Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Sedih


__ADS_3

Di saat Arisha sudah tertidur pulas, tepat lewat tengah malam Albercio baru sampai di kediamannya dan dia segera pergi ke ruang tahanan bawah tanah pribadi miliknya dia pergi untuk memastikan bahwa paman Arisha sudah di kurung di sana dengan penjagaan yang ketat.


Saat dia lihat paman Arisha duduk terkulai lemas di lantai barulah Albercio segera kembali ke kediamannya dan masuk ke dalam kamar, saat melewati kamar Arisha dia teringat bahwa Arisha masih sakit pada pergelangan kakinya.


Albercio pun masuk ke dalam kamar Arisha untuk memastikan apakah dia sudah tidur atau tidak, saat di lihatnya Arisha sudah tertidur pulas, Albercio membenarkan selimut yang digunakan Arisha agar dia tidak kedinginan saat tertidur.


"Maafkan aku karena sudah mencurigainya bersekongkol dengan mereka" ucap Albercio dengan suara yang sangat kecil.


Setelah membenarkan selimut Arisha, Albercio langsung kbali keluar dan masuk ke dalam kamarnya dia segera membersihkan diri dan memerintahkan semua orang yang ada di dalam rumah itu untuk merahasiakan keberadaan paman Arisha yang dia kurung di penjara bawah tanah.


Ke esokan paginya Albercio bersikap seolah tidak terjadi apapun dia bangun agak siang karena hari ini adalah hari libur dia mencoba untuk mengistirahatkan tubuhnya, sementara Arisha bangun dan melihat kakinya sudah semakin membaik dia terus terpikirkan mengenai tas yang dia lemparkan ke belakang rumah beberapa hari lalu.


"Aduhh....dimana sebenarnya tasku itu, bisa bahaya jika sampai pelayan atau para bodyguard yang menemukannya, aku bisa ketahuan kalau begini" gerutu Arisha memikirkan dengan cemas,


Akhirnya Arisha memutuskan untuk memastikannya lagi dia berjalan keluar dari kamar dengan perlahan dan mengendap ngendap, saat menuruni tangga Arisha tidak sadar bahwa Albercio juga berjalan di belakangnya.


Albercio menatap heran karena tingkah Arisha yang tidak seperti biasanya, berjalan mengendap ngendap dan membungkuk sambil terus menatap ke segala arah seperti seorang pencuri yang hendak mengambil barang.


"Aishh....apa yang sedang dilakukan gadis keras kepala itu?" Ucap Albercio merasa heran,


Karena penasaran Albercio pun mengikutinya secara diam diam sampai dia tiba di belakang rumah dan saat itu Arisha baru saja hendak pergi ke arah taman bunga namun dia justru malah menginjak lantai yang basah sehingga membuat dia terjatuh ke belakang.


Melihat Arisha hampir jatuh ke belakang dengan sigap Albercio langsung berlari dan menangkap Arisha, untunglah dia masih sempat menangkapnya sehingga Arisha jatuh menimpa tubuh Albercio.


"Hah?, Kana tidak sakit?" Ucap Arisha kebingungan sambil menutup matanya,


Saat itu Arisha belum sadar kau dia jatuh tepat menimpa tubuh Albercio dan wajah mereka begitu dekat satu sama lain, Albercio yang kesal karena Arisha tidak kunjung membuka mata dan bangkit dari tubuhnya dia pun membentak Arisha dengan keras.


"Heh, kepala batu! Sampai kapan kau akan berada diatas tubuhku?" Bentak Albercio menyadarkan Arisha.


Arisha refleks membuka matanya dan dia sangat kaget hingga berteriak sangat keras dan langsung bangkit berdiri sambil merapihkan pakaiannya.


"Arkhhh......kau...kau...kenapa kau bisa ada di bawahku?" Tanya Arisha sangat kaget,

__ADS_1


"Hah...bukannya berterimakasih, malah kau balik membentakku dasar tidak tau terimakasih" jawab Albercio dengan sinis,


"Heh...aku bertanya yah kenapa kau bisa ada di sini, kau mengikutiku yah?" Ucap Arisha menyelidik dengan tatapan tajam,


"A..a...aku...aku hanya tidak sengaja lewat, lagi pula ini kan rumahku, terserah aku mau berjalan jalan kemanapun" jawab Albercio dengan gugup sehingga membuat Arisha semakin mencurigainya.


Sejujurnya Albercio gugup sekali saat Arisha mencurigainya kalau dia mengikuti dirinya, Albercio sangat takut dirinya ketahuan mengikuti Arisha secara diam diam untunglah dia masih bisa memberikan jawaban lain dan mengalihkan topik pembicaraan.


"Aku curiga tuan Albercio hanya berjalan jalan saja, kenapa tidak berjalan jalan di depan halaman kenapa malah ke sini?, Hah?, Ayo jawab?" Ucap Arisha semakin mendesak dan terus berjalan mendekati Albercio,


"Apa apaan kau ini, kau mencurigaiku yah?" Bentak Albercio mulai merasa terancam dan tidak tenang,


"Ouhh...tidak...aku tidak mencurigaimu aku kan hanya bertanya kenapa kamu se gugup itu atau jangan jangan dugaanku benar yah, kau mengikutiku dasar penguntit .." ucap Arisha sengaja menggodanya,


Melihat Albercio yang begitu gugup dan bicara gelagapan saat di desak olehnya itu memberikan kesenangan sendiri bagi Arisha, rasanya sangat menggelikan dan begitu puas saat bisa mendesak dan menggoda seorang tuan muda Albercio yang sangat berkuasa dan begitu ditakuti banyak orang.


