
Mendengar ucapan itu tatapan mata Albercio seketika berbalik dengan lurus menatap tajam ke arah sekretaris Ben dan seakan dari matanya memancarkan cahaya laser yang tajam dan siap menghanguskan sekretaris Ben saat itu juga.
Mendapatkan tatapan menyeramkan dari tuan mudanya sekretaris Ben langsung mengerti dan dia langsung berjalan cepat sambil menunduk segera masuk ke dalam lift lebih dulu dan berdiri di pojokan seperti seorang pria penjaga lift.
"Hehe...ba..baiklah tuan mari kita cepat pergi dari sini.." ucap sekretaris Ben gelagapan.
Albercio terus menggendong Arisha di tangannya dari lantai atas hingga masuk ke dalam mobil, saat mobil mulai dilakukan oleh sekretaris Ben, tuan Albercio mulai merasakan pinggangnya yang sakit dan otot otot lengannya yang pegal karena menggendong Arisha dalam waktu yang lama.
"Aish.....dia ini manusia atau ba*i sih, kenapa berat sekali, pinggang ku rasanya mau patah setelah menggendong dia, sialan tau begini aku akan membiarkanmu menggendongnya tadi" ucap Albercio menggerutu pada sekretaris Ben.
"Tuan sih, saya kan sudah menawarkan diri anda yang beri keras mau terus menggendong nyonya" jawab sekretaris Ben,
"Ya....ya...lain kali aku akan serahkan kepala batu ini padamu, malas sekali harus menggendong dia kedepannya huuhh" ucap Albercio sambil memijat lengannya sendiri.
Cukup lama di perjalanan hingga sampai di rumah, aku baru tersadar dari tidurku dan mulai mengerjap ngerjapkan mata perlahan, menyeimbangkan pencahayaan dan menormalkan penglihatan ku ke berbagai arah.
"Hoammm...eh...aku ada di mana?" Tanya ku bingung saat aku baru bangun,
"Nyonya kau sedang ada di dalam mobil, dan alangkah lebih baik jika anda segera turun kalau tidak tuan Albercio akan menggendongku lagi atau aku sendiri yang harus melakukannya" ucap sekretaris Ben membuat ku semakin keheranan.
"Heh!, Memangnya siapa yang mau digendong oleh Albercio?, Aku akan turun tanpa kau minta" jawabku dengan kesal.
Padahal saat itu aku baru saja terbangun namun sudah mendapatkan perlakuan se kasar itu dasar mereka berdua orang berhati batu tak punya perasaan sedikit pun.
Aku langsung keluar dan saat aku membuka pintu mobil nampak Albercio sudah berdiri di hadapanku aku pun membentaknya secara tidak sengaja karena dia yang tiba tiba berdiri di sana dan menghalangiku untuk keluar dari mobil.
__ADS_1
"Heh...minggir kau, kenapa menghalangiku!" Bentakku dengan sinis,
Albercio nampak berdecak pelan dan dia langsung menyingkir begitu saja dari sana, aku pun tidak perduli dengan ekspresi wajah yang dia perlihatkan padaku dengan kecut dan kerutan jelas di dahinya.
Meski aku tau saat ini dia tengah menahan emosi tapi aku juga tau kenapa dia bisa semarah itu padaku.
"Kenapa wajahmu begitu, apa kau marah hanya karena aku bentak sedikit, hey asal kau tau aku membentakmu karena kau menghalangiku itu saja" ucapku menjelaskan karena ku pikir dia marah karena hal itu,
"Terserah kau saja" ucap Alberydan langsung berjalan masuk ke dalam rumah begitu saja,
Sekretaris Ben juga sudah langsung meninggalkan rumah sejak tadi, aku hanya bisa menatap punggung Albercio yang berlenggang pergi meninggalkanku.
"Eihhh....mereka kenapa sih aneh sekali?" Gerutuku merasa bingung.
Aku pun ikut masuk ke dalam rumah dan saat aku hendak menaiki tangga hidungku mencium.bau yang sangat lezat dan harus dari arah dapur.
