Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Larangan


__ADS_3

Aku pun kembali masuk ke dalam kamar dengan perasaan kesal tidak karuan dan aku sangat emosi terhadap sekretaris Katy. Aku pikir dia adalah orang khusus yang di datangkan oleh Albercio untuk mengawasi aku karena biasanya sekretaris Ben yang mengurus urusan pekerjaan untuknya namun rupanya sekretaris Katy juga tidak dapat dipercaya dia selama ini melaporkan semua tindakanku kepada Albercio sehingga kini aku yang terkena dampaknya.


Meski aku tahu semua itu memang salahku namun setidaknya dia tidak boleh meninggalkanku begini, sebagai seorang pria seharusnya dia mengejarku dan membujukku karena aku sangat mengharapkan itu darinya, nyatanya dia memang bukan pria sejati yang selama ini selalu aku dambakan dia hanya iblis kejam yang selalu menjengkelkan.


"Aahh...tidak ada gunanya aku terus merasa kesal kepada orang sepertinya, lebih baik aku memikirkan cara kedua untuk meneror Melinda, haha aku akan membuatnya benar benar ketakutan kali ini" ucapku dengan tatapan tajam menatap ke arah foto Melinda yang sudah ku cetak besar dan aku tempelkan di dinding kamarku.


Aku mengambil anak panah kecil yang aku lemparkan tepat mengenai wajah Melinda, itulah caraku untuk melampiaskan amarah terhadap orang yang mencoba membunuhku dan melenyapkan kedua orangtuaku.


Setelah puas meluapkan emosi aku mulai kembali duduk di depan komputer dan mencari tahu mengenai pamanku, aku sudah pernah mencari informasi mengenai dia namun tidak berhasil menemukannya, terakhir kali aku melihat jejak keberadaannya adalah beberapa bulan yang lalu tepat ketika aku masih tinggal di kediaman Albercio dan saat itu paman masih bersama dengan bibiku.


Melihat kini Melinda telah menikah kembali dengan keluarga Koward aku mulai berpikir mengenai paman ada dua kemungkinan kecurigaan yang ada dalam benakku kali ini.


Pertama aku berpikir mungkin mereka telah berpisah dan memutuskan hidup masing-masing lalu membagi harta milik keluargaku yang telah mereka jual seluruh asetnya kepada Albercio, kedua aku pikir mungkin mereka masih bekerjasama satu sama lain dan targetnya kali ini adalah keluarga Koward.


Aku tidak bisa untuk tidak mencurigai pamanku meskipun sebelumnya dia selalu baik kepadaku namun dia juga tidak menahan dan sempat ikut-ikutan merebut hartaku, sehingga itu sudah cukup untuk menghancurkan kepercayaanmu terhadap dirinya.


Aku terus berusaha mencari informasi mengenai pamanku namun tetap tidak membuahkan hasil sama sekali, aku mulai merasa aneh dan ada berbagai kecurigaan di dalam kepalaku saat ini.


"Aishh...kenapa aku tidak bisa menemukan keberadaan paman, padahal aku sudah melacak lewat nomor ponselnya, dan itu masih aktif tapi kenapa seakan ada orang yang tengah menyembunyikan dia dari dunia, atau memang jangan-jangan paman juga sudah dibunuh?" Ucapku dengan mata terbelalak dan kaget dengan prasangka yang aku buat sendiri.


Aku langsung menghempaskan prasangka buruk yang terlalu berlebihan itu, ku pikir lagi bibi tidak mungkin berperilaku sebegitu kejamnya bahkan kepada suaminya sendiri.

__ADS_1


"Tidak-tidak itu tidak mungkin terjadi, bagaimanapun bibi mencintai paman dan mereka telah menikah cukup lama, dia tidak mungkin sekejam itu terhadap suaminya sendiri bukan?" Gerutuku lagi memikirkan.


Aku sungguh sudah terganggu dengan semua kemungkinan yang muncul dalam benakku, dan aku tidak mau menyerah saat itu juga aku meminta bantuan kepada sekretaris Katy untuk membantuku melacak kembali nomor ponsel milik pamanku, karena aku kira mungkin akulah yang salah dalam melacaknya.


Aku segera menghubungi sekretaris Katy saat itu juga dan menyuruhnya untuk datang ke apartemenku, tapi kali ini dia justru memintaku untuk meminta izin terlebih dahulu kepada Albercio sebelum memerintah terhadapnya.


