Rencana Balas Dendam

Rencana Balas Dendam
Merawatku


__ADS_3

Selesai memeriksa kakiku yang terkilir dan memberikan obat pereda nyeri padaku, dokter itu bahkan tersenyum menatapku karena dia terus mendapatkan ocehan juga tatapan tajam dari Albercio.


"Dokter, bagaimana keadaan istri saya apakah dia baik baik saja, bagaimana dengan kakinya?" Ucap Albercio bertanya penuh kekhawatiran,


Dokter lagi lagi semakin tersenyum lebar karena dia tau bahwa kakiku hanya terkilir sedikit dan itu sama sekali tidak akan membahayakan jiwaku namun kecemasan yang ditunjukkan oleh Albercio begitu berlebihan dia bahkan meminta dokter untuk menunggu di sana hingga besok dan melihat perkembangan pada kakiku yang bengkak.


"Dokter kenapa anda malah tersenyum, cepat jawab jika anda tidak menjawab berarti anda harus merawat istri saya sampai besok dan pastikan kakinya sembuh tanpa meninggalkan bekas apapun" ucap Albercio yang membuatku semakin malu pada dokter tersebut.


Ya meskipun Albercio adalah orang kaya dan dokter tersebut adalah dokter yang bekerja di rumah sakit milik keluarganya namun tetap saja banyak pasien yang jauh lebih membutuhkan dokter tersebut di luar sana dibandingkan aku.


Aku pun segera bicara pada Albercio dan menjelaskan masalah keadaanku bahwa aku baik baik saja.


"A...ahh...dok...maafkan Albercio dia ini hanya khawatir berlebihan terimakasih sudah memeriksa saya, dokter sebaiknya pergi saja saya akan baik baik di sini" ucapku merasa tidak enak.


"Baiklah jika ada apa apa langsung hubungi saya" ujar dokter sambil tersenyum ramah,


Melihat dokter pergi Alber segera menghadangnya dan di membentak dokter lagi juga meminta penjelasan.


"Eh ..dokter mau kemana kau, aku kan sudah bilang kamu harus merawat istriku!" Bentak Albercio,


"Tuan sepertinya anda terlalu mencemaskan istri anda dengan berlebihan dia hanya mengalami keseleo hingga menyebabkan pergelangan kakinya sedikit bengkak, dan barusan saya sudah memperbaiki tulang yang sedikit menggeser juga memberikan obat pereda nyeri mungkin besok memar dan bengkaknya akan segera membaik, jadi anda tidak perlu terlalu cemas" jawab dokter yang pada akhirnya menjelaskan semua.


Setelah mendengar penjelasan yang detail dari dokter barulah Albercio mengijinkan dokter itu untuk pergi dari kamar Arisha dan dia mengantarkan dokter itu hingga di depan pintu keluar.


Setelah itu aku pikir Albercio tidak akan kembali ke kamarku lagi jadi aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi karena sudah tidak tahan ingin membasahi tubuhku sekaligus membasuh rambutku yang sudah lepek.

__ADS_1


Saat baru saja aku hendak berjalan menuju kamar mandi Albercio datang dan berteriak memarahiku sambil berlari ke arahku dan menarik tubuhku untuk duduk di ranjang.


"Arisha...dasar kau ini keras kepala kenapa kau malah berdiri kakimu kan masih bengkak ayo cepat duduk" ucap Albercio dengan panik,


"Al...All...tolong berhenti bersikap berlebihan seperti ini, aku baik baik saja dan aku masih bisa berjalan, percayalah ini tidak se sakit dan separah yang kamu pikirkan, jadi jangan lebay!" Ucapku memberitahunya,


"Heh... Aku ini bukan lebay jika terjadi sesuatu padamu maka aku juga yang harus bertanggung jawab aku tidak mau kau terus merepotkanku lebih parah lagi!" Ujarnya beralasan.


Aku tau ucapan itu hanya alasan yang dibuat buat oleh Albercio karena faktanya jika memang dia tidak mau aku merepotkan ya kenapa juga dia harus bersih keras memanggil dokter ahli tulang untuk datang ke rumah memeriksaku padahal sebelumnya aku sudah berusaha menjelaskan kalau kakiku hanya terkilir, tapi dia tetap bersikap semaunya dan begitu panik saat pertama kali melihatku jatuh.


