kehidupan yang baru.


__ADS_2