Saat aku sampai di dapur ternyata benar saja makanan sudah tersaji dengan rapih di atas meja makan, aku sangat senang dan mataku berbinar saat melihat semua makanan enak itu, aku langsung duduk dan meminta bibi Mia untuk memberikanku piring juga sendok.
"Bi...aku mau piring dan sendok, cepat bi aku tidak sabar ingin mencicipi semua makanan ini" ucapku berteriak,
Bibi Mia datang menghampiriku dengan senyum yang selalu terpancar di bawahnya beliau juga membawa dua buah piring lengkap dengan sendok garpu juga secarik tisyu, lalu bibi Mia menyimpan kedua piring itu berhadapan dan merapihkannya, saat itu karena aku sudah tidak sabar dan sangat lapar karena sudah mencium aroma wangi makanan di sana perutku jadi lebih cepat lapar, aku langsung mengambil alih salah satu piring dari tangan bibi Mia dan bersiap untuk mengambil nasi namun, tanganku tiba tiba saja ditahan dengan kuat oleh bibi Mia.
"Eh...tunggu nyonya, apa anda lupa peraturan di rumah ini, nyonya hanya bisa mulai makan ketika tuan sudah makan atau kalian makan bersama" ucap bibi Mia mengingatkan aturan menyebalkan itu.
"Bi, jika aku sudah sangat lapar apa aku masih tetap harus menunggunya?" Tanyaku dengan lesu sambil menaruh kembali piring di tanganku ke meja,
__ADS_1
"Iya nyonya, karena itu sudah peraturannya, tuan selalu rapih dan disiplin, akan bahaya jika sampai salah satu dari kita tidak mengikuti aturannya" jawab bibi Mia yang seakan memperingatiku.
"Ah...ya...iya...bi aku akan menunggunya, meski perutku sudah bersuara sejak aku mencium wangi lezat ini" ucapku lesu tak bertenaga,
Aku menyerah dan tidak bisa melawan apa yang diucapkan oleh bibi Mia sebelumnya memang benar, aku juga sudah menandatangani semua peraturan itu jadi tidak ada yang bisa kulakukan, sudah lebih untung dia tidak banyak menyuruh nyuruhku beberapa hari ini, jangan sampai aku menyulut emosinya lagi kalau tidak aku bisa mati kelelahan karena ulahnya.
Aku terus duduk menunggu sampai akhirnya perutku sudah sangat lapar dan aku tidak tahan lagi untuk segera menyantap makanannya.
Aku pun memutuskan untuk pergi menemui Albercio di kamarnya, meski aku sangat benci tapi aku lebih mementingkan rasa lapar pada perutku dibandingkan gengsi di dalam diriku.
"Tok....tok....tok...." Suara pintu yang aku ketuk perlahan.
Aku sangat gugup dan takut mengganggunya, pasalnya terakhir kali aku melihat wajah Albercio ekspresi di wajahnya sangatlah tidak baik, aku menjadi agak gugup karena mengingat hal tersebut.
Beberapa saat aku sudah mengetuk pintu kamar Albercio beberapa kali namun tidak ada sahutan dari dalam dan pintu tetap tertutup rapat, aku kembali mengetuk lebih keras dan lebih sering namun hasilnya tetap sama.
Hingga terpaksa aku berteriak membentak dan menendang pintu kamar itu sekuat tenaga.
"Hey..... Albercio apa yang sedang kau lakukan di dalam?, Apa kau sedang bertapa, cepat keluar aku sudah lapar!, Kapan kita akan mulai makan" bentakku sekuat tenaga,
Tak lama akhirnya Albercio membuka pintu kamarnya, namun ada yang berbeda dengan wajahnya yang nampak pucat dan matanya sedikit merah juga lebam.
"Eh...apa yang terjadi padamu, kau baik baik saja bukan?" Tanyaku merasa sedikit aneh,
"Kenapa kau menanyakan itu, ayo cepat turun, bukankah kau kemari untuk mengajakku makan" ucap Albercio berjalan mendahuluiku,
__ADS_1
"Baiklah" balasku dan mengikuti langkahnya dari belakang.