
Apalagi disaat aku mengingat kejadian dimana dia mengatakan bahwa dia menyukai aku.
Saat di pesawat aku hanya duduk diam dan mulai mengantuk hingga tidak lama tidak terasa kepalaku mulai jatuh menyandar pada pundak tuan Albercio dan dengan baiknya dia membenarkan kepalaku itu dan dia sangat memperhatikan Arisha ketika dia tidur di dalam pesawat.
Aku merasa sudah tertidur cukup lama dan saat aku mulai tersadar ku lihat tuan Albercio hanya menatapku sekilas dan aku segera bangkit duduk dengan tegak membenarkan posisi dudukku segera.
"AA.... Kau membuat bahuku hampir kehilangan rasa" ucap tuan Albercio sambil memijat bahunya sendiri,
"Ma..maaf tadi aku sangat lelah, tapi kapan kita akan sampai?" Tanyaku padanya,
"Sebenarnya lagi" balas tuan Albercio.
Semua ucapannya memang selalu tepat dan benar hingga sesampainya di bandara sekretaris Katy menyambut kita dan dia segera membantu sekretaris Ben yang membawa banyak barang di belakang, aku merasa tidak enak dan dengan mereka dan berniat untuk membantunya membawa koper karena semua itu juga barang milik aku dan Albercio juga, namun disaat aku hendak membantu mereka tuan Albercio langsung menahan tanganku dan dia menghentikan aku untuk membantu mereka berdua.
"Aih... Sekretaris Ban sini biar aku bawa satu kopernya kau pasti sangat lelah kan" ucapku sambil berniat meraih koper di sampingnya.
Dengan cepat sekretaris Ben mengambil koper itu dan tuan Albercio menarik tanganku dengan cepat.
"Tidak. Siapa yang mengijinkan kau untuk membawa barang-barang berat ini, apa kau tidak lihat ada sekretaris Katy yang akan membantunya kau hanya perlu berjalan di sampingku, ayo cepat" ucapnya sambil menggandeng tanganku,
"Ta...tapi tuan, mereka kasihan, barangnya kan banyak sekali apa kau yakin mereka bisa membawanya hanya berdua saja?" Ucapku sambil berjalan di seret olehnya,
"Sekali aku bilang tidak ya tidak, kau sendiri juga lelah bukan, jadi ayo cepat masuk biarkan mereka menyelesaikan tugas mereka aku kan juga membayarnya dia juga bisa berlibur sesukanya dia itu terlalu enak jika kau memperlakukannya terlalu baik, ayo cepat masuk ke dalam" ucap tuan Albercio yang sudah tidak bisa aku bantah lagi.
Aku pun pergi bersama tuan Albercio menggunakan mobil yang sebelumnya di bawa oleh sekretaris Katy sedangkan mereka harus menggunakan taxi dengan membawa banyak barang milik aku dan tuan Albercio, dia memang terlihat cukup kejam karena tidak mengijinkan sekretaris Katy untuk membawa mobil lain dan meminta bantuan pada yang lainnya.
Aku sebenarnya merasa tidak enak dengan mereka berdua tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun karena tuan Albercio sudah membentak aku dan dia menahanku terus menerus.
Hingga ketika di perjalanan aku merasa sebuah mobil di belakang terus mengikuti mobil yang tuan Albercio dan aku tumpangi sejak dari bandara hingga saat ini, aku yang merasa sedikit risih dan cemas segera aku beri tahu tuan Albercio tentang hal tersebut.
"Tuan, coba kau perhatikan mobil di belakang kita, bukankah mobil itu seperti mengikuti kita sejak dari bandara?" Ucapku memberitahunya.
Tuan Albercio pun segera memeriksa lewat kaca spion mobilnya dan setelah memeriksanya dia juga mengetahui dan merasakan hal yang sama denganku, lalu dia segera menyuruh aku untuk berpegangan dengan erat.
"Sepertinya mereka memang mengikuti kita, kencangkan sabuk pengaman mu dan berpegangan yang erat aku akan menaikkan kecepatannya" ucap tuan Albercio dengan mimik wajahnya yang langsung berubah menjadi sangat serius.
Aku memang merasa sedikit takut dan panik, tapi aku segera menuruti ucapannya, mengencangkan sabuk pengaman dan berpegangan dengan erat hingga dia mulai melajukan mobil dengan sangat cepat secara tiba-tiba, dia membelokkan mobil sekaligus untuk membuat mobil di belakang yang mengikuti kami tidak bisa mendahului dan mengikuti kami terus, aku sempat berteriak kaget saking takutnya merasakan bantingan dari mobil yang di belokkan secara tiba-tiba ke samping begitu saja.
