
Sekuat apapun aku berusaha menahan agar air mata tak jatuh membasahi wajahku namun tetap saja air mata itu justru semakin membasahi pipiku sampai semua make up yang aku kenakan tak menempel lama pada kulitku, hingga seorang kepala pelayan yang ikut membantu riasanku datang menghampiri dan bicara padaku.
"Nyanyo bisakah anda berhenti menangis, sebenarnya apa yang membuatmu begitu sedih dihari pernikahan yang seharusnya membahagiakan?" tanya kepala pelayan itu,
Aku tidak bisa menjawabnya seandainya saja mulut ini bisa aku gerakkan mungkin aku bisa meminta tolong pada pelayan tersebut untuk membantuku keluar dari jebakkan bibi ku sendiri, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dengan perlahan untuk merespon pertanyaan dari pelayan tersebut.
Pelayan itu pun kembali menghapus sisa air mata di wajahku dan dia kembali menyuruh anak buahnya untuk memperbaiki riasan wajahku, setelah semua selesai aku hanya bisa menatap dengan tatapan kosong di depan kaca besar yang menampakkan tubuhku sudah dibalut oleh gaun putih yang sangat cantik dan mewah, pernikahan yang begitu sakral bagiku, kini harus aku lakukan dengan keadaan seperti ini.
Tiba tiba saja ketua pelayan yang tadi mengajakku bicara datang kembali dengan membawa sebuah minuman di tangannya, dia memberikanku minuman itu.
"Nyonya ini adalah ramuan yang sudah diracik khusus oleh dokter pribadi tuan Albercio minumlah, setelah meminum ini nyonya akan kembali normal dalam 5 menit" ucap ketua pelayan itu dan membantuku meminumnya,
Aku tidak berpikir panjang dengan apa yang akan aku lakukan setelah mendapatkan energi lagi, namun untuk saat ini aku hanya perlu menormalkan tubuhku agar aku bisa bergerak dan bicara dengan bebas, aku juga tidak bisa banyak berontak jika tubuhku saja tak dapat aku kendalikan, dan perkataan ketua pelayan tadi ternyata benar setelah 5 menit aku sudah kembali pulih dan bisa menggerakkan tubuhku serta bisa berbicara dengan bebas lagi.
"Ah...aku... Aku sudah bisa bergerak dan bicara lagi, terimakasih sudah memberikanku obat itu" ucapku tersenyum senang dan berterimakasih pada ketua pelayan.
"Baguslah nyonya terlihat jauh lebih baik sekarang" balas ketua pelayan tersebut,
"Aku tidak tau kamu siapa, dan aku juga tidak tau akan menikah dengan siapa, aku dijebak oleh paman dan bibiku sendiri atau bahkan aku sudah dijual oleh mereka pada tuan kalian, dan aku sungguh tidak mau menikah di usiaku yang masih 19 tahun, aku ini baru lulus sekolah bagaimana bisa aku harus menikah dengan orang yang aku sendiri tidak tau siapa dia, jadi aku mohon tolong lepaskan aku, tolong bantu aku pergi dari sini" ucapku menjelaskan dan memohon bantuan dari ketua pelayan tersebut.
"Maaf nyonya tapi saya tidak memiliki wewenang atas apa yang nyonya inginkan, dan saya sarankan agar nyonya tidak mencoba untuk kabur dari pernikahan ini karena tuan muda pasti akan marah besar dan tidak akan mengampuni kami semua termasuk anda sendiri" ucap kepala pelayan itu dan pergi meninggalkanku begitu saja,
"Eh... Tidak, tunggu aku mohon..." ucapku kembali memohon dan berusaha menahannya namun semua itu sia sia.
__ADS_1
Kepala pelayan yang nampak sudah berusia 40 tahunan itu pergi meninggalkanku, cara bicaranya tadi begitu tegas dan berkarisma pakaian pelayan yang mereka kenakan juga terlihat seperti pelayan profesional, aku sungguh merasa aneh dan kebingungan terus menerus sampai beberapa saat kemudian para pelayan yang membantuku merias diri mulai membawaku menuju altar pernikahan, saat aku keluar dari ruangan itu, ternyata aku benar benar berada di dalam gedung mewah yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan, semuanya begitu ramai dan banyak mata tertuju padaku aku hanya bisa menunduk untuk menghindari mata orang orang begitu tajam menatap ke arahku sampai seorang pria yang mengenakan jas rapih serta begitu tinggi berjalan menghampiri, aku bahkan tidak mau menatap pria yang akan menjadi suamiku itu, aku terlalu malu, sedih dan kesal.
