Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Dia mengambil kesempatan


__ADS_3

Aku sangat kesal dan emosi di dalam diriku sudah sangat menggebu-gebu, aku sudah mendobrak pintu ruang kerja Albercio sangat keras bahkan hingga kakiku sendiri terasa sakit dibuatnya.


"Hadududuhh....aishhh, dasar pintu sialan menyakitiku saja" gerutuku kesal sambil memegangi kakiku yang terasa nyeri.


Saat itu aku lihat Albercio tengah duduk di meja kerjanya dengan santai dan dia menatap ke arahku dengan tatapan yang dingin dan wajah datar seperti biasanya, aku pun berjalan dengan perlahan dan sedikit pincang karena kakiku masih sakit bekas menendang pintu sebelumnya.


"Heh, Albercio kau tidak lihat kakiku sakit, kau ini suami macam apa membiarkan istrinya kesakitan seperti itu dan hanya diam saja aishhh... benar-benar kau yah" gerutu lagi dengan mulut yang aku rekatkan karena gemas melihatnya hanya menatapku sekilas dan mengabaikan aku lagi.


Ingin rasanya aku menjambak rambutnya dan mengacak-acak meja kerjanya saat itu juga tapi sayangnya aku tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk melawannya sehingga aku hanya bisa menggerutu seorang diri dan merasa kesal atas dirinya yang begitu menyebalkan sejak lama dan selalu menguras kesabaran di dalam diriku.


Bahkan ketika aku sudah berdiri dengan kesal di depan mejanya dia malah tetap berpura-pura fokus dengan pekerjaannya dan terus menatap ke depan layar laptop di hadapannya dan dia seakan tidak menganggap kedatanganku di ruangan tersebut, dia benar-benar pria paling menjengkelkan yang pernah aku temui di dunia ini.


Aku pun mulai berteriak memanggil namanya dengan sangat keras yang aku bisa sampai akhirnya dia menatap ke arahku dan setidaknya dia menganggap keberadaanku di sana.


"ALBERCIO!" teriakku membentak dengan kesal,


"Ada apa kau kemari, aku tahu kau hanya akan menggangguku jadi cepat keluar" balasnya begitu saja dengan nada sombongnya itu.


Aku berusaha menenangkan diriku sendiri agar tidak tersulut emosi karena aku ingat niat awalku menemuinya adalah membujuk dan meminta kepadanya agar tidak memecat kedua pelayanku yang tidak lain adalah bi Susan dan bi Meli aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang baik dan menyayangiku dengan tulus seperti mereka berdua.


"Huuuhh....sabar Arisha...sabar...ini demi kedua pelayan kesayanganmu ini untuk mereka aku harus sabar menghadapi manusia menjengkelkan ini" gerutuku pelan sambil mengurut dadaku dengan pelan.

__ADS_1


Aku pun memasang wajah senyum yang bisa aku lakukan saat itu lalu kembali bicara dengan baik-baik kepada Albercio.


"Tuan Albercio yang tampan dan menawan bisakah kau memperhatikan aku sebentar ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu" ucapku dengan menatapnya memakai tatapan yang semanis mungkin.


Akhirnya akting ku berhasil Albercio menutup laptopnya dan dia menyuruhku duduk diatas pangkuannya.


"Baiklah ayo duduk kemari" ucapnya sambil menepuk pahanya sendiri,


Aku membelalakkan mataku kaget dan tidak mengerti dengan maksudnya, dia benar-benar tidak tahu malu dan sangat menyebalkan.


"Mari kesini aku tidak akan bisa mendengar perkataanmu dari jarak sejauh itu kan, jadi kemari atau aku akan kembali dengan pekerjaanku" ucap Albercio yang membuatku tidak memiliki pilihan lain.


"Benar-benar manusia tidak tahu diri aku kasih hati malah minta jantung, aishhh aku ingin memberikan pelajaran kepadanya saat ini juga aaarrghh...andai saja dia tidak memecat bi Susan dan bi Meli aku tidak sudi melakukan semua ini" gerutuku merasa jijik dan kesal kepadanya.


"Aaaahhh....hey.... Albercio apa yang kamu lakukan lepaskan aku!" Bentakku sudah habis kesabaran,


"Tidak aku tidak akan melepaskanmu, cepat katakan apa yang mau kau beritahu kepadaku sebelumnya" ucap Albercio membuatku sangat jengkel.


