
Matahari mulai muncul di upuk timur dan menerangi bumi dengan perlahan, Arisha terbangun dan mengerjap ngerjapkan matanya, saat menatap ke sekeliling ruangan dia kaget dan langsung bangkit terduduk.
"Astaga... Kenapa aku ada di sini bukankah semalam aku tidur di bak mandi, siapa yang memindahkan ku ke kamar?" Ucapku penuh kebingungan,
Aku langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri lalu segera bergegas terburu buru pergi menemui Albercio ke kamarnya.
"Tok... Tok... Tok..." Ketukan pintu yang ku ketuk pagi pagi,
Albercio yang tengah tertidur lelap merasa terganggu dengan ketukan pintu dan dia bangun dengan kesal berjalan membuka pintunya.
"Ada apa lagi, siapa yang berani beraninya mengganggu tidurku di akhir pekan, benar benar cari mati!" Ucap Albercio sambil membuka pintu dengan kasar.
Saat di lihatnya ternyata itu adalah Arisha dia langsung saja berkacak pinggang dan mengerutkan bibir serta kedua alisnya bersamaan, dia menatap tajam ke arah Arisha yang masih memakai baju piyamanya.
"A... Aku ke sini hanya ingin tau apa kau yang memindahkan ku ke kamar semalam?" Tanyaku sedikit gugup dan takut ketika melihat ekspresi Albercio yang begitu menyeramkan.
Rambut berantakan dan pakaian yang kusut serta matanya yang terbuka lebar dan bibir yang di gigitnya sendiri dengan keras membuat bulu kudukku merinding, aku tau dia sedang marah tapi aku sendiri juga tidak tau kenapa pagi pagi begini orang itu sudah dipenuhi emosi.
"Arghhhh... Jadi kau mengetuk pintu sepagi ini hanya untuk menanyakan hal tidak penting itu, dasar kau pendek pergi kau... CEPAT!!" bentak Albercio dan dia menutup kembali pintunya dengan kencang.
Aku hanya termenung dan kaget karena dia menutup pintunya begitu keras bahkan saat aku belum selesai bicara padanya dia juga tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya.
"Hah?, Apa harus semarah itu hanya karena mengetuk pintu di pagi hari, lagi pula dia kan sudah bangun apa susahnya menjawab" ucapku kesal dan tak habis pikir dengan Albercio.
__ADS_1
Aku kembali ke kamar dan hendak mengganti pakaian saat ku lihat lemari pakaian di kamarku benar benar kosong melompong tidak ada satu helai pakaian pun di sana, dan hanya ada beberapa helai piyama untuk tidur saja itupun terlalu kebesaran untukku, aku ingin meminta bantuan bi Mia namun aku tidak enak hati jika harus mengganggunya sepagi ini, alhasil aku terpaksa mengenakan sebuah piyama hitam bercorak putih yang lumayan kebesaran untukku, tanganku tertutup dan bagian kakinya harus aku lipat beberapa lipatan agar bisa berjalan dengan aman.
Aku bahkan sempat berpikir mungkin piyama itu juga milik Albercio karena dilihat dari ukurannya yang sangat jauh dari tubuhku bagaimana mungkin mereka membelikan pakaian ini untukku jelas sekali ini pasti piyama milik Albercio.
Aku turun ke lantai bawah dan pergi ke dapur untuk mengambil minum di sana aku bertemu bibi Mia dan beberapa pelayan lain yang sudah sibuk membersihkan lantai juga menyiapkan masakan untuk sarapan, karena aku tidak ada kegiatan aku pun memutuskan untuk membantu bibi Li berjalan jalan memantau pekerjaan para pelayan lain, sekaligus agar aku mengetahui semua bagian dari rumah mewah tersebut.
Saat tengah berjalan jalan tiba tiba saja bibi Mia menanyakan suatu hal yang menggelikan padaku.