Pria itu berjalan perlahan dan dia meraih tanganku lalu melingkarkan pada tangan kirinya, seseorang mulai mempersilahkan kami untuk berjalan menuju altar dan melaksanakan upacara pernikahan, kami berjalan bersamaan perlahan menuju altar yang sudah tersedia meja dan kursi untuk pelaksanaan akad nikah, pria itu berbisik pelan padaku dan menyuruhku untuk menaikkan wajahku.
"Naikkan wajahmu dan tersenyumlah melihat ke depan!" Ucap pria itu begitu mendominasi.
Bisikannya itu terdengar lebih seperti ancaman bagiku, aku gemetar dan tak karuan hingga saat akad nikah berlangsung pikiranku hanya terus merasakan kebencian dan kekesalan yang amat besar, aku tidak bisa tersenyum seperti yang diperintahkan pria itu padaku, aku hanya terus menatap tajam ke arah paman yang menikahkan ku sebagai wali diacara akad itu, hingga setelah akad pernikahan berakhir aku sudah tidak melihat keberadaan paman dan bibiku lagi, aku juga merasa aneh mengapa tidak ada satupun keluarga dari mempelai pria, semua orang hanya sibuk menyalamiku dan pria itu lalu pergi begitu saja, aku kesal dan mulai memberanikan diri untuk menatap wajah pria yang sudah menjadi suamiku itu.
Dan saat aku lihat dengan jelas ternyata pria itu adalah pria kejam yang aku temui di cafe kak Anton beberapa hari lalu, dan pria itu juga yang sudah menghancurkan cafe kak Anton, amarahku semakin memuncak dan aku memilih untuk pergi dari acara itu, namun sayangnya tanganku berhasil di tahan olehnya, dan sekarang aku mengerti mengapa bibi saat itu mengatakan bahkan kebangkrutan cafe kak Anton adalah rencananya, aku berpikir pasti pria itu sekongkol dengan paman dan bibiku, dia menahan tanganku dengan kuat sampai aku tak bisa berkutik.
"Berhenti mau kemana kau?, diam di sini dan Salami para tamu" ucap pria itu menatapku tajam,
Aku sungguh tidak bisa berkutik lagi dan hanya bisa menuruti perintah pria kejam itu, hingga acara selesai aku merasa sangat lelah bahkan aku belum sempat mengisi perutku sejak malam hingga saat ini, aku merasa sangat lelah dan aku duduk di bangku pelaminan sambil memegang kepalaku yang terasa sangat berat dan pusing.
Arisha jatuh tepat di pangkuan Albercio untung lah dia masih sempat menangkap Arisha dan dia segera membawa Arisha masuk ke kamarnya, nampak Albercio segera meminta dokter pribadinya untuk memeriksa Arisha.
Saat itu wajah Albercio begitu merah merona entah dia marah karena Arisha yang membuatnya jadi bahan perbincangan para tamu sebab mempelai wanitanya pingsan di tengah tengah salaman, atau dia marah karena mencemaskan kondisi Arisha, sampai acara pernikahan selesai Arisha tetap belum sadarkan diri padahal dokter sudah mengatakan bahwa Arisha hanya kelelahan dan itu juga merupakan efek obat bius yang diberikan sebelumnya dengan dosis yang tinggi sehingga kondisi imun Arisha menurun drastis, Albercio yang mendengar itu dari sang dokter dia hanya bersikap dingin dan tidak peduli, lalu menyuruh ketua pelayan agar menjaga Arisha sampai dia bangun.
"PELAYAN... " teriak Albercio memanggil ketua pelayan,
Bibi Mia yang diketahui berusia 43 tahun sebagai ketua pelayan di sana dan sudah bekerja mengikuti Albercio sejak pertama Albercio merintis bisnisnya di negara ini segera menghampiri dan membungkuk.
"Iya tuan apa yang harus saya lakukan?" tanya bibi Mia,
__ADS_1
"Jaga gadis kecil itu sampai dia bangun, jangan sampai lengah" perintah Albercio dengan begitu serius.
Kemudia dia pergi ke ruangan pribadinya dan menelpon sekretaris sekaligus tangan kanannya yang bernama Bramantyo dengan panggilan sekretaris Bram, Albercio menelpon sekretaris Bram agar dia mencari keberadaan paman dan bibi Talita.
