
Hingga ke esokan paginya saat aku bangun aku melihat tubuh kami yang saling berdekatan satu sama lain bahkan aku bisa merasakan Deri nafas dan detak jantungnya di tanganku, aku kaget dan refleks langsung mendorong tubuhnya dengan kuat hingga dia jatuh terjungkal ke belakang.
"Aaarrkkkk...." Teriakku sangat kaget,
"Brukk..." Suara Albercio yang jatuh ke lantai dengan tengkurap.
Aku kaget dan langsung menghampirinya melihat Albercio yang perlahan bangkit dan menatap padaku dengan tatapan yang cukup menyeramkan, dia sepertinya akan memarahiku saat itu namun ternyata tidak dia malah langsung menyuruhku untuk sadar dan pergi ke kamar mandi saat itu juga.
"Heh, sadarlah kau yang memelukku sepanjang malam tapi malah kau yang menendangku, aishh....ini sakit sekali" ucap Albercio sambil berjalan masuk ke dalam kamar mandi,
Aku hanya menatap dia terperangah dan benar-benar merasa bersalah aku juga tidak harus harus bersikap seperti apa kepadanya dan saat Albercio keluar dari kamar mandi aku langsung masuk menerobos dengan membawa handuk yang aku pakai untuk menutupi kepalaku saking merasa malunya dengan dia.
"Ya tuhan ada apa denganku sebenarnya" gerutuku saat di kamar mandi.
Sedangkan disisi lain Albercio mendapatkan kabar dari sekretaris Ben bahwa ada rafat penting hari ini dan Albercio baru mengingatnya dia pun segera pergi dengan terburu-buru dan berteriak pada Arisha dengan keras.
"Aish....kenapa aku bisa lupa dengan meeting nya" gerutu Albercio mengingat sesuatu,
"Sayang aku akan pergi kau bisa menyusul nanti ini mendesak aku harus segera pergi!" Teriak Albercio lalu dia langsung segera pergi dari sana.
Bahkan Albercio mengabaikan ibunya yang mengajak dia untuk sarapan dahulu sebelum keluar dari rumah.
"Eh... Albercio kau mau kemana hey, ayo sarapan dulu...." Teriak ibu Albercio memanggilnya.
Albercio terus pergi ke luar mengendarai mobilnya dengan cepat keluar dari kediaman megahnya tersebut sedangkan aku yang sudah siap segera keluar dari kamar dan menemui ibu mertuaku.
"Aahhh....sayang kamu sudah bangun rupanya" sapa ibu mertuaku dengan lembut.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman dan kami sarapan bersama, setelah sarapan awalnya aku berniat untuk menyusul Albercio ke kantornya karena aku akan merasa canggung dan bingung jika terus berada di rumah saja namun ibu mertuaku justru mengajak aku untuk menanti dia berbelanja sehingga aku tidak bisa menolaknya.
__ADS_1
"Arisha apa kamu tidak ada rencana hari ini, ibu berniat mengajak kamu untuk berbelanja ini sudah lama sejak ibu terakhir kali membeli barang-barang baru, kamu mau kan menemani ibu?" Ucap nyonya Kirana kepadaku.
Melihat wajahnya yang memohon seperti itu dan mengingat semua kebaikan dan keramahan yang dia beri padaku sejak awal aku datang ke tempat ini aku tentu saja tidak bisa menolak tawaranny dan langsung mengangguk setuju dia pun terlihat langsung cerah dan merasa sanga senang sampai menggenggam kedua tanganku dengan erat.
"Aahhh....Arisha kamu memang yang terbaik, aku sangat senang akhirnya bisa memiliki teman wanita yang bisa aku ajak bersenang-senang, kalo begitu ayo kita pergi sekarang juga" ucap Tante Kirana begitu antusias.
Kami pun segera pergi menuju butik langganan tempat berbelanja seorang nyonya besar seperti Tante Kirana ini, dan dia sungguh sangat royal dia menyuruhku memilih semua pakaian apapun yang ada disana bahkan dia berbelanja tanpa takut uangnya habis, aku dulu juga pernah sepertinya tepat sebelum bibiku merenggut semua kebahagiaan itu dariku.
Aku melamun sejenak memikirkan bibikundan semua yang telah dia lakukan kepadaku hingga membuat aku ingin selalu membalaskan dendam kepadanya meski pada akhirnya aku selalu gagal untuk melampiaskan dendam itu sendiri.
"Arisha ayo coba yang ini, pasti ini sangat cocok untukmu" ucap Tante Kirana kepadaku.
Aku hanya bisa menurutinya saja dan segera pergi ke ruang ganti untuk mencoba pakaian tersebut dan tanpa aku sadari di sana juga ternyata ada Melinda dan aku bertatap mata dengannya disaat kami hendak masuk ke dalam ruang ganti yang sama saat itu.
"Kau.....?" Ucapku menatapnya dengan penuh kebencian,
"Oh.... Arisha halo lama tidak berjumpa denganmu" balas bibiku masih dengan senyum menyebalkan itu.