"Nyonya bagaimana malam pertamanya, saya lihat loh semalam tuan muda menggendong nyonya ke kamar, romantis sekali" ucap bi Mia sambil tersenyum sendiri,
"Oh jadi betulan dia yang menggendongku semalam" gumamku dalam hati,
"Nyonya saya benar benar senang melihat tuan bisa bersama nyonya, saya yakin nyonya orang baik, tidak seperti perempuan lain yang hanya mengincar harta tuan" tambah bi Mia,
"Tapi bi, aku sama sekali tidak menyukainya dan aku justru sangat membencinya aku mau pergi dari sini bi" jawabku dengan jujur,
Aku hanya bisa tersenyum tipis dan menggerutu kesal di dalam hati.
"Malam pertama apanya, aku justru malah dikunci di kamar mandi dan tidur di bak yang dingin, hah menyebalkan" gerutuku kesal.
Setelah sarapan siap aku pun kembali ke meja makan dan duduk bersiap untuk makan, semua makanan sudah di sajikan diatas meja namun saat aku hendak mengambil nasi bibi Mia menahan tanganku dengan kuat.
"Jangan nyonya, kita harus menunggu tuan dulu baru nyonya bisa makan setelah tuan mempersilahkan" ucap bi Mia,
__ADS_1
Aku pun terpaksa hanya bisa mengangguk menuruti dan aku terus kembalikan piring serta nasi yang hendak aku ambil sebelumnya, aku duduk dengan tangan yang menahan dagu di atas meja makan, kesal sekali makanpun aku harus menunggu orang itu dahulu.
Sudah hampir dua puluh menit berlalu tapi pria itu tidak datang juga, aku sudah sangat lapar dan tidak tahan lagi, akhirnya aku memutuskan untuk pergi membangunkannya meski aku tau konsekuensi apa yang aku dapatkan jika membangunkan beruang kutub sepertinya.
Ku ketuk pintu kamarnya dengan keras dan berteriak membangunkannya sekuat tenagaku.
"Duk...Duk... Duk... Heyy bangun ini sudah hampir pukul tujuh, apa kau akan terus tidur... Cepat bangun dasar beruang kutub, hey aku sudah... " Ucapku terhenti karena menyadari pintu kamar sudah terbuka.
Albercio berdiri tegak sambil salah satu tangannya memegang pintu dan satunya lagi dia kepalkan dengan kuat sampai urat urat tangannya terlihat jelas, aku menelan salivaku dengan susah payah dan bicara dengan gugup mengajaknya sarapan.
"A... Aku hanya mau mengajakmu sarapan, ayo kita sarapan semuanya sudah siap" ucapku gugup dan segera bergegas pergi meninggalkannya.
Ku usap dadaku yang berdetak kencang sedari tadi, untunglah aku masih bisa lolos dari orang itu, meskipun masih harus tetap menunggu sedikit lagi, bibi Mia hanya tersenyum kecil yang melihatku clingukan dan sedikit ketakutan setelah turun dari tangga.
"Bagaimana nyonya, apa tuan sudah bangun?" Tanya bi Mia,
"Sudah, aku yakin dia akan turun sebentar lagi" jawabku sambil kembali duduk di kursi dengan khawatir.
Aku takut pria itu akan membalas perbuatanku pasalnya aku sudah mengganggu dan membuatnya marah sebanyak dua kali di pagi hari, tapi aku sungguh tidak bisa menahan lapar dan kepenasaranku tadi, aku sudah menggali kuburan ku sendiri karena berani membuatnya marah.
Saat dia datang dan turun dari tangga mengenakan pakaian olah raga serta kaca mata hitam yang dia simpan diatas kepalanya, jujur aku kaget dan terpesona melihat penampilannya yang jauh lebih keren daripada saat mengenakan jas pernikahan ataupun saat bertemu di cafe beberapa hari lalu.
Namun saat tatapan kami bertemu aku langsung menunduk khawatir dan gugup, aku sudah tau dia pasti akan melakukan sesuatu padaku karena aku sudah mengganggunya.
__ADS_1
"Heh, pendek ayo ikut aku" ucap Albercio sambil menarik lenganku begitu saja,
"Eh... Eh... Eh kau mau membawaku kemana hey" teriakku dan berusaha melepaskan genggamannya.