Rasanya percuma saja meski aku memberontak kepadanya dia tidak akan pernah melepaskan aku dan aku juga tidak bisa melarikan diri dengan mudah pada pria sialan dan licik sepertinya sehingga aku harus mengikuti permainan yang dia lakukan.


"Oke...aku akan mengatakannya dan dengarkan ini baik baik" balasku kepadanya dengan wajah yang berubah serius,

__ADS_1


"Ya katakanlah aku akan mendengarkan istrimu" balasnya membuatku semakin kesal setiap kali dia memanggilku istrinya,


"Albercio aku tahu kau tidak sejahat yang terlihat jadi aku mohon kepadamu tolong jangan pecat bibi Susan dan bibi Meli mereka orang yang menjagaku selama kau tidak ada mereka juga merawatku dengan sangat baik, aku menyayangi mereka seperti keluargaku sendiri, aku tidak ingin kehilangan orang baik seperti mereka jadi aku mohon padamu tolong jangan pecat mereka dan biarkan mereka bekerja padamu" ucapku memohon kepada Albercio dengan sepenuh hatiku.


Meski aku membenci Albercio dan benci duduk di pangkuannya namun ketika mengingat semua kebaikan bibi Susan dan bi Meli kepadaku selama ini aku tidak bisa membuat mereka kesulitan sebab dipecat oleh Albercio, mereka tidak bersalah sama sekali atas semua yang aku langgar karena mereka juga sudah memberitahuku berkali kali sebelumnya.


Mereka selalu membantuku untuk berbohong pada Albercio dan mereka yang selalu menyempatkan aku di saat-saat paling sulit bahkan mereka juga membantuku disaat aku melancarkan aksi penyusupanku ke dalam keluarga Koward sebelumnya, mungkin jika aku tidak mendapatkan beberapa informasi dari mereka aku juga belum tentu bisa melakukan semuanya tanpa meninggalkan jejak seperti itu.


Makanya aku tetap memberanikan diri untuk berbicara bahkan mohon kepada Albercio demi mempertahankan mereka dan Albercio hanya diam saja ketika aku meminta hal tersebut kepadanya.


"Tuan aku mohon, tolong kabulkan satu permintaanku ini saja kau sendiri tahu sebelumnya aku tidak membutuhkan apapun dan aku tidak pernah meminta apapun darimu, tapi kali ini aku hanya meminta satu hal padamu tetaplah pekerjakan mereka denganku jangan pecat mereka jika kau marah kepada mereka karena kelakuanku yang kabur saat itu, lebih baik kau memarahi aku dan salahkan aku saja, hukum aku jika kau..." Ucapku terhenti karena dia tiba-tiba saja mencium bibirku sekilas.


Aku refleks langsung mendorongnya dan menutup mulutku dengan kedua tangan serta mata yang terbuka lebar saking kagetnya dengan apa yang dilakukan Albercio kepadaku barusan.


"Albercio apa yang kamu lakukan kau br*ngsek!" Ucapku dengan mulut yang masih aku tutupi dengan tangan.


Saat itu Albercio juga kehilangan akal dia tidak sadar dan gagal mengontrol dirinya sendiri saat melihat bibir Arisha yang terus berbicara tanpa henti kepadanya, saat kejadian itu terjadi Albercio pun segera menurunkan Arisha dari pangkuannya dan dia menatap dengan tatapan yang gugup serta panik sendiri.


"Maa..maafkan aku tadi aku tidak sengaja" ucap Albercio sedikit gugup,


"Heh, tidak sengaja apanya kau melakukan itu dalam keadaan sadar aishh kau merebut ciuman pertamaku huaaa menyebalkan, pokoknya sekarang kau harus berjanji padaku untuk tidak memecat mereka berdua karena kau sudah mengambil keuntungan dariku barusan" bentakku membuat kesepakatan dengannya,

__ADS_1


"Aishh....kau ini ya, sudah iya iya terserah kau saja, mereka tidak akan aku pecat sudah puas?, Sekarang keluar kau dari ruanganku!" Bentak Albercio mengusir Arisha.


__ADS_2