"Hallo, sekretaris Katy bisakah kau datang ke apartemenku, aku membutuhkan sedikit bantuanmu disini" ucapku dalam telpon,


"Maaf nona Arisha sebaiknya anda menghubungi tuan Albercio terlebih dahulu dan meminta dia agar memerintahkan saya seperti yang anda minta" ucap sekretaris Katy membuatku heran,


"Sekretaris Katy ada apa denganmu?, Biasanya aku selalu seperti ini tiap kali meminta bantuan darimu, kenapa juga aku harus menghubungi dia dahulu hanya untuk masalah sepele seperti ini, tolong jangan bercanda denganku sekretaris Katy dan cepatlah datang kemari" ucapku masih tidak mengerti,


"Sekali lagi aku mohon maaf nona Arisha, aku adalah wakil sekretaris Ben dan aku hanya bisa melakukan apapun jika sekretaris Ben memerintah dan jika tuan berkehendak, karena kini mereka telah kembali sehingga semua kendali telah kembali juga terhadap mereka, saya sekarang sudah kembali ditempatkan di perusahaan dan kembali dengan pekerjaan saya sebelumnya, mohon mengerti nona Arisha" ucap sekretaris Katy lalu menutup telponnya begitu saja.


Aku sangat kesal karena aku tidak bisa lagi memerintah sekretaris Katy atau meminta bantuan darinya padahal semua ini berjalan lancar dan cepat sebab bantuan dari sekretaris Katy aku sungguh akan kesulitan jika dia benar-benar dikembalikan pada pekerjaan awalnya di perusahaan.


"Arghh....kenapa harus menjadi ribet seperti ini sih, dia kan sudah bilang aku sudah terbebas dari dia dan aku bisa menjalani kehidupan normal ku seperti orang pada umumnya lalu kenapa sekarang dia malah mempersulit aku, arghh... Menyebalkan sekali!" Teriakku merasa sangat jengkel.


Aku keluar dari kamarku dan segera pergi keluar dari apartemen berniat untuk mencari udara segar dan menghilangkan semua kekesalan dalam kepalaku, namun disaat aku hendak memegang pintu apartemen bi Susan dan bi Meli menahanku.


"Nona tunggu anda tidak boleh keluar tanpa izin dari tuan Albercio" ucap bi Meli kepadaku.

__ADS_1


Aku membelalakkan mataku sempurna dan sangat kaget saat mendengar penuturan kata dari bi Meli barusan.


Aku pun langsung tertawa karena aku pikir itu hanyalah candaan yang biasa aku lakukan untuk meniru Albercio sialan itu.


"Apa?, Ahahaha...bi kita sedang tidak melakukan permainan itu, untuk apa kau melakukan ini padaku di waktu yang tidak tepat" ucapku di sela tawaku,


"Tapi nona ini sungguhan" tambah bi Susan sambil menunduk takut.


Aku sangat kesal dan emosi mulai menjalar di sekujur tubuhku sedikit demi sedikit, aku langsung berniat untuk kabur dengan caraku sendiri dan mendorong pintu dengan cepat namun sialnya bi Susan dan bi Meli berhasil mengalahkan tenagaku sebab mereka adalah dua orang melawan aku yang sendiri, jelas sekali aku akan kesulitan untuk mengalahkan mereka karena tenaganya lebih besar dariku.


"Aaahh.... Bi lepaskan aku, aku harus keluar" teriakku sambil berusaha menarik gagang pintu,


"Tidak nona kami tidak akan membiarkan nona Arisha keluar tanpa izin dari tuan muda" balas bi Meli mulai berani menentang ku.


Aku tetap berusaha keras untuk melawan mereka meski hasilnya nihil dan aku berhenti karena lelah.


"Huuuh ... Baiklah terserah kalian saja, semuanya menyebalkan aku membenci kalian semua mulai saat ini!" Bentakku dengan penuh emosi.


Aku pergi duduk di sofa yang ada di dalam kamarku, dan aku sangat merasa kesal sambil melipat kedua tangan di dada, mereka berdua sungguh menjagaku dengan ketat dan tidak membuatku pergi dari sana meski aku sudah bilang hanya untuk jalan jalan saja.


"Argh... Albercio sialan, dia benar benar pria menjengkelkan!" Teriakku sangat keras sambil mengepalkan kedua lenganku menahan emosi.

__ADS_1


Kedatangannya sempat membuatku senang sedikit namun justru kedatangannya itu membuatku tidak bisa leluasa dalam menjalani hidupku meskipun aku telah tinggal di tempat yang berbeda dengannya bahkan jarak apartemen itu dengan rumahnya cukup jauh tapi dia tetap bisa mengendalikan ku dengan mudah karena dia pelayan tidak setia itu.


"CK....aku kan majikannya kenapa mereka tidak menuruti aku dan membelaku, seharusnya meski bukan aku yang menggaji mereka,.mereka haru tetap hormat dan berperilaku baik padaku dengan membantuku melanggar perintah Albercio bukannya malah mereka menuruti semua ucapannya, padahalkan dia tidak ada disini, dia tidak akan tau jika aku pergi ke luar sebentar" gerutuku terus menerus.


__ADS_2