"Bram cari keberadaan mereka dan beritau kalau keponakannya pingsan dan merepotkanku, mereka harus mengurusnya" ucap Albercio sambil berdiri menghadap ke luar jendela kamarnya,
"Maaf tuan tapi setelah acara akad nikah tadi, mereka berdua pergi kabur membawa semua uang yang sudah anda berikan sebelumnya ditambah saya baru mendapatkan kabar bahwa mereka telah menjual rumah yang sempat digadaikan pada kita kepada pihak lain, mereka membawa serta uang penghasilannya, dan perusahaan anak penggadaian kita mengalami kerugian besar akibat ulah mereka berdua, tetapi tuan tidak perlu khawatir saya akan segera melacak keberadaan mereka secepatnya" jawab sekretaris Bram memberikan kabar buruk bagi Albercio.
"AISHHH....DASAR MANUSIA SIALAN, aku tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang!!" ucap Albercio dengan suara yang keras dan dia mengepalkan kedua lengannya dengan kuat, bahkan sampai melemparkan ponsel dalam genggamannya ke dinding hingga pecat berhamburan.
Albercio begitu murka dan dia menyesal karena sudah mau masuk kedalam perangkap murahan yang mereka lakukan, akibatnya Albercio melimpahkan semua amarah dan dendamnya pada Arisha karena dia pikir Arisha bersekongkol dengan paman dan bibinya untuk menipu serta memanfaatkan dirinya.
*****
Flashback**
Beberapa bulan saat kejadian kecelakaan itu terjadi, paman dan bibi Arisha datang menemui Albercio dan meminjam sejumlah uang dengan nominal besar dengan alasan untuk melunasi hutang mereka yang sudah menumpuk di bank dan sebagai jaminannya mereka akan memberikan sertifikat rumah milik ayah Arisha karena dia merasa sudah membuat seluruh keluarga kakaknya itu meninggal dunia, namun sayangnya setelah dia sudah menerima sejumlah uang itu, dia mendapatkan kabar bahwa Arisha selamat dan tengah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.
Mereka merasa ketakutan dan segera berpura pura merasa sedih dan kehilangan ketika di hadapan Serli, namun saat Serli merawat Arisha dan meminta bantuan mereka untuk membayar biaya rumah sakitnya mereka mulai berubah dan menolak dengan keras, alhasil Serli harus bekerja keras banting tulang untuk memenuhi biaya rumah sakit.
Sedangkan kedua paman dan bibinya itu hanya sibuk berpoya poya dan bermain judi, mereka mengira dengan bermain judi mereka akan mendapatkan lebih banyak kekayaan dari apa yang telah mereka miliki saat itu, hingga di suatu babak mereka mengalami rugi besar dan semua uang yang mereka miliki telah habis dengan cepat, alhasil mereka tidak mampu membayar tagihan hutangnya pada Albercio dan mereka mendapatkan teror juga beberapa kali siksaan dari anak buah Albercio yang begitu kejam karena mereka tidak dapat melunasi hutangnya sesuai dengan tenggat waktu yang ditentukan.
Secara harpiah rumah milik Arisha juga langsung beralih kepemilikan pada Albercio karena paman dan bibinya tidak bisa melunasi hutang namun tepat saat Arisha mulai membaik paman dan bibinya itu sadar bahwa Arisha pasti akan pulang ke rumah tersebut sehingga mereka mulai menyusun rencana jahatnya, paman dan bibinya mulai berakting dan kembali meminjam uang pada Albercio dengan alasan untuk membiayai tagihan rumah sakit Arisha mereka sengaja memberikan foto Arisha yang tengah terbaring di rumah sakit dan sebagai jaminannya mereka akan memberikan Arisha untuk bekerja seumur hidup dengan Albercio.
__ADS_1
Mereka bahkan tega secara tidak langsung sudah menjual keponakannya sendiri pada CEO kejam seperti Albercio, mereka hanya mementingkan harta dan kesenangan mereka saja, meski awalnya Albercio menolak keras dan tidak mau berhubungan lagi dengan orang seperti mereka karena di mata Albercio mereka tidak berarti apapun, namun di saat yang sama kedua orang tua Albercio terus mendesak dia agar menikah dan membawa istrinya ke negara A untuk diperkenalkan pada keluarganya, dengan ancaman jika Albercio dalam waktu sebulan belum menikah juga, maka mereka akan menjodohkannya dengan teman masa kecil Albercio yang merupakan salah satu artis ternama dan cantik jelita.