"Kau adalah targetku sekarang setelah pamanmu yang tidak berguna itu" bisik Melinda pada telingaku.
Aku ingin menamparnya saat itu namun tidak bisa karena aku takut Tante Kirana akan mengetahuinya dan justru dia memberikan penilaian buruk padaku karena bertengkar di depan banyak orang di tempat umum seperti ini, terlebih aku tahu bahwa Melinda sekarang bukanlah Melinda yang dulu lagi, dia adalah bagian dari keluarga Koward yang cukup kuat sehingga aku tidak bisa menyinggungnya.
"CK....aku tidak akan pernah takut dengan ancaman apapun darimu!" Balasku sambil menghempaskan tangannya dengan kuat,
"Oh....kau mungkin tidak takut tapi ibu mertuamu yang sangat baik dan pos itu tentu saja akan menjadi sangat takut" balas dia lalu pergi meninggalkan aku.
Aku menggenggam kedua tanganku dengan kuat dan aku ingin sekali menghajar dia saat itu juga tapi sayangnya Tante Melinda datang menghampiriku.
"Arisha kenapa kamu lama sekali, eh kenapa kamu belum menggantinya juga apa kau tidak menyukai pakaiannya?" Tanya Tante Kirana kepadaku,
__ADS_1
"Oh ...bukan begitu Tante aku sangat menyukai pakaian yang kau pilihkan untukku hanya saja tadi ada orang lain yang lebih dulu menggunakan ruang gantinya sehingga aku harus menunggunya sejenak" balasku membohongi dia.
Aku sebenarnya tidak berniat apalagi beaksud membohonginya namun aku juga tidak mungkin mengatakan kejadian yang sebenarnya kepada Tante Melinda aku takut dia akan mengkhawatirkanku aku secara berlebihan dan aku takut itu akan mempengaruhinya sehingga aku memilih untuk sedikit berbohong demi kebaikan walau aku tahu itu tetap saja sebuah kesalahan.
"Oh begitu ya sudah ibu akan tunggu kami di sini, ayo kamu segera masuk ke dalam" ucap Tante Kirana.
Aku pun mengangguk dan segera masuk ke dalam lalu mengganti pakaianku dengan gaun yang di pilihkan oleh Tante Kirana sebelumnya, gaun itu terlihat sangat cantik dan tentu saja sangat mewah, aku juga menyukai warnanya dan ini sangat pas di tubuhku.
Aku keluar perlahan memperlihatkan gaun cantik yang aku kenakan ini pada ibu mertuaku dengan sedikit malu-malu, dan ternyata Tante Kirana juga terperangah melihat aku memakai gaun pilihannya itu dan dia langsung memujiku yang membuat aku semakin tersipu malu karenanya.
"Wah...Arisha kamu memang sangat cantik, gaun itu seakan di ciptakan hanya untukmu, sudah ibu akan membelikannya untukmu dan kau harus memakainya di depan Albercio nanti, ibu yakin dia akan sangat menyukainya" ucap Tante Kirana begitu antusias,
Tapi aku tetap merasa tidak enak kepadanya karena melihat bandrol harga gaun itu yang terlampau mahal aku merasa aku seperti menjadi beban baginya dan aku pun segera menahan tangan ibu mertuaku itu dengan cepat.
"Tunggu tante, apa tidak sebaiknya kita memilih gaun yang lain saja, gaun ini terlalu mahal untukku" ucapku berkata jujur padanya.
Tante Kirana justru malah tertawa terbahak bahak sambilenepuk tanganku beberapa kali, membuat aku merasa aneh dengan menaikkan kedua alisku bersamaan.
"Apa? Ahahaha....hahah...hahaha...hahaha" suara tawa Tante Kirana yang begitu lepas,
"Tante kenapa kamu malah tertawa, apa ada yang lucu?" Tanyaku dengan heran dan masih belum memahaminya,
"Astaga..... Arisha kamu ini lucu sekali sih, kenapa kau merasa gaun ini terlalu mahal untukmu sementara kau adalah istri seorang Albercio dan menanku keluarga Albercio yang merupakan pembisnis nomor satu yang luar biasa, aishh....kamu ini aneh sekali sih" balas tante Kirana sambil menggelengkan kepalanya.
Dia tetap pergi untuk membayar gaunnya itu sedangkan aku masih merasa keheranan sendiri.
"Memangnya kenapa jika aku istri Albercio? Sehebat dan sebanyak apapun uangnya itu tidak berarti apapun untukku dan aku sama sekali tidak menginginkan semua hal-hal mahal darinya, memakai gaun ini saja membuat aku kesulitan bergerak karena takut merusaknya" gerutuku memikirkan.
Aku segera kembali masuk ke dalam ruang ganti dan mengganti pakaianku dengan pakaian yang sebelumnya dan kami pun akhirnya sudah selesai dengan masalah pakaian juga sepatu dan alat make up lainnya hingga kami memutuskan untuk.pulang sebab Tante Kirana sudah puas berbelanja hari ini.
__ADS_1
Aku juga akhirnya bisa merasa sangat lega karena sudah duduk di dalam mobil dengan nyaman dan aman.