Untungnya tuan Albercio adalah pengemudi yang handal sehingga dia bisa menghadapi situasi menegangkan seperti itu, dan akhirnya kami pun bisa terbebas dari mobil yang mengikuti sedari tadi.
"Ahhh.... Akhirnya mereka tidak ada" ucapku merasa sangat lega dengan menghembuskan nafas.
Tuan Albercio terlihat memasang wajah yang serius dan marah, bahkan dia juga tidak menanggapi ucapanku yang sebelumnya mungkin dia masih merasa tegang karena kejadian barusan bahkan hingga sampai di rumah dia hanya menyuruhku untuk segera masuk ke dalam kamar dan dia sendiri justru malah pergi ke ruang kerjanya hingga sekretaris Ben dan sekretaris Katy tiba di rumah dan memasukkan semua barang-barang yang kami bawa.
Mereka langsung di minta untuk masuk ke ruang kerja tuan Albercio sedangkan aku hanya berusaha mengintip dari jauh bersa bi Susan dan bi Meli yang membantu aku memasukan barang-barang milikku ke dalam kamar milik Albercio yang tepat berada di samping ruang kerjanya itu.
Aku bahkan sampai menempelkan kupingku ke dinding untuk berusaha mendengarkan pembicaraan yang tengah mereka bahas bertiga namun sayangnya ruangan itu memang benar-benar kedap suara sehingga aku tidak bisa mendengar apapun dari sana.
__ADS_1
"Aish... Bagaimana aku mengintipnya tidak ada yang bisa di dengar dari sini" gerutuku sedikit kesal.
Hingga berbalik aku baru sadar jika saat itu aku berada di dalam kamar Albercio dan melihat bi Susan dan bi Meli yang memasukan pakaianku ke dalam lemari yang ada di kamar tersebut, aku kaget dan segera menghentikan mereka.
"E...e...eh, bi kenapa kalian memasukan pakaianku ke dalam lemari pakaian ini? Ini kan kamar Albercio apa kalian mau mendapatkan semprotan darinya" ucapku dengan heran,
"Tidak nona tuan Albercio sendiri yang memintanya sebelum dia datang sebelumnya tuan Albercio yang meminta semua barang milik nona di pindahkan ke kamarnya, tuan bilang kalian akan tidur di kamar yang sama mulai hari ini dan seterusnya" ucap bi Susan sambil tersenyum senang.
Aku sangat terganggu dengan senyum yang di tunjukan oleh bi Susan dan kesal karena Albercio malah melakukan ini tanpa memberitahu aku terlebih dahulu.
"Aishh... Sialan Albercio itu, dia selalu saja membuat keputusan sendiri tanpa meminta pendapat dariku dahulu, aku sangat membencinya" gerutuku sangat kesal sambil menghentakkan kakiku.
Saking kesalnya aku tidak bisa menahan diri dan hanya diam saja disana, aku pun bergegas pergi berniat untuk menemuinya namun disaat aku baru saja membukakan pintu kamar Albercio sudah muncul di hadapanku karena rupanya dia juga baru hendak masuk ke dalam kamar saat itu dan terdahulu oleh aku yang membuka pintunya.
"Eh... Kau mau menyambut suamimu yah?" Ucap Albercio kepadaku,
"CK... Jangan harap aku justru mau menemuimu tapi baguslah jika sekarang kau sudah ada di hadapanku" balasku berdecak kesal padanya,
"Memangnya istriku ini mau apa ingin menemuiku, apa kau sudah merindukanku hah? Baru juga kita berpisah sebenartah kenapa kamu sudah merindukanku" ucapnya sambil mengacak rambut bagian atasku beberapa saat.
Aku langsung menurunkan tangannya dari atas kepalaku dan merapihkan rambutku yang berantakan karena ulahnya yang mengacak rambut orang lain seenaknya.
"Iihhkk .. kenapa sih kau selalu saja mengacak rambutku seperti itu, sudah aku bilang aku tidak menyukainya, kau mengingatkan aku pada ayahku dan aku tidak suka itu!" Bentakku kepadanya,
"Baiklah iya aku tidak akan melakukannya" ucap Albercio sambil menaikkan tangannya.
"Eh.... Kenapa kau malah menyuruh mereka pergi, ishh... Sudahlah aku juga akan pergi" ucapku sambil berniat meninggalkan kamar itu,
"Eitsh kau tidak bisa pergi begitu saja, kau harus tetap disini menemaniku" balas Albercio sambil terus mendesak aku berjalan ke arahku terus menerus hingga aku tersandung pada ranjang dan langsung jatuh berbaring ke atas kasur itu.