Albercio kali ini bukan gugup karena takut ketahuan bahwa dia mengikuti Arisha namun dia gugup karena Arisha terus mendesak tubuhnya hingga terpentok ke dinding, jantungnya berdekat sangat kencang dari biasanya dan pikirannya tidak bisa berpikir apapun sehingga terpaksa Albercio mendorong Arisha sedikit agar dia bisa kabur dari sana.


"Aish ...minggir kau, terserah kau mau berpikir seperti apa, aku tidak perduli dengan ucapanmu" ucap Albercio sambil mendorong tubuh Arisha menjauh darinya.


"Astaga apa yang terjadi denganku, kenapa perasaanku seperti ini, tidak....tidak mungkin....ini hanya perasaan kaget saja iya...ini hanya kaget" gerutu Albercio sambil mengusap dadanya berkali kali.


Di sisi lain Arisha gagal mencari tas nya dia pun terpaksa harus mengesamlingkan dahulu masalah tas nya yang belum di temukan.


"Aishh....gara gara dia aku tidak bisa mencari tas ku lagi, sialan" gerutu Arisha sambil berjalan dengan kesal.


Arisha ikut masuk kembali ke dalam rumah dan dia menghampiri Albercio dengan ketus duduk tepat di hadapannya dan langsung menyantap sebuah roti lapis yang belum diberikan selai di atas piring.


"Hah....belum ada selainya, hmmm menyebalkan semua ini gara gara kau Albercio!" Bentak Arisha yang melampiaskan kekesalannya pada Albercio di meja makan.


Albercio yang melihat Arisha sudah ada di hadapannya tentu saja dia merasa kaget dan kebingungan karena tiba tiba Arisha malah kembali membentak dan menyalakan suatu hal yang tidak dapat dia mengerti.


"Kau ini kenapa sih selalu saja membuatku kesal apa kau tidak senang melihatku atau membenciku hah?" Bentak Albercio merasa heran dengan tingkah Arisha kali ini,

__ADS_1


"Kau memang menyebalkan sejak awal, aku juga tidak menyukaimu kau itu arghhh...sudahlah aku mau mau menenangkan diri saja, jangan mengikutiku!" Ucap Arisha sambil menunjuk ke arah Albercio dengan tangannya,


"Hah, siapa yang mau mengikutimu, memangnya kau pikir aku tidak ada kerjaan yah!" Jawab Albercio sambil memakan roti dengan kasar karena dia kesal dengan Arisha.


Arisha pergi ke kolam renang dan dia tidur di tempat bersantai yang ada di sana lalu menenangkan dirinya sembari memikirkan cara untuk bisa menemukan buntelan tas berisi barang barang miliknya untuk memudahkan dia kabur dari rumah ini secepatnya.


Sudah berbaring dengan santai di sana beberapa saat namun tetap saja dia tidak bisa berpikiran jernih dan memikirkan ide lain untuk bisa kabur dari sana secepatnya.


"Aishh kalau begini terus kapan aku bisa kabur dari sini, agrhhhh....aku harus bagaimana" gerutu Arisha dengan kesal.


Arisha bangkit dan berjalan mendekati kolam renang dan dia duduk di pinggiran kolam sambil memasukkan kakinya ke dalam air, Arisha menatap ke depan dengan tatapan kosong dan pikiran yang melayang.


Beberapa saat dia seperti mendengar seruan dari seseorang namun dia sangat enggan untuk menolah ke belakang, beberapa kali bibi Mia memanggil Arisha sampai akhirnya Arisha berbalik dan menghampirinya dengan lesu.


"Iya ada apa bi, kenapa memanggilku?" Tanya Arisha menghampiri bibi Mia,


"Ini nyonya saya tau nyonya belum memakan apapun pagi tadi jadi saya sengaja membuat nasi goreng kesukaan nyonya, dihabiskan yah nyonya" ucap bibi Mia sambil memberikan sepiring nasi goreng kumplit kesukaan Arisha.


Meski aku merasa sedih heran karena bibi Mia tiba tiba saja memberikanku makanan namun aku juga lapar jadi aku mengambil makanan itu, aku segera menikmatinya, itu sungguh nikmat dan lezat memang masakan bibi Mia tidak ada duanya dan selalu menjadi yang terbaik saat dikunyah dan dirasakan oleh lidah.


Saat aku tengah menikmati makanan itu sembari duduk di depan kolam aku mulai merasa lebih baik dan setelah selesai menghabiskan makanan itu aku hendak kembali ke kamarku namun Albercio datang menghampiriku dan dia tiba tiba menarikku membawaku masuk ke dalam sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang kerjanya.


"Arisha ikut aku" ucapnya sambil langsung menarik lenganku dengan kasar,


"Eh ..tunggu....tungguu....lepaskan kau mau membawaku ke mana" teriakku sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Albercio yang cukup kuat.


Dia membawaku masuk ke sebuah ruangan lalu mengunci pintunya begitu saja, lalu berjalan dengan perlahan dengan tatapan tajam ke arahku, melihat matanya yang seperti itu jelas aku sedikit merasa gugup dan takut aku merasa dia seperti tengah menekanku sehingga aku berjalan mundur berusaha menjauh darinya.


Sampai tiba tiba aku mentok ke dinding dan tiba bisa menghindar lagi dari pria menyebalkan itu.


"A...aaa...apa yang mau kau lakukan padaku?" Tanyaku dengan gugup,


"Aishh....kenapa kau seperti ketakutan denganku, aku hanya akan membebaskanmu kau bisa keluar dari rumahku dengan bebas secepatnya" ucap Albercio secara tiba tiba yang membuatku kaget dan merasa tidak percaya dengan ucapannya barusan.

__ADS_1


"Hah?, Apa?, Kau....kau....tidak bercanda bukan?, Atau aku sedang bermimpi?" Ucapku bertubi tubi dan masih berusaha menyadarkan diri sendiri.


__ADS_2