"Ya sudah kalau kau takut aku merepotkanmu, kau tidak usah mengurusimu, cepat sana kembali ke kamarmu dan beristirahat saja aku bisa melakukan semuanya sendiri" jawabku dengan serius,


"Eh...eh...eh, apa kau merajuk padaku aku hanya bercanda aku memang mengkhawatirkanmu karena kontrak kita masih berjalan" jawabnya menimpali.


"Eishh....Arisha sadar apa yang kamu harapkan dari pria sepertinya, kamu masih memiliki dendam yang belum kamu balaskan!" Ucapku memperingati diriku sendiri.


Saat berpikir mengenai dendam aku baru ingat dengan tas yang aku lembar dan berhasil aku sembunyikan di balik semak semak yang ada di belakang taman rumah ini, aku sekarang cemas memikirkan itu sampai lupa kalau Albercio masih ada bersamaku di kamar itu.


"Heh...Arisha cepat katakan tadi kau mau ke mana biar aku bantu lalu cepatlah kau istrinya" ucap Albercio yang tiba tiba,


"Ahh....itu aku mau ke kamar mandi, aku mau mencuci rambutku" jawabku dengan jujur,


"Ya sudah ayo aku bantu" jawabnya sambil menggendongku begitu saja dengan mudah.


Aku kaget saat dia tiba tiba menggendong tubuhku tanpa memberikan aba aba apalagi meminta izin dahulu kepadaku.

__ADS_1


"Eh .. apa apaan kau ini cepat turunkan aku seenaknya menggendong tubuh orang!" Bentakku dengan kesal dan sedikit kaget.


"Memangnya kau pikir kau ini orang, sudah jangan banyak bicara aku hanya ingin membantuku ke kamar mandi" jawabnya dan menurunkanku di dalam kamar mandi,


Dia pun meninggalkanku seorang diri dan menutup pintunya, aku benar benar merasa Albercio berubah, dia bisa saja mengabaikanku di saat aku terluka karena dia membenciku sebelumnya apalagi paman dan bibi ku adalah penyebab kerugian besar yang dia alami, namun kenapa dia tiba tiba bersikap lembut dan menghormatiku.


Aku tidak bisa jika tidak menyimpan kecurigaan padanya, semua perubahan sikap yang ada pada dirinya mengharuskanku menaruh curiga yang kuat dan banyak.


"Ahhh....aku harus waspada, jangan sampai nanti dia meminta sesuatu yang berharga dariku atau apa dia mau mentumbalkan aku karena paman dan bibi yang tidak bertanggung jawab dan tidak bisa di tangkap oleh Albercio?,... Aaahh ini gawat bagaimana dengan nasibku" gumamku saat menyuci rambut di kamar mandi.


Semua bayangan serta pemikiran aneh di dalam pikiranku terus melayang dan membuatku takut akan semua kemungkinan yang tidak pasti tersebut.


Aku mengabaikan semuanya karena ku pikir aku masih ada kesempatan untuk kabur dari cengkraman Albercio, aku segera mempercepat membilas rambutku dan berjalan perlahan hendak keluar dari kamar mandi.


Saat aku membuka pintu aku sangat kaget melihat Albercio yang sudah berdiri dengan tegak dan diam mematung di hadapanku dengan kedua tangan yang dia lipatkan di dadanya.


"Aishh...jangan bilang kalau kau menungguku sedari tadi di sini?" Ucapku menebak,


Aku pikir itu hanya dugaanku saja karena rasanya sangat tidak mungkin seorang Albercio yang terkenal dingin, kejam juga keras kepala dan sangat membenciku mau menungguku di depan pintu kamar mandi dalam waktu yang cukup lama dan dengan posisi berdiri seperti itu.


Saat aku bertanya padanya untuk memastika Albercio seperti menahan emosi dan dia menatapku dengan sinis.


"Heh, kenapa kau lama sekali di dalam aku hampir jamuran menunggumu di sini" bentak Albercio yang ternyata dia memang menungguku di sana sedari tadi.


Aku tidak tau lagi harus berkata dan menjawab apa padanya aku hanya bisa kaget sambil menutupi mulutku yang terbuka saking tidak percayanya dengan ucapan Albercio yang mengatakan dia sudah berdiri di sana sejak lama untuk menungguku.

__ADS_1


__ADS_2