"Aaahhh... Brukkk" suaraku yang jatuh terlentang di ranjang,
"Ekhmm.... Apa kau berniat menggodaku yah, baiklah jangan salahkan aku jika tidak akan melepaskanmu malam ini" ucap Albercio sambil terus mendekatiku.
Disaat dia semakin dekat denganku aku langsung mendorong tubuhnya dengan kuat.
"Albercio apa yang kau lakukan? Apa kau tidak sadar bahwa semua yang telah kau lakukan padaku itu adalah sebuah kesalahan besar!" Bentakku yang sudah kehabisan kesabaran dalam menghadapinya.
Albercio seketika terdiam dan dia menatapku dengan dalam juga mengerutkan kedua alisnya bersamaan, mungkin dia tengah berpikir saat itu mengenai ucapan yang baru saja aku sampaikan kepadanya.
"Kenapa kau bisa bicara jika semuanitu sebuah kesalahan? Aku ini suamimu dan kau adalah istriku, sudah sepantasnya sepasang suami istri melakukan kewajiban mereka, jadi apa yang salah?" Ucap dia dengan nada suara yang sedikit tinggi,
"Itu salah bahkan sangat salah, karena pernikahan kita masih diatas sebuah kontrak, dan aku tidak ingin jatuh cinta kepadamu jika nantinya kau akan meninggalkan aku ketika kontrak kita juga berakhir!" Benantakku sambil bangkit berdiri dan mendorongnya lebih kuat lagi.
Albercio mengerti sekarang mengapa Arisha bersikap kasar seperti itu kepadanya dan dia pun segera mengambil kertas kontrak yang pernah mereka tandatangani sebelumnya lalu Albercio memperlihatkan kertas itu kepada Arisha.
"Ini apa kertas ini yang menghalangiku, lihat ini aku akan menghancurkannya aku sudah putuskan tidak akan ada kontrak apapun dalam hubungan kita, aku menyukaimu dengan tulus Arisha dan aku berjanji padamu bahwa aku akan selalu melindungimu apapun caranya" ucap Albercio lalu merobek semua surat kontrak tersebut.
__ADS_1
Aku kaget terperangah dan menutupi mulut dengan kedua tanganku karena sangat kaget melihat surat kontrak itu di robek oleh Albercio di depan mataku, lalu dia langsung memelukku dengan erat setelah merobeknya dan membuang surat kontrak itu pada mesin penghancur yang ada di dalam kamarnya tersebut.
"Aku sudah menghancurkannya tidak akan ada yang mengetahui tentang hal ini dan kau tetaplah istri sahku dimana semua orang dan negara, dengan ada atau tidaknya kontrak itu, jadi aku mohon terimalah kasih sayang dariku Arisha aku akan memperlakukan kamu dengan baik" ucap Albercio dengan lembut kepadaku.
Awalnya aku tidak membalas pelukannya itu namun setelah mendengar suaranya dan ucapan dia yang begitu meyakinkan aku pun membalas pelukannya dan aku menatap dia sambil tersenyum.
"Albercio apa kau berjanji dengan semua ucapanmu itu?" Tanyaku kepadanya untuk memastikan,
"Iya tentu saja aku berjanji dan aku tidak akan pernah mengingkari janjiku kepada siapapun apalagi kepada istriku yang paling aku cintai ini" balasnya kepadaku sambil mengecup keningku.
Aku sangat senang karena akhirnya aku bisa merasakan kembali bagaimana rasanya di cintai oleh seseorang setelah sekian lama menjalani hidup yang hampa dan sangat menyakitkan.
Malam itu menjadi malam paling indah untuk aku maupun Albercio, kedua insan yang sudah bersatu dan memutuskan untuk menjalani hidup bersama-sama hingga akhir hayat mereka. Aku sangat bersyukur di balik hal yang paling mengerikan dan menyedihkan yang pernah aku lalui kini aku mendapatkan hikmah yang baik bahkan sangat luar biasa.
Bisa di cintai seseorang seperti Albercio adalah sebuah anugrah besar bagiku, sebab aku percaya dan sangat yakin bahwa tidak akan ada wanita yang bisa merebut dirinya dariku, aku juga akan berusaha mencintai dia sebesar rasa cinta yang dia berikan kepadaku.
Meski usia kami terpaut cukup jauh namun aku merasa sangat di utamakan olehnya.
Kehangatan yang dia berikan kepadaku yang membuat aku luluh pada akhirnya, aku merasa sangat di ratukan olehnya bahkan di pagi harinya dia menggendongku ke kamar mandi, mengeringkan rambutku dan menuntun aku berjalan menuruni tangga, rasanya ini sedikit agak berbeda dan aku masih merasa aneh dengan dirinya yang perhatian seperti ini kepadaku.
Namun tidak menampik aku juga sangat senang mendapatkan semua perhatian itu darinya, memang mungkin inilah yang aku harapankan sejak lama, setelah mendapatkan banyak perhatian dan kasih sayang dari Albercio aku sama sekali sudah terpikirkan dengan balas dendam yang tadinya ingin sekali aku lakukan kepada Melinda.
Hingga ketika sarapanpun dia menyuapi aku dan selalu memperhatikan aku dan mengutamakan semua tentangku dengan baik.
"Sayang mulai sekarang aku tidak akan mengekang mu, aku akan memperbolehkan kemanapun kamu ingin pergi namun dengan satu syarat kamu harus pergi bersama bi Susan dan bi Meli agar mereka bisa melindungimu dimanapun kamu berada, kamu tahu aku sangat mencintaimu kan" ucap Albercio kepadaku,
"Iya aku tahu itu, bahkan aku sudah sangat sering mendengarnya dari mulutmu itu, aku akan selalu bersama mereka berdua kemanapun aku pergi, itu janjiku padamu" balasku sambil tersenyum padanya.
Dia mengecup keningku dan aku juga mengecup tangannya hingga dia segera pergi untuk bekerja dan aku bisa merasa bebas tinggal di rumah sendirian.
"Aaahhhh.... Aku benar-benar bisa melayang jika dia terus bersikap manis seperti itu kepadaku setiap hari, tidak terbayang lagi huaaa...." Ucapku sambil berguling guling sendiri di sofa.
Bi Susan datang menghampiriku dan dia menyajikan cemilan juga teh manis untukku yang biasa aku minum.
"Nona kelihatannya hubungan nona dengan tuan besar menjadi sangat baik sekarang, bibi merasa turut senang melihatnya, karena akhirnya kalian berdua bisa bersama" ucap bi Susan membuat aku sedikit malu,
"Aaahh... Bibi ini bisa saja, aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa merasa baper dengan ucapan pria tua itu padahal dia lebih cocok menjadi kakaku bukan atau menjadi pamanku di bandingkan menjadi suamiku, tapi aku menyukainya karena dia bersikap dewasa dan baik padaku" ucapku mengatakannya,
"Nona walau tuan besar kadang terlihat seperti orang tua dan melakukan aturan yang keras terhadap nona, itu juga dia lakukan demi kebaikan nona karena dia sangat menyayangi nona dan tidak ingin nona terluka sedikitpun, hanya saja mungkin caranya terlalu menyulitkan nona, mungkin itu juga karena tuan besar tidak pernah jatuh cinta sebelumnya apalagi berhubungan dengan seorang wanita" balas bi Susan memberi tahuku.
Aku langsung membuka mataku lebar, akutidak percaya jika seorang tuan besar dan kaya raya sepertinya tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, aku pun menjadi sangat penasaran dan meminta bi Susan untuk menceritakan mengenai dirinya selama bi Susan bekerja dengannya.
"Bi.. apa kau sungguh bicara benar? Dia itu kan kaya raya dan wajahnya juga cukup tampan bagaimana mungkin dia tidak pernah jatuh cinta, bahkan kemari saja saat aku pergi ke perusahaan dia yang di negara A aku lihat ada wanita yang mengincar dia dan keganjenan dengannya, bagaimana bisa dia tidak pernah jatuh cinta usianya kan sudah bukan remaja lagi" balasku yang masih tidak mempercayai ucapan bi Susan,
"Jika nona tidak percaya coba saja nona tanyakan kepada ibunya tuan besar atau pada tuan besarnya langsung, bibi bekerja dengan mereka sudah sejak lama bahkan ketika tuan besar masih kecil, dulu itu hanya ada tiga pelayan di rumah ini, bibi dan bi Meli yang mengurus rumah dan bi Mia yang mengasuh tuan besar, mungkin dia akan lebih mengetahui mengenai tuan besar" tambah bi Susan menceritakan,
"Ja...jadi aku wanita pertama baginya?" Tanyaku untuk memastikan,
__ADS_1
"Tentu saja nona, selama bibi bekerja di rumah ini hanya ada dua wanita yang masuk ke sini, yang pernah nyonya besar dan yang kedua sekretaris Katy, dia juga baru bekerja selama dua tahunan ke belakang itu karena tuan Albercio pernah menolong dia dalam sebuah kecelakaan besar, tuan Albercio sebenarnya adalah orang yang baik, buktinya dia pernah menyelamatkan sekretaris Katy dari seorang mafia besar di kota ini, jika bukan tuan Albercio yang menyelamatkannya saat itu, mungkin sekretaris Katy sudah tiada di tangan mafia kejam tersebut, maka dari itu sekretaris Katy mendedikasikan dirinya untuk tuan Albercio dan perusahaan" ucap bi Susan menceritakan semuanya.